Dikira Melarat Usai Bercerai
“Ya, sudah. Kalau jengkel, tetap disimpan dalam hati. Allah itu Maha Tahu, kok. Nanti Allah yang balasin.”
Ita malah nyengir kuda mendengar ceramah Bapak. Sedangkan aku, memilih untuk menandaskan isi piring ketimbang harus mendengarkan khotbah penuh kebijaksanaan dan kebajikan tersebut. Terkadang, ada titik lelahnya juga harus berpositif ria. Pengen sekali-kali mengumpat orang yang telah menjatuhkan kita. Terlebih, ini kasusnya aku dicerai tanpa diantar ke rumah orangtuaku, lho! Diperlakukan macam anjing sampah yang kudisan dan kurapan pula. Rasanya kesal. Tidak terima.
“Bapak yakin, setelah ini kamu pasti bisa dapat jodoh yang baik, Lis.”
Hot Chapters