Chapter: Bab 85 (End)Mobil yang dikendarai Dirga melaju pelan di jalan memuju pulang, tak ada banyak percakapan di sana. Pria itu kini fokus menyetir mobil, hanya terdengar deru napas sesekali dan suara radio lembut menemani perjalanan mereka. Kirana menatap ke arah jendela, tangannya sesekali menempel di perutnya dan mengusapnya lembut. Liburan di pantai tadi terasa hangat, dan damai. Tapi hatinya tiba-tiba terasa berat, tanpa alasan jelas. Begitu sampai rumah, teleponnya berbunyi. Dirga mengambilnya, tapi setelah beberapa detik, ekspresinya tampak bingung menatap nomor asing dari ponselnya. Dirga menerima panggilan itu ragu. Kirana hanya menatap ke arahnya seakan meminta sebuah penjelasan dari suaminya. Setelah menjawab beberapa percakapan dari balik telepon, Dirga menatap ragu kearah sang istri. Entah apa yang dikatakan oleh orang dari seberang sana. Tapi jelas membuat ekspresi wajah Dirga berubah. Dia menatap Kirana dengan mata terbelalak, setelah mengakhiri panggilannya. “Mereka bilang ada kabar
Huling Na-update: 2025-11-12
Chapter: Bab 84Tak lama kemudian, pintu ruang Rumah Sakit terbuka, dan seorang wanita paruh baya dengan wajah cemas memasuki ruang rawat Kirana. Mayang, mama Dirga, dengan wajah sedikit cemas tapi tampak hangat melangkah tanpa ragu masuk.“Dirga … Kirana … kalian baik-baik aja?” Suaranya lembut, tapi penuh perhatian. Ada sedikit keraguan tapi rasa cemas lebih mendominasi.Dirga segera berdiri dan memeluk ibunya, sedikit canggung. “Iya, Ma. Semua aman.” Beberapa waktu belakangan ini Dirga benar-benar membiarkan sang mama salah paham terhadap mereka. Dia sengaja pergi untuk memperbaiki diri masing-masing.Dia sengaja menghubungi sang mama, rasanya dia benar-benar masih membutuhkan wanita yang ada di dalam pelukan itu.Kirana hendak ikut bangkit, tapi Mayang memberi instruksi agar Kirana tetap pada posisinya. Ada kehangatan aneh yang terasa, sedikit ragu tapi juga lega. “Maafin Kirana ya, ma,” ucap Kirana ragu. Rasanya begitu canggung ketika tiba-tiba mertuanya datang tanpa memberi kabar. Apalagi sete
Huling Na-update: 2025-11-09
Chapter: Bab 83Dirga berlari keluar kamar dengan langkah terburu-buru, tubuh Kirana di dalam gendongannya terasa begitu ringan padahal berat wanita itu sudah tidak seperti dulu lagi. Tubuhnya sudah jauh lebih berisi, efek panik membuat tenaga Dirga seakan menjadi penuh tenang. Hujan di luar belum berhenti, udara dingin terasa menusuk kulit, tapi keringat dingin sudah mengalir di pelipis Kirana.“Bertahan ya, sayang ... tolong jangan pingsan dulu,” bisiknya panik.Kirana menahan rasa sakit di dada dan perutnya, napasnya tersengal. Melihat sang istri, Dirga malah semakin panik.“Mas ... pelan ... aku bisa jalan sendiri!” protes Kirana dalam gendongan Dirga, dia takut jika nanti mereka malah berakhir di rumah sakit berdua karena kecerobohan Dirga.“Enggak, diem aja ya. Pokoknya percaya deh sama, mas! Kita ke rumah sakit sekarang!” kali ini suara Dirga terdengar tegas dan penuh keyakinan.Mobil melaju menembus jalanan yang basah. Pandangan Dirga kabur oleh air mata yang menggenang di pelupuk matanya sej
Huling Na-update: 2025-11-09
Chapter: Bab 82Entah kenapa malam itu dada Kirana terasa berat. Pelukan Dirga terasa hangat, tapi ada sesuatu yang dingin di antara mereka. Seolah ada jarak tipis, tak kasatmata, yang makin lama makin terasa begitu nyata.Dirga masih diam, wajahnya bersembunyi di bahu Kirana. Deru napasnya terdengar teratur.“Kamu capek, ya mas?” bisik Kirana pelan dengan sedikit mendongak ke arah sang suami. Dirga tersenyum menggeleng pelan, dia menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan.“Enggak, sayang,” jawabnya singkat. “Cuma pengen kayak gini sebentar.” Jawaban Dirga kali ini terdengar jujur. Kirana menghela napas pelan, bahkan helaan berat itu tak terdengar oleh Dirga, seakan dia terbiasa memendam segalanya sendirian.Sunyi. Hanya suara denting jam dinding yang terdengar samar. Tak ada lagi percakapan antara dua insan itu. Kirana menggenggam tangan Dirga, menatap ke jendela. Hujan baru saja berhenti, dan aroma tanah basah mengisi ruangan. Degub jantung wanita itu bahkan semakin terasa cepat, dia bisa
Huling Na-update: 2025-11-08
Chapter: Bab 81Denting porselen yang retak memecah ruangan. Hening seketika, lalu suara napas Kirana yang tercekat.Di dalam ruangan, Dirga berhenti bicara. Suaranya yang semula lantang menghilang, diganti dengung telepon yang masih ada di telinganya. Dia menatap ke arah vas yang berserakan, mata langsung ke arah pintu yang pintunya setengah terbuka, di sana Kirana berdiri, wajahnya pucat, tangan masih memegang handuk.Dirga cepat mematikan panggilannya. Jantungnya berdetak kencang, tapi ekspresinya langsung berubah menjadi waspada dan lembut. Sebuah jurus insting yang selalu dia simpan untuk Kirana.Kirana mundur cepat dari ambang pintu, napasnya pendek. Suara pecahan vas masih nyangkut di telinganya. Langkahnya terburu, tapi goyah, seperti ingin kabur dari ruangan itu, dari semua yang baru saja dia denger.“Sayang!” suara Dirga menyusul dari belakang. Nada paniknya bukan karena marah, tapi takut kehilangan kendali atas sesuatu yang sangat rapuh, perasaan istrinya yang selalu mampu mengacak-acak ha
Huling Na-update: 2025-11-02
Chapter: Bab 80Suara mesin pesawat mulai meninggi, bergemuruh lembut di telinga. Lampu kabin meredup, udara terasa dingin menusuk kulit. Giselle duduk di dekat jendela, tangannya masih gemetar, matanya sembab, sisa tangis yang belum sempat kering.Kursi di sebelahnya kini kosong. Kursi itu seharusnya milik Ferdi. Pria yang seharusnya menemaninya.Dia menatapnya lama, berharap tiba-tiba Ferdi muncul dan bilang semuanya cuma salah paham, lalu duduk sambil nyengir seperti biasanya. Tapi kini nggak ada siapa-siapa. Yang tersisa hanya sabuk pengaman yang terlipat rapi, dan bayangan tubuh pria itu terlintas di jendela pesawat. Giselle menarik napas berat. Pikirannya tertarik ke belakang, membawanya pada adegan terakhir di bandara. Ferdi sempat berhenti sebelum langkahnya menjauh. Tangannya sempat menggenggam wajah Giselle, dan dalam ruang yang penuh ketegangan itu, Ferdi sempat menciumnya singkat, dan hangat.Ciuman yang terasa seperti ucapan selamat tinggal yang tak diucapkan. Mengingatnya membuat hati
Huling Na-update: 2025-11-02
Chapter: TantanganNatha menoleh ke arah Jenny. Seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu. Yakali, videonya sampai kesebar gitu. Malu banget dong.“Ah, nggak ... Nggak mungkin, yang bener aja lo, Jen.” Natha menggelengkan kepalanya tak percaya.“Lo ke mana selama beberapa hari ini? Jawab jujur, Nath? Lo nggak buat masalah gede, kan? Gue trauma sama masalah-masalah elo, Nath," lanjut Jenny sembari mengusap kedua lengannya terlihat bergidik ngeri menatap ke arah Nata. Dia menggeleng seakan tak mau tahu dengan masalah baru Natha kali ini. Sahabatnya itu memang terkenal sebagai biang kerok ahlinya para ahli masalah di kehidupannya. Yah, bisa mendapatkan penghargaan Miss biang masalah sih kalo ada.Mengingat kelakuan aneh Natha saja, Jenny sering ikut migrain. Dia sempat melihat dari salah satu video yang di share di grup kelas oleh anak-anak. Jelas jika wajah wanita yang di grebek di sebuah hotel itu sangat familiar baginya. Natha-lah pemilik wajah itu.“Ah, lo jangan ngadi-ngadi ya,
Huling Na-update: 2025-03-01
Chapter: Keluarga Aneh“Sepertinya ada darah tarzan yang mengalir di tubuh istriku,” ujar Kenzie.“Apa kamu bilang?”Deg.Kenzie segera menoleh ke arah suara itu.“Eh Pa,” jawab Kenzie dengan senyum sedikit kikuk. Bagaimana tidak dirinya membicarakan keburukan istrinya tepat di depan mertuanya.Kenzie segera menghampiri Anantha lalu menyalami tangan papa mertuanya. Yang langsung di sambut hangat oleh Anantha.“Kamu yang sabar ya, maklum istri kamu itu setengah laki-laki, nggak tahu dulu sepertinya dia ingin lahir menjadi lelaki. Tapi pas pembagian kelamin dia nggak datang. Nah makanya kan jadi nggak songkron sifat sama sama gender,” kelakar AnanthaKegugupan Kenzie mendadak sirna mendengar ucapan mertuanya saat ini.Ternyata Papa mertuanya tidak segarang yang dia bayangkan.“He ... He iya Pa, Mama di mana kok dari tadi saya nggak lihat,” tanya Kenzie. Dia berusaha mengalihkan pe
Huling Na-update: 2021-05-09
Chapter: Trauma Masa Lalu"Whitney!" Seru Kenzie. Seekor angsa berwarna putih muncul dengan anggunnya."Soang!" Jerit Natha, dirinya langsung melompat ke dalam pelukan Kenzie."Kamu kenapa?" Kenzie terlihat keheranan, ketika melihat wajah yang berada di hadapannya menjadi putih memucat dalam seketika."I-itu jauhain Soangnya." Natha mengeratkan pelukan tangan dan kakinya ke dalam pelukan Kenzie."Iya-iya ... tapi turun dulu! Nanti kita bisa jatuh berdua," ujar Kenzie."Nggak mau, pokoknya nggak mau itu nanti kepalaku di petok. Aku nggak mau," jerit Natha.Sesekali Natha melihat angsa yang ada di bawah kaki Kenzie, lalu membenamkan kembali wajahnya di dalam ceruk leher Kenzie."Kenapa sih, dia nggak bakal metok orang Nath, aku udah pelihara dia dari dia masih kecil," ujar Kenzie meyakinkan istrinya itu.Natha masih tetap dalam posisinya. Memeluk Kenzie dengan eratnya, tubuhnya sekarang menjadi bergetar. Keringat dingin mengucur di dahi Natha.M
Huling Na-update: 2021-04-25
Chapter: Sakit Nggak Boleh Gengsi"Gimana? Emang kamu nggak sakit?" Kenzie menaikkan sebelah alisnya."Udah dong Ken, itu terus di bahas." Natha tersipu malu."Ya 'kan kamu yang mulai. Gimana sih Nath?" Kenzie mencubit gemas pipi Natha.Lalu mengecup bibirnya sekilas."Kebiasaan deh, udah aku mau mandi." Natha menarik selimut yang menutupi keduanya.Sementara Kenzie terkesiap, karena ulah Natha. Pasalnya keduanya memang benar-benar naked selama tidur.Dengan cepat Kenzie menutupi barang berharganya dengan bantal. Ingin sekali dirinya menerjang istrinya namun nyalinya ciut menyadari dirinya akan kalah beradu jotos dengan istrinya yang unik itu."Nggak gitu juga caranya dong, Natha!" Cicit Kenzie."Lah ... kenapa musti malu coba, bukankah semalam aku udahblihat semua ... udah lupain aja deh kalo gitu." Ujar Natha sembari mengibas-ngibaskan tangannya di udara. Telihat wajah kesal Natha terpampang dengan jelas."Bukannya malu, tapi ini dingin." Ujar Kenzie kemudia
Huling Na-update: 2021-04-25
Chapter: Malam KeberuntunganCup.Bibir keduanya saling bertautan, netra Natha dan Kenzie membulat dengan sempurna.Natha hendak mendorong dada Kenzie. Namun, dengan cepat Kenzie menggenggam tangan milik istrinya itu.Kenzie memejamkan matanya dengan tangan yang masih setia mengunci pergelangan tangan Natha. Perlahan-lahan Kenzie melumat bibir Natha tanpa mendapatkan balasan darinya.Natha yang masih syok dengan apa yang baru saja dia alami itupun, masih bergeming diposisi awal dengan mulut yang masih mengatup rapat.Kenzie 'pun dengan cepat mengigit bibir bawah Natha, ketika dirinya menyadari Natha tak membalas apa yang tengah dia lakukannya saat ini."Akh ...."Kenzie yang mendapatkan celah, mulai melancarkan aksinya dengan segera memperdalam ciumannya dengan begitu lembut. Hingga bibir keduanya saling bertaut, intim. Bergerak seirama menikmati gairah yang mulai menyulut mereka berdua. Meskipun Natha masih bagitu kaku, karena itu memang adalah pengalama
Huling Na-update: 2021-04-25
Chapter: Janji"Bagaimana ... kalo Alvin sampai tahu, ya?" Mendengar perkataan Kenzie, Natha langsung membulatkan matanya. Dia merasa ketakutan mendengarkan ucapan suaminya saat ini. Ancaman ketika di adukan kepada sang kakak memang lebih mengeritak dibanding harus berurusan dengan polisi atau begal."Please ... Ken, aku janji bakalan berubah. Swear, deh!" Tangan sebelah Natha memegang lengan Kenzie yang masih setia dengan setir mobilnya, sementara tangan yang satu diangkat dengan jari membentuk huruf V. Di dalam hati Kenzie tertawa terbahak-bahak melihat wajah panik sang istri saat ini.Namun, ketika melihat hal itu, justru membuat Kenzie ingin mengerjai Natha lebih lagi.Sebenarnya, Kenzie bukanlah orang yang suka mengatur dan bukan pula orang yang suka diatur. Namun, kelakuan Natha kali ini memang sudah terbilang kelewatan. Ia hanya ingin membuat Natha jera saja dan tidak lagi pergi tanpa berpamitan kepada dirinya. Bisa diingat-ingat semenjak mereka bertemu hal-hal an
Huling Na-update: 2021-04-05
Chapter: 30. Cemburu?Pintu kamar terbuka begitu saja.Valeria yang baru saja meletakkan tas di atas sofa menoleh sekilas. Tak terkejut. Itu memang kamar Jason juga. Tak ada alasan pria itu harus mengetuk sebelum masuk.Jason berdiri di ambang pintu. Jas kantornya sudah dilepas. Lengan kemeja putihnya digulung sampai siku. Wajahnya terlihat lelah, tapi sorot matanya justru terlalu tajam.Tatapannya tak berhenti pada Valeria.Melainkan pada kotak kue kecil yang masih berada di atas meja.Ruangan mendadak terasa lebih sempit.Valeria mengikuti arah pandang Jason, lalu mengembuskan napas pelan. Ia tahu, pembicaraan ini tak akan sederhana.Jason berjalan masuk tanpa suara.Pintu ditutup pelan di belakangnya.Klik.Suara kecil itu justru membuat dada Valeria terasa semakin sesak.Jason menghentikan langkah tepat di depan meja.Tangannya mengambil kotak kue itu.Diputar perlahan.Diam.Lalu ia terkekeh pelan."Lucu juga."Valeria membuka anting yang sejak tadi masih terpasang."Apanya yang lucu?" Valeria mengern
Huling Na-update: 2026-07-12
Chapter: 29. Sekotak KueValeria menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya. Pukul tiga lewat lima belas menit. Percakapannya dengan Maya telah berakhir hampir setengah jam yang lalu. Namun, keduanya masih belum beranjak dari tempat duduk mereka. "Val?" Maya memecah keheningan. Valeria yang sempat termenung sembari menatap ke arah jendela luar, segera menoleh ke arah Maya sembari menaikkan sebelah alisnya. "Kalau kamu benar-benar mau pergi, mulai hari ini jangan ambil keputusan berdasarkan emosi." Valeria mengangguk pelan. "Aku tahu, May," jawab Valeria santai. "Bukan... kamu belum tahu." Maya mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Orang yang paling berbahaya bukan musuh yang terang-terangan menyerang. Tapi orang yang merasa sedang kehilangan sesuatu," bisik Maya pelan. Valeria mengernyit pelan. "Maksudmu Jason?" Maya menggeleng pelan sembari memejamkan mata. "Semuanya." "Keluarga suamimu." "Keluargamu." "Bahkan orang-orang yang selama ini menganggap hidupm
Huling Na-update: 2026-07-07
Chapter: 28. RencanaMobil taksi berhenti tepat di depan sebuah kafe bergaya klasik yang berada di sudut jalan.Valeria memandangi bangunan itu beberapa saat. Sudut bibirnya terangkat tatkala ingatannya membawa kembali rentetan kenangan di masa lalu.Tak banyak yang berubah. Suasananya juga masih sama seperti dulu.Aroma kopi yang dulu selalu menyambutnya masih terasa sama. Bahkan lonceng kecil di atas pintu masih berbunyi pelan saat ia melangkah masuk.Matanya menyapu seluruh ruangan, mencari sosok yang ingin dia temui saat ini.Pandangan itu terhenti pada seorang perempuan yang sedang melambaikan tangan dari sudut dekat jendela. Senyum Valeria mengembang ketika pandangan mereka bertemu. Langkah cepat membawa Valeria menuju kearah Maya."Vall!"Maya berdiri lebih dulu lalu merentangkan kedua tangannya. Kedua matanya tiba-tiba mengembun tanpa aba-aba ketika melihat Valeria sahabat lamanya.Tanpa banyak kata, perempuan itu langsung memeluk Valeria erat.“Aku kangen banget sama kamu,” bisiknya pelan.Valer
Huling Na-update: 2026-07-07
Chapter: 27. AksiPintu ruang kerja kembali tertutup. Entah mengapa dari tadi Jason mondar-mandir seperti sedang menyusun strategi yang entah untuk apa.Di sisi lain Jason memilih memberi sedikit ruang kepada Valeria, meskipun pria itu sendiri tak benar-benar tahu apa yang sedang terjadi pada istrinya. Dia bahkan masih ambigu dengan perasaannya saat ini.Suasana kamar kembali hening.Valeria masih berdiri membelakangi pintu. Ia baru mengembuskan napas panjang ketika langkah kaki Jason benar-benar menghilang dari lorong.Perlahan ia membuka laci meja riasnya.Di dalamnya, sebuah map cokelat tua yang selama ini tak pernah tersentuh kembali muncul ke permukaan.Jemarinya membuka satu per satu dokumen di dalamnya.Paspor.Ijazah.Akta kelahiran.Buku tabungan.Beberapa sertifikat pelatihan bisnis yang pernah ia ikuti sebelum menikah.Valeria menatap semuanya dalam diam, tatapan yang dipenuhi makna yang dalam.Masih lengkap.Masih utuh.Tak terasa sudut bibirnya terangkat tipis."Untungnya... masih ada,” gu
Huling Na-update: 2026-06-28
Chapter: 26. DilemaPintu kamar tertutup pelan di belakang mereka.Bunyi klik kecil itu terdengar jauh lebih keras dari seharusnya. Seolah menandai batas antara dunia luar yang penuh tatapan dan dunia di dalam kamar yang hanya menyisakan dua orang asing dengan status suami-istri.Valeria melangkah lebih dulu. Ia duduk di tepi ranjang tanpa bicara, melepas jam tangan dari pergelangan, lalu meletakkannya rapi di atas nakas. Gerakannya begitu tenang, bahkan terlalu tenang.Jason berdiri beberapa langkah di belakangnya. Ia tak langsung mendekat. Ada sesuatu di punggung Valeria yang membuatnya ragu, jarak yang tak terlihat, tapi terasa.“Kepalamu masih pusing?” tanya Jason akhirnya. Dari banyaknya kata entah mengapa pria itu memilih menanyakan hal itu.Valeria mengangguk kecil. “Sedikit.” Tanpa ekspresi yang semakin membuat Jason semakin penasaran dengan isi kepala Valeria.“Obat?”“Nanti aja,” jawab Valeria cepat.Jason menghela napas pelan. Ia duduk di kursi dekat jendela, menatap keluar sebentar, lalu kemb
Huling Na-update: 2026-01-08
Chapter: 25. CucuValeria masuk ke ruang makan pelan-pelan. Suasananya masih terasa dingin.Gerald fokus membaca koran. Teo santai seperti biasa.Viviane mengaduk tehnya pelan, gelagatnya sedikit mencurigakan. Membuat Valeria sedikit waspada. Meskipun terlihat santai, Viviane sering berbicara menusuk hati.Begitu Vale duduk, Viviane langsung mengangkat kepala. Seakan wanita itu sengaja menunggu momen yang pas.“Kamu turun sendiri?”Nadanya manis, tapi dinginnya begitu menusuk. Bahkan ekspresinya masih tampak biasa.“Jason mana? Istri itu biasanya nungguin suami, bukan jalan duluan.” Viviane menoleh ke belakang mengira Jason akan menyusul Valeria.Valeria menahan napas sejenak. “Jason masih di kamar, Ma. Dia masih mandi.”Viviane cuma menggumam pendek. “Hmm… ya, harusnya saling nunggu kalau sudah nikah. Bukannya jalan sendiri-sendiri,” ucapnya sedikit ketus.Valeria masih tampak santai, dia tak mau terjerat dalam kekacauan yang dibuat oleh mertuanya. Teo berhenti mengaduk kopinya. Suaranya keluar datar
Huling Na-update: 2025-12-15