Mag-log inJason sedang mencari Teo ketika mereka tidak sengaja berpapasan di ruang tamu. Teo baru saja keluar dari lorong ketika Jason muncul dari arah berlawanan. Tatapan mereka bertemu.Jason tidak mengatakan apa-apa.Buk!Tinju Jason menghantam wajah Teo. Teo terhuyung dan jatuh di samping sofa.“Shiit!” Teo mengumpat pelan. Tatapan tajam menghunus ke arah Jason.Dia menyentuh sudut bibirnya, kemudian melihat noda merah di ujung jarinya. Bukannya marah, Teo malah terkekeh. Tawanya pendek, sumbang, seperti baru saja menyadari sesuatu yang sangat bodoh.Jason berdiri di depannya dengan napas memburu. “Jangan tertawa seperti orang bodoh.”Teo bangkit perlahan. “Gue cuma baru sadar.”“Sadar apa?” Jason tampak bingung dengan ucapan Teo.“Lo baru sadar setelah kehilangan?”Jason mengerutkan kening. “Jangan sok tahu.”Teo menyeringai. “Dari cara lo datang dan langsung mukul gue, gue nggak perlu jadi cenayang buat tahu.”“Lo tahu Valeria pergi?” pertanyaan itu meluncur begitu saja. Teo mengusap sud
Pagi itu, mansion terasa berbeda.Bukan karena sesuatu yang besar terjadi. Tidak ada suara benda pecah, tidak ada pertengkaran, bahkan para pelayan masih menjalankan rutinitas seperti biasa. Namun, ada satu hal yang membuat Viviane berhenti di tengah tangga.Valeria belum terlihat sejak pagi.Biasanya perempuan itu sudah turun sebelum sarapan selesai disiapkan. Kadang duduk di ruang makan dengan secangkir teh, kadang memilih sarapan di teras belakang. Hari ini kursinya kosong.Viviane menatap jam di pergelangan tangannya."Florensia."Pelayan muda itu yang sedang membawa nampan berhenti."Ya, Nyonya?""Valeria di mana?"Florensia tampak ragu sepersekian detik."Di kamar, mungkin.""Sudah kau lihat?""Belum."Viviane mengerutkan kening."Pergi panggil dia."Florensia mengangguk dan segera berbalik.Namun beberapa menit kemudian dia kembali dengan wajah yang berbeda."Nyonya...""Apa?""Kamar Nyonya Valeria kosong."Viviane langsung menatapnya."Apa maksudmu, Florensia?""Saya sudah men
Perjalanan panjang itu akhirnya berakhir ketika mobil memasuki sebuah kawasan yang jauh lebih tenang dibandingkan kota yang selama ini Valeria tinggali.Ia tidak langsung tahu apa yang membuat tempat ini terasa berbeda.Mungkin karena jalanannya tidak dipenuhi kendaraan. Mungkin karena deretan bangunan di kiri-kanan jalan tidak berdiri terlalu rapat. Atau mungkin karena sejak tadi tidak ada satu pun wajah yang terasa familiar.Valeria menurunkan kaca jendela.Angin sore masuk ke dalam mobil, membawa aroma tanah dan pepohonan yang samar-samar bercampur dengan wangi makanan dari warung di pinggir jalan.Ia memejamkan mata.Untuk beberapa detik, ia membiarkan dirinya menikmati perjalanan tanpa memikirkan apa yang sudah ditinggalkannya.Dada yang selama berbulan-bulan terasa penuh perlahan mengendur.“Lega juga,” gumamnya.Sopir di depan melirik melalui kaca spion.“Sudah pernah ke kota ini sebelumnya, Bu?”Valeria membuka mata. “Belum, pak.”“Kelihatannya Ibu sudah hafal jalannya.”Valer
Pagi itu, Valeria bangun dengan satu keputusan yang sudah tidak bisa ditunda lagi.Ia akan pergi.Bukan untuk sementara.Bukan untuk menenangkan diri lalu kembali.Kali ini ia benar-benar meninggalkan mansion keluarga Gerald.Beberapa minggu terakhir telah membuat semuanya semakin jelas baginya. Pernikahan yang sejak awal dibangun atas kepentingan bisnis itu tidak pernah berubah menjadi rumah tangga yang sesungguhnya.Jason bahkan sejak awal sudah membuat batas yang tegas.Mereka menikah karena kepentingan masing-masing.Tidak ada tuntutan untuk saling mencintai.Tidak ada hak untuk mencampuri kehidupan pribadi.Tidak ada alasan bagi salah satu dari mereka untuk berharap lebih. Dan selama pernikahan itu berlangsung, Jason pun tidak pernah benar-benar memperlakukannya sebagai seorang istri.Mereka tinggal di bawah satu atap, tetapi hidup seperti dua orang asing.Jason tidak pernah berusaha membangun kedekatan dengannya. Tidak pernah memberinya kehidupan sebagai pasangan. Bahkan setelah
Beberapa hari terakhir membuat Valeria semakin sibuk.Pagi dihabiskannya di kantor. Siang dipenuhi urusan pekerjaan yang sengaja ia tambah sendiri agar punya alasan untuk tidak terlalu lama berada di mansion. Malam menjadi satu-satunya waktu ketika ia bisa benar-benar mengurus rencananya.Dan rencana itu kini sudah jauh lebih matang.Kota yang ia pilih sudah pasti.Sebuah kota yang cukup berkembang, tetapi tidak terlalu ramai. Jaraknya jauh dari keluarga Gerald, namun masih memiliki fasilitas yang ia butuhkan untuk memulai hidup baru.Ia bahkan sudah menemukan sebuah rumah sederhana yang bisa disewa.Bukan rumah besar seperti mansion.Hanya bangunan dua lantai dengan halaman kecil dan satu ruangan di bagian depan yang bisa digunakan untuk membuka usaha.Valeria menyukai tempat itu.Bukan karena mewah.Justru karena tidak ada satu pun bagian dari rumah tersebut yang mengingatkannya pada kehidupan sekarang.Ia bisa masuk ke sana sebagai Valeria.Bukan sebagai istri Jason atau sebagai ba
Beberapa hari berlalu setelah pertengkaran malam itu.Mansion kembali tenang, setidaknya dari luar.Jason tidak lagi mendatangi kamar Valeria untuk mencari masalah. Ia juga tidak berusaha mengorek ke mana Valeria pergi atau dengan siapa perempuan itu menghabiskan waktunya akhir-akhir ini.Seolah pertengkaran mereka tidak pernah terjadi.Valeria justru memanfaatkan keadaan itu.Setiap pagi ia berangkat bekerja seperti biasa. Ia pulang menjelang malam, makan seperlunya, lalu menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar.Di depan semua orang, rutinitasnya terlihat normal.Padahal hampir setiap malam, setelah pintu kamar terkunci, Valeria membuka laptop dan kembali mengurus satu hal yang sudah beberapa minggu memenuhi pikirannya.Kepergian.Ia tidak mencari tempat yang terlalu jauh dari peradaban.Kota kecil membuatnya khawatir. Jika ia membuka usaha di sana, orang-orang akan cepat mengenal wajahnya. Sementara kota besar justru terlalu mahal dan terlalu sibuk untuk memulai kehidupan deng







