ANMELDENKetika Zayn harus memilih antara Ibu dan Istri? Manakah yang harus ia pilih? Membiarkan Nada terus terpuruk dalam duka atau terus mempertahankan serumah dengan ibunya, membiarkan Nada terus mengalah atas nama bakti?
Mehr anzeigen"Get out!"
Jane winces in pain, her hair forcefully tugged. She never expected that hand to grip her hair so roughly. "Austin... it hurts. Please, let go."
"How many times do I have to say it, Jane? Get out of this house."
Jane receives a shove, almost hitting the edge of the table. Luckily, her husband Austin didn’t push too hard. Yet her head throbs in pain. She feels like her hair is coming loose from the roots, maybe even left in Austin's tight, clenched fist, as if he's ready to strike her.
Jane shivers in fear but tries to maintain a smile. She doesn't care about the cake she just finished making to welcome her husband home. Jane thought there might be a little care this year in Don Austin William's heart, the man who still technically is her husband. In the past few months, Austin's emotions haven't been as evident as usual.
That's why Jane dared to hope that maybe, just maybe, Austin had changed.
"My tolerance limit has been reached, Jane!" Austin glares fiercely and mercilessly at his petite wife. He doesn’t care about the fear Jane displays in her eyes. He's sick of having this woman as his wife.
This ridiculous marriage has to end today. What reason does he have to keep Jane? None. The main instigator, Charles Don William, his father, breathed his last a month ago. The man Austin looked up to succumbed to cancer that had been gnawing at him for a long time. If it weren't for his father's request, Austin wouldn't have bothered to accept Jane as his wife.
"Maria!" Austin's voice thunders like lightning, causing the pillars of the opulent white and gold-themed house to tremble with his ferocity. Maria, a middle-aged woman who serves as the head maid in this house, hurries over, trembling in fear, her eyes glancing sadly at the woman cowering under the table. She wants desperately to help the gentle-hearted woman, but her fear of the man before her outweighs it all. He could be the most terrifying man she's ever encountered.
"Y-yes, Sir." Maria quickly bows, afraid of further provoking her enraged master. Though her eyes glance pleadingly at the woman curled up under the table, wanting desperately to assist her, her fear of the master surpasses her empathy.
"Get rid of this woman's clothes! I don't want to see her lingering around here."
"Austin," Jane immediately acts, attempting to reach for her husband's leg. "Please, don't kick me out. I... I apologize if I've wronged you. I'm willing to accept your punishment, Austin. Please... don't kick me out."
Austin doesn't care. He swiftly shakes off the hands that touched his legs. Then, with a forceful kick, he strikes the woman's arm. His eyes look down on her disdainfully as he says, "Your mistake has plagued my life, Jane. How foolish of you to accept my father's offer five years ago." He reaffirms his position with the woman who is still technically his wife.
Ah... not even twenty-four hours, and their status will certainly change. Money can expedite things, especially when it comes to divorce papers. He's been waiting a long time for the moment to divorce Jane. If it weren't for his father and mother's affection for the woman pleading before him, Austin wouldn't have allowed Jane a chance to step into this house.
Especially being a part of the Don William family.
"Never dream of being part of my life, Jane," Austin grips Jane's cheek with emphasis. Up close, Austin admits Jane has a pretty face. But Austin's the loyal type. There's only one person he loves in this world aside from his mother.
"There's only one person who will be Mrs. Don William, Jane. And it's not you. It's Calysta Abraham. You should've known that."
Jane's eyes well up. She's heard harsh, hurtful words from Austin so many times. Unfortunately, Jane always finds a way to rationalize it. She believes love will come into Austin's heart as time passes. Even when Austin openly cheats on her, Jane forgives. She's confident that someday Austin will come back to her embrace.
"Before my patience runs out, Jane, leave." Austin releases his grip on Jane's cheek. There's no mercy in his heart even as Jane sheds tears. He's seen Jane cry many times because of his words and actions.
Does he care? Not at all.
He won't forgive the girl who casually takes advantage of her parents' kindness just for status and a comfortable life filled with wealth. Pretending to be a noble and gentle figure just to catch her parents' attention. Also acting like a devoted child; caring for her father during chemotherapy until his passing.
Nope.
Austin isn't touched at all by any of Jane's actions in this house. His heart's cold and can only gaze at one woman; his lover and the apple of his eye. The one he'll make the lady of this house once Jane is gone.
"Give me three days to pack, Austin," Jane tries to stand up, wiping away the tears that won't stop flowing. "Please."
Austin firmly shuts his eyes, sighs deeply, a thunderous sound in his chest before speaking emphatically. His index finger is right at the tip of Jane's nose. Austin realizes Jane is immediately petrified by his behavior.
"One day, Jane. I don't want to see you here any longer."
Tak pernah terbayangkan aku akan sesakit ini mendengar kabar pernikahan Nada dengan Ali yang disampaikan langsung oleh Arnav. Putraku tak lagi menentang hubungan mereka. Aku tidak tahu, kapan tepatnya anak it berubah pikiran. Padahal, jelas saat ia datang untuk membantu acara tahlilan ibu, aku melihatnya begitu antusias menjodohkanku kembali dengan Bundanya.Bagaimana bisa ia berubah secepat itu?Ia bahkan mengatakan padaku, jika akan jadi pengantar pengantin, kala Bundanya menikah. Bahkan, yang lebih menyakitkan adalah ia mengatakan itu semua dengan bangga.Aku yang menghidupinya selama ini. Kenapa ia malah lebih percaya pada orang lain yang justru baru ia kenal.Sejujurnya aku masih tak percaya jika Nada benar-benar menikah. Jadi, hari di mana akadnya dilangsungkan aku mendatangi hotel tersebut. Sayangnya tak sembarangan orang bisa masuk ke acara pernikahannya. Penjagaannya cukup ketat. Aku bahkan harus check in hanya untuk mendapatkan in
“Aku mengizinkannya Al, lakukan saja!”“Terima kasih Nad. Kalau, kamu masih bingung mau pilih yang mana. Besok staff yang menjual perhiasannya akan datang ke rumahmu. Pilih saja yang kamu suka.”“Bagaimana kalau seleraku enggak sesuai sama kamu?”“Aku yakin pilihanmu pasti yang terbaik.”“Baiklah. Aku akan pilih yang termurah kalau begitu.”“Nad, yang benar saja. Aku akan meminta staff untuk enggak mencantumkan harganya.”Aku sampai dibuat terkekeh dengan kepanikan Ali. Ada apa dengannya, padahal aku hanya bercanda.“Kenapa malah ketawa? Aku serius juga.”“Uangmu pasti banyak sekali Al, sampai-sampai membuangnya dengan begitu mudah.”“Siapa juga yang sedang membuang uang, jelas-jelas aku sedang membelikanmu mahar. Apa kamu akan membuang mahar setelah akad berlangsung? Enggak mungkin ‘kan.”
Ali hanya tersenyum saja. Namun, aku bisa melihat ekspresi kelegaan di wajah Abah dan Ilyas.Ya Allah, jika Engkau berkenan menyatukan kami dalam ikatan suci pernikahan. Maka, jadikanlah pernikahan itu sebagai jalan untuk mencapai ridho-Mu.Setelah mendapatkan jawabannya Ali memilih untuk berpamitan.“Besok Ali ke sininya habis dzuhur, ya Bah.”“Oh, baik kami tunggu kedatangan Nak Ali dan keluarga.”Ali mengangguk lagi, sesekali ia tampak melirik padaku.“Kayaknya ada yang mau ngeduluin nih!” sindir Ilyas, begitu Ali sudah meninggalkan rumah dengan kendaraan roda empatnya.“Aku sekali aja belum, Mbak udah mau dua kali aja!” ucap Ali.“Apaan sih kamu, Dek!”“Enggak boleh ngomong gitu, Yas! Memangnya ada yang mau pernikahannya gagal!” ucap Abah.Memang Ilyas ini keterlaluan. Merusak mood saja. Dia pikir enak berpisah, setelah bertahun-tahun menj
“Kamu tahu enggak sih yang kamu bicarain ini apa? Sudahlah Nav,Bunda enggak akan nikah kok. Asalkan kamu di samping Bunda, semua itu udah lebih dari cukup kok. Lagi pula sekarang Bunda sudah punya pekerjaan yang bisa diandalkan. Jadi, seenggaknya kalau suatu hari ayahmu berhenti memberikan uang untuk biaya Pendidikan kamu, kita sudah ada penghasilan lain.”“Nav serius, enggak apa kalau sekarang juga Bunda mau nikah sama Om Ali. Nav enggak akan menghalanginya lagi. Kalian tuh saling mencintai, tetapi Nav malah terus aja mencegah kalian Bersatu. Lagi pula Nav juga kayaknya butuh teman main, kayak Yusuf.”“Nav….”“Bun, sudah cukup Bunda nahan kesedihan sendirian. Nav pengen banget lihat Bunda ketawa terus kayak tadi, mungkin aja Om Alilah jawaban doa-doa Nav selama ini. Nav ‘kan juga minta supaya Bunda bahagia, tetapi Nav malah keliru dengan mendoakan supaya rujuk sama Ayah. Padahal, yang membuat Bunda ba
“Apa maksud kamu bicara seperti itu, Nada?”Kau tahu, saat itu ia bukan sedang berteriak melainkan bicara dengan begitu halus dan lembut. Namun, kenapa terasa menusuk.“Istri yang seperti itu mau kamu bela Zayn, dia bahkan enggak menghormatimu lagi.”“Satu hal yang enggak pernah bisa aku mengerti d
“Sudah enggak bisa didik anak, enggak punya iman. Sekarang malah punya anak dari laki-laki lain.”Ibu masih saja bersemangat membicarakan Nada. Tanpa peduli, apa yang dia katakan seolah sebuah kebenaran atau bukan.“Ibu yang seharian di rumah, memangnya Nada sering keluar rumah tanpa seizinku?”Saa
“Aku ada urusan sebentar, tolong jangan melakukan sesuatu yang membahayakan dirimu sendiri!” ucapku.Namun, sepertinya Nada benar-benar tak peduli. Jangankan menjawab, ia bahkan kembali memejamkan matanya.Aku merasa lebih baik ia tak tahu masalah ini. biarlah dia berpikir kalau aku mendatangi ibu,
“Kenapa begini, kamu bisa mati. Gila ya!” Aku lekas menggendong Nada yang sudah lemah, bahkan nyaris kehilangan kesadarannya. Gamis berwarna hitam itu bahkan telah berubah warna menjadi lebih pekat, bercampur dengan darah dari pergelangan tangan Nada yang tersayat.Bahkan tanganku ikut gemetar man












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rezensionen