LOGIN"Teriak lebih keras, Van. Aku pengen denger seberapa suka kamu sama apa yang aku lakuin," perintah Bara. Tatapannya menggelap penuh damba saat melihat bagaimana Vanessa sepenuhnya tak berdaya di bawah kendalinya."S-suka ... ahh! Aku suka ... ssshh, Bara ... lebih ... hnghh, di situ ..." rintih Vanessa lirih saat sentuhan tangan Bara bergerak semakin sensitif ke area bawah, menuntut pelepasan yang sudah sangat dekat.Bara mengencangkan rahangnya, keringatnya kini benar-benar menetes dari pelipisnya, jatuh mengenai dada Vanessa yang naik-turun tak karuan. "Kamu milik aku hari ini, Van. Punya aku," geram Bara rendah, mempercepat gerakannya yang membuat Vanessa kembali mendesah panjang memanggil namanya."Ahh! Iya ... cuma ... milik ... Bara ... eunghh!"Vanessa benar-benar kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Alih-alih pasrah dalam kungkungan Bara, ia justru menggunakan kedua kakinya yang melingkari pinggang pria itu untuk menarik tubuh Bara semakin tenggelam dalam kuasanya."Aku ng
"Kamu sengaja ya, mau bikin aku gila?" bisik Bara, suaranya parau. Kini, kedua tangannya mencengkeram pinggul Vanessa, menahan pergerakan liar wanita itu agar ia bisa menatap wajahnya.Vanessa terkekeh manja, napasnya sedikit memburu. Ia mendongak, menatap Bara dengan mata yang sayu penuh gairah sambil merapikan rambut Bara yang sedikit berantakan."Bukannya ini yang kamu butuhin, Sayang?" sahut Vanessa pelan, suaranya terdengar sangat sensual. Ia sengaja mengangkat tubuhnya ke pangkuan Bara, memicu geraman rendah dari Bara. "Biar kamu lupa sama Risa, sama Mas Damar, sama semua masalah kamu di sana," bisiknya tepat di telinga Bara."Van ... shit," umpat Bara, tidak bisa lagi menahan sensitivitas yang membakar tubuhnya.Bara menarik tubuh Vanessa kuat, menghilangkan jarak di antara mereka. Tangannya bergerak ke belakang punggung Vanessa, perlahan menurunkan piyama satin miliknya."Buka baju kamu, Bara," bisik Vanessa menuntut, jemarinya mulai menarik paksa kancing kemeja Bara hingga du
Tut. Panggilan terputus."Mas? Mas?!" teriaknya keras. "Mas, tunggu dulu—" Bara menjauhkan ponselnya, menatap layar yang sudah menghitam. "Sialan.” Ia melemparkannya ke atas meja.Tangannya mengusap wajahnya kasar. Kepalanya berdenyut. Damar marah. Risa menangis. Besok ia harus menghadapi semuanya dalam satu waktu."Apa sih maunya?" gerutunya. Ia berjalan mondar-mandir tak tentu arah. "Semua salah gue. Semua harus gue," lanjutnya, memukul dadanya sendiri. "Sial!""Kalau kamu udah nggak sanggup jadi suami, bilang." Kalimat itu kembali terngiang di kepaanya."Gue nggak sanggup?" Bara tertawa sinis. "Nggak ada yang tahu apa yang gue hadapin selama ini." Ia memejamkan matanya kuat. Bayangan Risa yang terus menangis kembali menghantuinya. Disusul wajah Damar yang selalu berada di samping perempuan itu setiap kali ada masalah. "Tentu aja gue yang salah." Ia menggeleng keras. "Tentu aja."Tangannya kembali meraih ponsel miliknya. Ia sempat berpikir untuk menelepon Damar lagi. Menjelaskan sem
Damar menatap Risa dan Sara sekali lagi, kali ini tatapannya menyimpan banyak luka di dalamnya. Ia menghela napas panjang, tangannya berusaha membuka pintu kamar tanpa menimbulkan suara. Begitu pintu tertutup, ekspresinya berubah total—tajam, dan siap menghancurkan siapapun.Ia berjalan cepat ke teras, menjauhkan jangkauan Risa agar tak mendengar suaranya, tangannya menggenggam erat ponsel yang membuat emosinya memuncak. Dengan tangan yang bergetar , ia menekan nama itu.Bara. Adiknya. Suami Risa. Ayah Sara.Panggilan tersambung.Tuut… tuut… Tak ada jawaban.Damar menggertakkan giginya. “Jawab, Bar … jawab,” desisnya.Begitu tersambung, Damar tidak memberi kesempatan Bara untuk memulai pembicaraan.“BARA!” panggil Damar, suaranya rendah, seakan menyimpan banyak ancaman di dalamnya. “Kamu kenapa bisa setega itu?”Bara sempat terkejut di seberag sana, ia menjauhkan ponselnya, membaca ulang nama yang tertera di layar. “Mas? Maksud Mas apa—”“JANGAN pura-pura bego!” suara Damar meninggi,
“Mas ...,” lirih Risa hampir tak terdengar, “aku ... pusing ...,” ujarnya, merasakan pandangannya buram.Damar langsung menegang. “Risa?”Kelopak mata Risa berkedut, tubuhnya condong ke depan, hampir jatuh dari sofa. Damar sigap meraih bahunya, menahan tubuh itu sebelum benar-benar ambruk.“Risa!” amar menguncang tubuh Risa beberapa kali, mencoba membuatnya tetap tersadar. “Hei. Jangan merem. Dengar aku.”Tangan Risa meraih udara kosong, gemetar, lalu jatuh lemas ke pangkuannya.“Mas ... aku ... nggak bisa napas ...,” bisiknya parau.Damar membeku sepersekian detik—cukup untuk menunjukkan rasa takutnya—lalu langsung mengangkat wajah Risa dengan kedua tangannya.“Risa, buka mata. Sekarang.”Risa mencobanya ... tapi pandangannya kabur. Badannya dingin. Kepalanya terasa ringan.“Mas ... gelap ...”Tubuhnya terkulai.Damar menahan napas meliat Risa yang semakin lemah.“RISA!”Risa membuka mulutnya sedikit, seperti ingin bicara—tapi tak ada suara yang keluar.Tubuhnya tiba-tiba jatuh penuh
Damar menepis tangan Risa dari pompa itu dengan cepat—keras—pompa itu jatuh ke lantai. Menimbulkan suara yang cukup keras. Damar bergegas menggeser tubuhnya, menghalangi Risa menggapai pumping itu.“RISA!” bentaknya.Risa tersentak, menatap nanar pumping miliknya yang kini teronggok di balik badan Damar. “Mas! Kenapa—”“Karena kamu nyakitin diri sendiri,” jawabnya datar. Sangat datar.Risa mendongak, berlinang air mata. “Aku cuma mau ngeluarin ASI! Tadi udah keluar! Harusnya bisa lebih banyak—”“Risa.”Bentakan Damar tajam. Mengiris. Dingin. “Kamu perahnya sembarangan. Ritmenya nggak bener. Kamu maksa perah ASI sampai merah,” ujar Damar melihat sekilas area dada Risa, melihat sebagai kakak ipar yang cemas, bukan pria bernafsu.Risa menggeleng keras, napasnya tersengal, dadanya naik turun tak karuan. “Awas! Aku harus isi botolnya! Kalau aku nggak perah, nanti ASI-nya makin sedikit—Mas nggak ngerti—”“Aku ngerti.”Damar jarang—sangat jarang—menaikkan suara.Wajahnya mengeras. Rahangnya
“Risa! Urusin anak kamu itu! Berisik banget!”Hentakkan itu membuat Risa mendongak. Pasalnya, dari pagi ia menahan sakit di tubuhnya. “Tapi Sara nangis terus dari tadi, Mas. Badanku masih lemes banget ...,” lanjut Risa sembari mengayun tubuh Sara penuh kelembutan. Sebulir keringat mulai bercucura
“Mau ke mana?”Suara bariton itu menghentikan langkah Bara yang baru kembali dari luar.“Ambil paspor, Mas. Ada meeting mendadak di luar negeri, sekalian opening cabang baru,” jawabnya datar, tanpa menatap Damar.Damar bersandar di kursi, kedua tangan bersilang di dada, mengamati adiknya yang menen
Deru mobil sampai berhenti di halaman rumah. Risa dan Damar segera turun dengan wajah lelahnya. Sementara Sara tetap anteng di gendongan Risa.“Bisa?” tanya Damar menatap Risa yang tengah membuka seatbealtnya.Risa mengangguk. “Bisa, sebentar.”Damar keluar terlebih dahulu, berlari ke sisi sebelahn
Semalaman, entah mengapa tidurnya terasa tenang.Tak ada tangisan Sara yang biasanya membangunkannya untuk menyusu—rasanya damai, anehnya.Pagi itu, Risa mengganti popok Sara sambil menahan nyeri di dadanya. Payudaranya menegang– sudah beberapa hari seperti itu. Dulu ASI-nya tak keluar sama sekali,







