Chapter: 7. Ayah Jadi Perhitungan dan Pelit"Mang, nggak jadi ke kosan. Kita ke rumah sakit sekarang," katanya cepat. Mang Jajang hanya mengangguk, segera memutar motor dan menambah kecepatan. Begitu motor berhenti di depan rumah sakit, Varisha langsung melompat turun tanpa pikir panjang. Nafasnya terengah, langkahnya cepat menuju ruang IGD. Di sana, terlihat Bi Sarti dan Pak Darto berdiri cemas di depan pintu, wajah keduanya pucat dan gelisah. "Bi! Gimana keadaan Kakek?" tanya Varisha terburu-buru. "Masih diobservasi, Non … tadi sempat nggak sadarkan diri," jawab Bi Sarti dengan mata berkaca-kaca. Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Varisha melangkah masuk ke dalam ruangan. Begitu melihat sosok sang kakek di atas ranjang rumah sakit, hatinya serasa diremas. Tubuh sepuh itu terbaring lemah dengan selang infus di tangan, alat bantu pernapasan menempel di hidung, dan suara monitor jantung berdetak pelan namun teratur di sisi ranjang.Memang sejak Varisha memutuskan untuk kos dirinya jarang mengunjungi Kakeknya. Rasa b
Last Updated: 2026-07-25
Chapter: Sugar Baby AyahDi dalam restoran, Adirama memasukkan ponselnya ke saku celana. Suara piring beradu dan denting sendok di sekitar mereka tak cukup untuk menutupi percakapan yang terdengar menjijikkan di telinga siapa pun yang kebetulan mendengarnya.“Siapa yang nelpon, Om?” tanya perempuan di hadapannya dengan nada manja, tapi sorot matanya tajam—ada rasa curiga di balik senyumnya yang dibuat-buat.“Anak Om,” jawab Adirama santai.“Dia tahu kalau Om lagi bersamaku?”“Enggak, dia lagi di rumah. Kelasnya libur hari ini,” ujarnya, sembari mengusap pipi perempuan itu lembut. Sentuhan yang seharusnya penuh kasih ayah pada anak kini bergeser jadi sesuatu yang membuat siapa pun yang melihat ingin berpaling. Namun di kota besar seperti ini hal itu tampak lumrah.“Oh…” gumam si perempuan sambil tersenyum menggoda. “Pantes aja tadi Om bela-belain jemput aku ke kampus. Kalau dia sampai tahu, kan bahaya.”Adirama terkekeh pelan. “Makanya, kita main cantik aja, Baby.”Tak lama, pelayan datang membawa dua piring s
Last Updated: 2026-07-24
Chapter: Main Cantik “Gimana, Om?” rengek perempuan itu dengan nada manja yang menusuk telinga. “Boleh, tapi nanti Om cari-cari dulu apartemen yang nggak jauh dari kantor Om,” suara Adirama terdengar lembut dari dalam restoran. “Supaya kalau Om capek, bisa istirahat dulu di sana.” Nada suaranya genit. Nyaris seperti pria muda yang sedang berusaha merayu kekasih barunya. Varisha menggigit bibir, jijik. Rasanya ingin muntah. Pria yang dulu mengajarinya berhitung, yang selalu menegur kalau ia pulang terlambat, yang berbicara tentang tanggung jawab dan kehormatan keluarga—kini tampak seperti orang asing. Benarkah itu ayahnya? Atau hanya tubuh ayahnya yang sama, tapi jiwanya sudah digantikan oleh sosok yang busuk dan murahan? “Ih, serius Om?” tawa perempuan itu terdengar renyah, manja. “Makasih ya Om… Oh iya, mobil aku ditarik leasing. Jadi aku sekarang nggak punya mobil.” Ia menatap ayahnya dengan mata berbinar-binar penuh harap. “Aku pengen mobil, Om…” katanya, suaranya melengking lembut, dibuat-buat.
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: Jadi Detektif DadakanDari gesturnya, Varisha merasa mengenali sosok perempuan itu. Namun ia menahan diri, belum saatnya memergoki ayahnya sekarang. Ia ingin tahu lebih jauh, ingin melihat sendiri sejauh mana ayahnya akan pergi dengan perempuan itu.Ayahnya benar-benar pembohong, baru saja tadi dia berjanji dan sekarang berani-beraninya dia menjemput perempuan muda. Apa dia merasa kaya? Varisha semakin tidak rela, dia harus turun tangan. Jangan sampai harta keluarganya dihambur-hamburkan oleh ayahnya. Kesuksesan yang diraih ayahnya tidak semata usahanya sendiri, ada sosok ibunya dan kakeknya yang berjasa di balik berdirinya perusahaan Mega Konstruksi.“Mang, lanjut,” ujar Varisha pelan, menepuk pundak Jajang begitu perempuan itu masuk ke dalam mobil dan kendaraan hitam itu kembali melaju.Tanpa banyak bicara, Jajang langsung memutar gas. Ia sudah paham perannya. Kecepatan motor diaturnya dengan presisi—tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Setiap tikungan diikutinya dengan hati-hati, seolah ia benar-ben
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: PembohongAdirama terdiam sejenak. Ia menatap layar ponselnya yang kini gelap, seolah tak ingin menjawab pertanyaan putrinya. Tatapan Varisha berubah tajam, penuh curiga. "Ayah, siapa yang menelepon? Jangan-jangan...""Varis, ini ... hanya rekan bisnis," ujar Adirama, berusaha terdengar tenang. Namun, getar kecil dalam suaranya tak luput dari perhatian Varisha."Ayah," ucap Varisha dengan nada serius. "Jangan mengelak lagi. Setelah semua yang terjadi, aku hanya minta Ayah jujur padaku." Ia menatap ayahnya dalam-dalam, mencari kepastian."Benar, Varisha, ini rekan bisnis Ayah,"kata Adirama meyakinkan. "Jujur aku tak lagi percaya setelah kejadin tadi malam, Ayah. Ingat Ayah udah janji,"kata Varisha."Ayah tidak bohong, Sayang," sahut Adirama cepat."Maaf, aku jadi sulit percaya apa itu dari perempuan? Jujur saja, Yah. Entah berapa banyak perempuan yang sudah Ayah kencani, apa Ayah tidak merasa was-was? Anak Ayah juga perempuan loh, kalau aku dimainin om-om ganjen bagaimana?" kata Varisha.Dia me
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: Alasannya KesepianWajah Varisha memerah, campuran amarah dan kekecewaan memenuhi matanya. "Iya, aku di rumah, Ayah." Suaranya datar namun penuh kemarahan yang tertahan.Adirama terdiam sejenak, mencoba memahami situasi. "Sayang, ini tidak seperti yang kamu pikirkan," ujarnya dengan suara pelan, namun Varisha menatapnya tajam, tidak menerima penjelasan apapun."Jangan panggil aku 'Sayang,' Ayah!" serunya, tiba-tiba dadanya dipenuhi kebencian setelah tahu apa yang selama ini Adirama lakukan. "Apa yang sebenarnya Ayah lakukan? Bagaimana bisa Ayah melakukan hal ini di rumah kita sendiri? Di rumah Ibu?"Adirama tersentak. Meskipun terlihat tenang di luar, dalam hatinya dia merasa malu dan gugup. Selama ini, dia tidak pernah membayangkan akan ketahuan oleh putrinya. Ia mencoba mengelak, mencari alasan, tetapi tatapan mata Varisha terlalu menusuk, membuatnya terdiam."Kamu tidak mengerti, Varis," Adirama akhirnya berbicara, mencoba mempertahankan sisa-sisa wibawa yang ia punya. "Ayah juga punya kebutuhan. Keh
Last Updated: 2026-07-17