Share

Bab 243

Author: Millanova
last update Last Updated: 2026-02-16 22:01:59

"Kau bilang agenmu melihatnya? Dengan mata kepala sendiri?"

Suara Arka Adhiguna memecah keheningan ruang kerjanya yang bergaya minimalis modern. Ia berdiri menghadap jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kolam renang pribadi di halaman belakang rumahnya. Tidak ada pilar-pilar besar atau ukiran emas seperti di rumah kakeknya; rumah ini adalah benteng pribadinya, simbol kesuksesan yang ia bangun dengan tangannya sendiri di bawah bendera Adhiguna.

Hujan rintik-rintik masih membasahi Jaka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 248

    Jam dinding digital di kamar tidur utama menunjukkan pukul 01.30 dini hari.Arka melepas jas tuksedonya dan melemparnya sembarangan ke sofa. Ia melonggarkan dasi kupu-kupunya yang terasa mencekik leher, sementara Nia duduk di tepi ranjang, masih memijat keningnya yang pening akibat emosi di pesta tadi."Mas..." panggil Nia pelan. "Kamu mikirin apa? Kok tiba-tiba diam begitu?"Arka tidak langsung menjawab. Ia berdiri mematung di depan jendela kamar yang gelap, matanya menatap kosong ke arah hujan di luar. Rahangnya mengeras, seolah sedang menahan amarah yang meledak di kepalanya."Aku baru saja menyadari betapa bodohnya aku, Nia," gumam Arka getir."Bodoh kenapa?"Arka berbalik, menatap istrinya dengan tatapan tajam namun penuh penyesalan. "Kamu ingat beberapa bulan lalu? Waktu aku cerita kalau aku tidak sengaja melihat mobil Bella di parkiran Rutan Pondok Bambu?"Nia mengernyit, mencoba mengingat. "Oh... yang waktu itu kamu pulang marah-marah, tapi besoknya kamu bilang kalau kamu sala

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 247

    Gemuruh tepuk tangan perlahan mereda, berganti dengan denting gelas dan tawa renyah para sosialita yang kini kembali sibuk dengan obrolan mereka. Namun, topik utama malam itu sudah bergeser. Bukan lagi tentang lelang amal, melainkan tentang Bella gadis "biasa" yang berhasil memukau semua orang dengan pidato yang menyentuh hati.Dimas tampak seperti pria paling bahagia di dunia. Ia dikelilingi oleh rekan-rekan bisnis mendiang ayahnya yang memberinya selamat karena telah menemukan "berlian yang belum diasah".Sementara itu, Bella meminta izin sebentar untuk mengambil minuman. Dimas, yang sedang sibuk meladeni seorang direktur bank, mengangguk dan membiarkan tunangannya berjalan sendirian ke arah meja prasmanan VIP yang agak sepi.Arka dan Nia, yang sejak tadi mengawasi dari balik pilar marmer besar, bergerak mengikuti arah Bella. Mereka menjaga jarak, bersembunyi di balik keramaian, namun mata mereka setajam elang."Lihat langkah kakinya," bisik Nia pelan. "Tadi di panggung dia pura-pur

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 246

    "Bella!"Teriakan Dimas menggema di ballroom yang sunyi senyap itu. Dengan gerakan refleks yang cepat, Dimas sudah berlutut di samping tunangannya, menahan tubuh Bella yang terduduku lemas di anak tangga marmer.Wajah Bella pucat, matanya berkaca-kaca menahan sakit. Ia memegangi pergelangan kakinya yang tampak bengkok di balik belahan gaun midnight blue-nya."Sayang, kamu nggak apa-apa? Mana yang sakit?" tanya Dimas panik, tangannya gemetar saat menyentuh kaki Bella.Bella mendongak, menatap Dimas dengan mata basah yang membuat hati siapa pun yang melihatnya akan luluh."Maaf, Mas..." isaknya pelan, namun cukup terdengar oleh tamu-tamu di barisan depan yang hening. "Aku... aku ceroboh. Aku bikin kamu malu di depan semua orang penting ini.""Nggak, Sayang. Jangan ngomong gitu. Kamu nggak bikin malu siapa-siapa," hibur Dimas lembut, membantu Bella untuk berdiri perlahan."Gaun ini..." Bella menarik napas panjang, seolah menahan tangis. "Gaun ini terlalu indah, terlalu mewah buat aku, Ma

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 245

    Malam amal Yayasan Barata & Adhiguna digelar di Grand Ballroom Hotel Mulia, salah satu tempat paling prestisius di Jakarta. Lampu-lampu kristal raksasa menggantung di langit-langit, memendarkan cahaya keemasan ke seluruh penjuru ruangan yang dipenuhi oleh bunga-bunga segar dan denting gelas sampanye.Di pintu masuk utama, kilatan lampu kamera wartawan menyambut kedatangan keluarga tuan rumah.Sebuah limousine hitam berhenti. Pintu terbuka. Arka turun lebih dulu, mengenakan tuksedo hitam velvet yang membalut tubuh tegapnya dengan sempurna. Ia mengulurkan tangan pada Nia, yang tampil anggun namun tidak mencolok dengan gaun sutra berwarna champagne.Namun, sorotan malam itu bukan untuk mereka."Wah... siapa itu?" bisik seorang fotografer saat pintu mobil kedua terbuka.Dimas turun dengan wajah berseri-seri, menggandeng seorang wanita yang membuat napas para tamu undangan tertahan sejenak.Bella.Malam itu, Bella bukan lagi gadis desa yang polos. Ia mengenakan gaun midnight blue pilihan N

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 244

    Satu hari sebelum malam amal.Lampu kristal di walk-in closet kamar utama kediaman Adhiguna bersinar hangat, memantul pada deretan jas dan gaun malam yang tertata rapi. Namun, perhatian Nia malam itu terpaku pada satu gaun yang tergantung di tengah ruangan.Nia berdiri di depan cermin besar, memegang sebuah gaun panjang berwarna midnight blue dengan potongan bahu terbuka (off-shoulder) dan bagian punggung yang terekspos sangat rendah. Gaun itu indah, elegan, namun memancarkan aura dingin yang mengintimidasi."Ini terlalu... mirip dengan seleranya, Mas," gumam Nia pelan, jarinya menyusuri kain beludru halus gaun itu. "Potongannya, warnanya, bahkan detail korsetnya... ini teriakkan nama 'Clara' di setiap jahitannya."Arka, yang duduk di sofa beludru di tengah ruangan sambil menyesap espresso malamnya, mengangguk pelan."Itu tujuannya, Sayang," jawab Arka tenang. Matanya menatap gaun itu dengan tatapan menilai, seolah sedang melihat senjata, bukan pakaian. "Clara punya selera yang sangat

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 243

    "Kau bilang agenmu melihatnya? Dengan mata kepala sendiri?"Suara Arka Adhiguna memecah keheningan ruang kerjanya yang bergaya minimalis modern. Ia berdiri menghadap jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kolam renang pribadi di halaman belakang rumahnya. Tidak ada pilar-pilar besar atau ukiran emas seperti di rumah kakeknya; rumah ini adalah benteng pribadinya, simbol kesuksesan yang ia bangun dengan tangannya sendiri di bawah bendera Adhiguna.Hujan rintik-rintik masih membasahi Jakarta, menciptakan suasana melankolis yang kontras dengan api amarah di dada Arka."Sangat jelas, Pak," suara Anton terdengar jernih melalui sambungan telepon yang dienkripsi. "Agen saya, Napi 304 alias 'Baron', baru saja mengirim kabar lewat ponsel selundupan. Dia melihat Clara di jam makan siang tadi. Dia ada di kantin Blok Mawar, blok khusus tahanan wanita yang 'mampu bayar'."Arka mencengkeram ponselnya lebih erat. "Jadi, sipir di depan itu berbohong padaku. Dia bilang data Clara tidak ada.""

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status