author-banner
Cahaya Bulan Purnama
Author

Romans de Cahaya Bulan Purnama

Kejamnya Mulut Suamiku

Kejamnya Mulut Suamiku

Matahari pagi baru saja menyelinap masuk lewat celah jendela kamar yang kacanya sudah mulai berdebu. Rina mengerjap pelan, mengusap sisa kantuk dari matanya, namun rasa lelah yang terasa di sekujur tubuhnya tak kunjung hilang. Sudah tiga tahun ia menikah dengan Dimas, lelaki yang dulu ia anggap sebagai pelindung dan harapan hidupnya, namun kini berubah menjadi beban terberat yang harus ia pikul sendirian. Dimas duduk di tepi kasur, wajahnya masam seolah dunia ini selalu berbuat salah padanya. Ia tidak pernah mau bekerja. Setiap kali Rina mengajaknya mencari pekerjaan, jawabannya selalu sama: "Pekerjaan apa yang ada di sini? Semuanya rendah dan tidak pantas untukku." Padahal, banyak tetangga yang bekerja sebagai buruh, pedagang, atau tukang ojek demi menafkahi keluarga. Dimas lebih suka duduk di rumah, merokok, dan menunggu uang datang entah dari mana dia dapat. "
Lire
Chapter: Bab 69
Sari duduk sendirian di kursi goyang empuk di sudut kamar utama, tangannya lembut mengusap perutnya yang kini sudah membuncit cantik. Cahaya matahari sore menyinari wajahnya, namun tidak mampu menghapus keresahan yang terus membayangi benaknya. Ia kembali menelusuri kenangan yang sudah lama ia kunci rapat-rapat di dalam hati, kenangan yang menjadi awal mula segala kebohongan besar yang kini ia pikul sendirian. Saat itu belum genap dua bulan mereka menikah. Dimas tampak begitu bahagia, penuh harap ingin segera memiliki keturunan. Setiap malam ia selalu berbicara tentang masa depan, tentang anak-anak yang akan berlari mengelilingi rumah mereka, tentang bagaimana ia akan mendidik dan menyayangi mereka sepenuh hati. Sari hanya bisa tersenyum mendengarnya, meski dalam hati ada rasa cemas yang mulai merayap. Suatu hari, mereka sepakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan kandungan. Hasilnya datang begitu menghantam seperti petir di siang bolong. Dokter berkata dengan nada lembut namun te
Dernière mise à jour: 2026-08-03
Chapter: Bab 68
Matahari pagi itu menyelinap lembut lewat jendela kaca besar kamar utama rumah mewah milik Dimas dan Sari. Dimas sudah bangun lebih awal, sibuk merapikan berkas-berkas kerjanya di meja belajar, sesekali melirik ke arah tempat tidur tempat istrinya masih terbaring dengan tenang. Sari tampak begitu cantik meski baru bangun tidur, perutnya yang kini sudah menginjak usia tujuh bulan terlihat jelas menonjol di balik selimut lembut. Senyum bahagia terus mengembang di wajah Dimas setiap kali ia memandang perut itu. Baginya, janin yang ada di sana adalah bukti cinta abadi mereka, anugerah terindah yang mengubah hidupnya menjadi jauh lebih sempurna. "Sayang, sudah bangun?" sapa Dimas lembut saat melihat Sari mulai mengerjap pelan. Ia segera berjalan mendekat, duduk di tepi kasur lalu mengusap lembut rambut panjang Sari. "Ibu hamil harus bangun pagi supaya sehat ya. Aku sudah minta pembantu menyiapkan sarapan kesukaanmu." Sari tersenyum tipis, namun ada kilat kegelisahan yang cepat sekali h
Dernière mise à jour: 2026-08-03
Chapter: Bab 67
Suasana di ruang rawat inap rumah sakit terasa sunyi namun penuh kekhawatiran. Rina masih terbaring lemah di atas ranjang, wajahnya pucat pasi, selang infus menempel di punggung tangannya. Sesekali ia meremas perut bagian bawah dengan wajah meringis menahan nyeri kram yang datang silih berganti. Di sampingnya Rendra duduk terpaku, tangannya menggenggam lembut tangan Rina yang terasa dingin. Air mata menetes tanpa suara dari sudut matanya—rasa bersalah begitu menghimpit dadanya, seolah ia adalah pelaku utama yang menghancurkan kebahagiaan istrinya sendiri. "Maafkan aku, Rin... Maafkan aku..." bisiknya berulang-ulang, menempelkan punggung tangan Rina ke pipinya yang basah. "Aku bodoh sekali... Aku membiarkan masa lalu merusak segalanya... Tolong bertahanlah, kamu dan anak kita..." Bu Widya berdiri tak jauh dari sana, punggungnya tegak namun matanya memancarkan kemarahan yang tak terlukiskan. Wanita yang dikenal tegas dan berwibawa itu kini menggenggam erat ponsel yang tadi ditemukan
Dernière mise à jour: 2026-07-27
Chapter: Bab 66
Pagi itu sinar matahari menyelinap lembut lewat jendela kaca besar ruang kerja Rina di butik miliknya. Ruangan itu beraroma bunga melati segar dan tumpukan kain-kain sutra berwarna lembut yang baru saja datang dari pemasok. Rina duduk di balik meja kerjanya yang rapi, jari-jarinya yang lentik sedang menyusun sketsa gaun pesta untuk klien penting minggu depan. Wajahnya tampak tenang, namun sesekali tangannya mengelus perut bagian bawah yang masih rata. Ia belum memberitahu siapa pun—bahkan pada Rendra maupun Bu Widya—bahkan dua hari yang lalu tes kehamilan menunjukkan dua garis merah jelas. Kandungannya masih sangat muda, baru menginjak usia empat minggu, tapi rasa bahagia itu sudah memenuhi setiap sudut hatinya. Belum sempat ia melamun lebih jauh, ponsel di sampingnya bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal, disertai sebuah berkas video berukuran cukup besar. Rina mengernyitkan dahi. Dalam hatinya ia bertanya-tanya siapa yang mengirim pesan tanpa menyertakan na
Dernière mise à jour: 2026-07-27
Chapter: Bab 65
Suara deru mesin mobil Rendra perlahan mereda di halaman rumah. Pintu depan terbuka, dan Rendra melangkah masuk dengan senyum yang sejak pagi itu tak pernah lepas dari bibirnya—senyum damai karena beban rahasia yang membelenggunya selama ini akhirnya luruh setelah ia berani jujur pada Rina. Ia meletakkan tas kerjanya di sudut ruangan, lalu menyambar tubuh istrinya yang menyambutnya di ambang pintu ke dalam pelukan hangat. "Aku pulang, Sayang. Rasanya hari ini perjalanan terasa lebih singkat dari biasanya, karena hatiku selalu rindu padamu," bisiknya lembut, mencium puncak kepala Rina. Namun pelukan itu tidak dibalas seerat biasanya. Rina hanya diam, kedua tangannya tergantung di samping tubuh, dan saat Rendra menurunkan pandangannya untuk menatap wajah istrinya, ia melihat sorot mata Rina yang biasanya teduh kini berubah dingin, ada kilatan luka yang samar namun terasa menyakitkan. "Ada apa, Rina? Kenapa wajahmu berubah begitu?" tanya Rendra cemas, segera melepaskan pelukannya dan
Dernière mise à jour: 2026-07-23
Chapter: Bab 64
Uap air hangat masih mengepul di ruang mandi yang luas dan bersih, menyisakan aroma sabun lembut yang memenuhi udara. Rendra berdiri di dekat wastafel, wajahnya yang biasanya penuh percaya diri kini tampak gundah dan penuh kegelisahan. Ia membasuh wajah berkali-kali, seolah ingin menghapus jejak rasa bersalah yang menyesakkan dadanya. Di sebelahnya, Rina sedang mengeringkan rambut dengan handuk lembut, gerakannya tenang namun terlihat ada ketegangan halus yang menyelimuti raut wajahnya. Sejak tadi, ia menyadari perubahan sikap Rendra yang berubah hening dan berat, seolah ada beban berat yang tertahan di hati suaminya. Setelah selesai bersih-bersih, mereka berjalan berdampingan kembali ke kamar tidur. Cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela kini terasa lebih terang, namun suasana di antara mereka terasa berat dan penuh keheningan yang menyakitkan. Rendra duduk di tepi tempat tidur, kedua tangannya meremas lutut dengan gugup. Ia menatap lantai, tak berani menatap manik mata
Dernière mise à jour: 2026-07-23
Vous vous intéresseriez aussi à
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status