
Ganendra | Obsesi Sahabat Suamiku
"Jadilah wanitaku, Kinanti... Ceraikan suamimu."
"Aku tidak bisa, Ganendra. "
"Tapi Bara selingkuh... dan selingkuhannya hamil."
"Apa bedanya dengan kita?"
=======
Kinanti Atmadja adalah seorang designer ternama, juga seorang istri dari Barata Pramayudha. Seorang pengusaha sukses, dan juga pewaris tunggal Prama Group.
Tiga tahun mereka berumahtangga, di depan orang lain, keluarga dan media mereka terlihat harmonis, namun di balik pintu rumah megahnya, mereka bersikap dingin satu sama lain.
•••
Suatu saat bara menghamili sekretarisnya, mereka berselingkuh bahkan di tahun kedua pernikahannya dengan Kinanti, namun karena tuntutan dari keluarga untuk menjaga nama baik. Mereka masih bertahan.
•••
Hingga datanglah sahabat Bara yaitu Ganendra Adipati. Menawarkan cinta yang sulit untuk di tolak oleh Kinanti.
•••
Ganendra Adipati adalah definisi sempurna bagi seorang lelaki. Tampan, mapan dan Setia. Baginya, Kinanti adalah cinta sejatinya.
•••
"Kau menikmatinya, Kinanti... berada dibawah ku, meneriakkan namaku di saat percintaan panas kita."
Ler
Chapter: GelisahPukul dua dini hari.Kinanti terbangun dari tidurnya dengan napas yang terasa berat. Matanya perlahan terbuka, lalu refleks menoleh ke samping. Ganendra masih terlelap pulas di sebelahnya, wajah lelaki itu tampak tenang, napasnya teratur, seolah dunia di luar sana tidak sedang berguncang.Kinanti bangkit perlahan agar tidak membangunkannya. Ia meraih kimono tipis yang tergeletak di sisi ranjang, menyampirkannya ke tubuhnya, lalu berdiri. Langkahnya pelan, mondar-mandir di sekitar ranjang, namun pikirannya jauh dari kata tenang.Dadanya terasa sesak.Tanpa sadar, ia menggigit kuku jarinya—kebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali kecemasan mengambil alih. Pandangannya kembali tertuju pada Ganendra. Lelaki itu terlihat begitu damai, begitu yakin akan hari esok, sementara hatinya sendiri penuh badai.Kinanti meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Layar menyala, menampilkan pesan terakhir dari Bara—suaminya.[Bara: Kinan... aku masih memberimu waktu sampai besok pukul sembila
Última atualização: 2026-01-08
Chapter: Rencana Bara“Brengsek!!! Kau benar-benar brengsek, Ganendra!!!” teriak Bara dengan suara parau penuh amarah. “Kau sahabatku!” Tepat saat itu, pintu unit Kinanti terbuka lebar. Dua orang sekuriti masuk dengan sigap, mata mereka langsung tertuju pada Bara yang masih berdiri dengan napas memburu dan wajah merah padam. “Pak, tolong usir dia,” ucap Kinanti dengan suara tegas, meski dadanya masih naik turun menahan emosi. “Jangan biarkan dia menginjakkan kaki ke gedung ini lagi.” “Baik, Bu,” jawab salah satu sekuriti singkat. Kedua penjaga itu mendekati Bara dan bersiap mengamankannya. Namun Bara menepis tangan mereka dengan kasar. “Aku bisa keluar sendiri,” ucapnya dingin, lalu menoleh tajam ke arah Ganendra. “Dan dengarkan aku baik-baik, Ganendra. Aku tidak akan pernah menceraikan istriku. Tidak sekarang, tidak nanti. Selamanya kau hanya akan dikenal sebagai perusak rumah tangga.” Kalimat itu dilontarkan seperti pisau—tajam dan disengaja untuk melukai. Tanpa menunggu balasan, Bara melangkah ke
Última atualização: 2025-12-17
Chapter: Kita sudah tidur bersama! BUGH!Pukulan telak itu mendarat tepat di rahang Ganendra. Kinanti tersentak. Ciuman hangat yang baru saja terasa masih melekat di bibirnya langsung terputus begitu saja.“Bara!!! Are you insane?!” teriak Kinanti, suaranya pecah antara marah dan tidak percaya.Ganendra terdorong beberapa langkah ke belakang, mengusap sudut bibirnya yang langsung mengucurkan darah. Sementara itu Kinanti refleks berdiri, ingin menghampiri Ganendra. Namun sebelum ia sempat melangkah—Bara, yang wajahnya sudah merah padam penuh amarah, langsung mendorong Kinanti dengan kasar. Dorongan itu membuat tubuh Kinanti sedikit terseret mundur.“Bara!!” seru Kinanti, tersentak dan terkejut.Namun tindakan itu justru menyulut sesuatu dalam diri Ganendra. Tatapan matanya berubah tajam, rahangnya mengeras, dan napasnya memburu. Melihat perempuan yang ia cintai didorong seperti sampah membuat darah Ganendra mendidih seketika.Tanpa pikir panjang, Ganendra bangkit dan menarik kerah baju Bara, kemudian membalas dengan pu
Última atualização: 2025-12-11
Chapter: TalkSiang hari, cahaya matahari jatuh lembut melalui tirai krem apartemen Kinanti, menciptakan suasana hening namun tegang. Kinanti duduk tegak di sofa ruang tamu, rambutnya diikat rapi, wajahnya tetap tenang meski sorot matanya jelas menyimpan beban.Di sampingnya, Ganendra duduk dengan posisi sedikit condong ke arahnya, seolah tubuhnya secara naluriah ingin menjadi pelindung. Jemari mereka saling bertaut, memberi kekuatan yang diam-diam tetapi kuat.Di hadapan mereka duduk seorang perempuan elegan masih muda dengan aura profesional yang tegas — Shanika, salah satu pengacara kenamaan di Indonesia. Berkas tebal berada di pangkuannya, beberapa sudah dibuka di meja kaca.“Saya hanya menginginkan perceraian yang tenang,” ucap Kinanti, suaranya pelan namun mantap. “Tanpa huru-hara, apalagi media. Saya tidak ingin hidup saya menjadi konsumsi publik.”Shanika mengangguk pelan. Jemarinya yang berpengalaman membuka halaman demi halaman dokumen: bukti perselingkuhan Bara dengan Nadia — foto-foto m
Última atualização: 2025-12-10
Chapter: Peperangan“Bicara yang jelas, Pah… saya tidak mengerti.” suara Ganendra terdengar datar namun tegang. Di pelukannya, Kinanti menggeliat kecil. Dia masih dalam keadaan telanjang, hanya seprai tipis menutupi tubuhnya. Refleks, Ganendra mengusap punggungnya pelan — gerakan otomatis, protektif, agar wanita itu tetap tidur. Suara di telepon kembali terdengar, tajam, penuh tekanan. “Kau tahu… sahabatmu itu menyuap media untuk merilis berita tentangmu dan istrinya. Kau sangat beruntung, semua media besar di Indonesia masih dalam kendali Papa.” Ganendra memejamkan mata sebentar, rahangnya mengeras. Tidak ada keterkejutan di wajahnya, hanya kejengkelan. “Lalu?” tanyanya singkat. Nada ayahnya berubah — tidak hanya marah, tetapi kecewa dan murka. “Apa kau sudah gila, Ganendra? Wanita mana yang tidak bisa kau dapatkan? Mengapa kau harus berhubungan dengan istri orang lain?” Tatapan Ganendra bergeser ke wajah Kinanti. Rambut wanita itu jatuh menutupi pipinya, bibirnya sedikit terbuka, napasn
Última atualização: 2025-12-09
Chapter: Kau selingkuh dengan sahabatku, KinanBara diam sejenak di depan pintu. Nafasnya berembus berat sebelum akhirnya ia memasukkan passcode apartemen yang hanya dia dan satu perempuan itu tahu. “Nadia…” panggilnya pelan. Dari dalam, langkah kaki cepat terdengar. “Mas udah dateng…” Nadia menghampirinya dengan senyum lega. Rambutnya tergerai kusut manis, masih memakai oversized t-shirt milik Bara—yang kini jelas tak lagi pas menutupi perutnya yang membuncit. Tanpa menunggu reaksi, Nadia langsung memeluknya. Tangannya melingkar di pinggang Bara, wajahnya menempel di dadanya. Tapi Bara kaku. Pelukannya tidak kembali seperti biasanya—tidak ada sentuhan lembut di punggung, tidak ada kecupan cepat di ubun-ubun kepala Nadia seperti rutinitas malam-malam sebelumnya. Nadia menangkap perubahan itu dalam sekejap. “Mas…” suaranya pelan, penuh tanya, “Mas kenapa?” Bara menghela napas panjang sebelum menjawab. “Tidak apa-apa, Nad. Mas cuma… lagi capek. Banyak kerjaan di kantor, dan… aku harus bolak-balik urus mertua yang masuk rum
Última atualização: 2025-12-08
Chapter: Bab 10 kiss you again“Saya bisa menikahi kamu.”Deg.Seakan seluruh udara di ruangan itu tersedot habis. Kanaya terpaku. Kata-kata itu menggantung di antara mereka, berat dan mengejutkan.Menikah.Bukan sekadar janji kosong. Bukan pula ucapan spontan tanpa pikir panjang.Kanaya menatap Sagara dengan mata membesar, dadanya naik turun tidak beraturan. Ada keterkejutan, ketakutan, juga kebingungan yang bercampur menjadi satu.Ia tidak menyangka... Bahwa pembicaraan ini akan berujung sejauh itu.“Pak... tidak usah sampai seperti itu,” ucap Kanaya lirih. “Saya... saya tidak mungkin menikah dengan Bapak.”“Kenapa tidak?” tanya Sagara.Nada suaranya rendah, namun terdengar menekan. Ia melangkah satu langkah lebih dekat. Terlalu dekat. Punggung Kanaya langsung menyentuh tepi meja kerjanya sendiri, membuat ruang geraknya habis.Aroma parfum Sagara menyergap indra penciumannya—hangat, maskulin, dan terlalu familiar. Ingatan Kanaya seketika melayang pada aroma yang sama, aroma yang semalam membuatnya kehilangan ken
Última atualização: 2026-01-07
Chapter: Bab 10 Izinkan saya bertanggungjawabWaktu terus bergulir tanpa terasa.Kanaya masih duduk di kubikelnya, menyelesaikan pekerjaan yang sejak siang tadi perlahan mulai berkurang. Beberapa laporan sudah ia kirim, beberapa lagi tinggal dirapikan. Pandangannya sempat melirik jam di pojok layar komputer.Hampir jam pulang.Belum sempat ia menghela napas lega, langkah kaki mendekat. Pak Dani, supervisor mereka, berhenti di depan kubikel Kanaya dan Sheila.“Nay, Sheil,” panggilnya. “Kalian bisa over time, ya? Ini masih ada laporan yang belum kesusu. Saya nggak bisa ngerjain sekarang, harus ke rumah sakit. Urgent.”Sheila langsung berdiri, ekspresinya sedikit kikuk.“Pak, saya nggak bisa sekarang,” ucapnya cepat. “Saya udah ada janji.”Sheila melirik ke arah Kanaya, seolah meminta pengertian. Kanaya menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan.“Ya udah, Pak,” ujar Kanaya akhirnya. “Biar saya aja yang ngerjain.”Pak Dani terlihat lega. Ia menyerahkan setumpuk berkas ke tangan Kanaya.“Thanks, Nay. Kalau udah selesai, tolong kirim
Última atualização: 2026-01-06
Chapter: Bab 9 Kiriman misteriusPukul satu dini hari. Lift apartemen berhenti dengan bunyi ding pelan. Kanaya melangkah keluar dengan langkah lelah. Bahunya sedikit turun, matanya sembab, tubuhnya terasa berat setelah perjalanan panjang dari Bogor kembali ke Jakarta. Koridor apartemen tampak lengang dan sunyi. Lampu-lampu temaram memantulkan bayangan langkahnya di lantai marmer. Saat Kanaya mendekati unit apartemennya, langkahnya mendadak terhenti. Di depan pintu, tergeletak sebuah keranjang buah yang tertata rapi. Di sampingnya, ada sebuah paper bag kecil berwarna putih. Kanaya mengernyit. “What?” gumamnya pelan. “Dari siapa ini, ya...” Ia menoleh sekilas ke sekeliling koridor yang sepi, memastikan tak ada siapa pun. Dengan tubuh yang sudah lemas, Kanaya membungkuk perlahan dan mengangkat keranjang buah itu. Tidak berat, tapi cukup membuat lengannya pegal. Ia membuka pintu unitnya, lalu masuk dan menyalakan lampu. Apartemen itu terasa sunyi, dingin, dan kosong—kontras dengan rumah orang tuanya yang hangat be
Última atualização: 2025-12-29
Chapter: Bab 8 Tidak bisa jujurKanaya baru saja menuruni tangga setelah berganti pakaian di kamarnya. Rambutnya masih setengah lembap, kaus rumah sederhana menggantikan pakaian kerjanya. Begitu sampai di ruang makan, ia melihat ayah dan adiknya sudah duduk di sana. “Eh, Papa sama Dimas udah pulang?” sapa Kanaya. Irwan menoleh, wajahnya langsung terlihat terkejut sekaligus senang. “Loh, Kakak di sini?” tanyanya. Kanaya tersenyum, lalu menghampiri ayahnya dan langsung memeluknya erat. “Kangen. Jadi mampir sebentar,” ucapnya lembut. “Nanti maleman balik ke Jakarta.” Irwan mengusap punggung Kanaya pelan. “Hm... nginep aja, Kak. Yah, besok siang baru kamu balik,” ujarnya mencoba membujuk. “Naya belum libur, Pah,” sahut Kanaya sambil tersenyum kecil. Ia kemudian menarik kursi di meja makan dan duduk di sebelah adiknya, Dimas, yang terlihat sangat fokus menatap layar ponsel, jari-jarinya lincah menekan layar permainan Mobile Legends. “Dek,” panggil Kanaya. “Kamu main game terus. Udah dapet belum kampus buat kul
Última atualização: 2025-12-28
Chapter: Bab 7 PulangKanaya melajukan mobilnya masuk ke jalur tol. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya di Bogor. “Gila ya... Gavin maunya apa sih?” gumam Kanaya, matanya tetap fokus ke jalan. “Dulu aja selalu kayak nggak ada effort. Nggak pernah inisiatif buat nemuin aku, apalagi bahas masa depan. Kenapa sekarang malah kayak gini?” Napasnya terdengar berat. “Harusnya dia seneng dong. Hubungan kita udah selesai, dan dia bebas mau sama cewek manapun, harusnya udah nggak ada urusan lagi sama aku.” Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalan tol yang mulai dipenuhi kendaraan menjelang malam. Lampu-lampu kota menyala satu per satu, menemani pikiran Kanaya yang terus berputar. Tujuh tahun bukan waktu yang singkat. Ia menghabiskan masa remajanya, tumbuh menjadi dewasa, dengan satu nama yang sama, Gavin. Hampir satu jam kemudian, mobil Kanaya memasuki kawasan perumahan tempat orang tuanya tinggal. Kompleks itu terasa familiar dan menenangkan,
Última atualização: 2025-12-25
Chapter: Bab 6 Susah menghindari“Saya lihat kamu jalan seperti menahan sakit. Kemungkinan saya lupa kalau saya terlalu keras tadi malam.”“Paaak!!!” seru Kanaya spontan, wajahnya langsung merah padam. Ia tahu persis arah pembicaraan Sagara. Ia ingat baik-baik apa yang terjadi malam itu—dan nyeri yang masih terasa pagi tadi. “Saya... permisi dulu, Pak. Terima kasih obatnya.” ucap Kanaya terbata-bata, buru-buru menunduk sopan lalu kabur keluar dari ruangan seperti dikejar. Begitu pintu tertutup, Sagara menyandarkan tubuhnya sambil tersenyum kecil. “Lucu sekali kalau kamu sedang salah tingkah seperti itu, Naya...” gumamnya sambil mengibas pelan berkas di tangannya. Sementara itu, di luar ruangan, Kanaya menatap plastik obat di tangannya sambil menggerutu pelan. “Astaga, bisa-bisanya dia bahas masalah itu... bikin tambah malu aja...” omelnya sambil berjalan cepat kembali ke kubikelnya, wajahnya masih panas karena malu sendiri. ••• Setelah seharian merasa gagal total menjalankan misi menghindari Sagara, akhirnya
Última atualização: 2025-12-23