LOGINKanaya melajukan mobilnya masuk ke jalur tol. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya di Bogor.
“Gila ya... Gavin maunya apa sih?” gumam Kanaya, matanya tetap fokus ke jalan. “Dulu aja selalu kayak nggak ada effort. Nggak pernah inisiatif buat nemuin aku, apalagi bahas masa depan. Kenapa sekarang malah kayak gini?” Napasnya terdengar berat. “Harusnya dia seneng dong. Hubungan kita udah selesai, dan dia bebas mau sama cewek manapun, harusnya udah nggak ada urusan lagi sama aku.” Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalan tol yang mulai dipenuhi kendaraan menjelang malam. Lampu-lampu kota menyala satu per satu, menemani pikiran Kanaya yang terus berputar. Tujuh tahun bukan waktu yang singkat. Ia menghabiskan masa remajanya, tumbuh menjadi dewasa, dengan satu nama yang sama, Gavin. Hampir satu jam kemudian, mobil Kanaya memasuki kawasan perumahan tempat orang tuanya tinggal. Kompleks itu terasa familiar dan menenangkan, sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. Kanaya memarkir mobil tepat di depan rumah berlantai dua milik orang tuanya. Ia duduk diam sejenak di balik kemudi, menarik napas panjang. “Gimana ya ngomong sama Mama dan Papa... kalau aku udah nggak sama Gavin lagi?” lirihnya. Ada rasa resah yang sulit dijelaskan. Bukan karena takut dimarahi, tapi lebih pada perasaan bersalah—seolah ia telah membawa harapan besar orang tuanya, lalu pulang dengan tangan kosong. Tarikan napas terakhir akhirnya membuat Kanaya membuka pintu mobil. Ia turun, menutup pintu dengan pelan, lalu melangkah masuk ke rumah. Hari sudah hampir malam. Begitu pintu dibuka, aroma masakan langsung menyambut indera penciumannya. Bau itu hangat dan familiar, membuat dadanya terasa sedikit lebih ringan. Seorang maid menghampiri Kanaya dengan senyum ramah. “Bi, Mama lagi masak ya?” tanya Kanaya. “Iya, Neng. Tuh di dapur. Sini tasnya bibi bawain ke kamar Neng Naya,” ujar sang maid sambil menerima tas dari tangan Kanaya. Kanaya mengangguk kecil, lalu melangkah menuju dapur. Di sana, ia melihat ibunya—Paresa—sedang sibuk di depan kompor, mengaduk masakan dengan celemek yang masih sama seperti dulu. Kanaya mendekat tanpa suara, lalu memeluk tubuh ibunya dari belakang. “Masak apa sih, Mah?” tanyanya manja. “Eh, Nay...” Paresa sedikit terkejut, lalu tersenyum. “Kamu kok pulang ke sini? Besok libur?” Kanaya melepaskan pelukannya, lalu mengambil sepotong timun di atas meja dapur dan menggigitnya santai. “Emang harus libur doang kalau Naya kangen Mama sama Papa?” sahutnya. Paresa menatap putrinya sekilas. “Enggaklah, sayang. Kamu sama Gavin?” Kanaya menggeleng ringan. “Sendiri, Mah.” Ibunya tidak langsung menanggapi, hanya mengangguk pelan. “Papa sama Dimas ke mana?” tanya Kanaya, mencoba terdengar biasa saja. “Papa sama adik kamu lagi di restoran. Tadi ada orang mau booking buat acara nikahan katanya,” jawab Paresa sambil tetap melanjutkan masak. “Wuih...” Kanaya tersenyum kecil. “Resto Papa makin oke ya. Bisa booking acara segala.” “Itu idenya Dimas,” kata Paresa. “Dia lihat di sosmed banyak yang begitu. Kamu mau juga nggak... booking buat nikahan kamu sama Gavin?” Paresa tertawa kecil, seolah itu hanya candaan ringan. “Tapi Gavin nggak mungkin mau nikah di tempat sederhana kayak gitu ya,” lanjut Paresa. “Pasti maunya di hotel atau gedung besar.” Kanaya ikut tertawa, meski terasa agak hambar. “Naya sih di mana aja nggak masalah, Mah,” jawabnya datar. “Sederhana juga oke. Sayang uangnya... yang penting rumah tangganya awet.” “Ah, kamu tuh kalau ngomong suka sembarangan,” sahut Paresa sambil melirik putrinya. “Mama sama Papa udah nabung dari jauh-jauh hari buat pernikahan impian kamu.” Kanaya hanya tersenyum tipis, tak ingin memperpanjang obrolan itu. “Ya udah, gih sana cuci tangan,” ujar Paresa kemudian. “Bentar lagi masakan Mama beres. Kita makan bareng, ya.” “Iya, Mah,” jawab Kanaya. “Naya ke kamar dulu.” Ia melangkah meninggalkan dapur, naik ke lantai atas, membawa serta perasaan yang belum juga menemukan bentuknya. ••• To be continued—“Saya bisa menikahi kamu.”Deg.Seakan seluruh udara di ruangan itu tersedot habis. Kanaya terpaku. Kata-kata itu menggantung di antara mereka, berat dan mengejutkan.Menikah.Bukan sekadar janji kosong. Bukan pula ucapan spontan tanpa pikir panjang.Kanaya menatap Sagara dengan mata membesar, dadanya naik turun tidak beraturan. Ada keterkejutan, ketakutan, juga kebingungan yang bercampur menjadi satu.Ia tidak menyangka... Bahwa pembicaraan ini akan berujung sejauh itu.“Pak... tidak usah sampai seperti itu,” ucap Kanaya lirih. “Saya... saya tidak mungkin menikah dengan Bapak.”“Kenapa tidak?” tanya Sagara.Nada suaranya rendah, namun terdengar menekan. Ia melangkah satu langkah lebih dekat. Terlalu dekat. Punggung Kanaya langsung menyentuh tepi meja kerjanya sendiri, membuat ruang geraknya habis.Aroma parfum Sagara menyergap indra penciumannya—hangat, maskulin, dan terlalu familiar. Ingatan Kanaya seketika melayang pada aroma yang sama, aroma yang semalam membuatnya kehilangan ken
Waktu terus bergulir tanpa terasa.Kanaya masih duduk di kubikelnya, menyelesaikan pekerjaan yang sejak siang tadi perlahan mulai berkurang. Beberapa laporan sudah ia kirim, beberapa lagi tinggal dirapikan. Pandangannya sempat melirik jam di pojok layar komputer.Hampir jam pulang.Belum sempat ia menghela napas lega, langkah kaki mendekat. Pak Dani, supervisor mereka, berhenti di depan kubikel Kanaya dan Sheila.“Nay, Sheil,” panggilnya. “Kalian bisa over time, ya? Ini masih ada laporan yang belum kesusu. Saya nggak bisa ngerjain sekarang, harus ke rumah sakit. Urgent.”Sheila langsung berdiri, ekspresinya sedikit kikuk.“Pak, saya nggak bisa sekarang,” ucapnya cepat. “Saya udah ada janji.”Sheila melirik ke arah Kanaya, seolah meminta pengertian. Kanaya menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan.“Ya udah, Pak,” ujar Kanaya akhirnya. “Biar saya aja yang ngerjain.”Pak Dani terlihat lega. Ia menyerahkan setumpuk berkas ke tangan Kanaya.“Thanks, Nay. Kalau udah selesai, tolong kirim
Pukul satu dini hari. Lift apartemen berhenti dengan bunyi ding pelan. Kanaya melangkah keluar dengan langkah lelah. Bahunya sedikit turun, matanya sembab, tubuhnya terasa berat setelah perjalanan panjang dari Bogor kembali ke Jakarta. Koridor apartemen tampak lengang dan sunyi. Lampu-lampu temaram memantulkan bayangan langkahnya di lantai marmer. Saat Kanaya mendekati unit apartemennya, langkahnya mendadak terhenti. Di depan pintu, tergeletak sebuah keranjang buah yang tertata rapi. Di sampingnya, ada sebuah paper bag kecil berwarna putih. Kanaya mengernyit. “What?” gumamnya pelan. “Dari siapa ini, ya...” Ia menoleh sekilas ke sekeliling koridor yang sepi, memastikan tak ada siapa pun. Dengan tubuh yang sudah lemas, Kanaya membungkuk perlahan dan mengangkat keranjang buah itu. Tidak berat, tapi cukup membuat lengannya pegal. Ia membuka pintu unitnya, lalu masuk dan menyalakan lampu. Apartemen itu terasa sunyi, dingin, dan kosong—kontras dengan rumah orang tuanya yang hangat be
Kanaya baru saja menuruni tangga setelah berganti pakaian di kamarnya. Rambutnya masih setengah lembap, kaus rumah sederhana menggantikan pakaian kerjanya. Begitu sampai di ruang makan, ia melihat ayah dan adiknya sudah duduk di sana. “Eh, Papa sama Dimas udah pulang?” sapa Kanaya. Irwan menoleh, wajahnya langsung terlihat terkejut sekaligus senang. “Loh, Kakak di sini?” tanyanya. Kanaya tersenyum, lalu menghampiri ayahnya dan langsung memeluknya erat. “Kangen. Jadi mampir sebentar,” ucapnya lembut. “Nanti maleman balik ke Jakarta.” Irwan mengusap punggung Kanaya pelan. “Hm... nginep aja, Kak. Yah, besok siang baru kamu balik,” ujarnya mencoba membujuk. “Naya belum libur, Pah,” sahut Kanaya sambil tersenyum kecil. Ia kemudian menarik kursi di meja makan dan duduk di sebelah adiknya, Dimas, yang terlihat sangat fokus menatap layar ponsel, jari-jarinya lincah menekan layar permainan Mobile Legends. “Dek,” panggil Kanaya. “Kamu main game terus. Udah dapet belum kampus buat kul
Kanaya melajukan mobilnya masuk ke jalur tol. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya di Bogor. “Gila ya... Gavin maunya apa sih?” gumam Kanaya, matanya tetap fokus ke jalan. “Dulu aja selalu kayak nggak ada effort. Nggak pernah inisiatif buat nemuin aku, apalagi bahas masa depan. Kenapa sekarang malah kayak gini?” Napasnya terdengar berat. “Harusnya dia seneng dong. Hubungan kita udah selesai, dan dia bebas mau sama cewek manapun, harusnya udah nggak ada urusan lagi sama aku.” Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalan tol yang mulai dipenuhi kendaraan menjelang malam. Lampu-lampu kota menyala satu per satu, menemani pikiran Kanaya yang terus berputar. Tujuh tahun bukan waktu yang singkat. Ia menghabiskan masa remajanya, tumbuh menjadi dewasa, dengan satu nama yang sama, Gavin. Hampir satu jam kemudian, mobil Kanaya memasuki kawasan perumahan tempat orang tuanya tinggal. Kompleks itu terasa familiar dan menenangkan,
“Saya lihat kamu jalan seperti menahan sakit. Kemungkinan saya lupa kalau saya terlalu keras tadi malam.”“Paaak!!!” seru Kanaya spontan, wajahnya langsung merah padam. Ia tahu persis arah pembicaraan Sagara. Ia ingat baik-baik apa yang terjadi malam itu—dan nyeri yang masih terasa pagi tadi. “Saya... permisi dulu, Pak. Terima kasih obatnya.” ucap Kanaya terbata-bata, buru-buru menunduk sopan lalu kabur keluar dari ruangan seperti dikejar. Begitu pintu tertutup, Sagara menyandarkan tubuhnya sambil tersenyum kecil. “Lucu sekali kalau kamu sedang salah tingkah seperti itu, Naya...” gumamnya sambil mengibas pelan berkas di tangannya. Sementara itu, di luar ruangan, Kanaya menatap plastik obat di tangannya sambil menggerutu pelan. “Astaga, bisa-bisanya dia bahas masalah itu... bikin tambah malu aja...” omelnya sambil berjalan cepat kembali ke kubikelnya, wajahnya masih panas karena malu sendiri. ••• Setelah seharian merasa gagal total menjalankan misi menghindari Sagara, akhirnya







