Home / Young Adult / Please Me, Dear Boss / Bab 8 Tidak bisa jujur

Share

Bab 8 Tidak bisa jujur

Author: Lyrik wish
last update Last Updated: 2025-12-28 15:21:52

Kanaya baru saja menuruni tangga setelah berganti pakaian di kamarnya. Rambutnya masih setengah lembap, kaus rumah sederhana menggantikan pakaian kerjanya.

Begitu sampai di ruang makan, ia melihat ayah dan adiknya sudah duduk di sana.

“Eh, Papa sama Dimas udah pulang?” sapa Kanaya.

Irwan menoleh, wajahnya langsung terlihat terkejut sekaligus senang.

“Loh, Kakak di sini?” tanyanya.

Kanaya tersenyum, lalu menghampiri ayahnya dan langsung memeluknya erat.

“Kangen. Jadi mampir sebentar,” ucapnya lembut. “Nanti maleman balik ke Jakarta.”

Irwan mengusap punggung Kanaya pelan.

“Hm... nginep aja, Kak. Yah, besok siang baru kamu balik,” ujarnya mencoba membujuk.

“Naya belum libur, Pah,” sahut Kanaya sambil tersenyum kecil.

Ia kemudian menarik kursi di meja makan dan duduk di sebelah adiknya, Dimas, yang terlihat sangat fokus menatap layar ponsel, jari-jarinya lincah menekan layar permainan Mobile Legends.

“Dek,” panggil Kanaya. “Kamu main game terus. Udah dapet belum kampus buat kuliah nanti?”

Dimas tanpa mengalihkan pandangan dari layar menjawab santai,

“Tenang aja, Kak. Dimas mah kalau nggak keluar kota, Mama sama Papa juga masih nampung Dimas tinggal di sini.”

Ia terkekeh kecil.

“Nanti Dimas tinggal masuk kampus yang deket rumah aja.”

Kanaya menggeleng pelan, senyum tipis terukir di wajahnya, menikmati suasana rumah yang terasa hangat—sesuatu yang diam-diam ia rindukan.

•••

Makan malam berlanjut dalam suasana hangat. Obrolan ringan dan bunyi sendok yang beradu dengan piring sesekali memenuhi ruang makan.

Setelah semuanya selesai, Kanaya bersama orang tuanya dan adiknya memutuskan untuk pindah ke ruang keluarga. Mereka duduk santai sambil menikmati buah potong yang sudah disiapkan.

Kanaya duduk di sofa, punggungnya bersandar, tangannya sibuk mengambil potongan buah tanpa benar-benar menikmati rasanya.

“Kak,” panggil Wisnu, ayahnya, memecah keheningan. “Itu Gavin bagaimana? Maksud Papa soal pernikahan kalian?”

Kanaya sedikit tertegun. Ia menelan potongan buah di mulutnya sebelum menjawab.

“Belum ada pembicaraan lagi, Pah,” jawabnya datar.

Nada suaranya terlalu rata. Wisnu dan Paresa saling berpandangan singkat. Mereka bisa menangkap sesuatu yang tidak biasa dari jawaban itu.

“Kalian... nggak lagi berantem, kan, Kak?” tanya Wisnu hati-hati.

Kanaya terdiam sejenak. Ia menunduk, jari-jarinya saling meremas. Ia tahu, kali ini ia belum sanggup jujur. Bukan karena tidak percaya, tapi karena tidak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir.

“Pah...” Kanaya mengangkat wajahnya pelan. “Kalau misalnya Naya nggak jadi sama Gavin, gimana? Papa sama Mama kecewa nggak?”

Pertanyaan itu meluncur pelan, namun sarat kegelisahan.

Paresa langsung menegakkan punggungnya.

“Sayang...” ucapnya cemas. “Memangnya kalian nggak jadi nikah? Apa kalian putus?”

Nada suaranya meninggi.

“Kenapa, sayang? Nak Gavin biasanya selalu baik. Apa dia bikin kamu kesel?”

Kanaya menarik napas dalam-dalam. Dadanya terasa sesak. Ia tahu betul betapa ibunya menyukai Gavin. Lelaki itu memang selalu tampil sempurna di depan orang tuanya—sikapnya sopan, kata-katanya manis, selalu tahu cara mengambil hati.

Bahkan dirinya sendiri sudah tertipu oleh semua itu.

“Enggak, Ma,” jawab Kanaya cepat. “Aku cuma nanya aja.”

Ia tersenyum tipis, senyum yang dipaksakan.

“Ya udah lah... Naya harus siap-siap balik ke Jakarta ya, Ma, Pah.”

Paresa mengangguk, meski raut wajahnya masih menyimpan tanda tanya.

“Ya sudah, kamu siap-siap ya, Sayang,” ujarnya lembut. “Mama mau nyiapin makanan buat Gavin. Nanti kamu kasih ke dia, ya.”

Kanaya mengangguk pelan.

“Hm... iya, Ma,” sahutnya lirih.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Kanaya berdiri dan melangkah menuju tangga, naik ke lantai dua rumah orang tuanya. Setiap anak tangga yang ia pijak terasa berat, seolah ada banyak hal yang menekan dadanya.

•••

Sementara itu, di Jakarta.

Sagara berdiri tepat di depan unit apartemen milik Kanaya. Jas kerjanya sudah dilepas, hanya kemeja yang tersisa, sedikit kusut karena seharian penuh aktivitas. Tangannya menekan bel pintu untuk kesekian kalinya.

Tidak ada sahutan.

Ia menunggu beberapa detik, lalu mencoba kembali. Tetap sunyi.

Sagara menunduk, lalu menatap keypad di samping pintu. Ia mencoba memasukkan passcode yang dulu sempat diberikan Gavin kepadanya.

Gagal.

Passcode itu sudah diubah.

Rahang Sagara mengeras pelan. Ia menghela napas panjang, lalu menurunkan pandangannya pada barang-barang yang ia bawa.

Sebuah keranjang berisi buah-buahan segar, vitamin, dan beberapa obat—semuanya ia siapkan dengan teliti.

Lelaki itu terdiam beberapa saat di depan pintu.

“Apa boleh...” gumamnya pelan, hampir tak terdengar. “Saya bertanggung jawab, Naya...”

Akhirnya, Sagara membungkuk dan meletakkan keranjang itu tepat di depan pintu unit apartemen Kanaya. Ia berdiri kembali, menatap pintu itu beberapa detik lebih lama, sebelum akhirnya berbalik.

Langkahnya berat saat ia berjalan menuju lift.

•••

To be continued—

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Please Me, Dear Boss   Bab 10 kiss you again

    “Saya bisa menikahi kamu.”Deg.Seakan seluruh udara di ruangan itu tersedot habis. Kanaya terpaku. Kata-kata itu menggantung di antara mereka, berat dan mengejutkan.Menikah.Bukan sekadar janji kosong. Bukan pula ucapan spontan tanpa pikir panjang.Kanaya menatap Sagara dengan mata membesar, dadanya naik turun tidak beraturan. Ada keterkejutan, ketakutan, juga kebingungan yang bercampur menjadi satu.Ia tidak menyangka... Bahwa pembicaraan ini akan berujung sejauh itu.“Pak... tidak usah sampai seperti itu,” ucap Kanaya lirih. “Saya... saya tidak mungkin menikah dengan Bapak.”“Kenapa tidak?” tanya Sagara.Nada suaranya rendah, namun terdengar menekan. Ia melangkah satu langkah lebih dekat. Terlalu dekat. Punggung Kanaya langsung menyentuh tepi meja kerjanya sendiri, membuat ruang geraknya habis.Aroma parfum Sagara menyergap indra penciumannya—hangat, maskulin, dan terlalu familiar. Ingatan Kanaya seketika melayang pada aroma yang sama, aroma yang semalam membuatnya kehilangan ken

  • Please Me, Dear Boss   Bab 10 Izinkan saya bertanggungjawab

    Waktu terus bergulir tanpa terasa.Kanaya masih duduk di kubikelnya, menyelesaikan pekerjaan yang sejak siang tadi perlahan mulai berkurang. Beberapa laporan sudah ia kirim, beberapa lagi tinggal dirapikan. Pandangannya sempat melirik jam di pojok layar komputer.Hampir jam pulang.Belum sempat ia menghela napas lega, langkah kaki mendekat. Pak Dani, supervisor mereka, berhenti di depan kubikel Kanaya dan Sheila.“Nay, Sheil,” panggilnya. “Kalian bisa over time, ya? Ini masih ada laporan yang belum kesusu. Saya nggak bisa ngerjain sekarang, harus ke rumah sakit. Urgent.”Sheila langsung berdiri, ekspresinya sedikit kikuk.“Pak, saya nggak bisa sekarang,” ucapnya cepat. “Saya udah ada janji.”Sheila melirik ke arah Kanaya, seolah meminta pengertian. Kanaya menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan.“Ya udah, Pak,” ujar Kanaya akhirnya. “Biar saya aja yang ngerjain.”Pak Dani terlihat lega. Ia menyerahkan setumpuk berkas ke tangan Kanaya.“Thanks, Nay. Kalau udah selesai, tolong kirim

  • Please Me, Dear Boss   Bab 9 Kiriman misterius

    Pukul satu dini hari. Lift apartemen berhenti dengan bunyi ding pelan. Kanaya melangkah keluar dengan langkah lelah. Bahunya sedikit turun, matanya sembab, tubuhnya terasa berat setelah perjalanan panjang dari Bogor kembali ke Jakarta. Koridor apartemen tampak lengang dan sunyi. Lampu-lampu temaram memantulkan bayangan langkahnya di lantai marmer. Saat Kanaya mendekati unit apartemennya, langkahnya mendadak terhenti. Di depan pintu, tergeletak sebuah keranjang buah yang tertata rapi. Di sampingnya, ada sebuah paper bag kecil berwarna putih. Kanaya mengernyit. “What?” gumamnya pelan. “Dari siapa ini, ya...” Ia menoleh sekilas ke sekeliling koridor yang sepi, memastikan tak ada siapa pun. Dengan tubuh yang sudah lemas, Kanaya membungkuk perlahan dan mengangkat keranjang buah itu. Tidak berat, tapi cukup membuat lengannya pegal. Ia membuka pintu unitnya, lalu masuk dan menyalakan lampu. Apartemen itu terasa sunyi, dingin, dan kosong—kontras dengan rumah orang tuanya yang hangat be

  • Please Me, Dear Boss   Bab 8 Tidak bisa jujur

    Kanaya baru saja menuruni tangga setelah berganti pakaian di kamarnya. Rambutnya masih setengah lembap, kaus rumah sederhana menggantikan pakaian kerjanya. Begitu sampai di ruang makan, ia melihat ayah dan adiknya sudah duduk di sana. “Eh, Papa sama Dimas udah pulang?” sapa Kanaya. Irwan menoleh, wajahnya langsung terlihat terkejut sekaligus senang. “Loh, Kakak di sini?” tanyanya. Kanaya tersenyum, lalu menghampiri ayahnya dan langsung memeluknya erat. “Kangen. Jadi mampir sebentar,” ucapnya lembut. “Nanti maleman balik ke Jakarta.” Irwan mengusap punggung Kanaya pelan. “Hm... nginep aja, Kak. Yah, besok siang baru kamu balik,” ujarnya mencoba membujuk. “Naya belum libur, Pah,” sahut Kanaya sambil tersenyum kecil. Ia kemudian menarik kursi di meja makan dan duduk di sebelah adiknya, Dimas, yang terlihat sangat fokus menatap layar ponsel, jari-jarinya lincah menekan layar permainan Mobile Legends. “Dek,” panggil Kanaya. “Kamu main game terus. Udah dapet belum kampus buat kul

  • Please Me, Dear Boss   Bab 7 Pulang

    Kanaya melajukan mobilnya masuk ke jalur tol. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya di Bogor. “Gila ya... Gavin maunya apa sih?” gumam Kanaya, matanya tetap fokus ke jalan. “Dulu aja selalu kayak nggak ada effort. Nggak pernah inisiatif buat nemuin aku, apalagi bahas masa depan. Kenapa sekarang malah kayak gini?” Napasnya terdengar berat. “Harusnya dia seneng dong. Hubungan kita udah selesai, dan dia bebas mau sama cewek manapun, harusnya udah nggak ada urusan lagi sama aku.” Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalan tol yang mulai dipenuhi kendaraan menjelang malam. Lampu-lampu kota menyala satu per satu, menemani pikiran Kanaya yang terus berputar. Tujuh tahun bukan waktu yang singkat. Ia menghabiskan masa remajanya, tumbuh menjadi dewasa, dengan satu nama yang sama, Gavin. Hampir satu jam kemudian, mobil Kanaya memasuki kawasan perumahan tempat orang tuanya tinggal. Kompleks itu terasa familiar dan menenangkan,

  • Please Me, Dear Boss   Bab 6 Susah menghindari

    “Saya lihat kamu jalan seperti menahan sakit. Kemungkinan saya lupa kalau saya terlalu keras tadi malam.”“Paaak!!!” seru Kanaya spontan, wajahnya langsung merah padam. Ia tahu persis arah pembicaraan Sagara. Ia ingat baik-baik apa yang terjadi malam itu—dan nyeri yang masih terasa pagi tadi. “Saya... permisi dulu, Pak. Terima kasih obatnya.” ucap Kanaya terbata-bata, buru-buru menunduk sopan lalu kabur keluar dari ruangan seperti dikejar. Begitu pintu tertutup, Sagara menyandarkan tubuhnya sambil tersenyum kecil. “Lucu sekali kalau kamu sedang salah tingkah seperti itu, Naya...” gumamnya sambil mengibas pelan berkas di tangannya. Sementara itu, di luar ruangan, Kanaya menatap plastik obat di tangannya sambil menggerutu pelan. “Astaga, bisa-bisanya dia bahas masalah itu... bikin tambah malu aja...” omelnya sambil berjalan cepat kembali ke kubikelnya, wajahnya masih panas karena malu sendiri. ••• Setelah seharian merasa gagal total menjalankan misi menghindari Sagara, akhirnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status