Beranda / Young Adult / Please Me, Dear Boss / Bab 6 Susah menghindari

Share

Bab 6 Susah menghindari

Penulis: Lyrik wish
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-23 16:15:06

“Saya lihat kamu jalan seperti menahan sakit. Kemungkinan saya lupa kalau saya terlalu keras tadi malam.”

“Paaak!!!” seru Kanaya spontan, wajahnya langsung merah padam.

Ia tahu persis arah pembicaraan Sagara. Ia ingat baik-baik apa yang terjadi malam itu—dan nyeri yang masih terasa pagi tadi.

“Saya... permisi dulu, Pak. Terima kasih obatnya.” ucap Kanaya terbata-bata, buru-buru menunduk sopan lalu kabur keluar dari ruangan seperti dikejar.

Begitu pintu tertutup, Sagara menyandarkan tubuhnya sambil tersenyum kecil.

“Lucu sekali kalau kamu sedang salah tingkah seperti itu, Naya...” gumamnya sambil mengibas pelan berkas di tangannya.

Sementara itu, di luar ruangan, Kanaya menatap plastik obat di tangannya sambil menggerutu pelan.

“Astaga, bisa-bisanya dia bahas masalah itu... bikin tambah malu aja...” omelnya sambil berjalan cepat kembali ke kubikelnya, wajahnya masih panas karena malu sendiri.

•••

Setelah seharian merasa gagal total menjalankan misi menghindari Sagara, akhirnya waktu bergulir menuju pukul empat sore.

Tubuh Kanaya terasa lelah—bukan hanya karena pekerjaan, tetapi juga karena ketegangan yang terus menghantuinya sejak pagi.

Begitu keluar dari lift lobby, ia langsung mempercepat langkah menuju parkiran basement. Ia hanya ingin pulang, mandi air hangat, rebahan, lalu melupakan seluruh drama hari itu.

Namun seperti sudah menjadi lelucon semesta terhadap hidupnya... orang yang paling ingin ia hindari hari ini, justru berdiri menunggu di tempat paling jelas terlihat.

Gavin.

Mantan tunangannya.

Pria itu berdiri di samping mobil Kanaya sambil membawa satu buket besar mawar merah, wajahnya tampak memelas seperti anjing golden retriever yang kehilangan pemilik.

Begitu suara berat itu memanggil, “Sayang...”, kepala Kanaya langsung menunduk frustasi.

“Seriously?” rutuknya pelan.

Oh Tuhan, ujian apa lagi ini?

Ia menarik napas panjang, mencoba bersikap normal. Tetapi baru saja ia mendekati mobil, Gavin langsung melangkah ke depan dan menghalangi pintu mobilnya.

“Kita harus ngomong, Nay... Sayang... please... Jangan menghindar terus.” Gavin berbicara cepat, hampir panik.

“Kamu kenapa blok aku? Dan kenapa password apart kamu diganti?”

Kanaya memeluk kedua tangan di depan dada, ekspresinya sudah jelas-jelas muak.

“First of all, kita udah break up. Second of all...” ia menaikkan alis.

“Kita bener-bener udah break up, Gavin. Jadi semua pertanyaan kamu, nggak wajib aku jawab!”

Suara terakhir ia tekan, menunjukkan batas kesabarannya.

“S-sekarang, minggir. Aku mau pulang.”

Namun Gavin tidak bergeming. Pria itu malah meraih lengan Kanaya, suaranya lirih dan penuh desperation.

“Sayang... Mama nanyain kamu... please, Naya...”

Kanaya hendak menarik lengannya dan memberikan jawaban tegas, namun saat itu sebuah suara lain muncul dari arah lobby.

“Vin!”

Suara berat itu langsung membuat Gavin menoleh.

“Gar...” sahut Gavin, tampak sedikit lega.

Kanaya justru makin panik.

Mendengar suara itu saja membuat kepalanya berdengung. Dan melihat Sagara berjalan mendekat—dengan langkah panjang, tegap, dan tatapan mengawasi situasi—Kanaya tidak ingin berada di sana sedetik pun lebih lama.

Kesempatan emas muncul ketika Gavin menoleh ke Sagara.

Dengan cepat Kanaya membuka pintu mobilnya, masuk ke dalam tanpa menatap siapa pun.

“Nay! Sayang, bentar—” panggil Gavin sambil mencoba mendekat.

Tapi Kanaya sudah muak. Sudah terlalu penuh hari ini—dan dia sama sekali tidak ingin berhadapan dengan Sagara lagi dalam kondisi begini. Malu, kacau, dan kalut.

Tanpa ragu ia menyalakan mesin mobil, lalu langsung tancap gas meninggalkan keduanya.

Gavin mengumpat frustrasi sambil menatap mobil Kanaya yang menghilang di tikungan parkiran. Dengan langkah cepat ia menghampiri Sagara.

“Gar... Lo harus nolongin gue.” Gavin menatap Sagara penuh harap. “Gue mau balikan sama Kanaya. Please... bantuin gue ngomong ke Naya. Dia pasti bakal dengerin lo.”

Sagara memandangi sahabatnya itu untuk beberapa detik, tidak langsung menjawab. Raut wajahnya tenang, tetapi matanya sulit dibaca.

Lalu ia menepuk bahu Gavin pelan.

“Gue cari timing, ya.” ujarnya tanpa nada tertentu. “Tapi buat sekarang... harusnya lo kasih waktu dulu buat Naya.”

Gavin mengangguk, masih memeluk buket bunga yang kini tampak menyedihkan.

Sagara menatap punggung Gavin yang berjalan kembali ke arah mobilnya.

Dan saat pria itu sudah cukup jauh...

Sagara memasukan kedua tangan ke saku celananya, bibirnya terangkat pelan.

Ada sesuatu di matanya—sesuatu yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.

Di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tidak bisa menutupi kegembiraan kecil itu.

Melihat hubungan Gavin dan Kanaya kandas...

Entah mengapa, rasanya begitu melegakan.

•••

To be continued—

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Please Me, Dear Boss   Bab 10 kiss you again

    “Saya bisa menikahi kamu.”Deg.Seakan seluruh udara di ruangan itu tersedot habis. Kanaya terpaku. Kata-kata itu menggantung di antara mereka, berat dan mengejutkan.Menikah.Bukan sekadar janji kosong. Bukan pula ucapan spontan tanpa pikir panjang.Kanaya menatap Sagara dengan mata membesar, dadanya naik turun tidak beraturan. Ada keterkejutan, ketakutan, juga kebingungan yang bercampur menjadi satu.Ia tidak menyangka... Bahwa pembicaraan ini akan berujung sejauh itu.“Pak... tidak usah sampai seperti itu,” ucap Kanaya lirih. “Saya... saya tidak mungkin menikah dengan Bapak.”“Kenapa tidak?” tanya Sagara.Nada suaranya rendah, namun terdengar menekan. Ia melangkah satu langkah lebih dekat. Terlalu dekat. Punggung Kanaya langsung menyentuh tepi meja kerjanya sendiri, membuat ruang geraknya habis.Aroma parfum Sagara menyergap indra penciumannya—hangat, maskulin, dan terlalu familiar. Ingatan Kanaya seketika melayang pada aroma yang sama, aroma yang semalam membuatnya kehilangan ken

  • Please Me, Dear Boss   Bab 10 Izinkan saya bertanggungjawab

    Waktu terus bergulir tanpa terasa.Kanaya masih duduk di kubikelnya, menyelesaikan pekerjaan yang sejak siang tadi perlahan mulai berkurang. Beberapa laporan sudah ia kirim, beberapa lagi tinggal dirapikan. Pandangannya sempat melirik jam di pojok layar komputer.Hampir jam pulang.Belum sempat ia menghela napas lega, langkah kaki mendekat. Pak Dani, supervisor mereka, berhenti di depan kubikel Kanaya dan Sheila.“Nay, Sheil,” panggilnya. “Kalian bisa over time, ya? Ini masih ada laporan yang belum kesusu. Saya nggak bisa ngerjain sekarang, harus ke rumah sakit. Urgent.”Sheila langsung berdiri, ekspresinya sedikit kikuk.“Pak, saya nggak bisa sekarang,” ucapnya cepat. “Saya udah ada janji.”Sheila melirik ke arah Kanaya, seolah meminta pengertian. Kanaya menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan.“Ya udah, Pak,” ujar Kanaya akhirnya. “Biar saya aja yang ngerjain.”Pak Dani terlihat lega. Ia menyerahkan setumpuk berkas ke tangan Kanaya.“Thanks, Nay. Kalau udah selesai, tolong kirim

  • Please Me, Dear Boss   Bab 9 Kiriman misterius

    Pukul satu dini hari. Lift apartemen berhenti dengan bunyi ding pelan. Kanaya melangkah keluar dengan langkah lelah. Bahunya sedikit turun, matanya sembab, tubuhnya terasa berat setelah perjalanan panjang dari Bogor kembali ke Jakarta. Koridor apartemen tampak lengang dan sunyi. Lampu-lampu temaram memantulkan bayangan langkahnya di lantai marmer. Saat Kanaya mendekati unit apartemennya, langkahnya mendadak terhenti. Di depan pintu, tergeletak sebuah keranjang buah yang tertata rapi. Di sampingnya, ada sebuah paper bag kecil berwarna putih. Kanaya mengernyit. “What?” gumamnya pelan. “Dari siapa ini, ya...” Ia menoleh sekilas ke sekeliling koridor yang sepi, memastikan tak ada siapa pun. Dengan tubuh yang sudah lemas, Kanaya membungkuk perlahan dan mengangkat keranjang buah itu. Tidak berat, tapi cukup membuat lengannya pegal. Ia membuka pintu unitnya, lalu masuk dan menyalakan lampu. Apartemen itu terasa sunyi, dingin, dan kosong—kontras dengan rumah orang tuanya yang hangat be

  • Please Me, Dear Boss   Bab 8 Tidak bisa jujur

    Kanaya baru saja menuruni tangga setelah berganti pakaian di kamarnya. Rambutnya masih setengah lembap, kaus rumah sederhana menggantikan pakaian kerjanya. Begitu sampai di ruang makan, ia melihat ayah dan adiknya sudah duduk di sana. “Eh, Papa sama Dimas udah pulang?” sapa Kanaya. Irwan menoleh, wajahnya langsung terlihat terkejut sekaligus senang. “Loh, Kakak di sini?” tanyanya. Kanaya tersenyum, lalu menghampiri ayahnya dan langsung memeluknya erat. “Kangen. Jadi mampir sebentar,” ucapnya lembut. “Nanti maleman balik ke Jakarta.” Irwan mengusap punggung Kanaya pelan. “Hm... nginep aja, Kak. Yah, besok siang baru kamu balik,” ujarnya mencoba membujuk. “Naya belum libur, Pah,” sahut Kanaya sambil tersenyum kecil. Ia kemudian menarik kursi di meja makan dan duduk di sebelah adiknya, Dimas, yang terlihat sangat fokus menatap layar ponsel, jari-jarinya lincah menekan layar permainan Mobile Legends. “Dek,” panggil Kanaya. “Kamu main game terus. Udah dapet belum kampus buat kul

  • Please Me, Dear Boss   Bab 7 Pulang

    Kanaya melajukan mobilnya masuk ke jalur tol. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya di Bogor. “Gila ya... Gavin maunya apa sih?” gumam Kanaya, matanya tetap fokus ke jalan. “Dulu aja selalu kayak nggak ada effort. Nggak pernah inisiatif buat nemuin aku, apalagi bahas masa depan. Kenapa sekarang malah kayak gini?” Napasnya terdengar berat. “Harusnya dia seneng dong. Hubungan kita udah selesai, dan dia bebas mau sama cewek manapun, harusnya udah nggak ada urusan lagi sama aku.” Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalan tol yang mulai dipenuhi kendaraan menjelang malam. Lampu-lampu kota menyala satu per satu, menemani pikiran Kanaya yang terus berputar. Tujuh tahun bukan waktu yang singkat. Ia menghabiskan masa remajanya, tumbuh menjadi dewasa, dengan satu nama yang sama, Gavin. Hampir satu jam kemudian, mobil Kanaya memasuki kawasan perumahan tempat orang tuanya tinggal. Kompleks itu terasa familiar dan menenangkan,

  • Please Me, Dear Boss   Bab 6 Susah menghindari

    “Saya lihat kamu jalan seperti menahan sakit. Kemungkinan saya lupa kalau saya terlalu keras tadi malam.”“Paaak!!!” seru Kanaya spontan, wajahnya langsung merah padam. Ia tahu persis arah pembicaraan Sagara. Ia ingat baik-baik apa yang terjadi malam itu—dan nyeri yang masih terasa pagi tadi. “Saya... permisi dulu, Pak. Terima kasih obatnya.” ucap Kanaya terbata-bata, buru-buru menunduk sopan lalu kabur keluar dari ruangan seperti dikejar. Begitu pintu tertutup, Sagara menyandarkan tubuhnya sambil tersenyum kecil. “Lucu sekali kalau kamu sedang salah tingkah seperti itu, Naya...” gumamnya sambil mengibas pelan berkas di tangannya. Sementara itu, di luar ruangan, Kanaya menatap plastik obat di tangannya sambil menggerutu pelan. “Astaga, bisa-bisanya dia bahas masalah itu... bikin tambah malu aja...” omelnya sambil berjalan cepat kembali ke kubikelnya, wajahnya masih panas karena malu sendiri. ••• Setelah seharian merasa gagal total menjalankan misi menghindari Sagara, akhirnya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status