MasukWaktu terus bergulir tanpa terasa.
Kanaya masih duduk di kubikelnya, menyelesaikan pekerjaan yang sejak siang tadi perlahan mulai berkurang. Beberapa laporan sudah ia kirim, beberapa lagi tinggal dirapikan. Pandangannya sempat melirik jam di pojok layar komputer. Hampir jam pulang. Belum sempat ia menghela napas lega, langkah kaki mendekat. Pak Dani, supervisor mereka, berhenti di depan kubikel Kanaya dan Sheila. “Nay, Sheil,” panggilnya. “Kalian bisa over time, ya? Ini masih ada laporan yang belum kesusu. Saya nggak bisa ngerjain sekarang, harus ke rumah sakit. Urgent.” Sheila langsung berdiri, ekspresinya sedikit kikuk. “Pak, saya nggak bisa sekarang,” ucapnya cepat. “Saya udah ada janji.” Sheila melirik ke arah Kanaya, seolah meminta pengertian. Kanaya menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan. “Ya udah, Pak,” ujar Kanaya akhirnya. “Biar saya aja yang ngerjain.” Pak Dani terlihat lega. Ia menyerahkan setumpuk berkas ke tangan Kanaya. “Thanks, Nay. Kalau udah selesai, tolong kirim email-nya ke saya, ya. Biar nanti saya cek malam.” “Siap, Pak,” jawab Kanaya singkat. Pak Dani pun berlalu. Sheila di sampingnya sudah mulai merapikan meja, memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. “Nay... maaf banget,” ucapnya lirih. “Gue udah janjian sama Andrew. Susah banget gue cari timing buat dinner sama dia. Nggak bisa cancel.” Ada rasa bersalah di wajah Sheila, menyadari semua beban lembur jatuh ke tangan sahabatnya. Kanaya tersenyum kecil, berusaha terlihat santai. “It's okay,” katanya. “Anggap aja ucapan terima kasih gue. Lo kan udah cover kerjaan gue waktu gue absen kemarin.” Sheila tersenyum lega. “Makasih ya, Nay. Beneran.” Satu per satu karyawan mulai meninggalkan kubikel mereka. Suara langkah kaki, tawa ringan, dan bunyi pintu lift perlahan menghilang. Jam di dinding menunjukkan pukul lima sore. Kantor mulai sepi. Kanaya kembali fokus pada layar komputernya. Jemarinya menari cepat di atas keyboard, pikirannya terpusat penuh pada angka dan laporan. Kacamata bertengger di batang hidungnya. Sesekali ia memejamkan mata, mengusap elipisnya saat layar terasa terlalu menyilaukan. Beberapa menit berlalu. Saat Kanaya akhirnya berdiri, berniat meregangkan tubuh— Bruk. Ia hampir saja terjerembap ke belakang ketika sesuatu—atau seseorang—berdiri terlalu dekat di hadapannya. Refleks, sepasang tangan kuat menahan tubuhnya. Kanaya terkejut. Napasnya tertahan. Tangan kekar itu melingkar di pinggang kecilnya, menahan bobot tubuhnya agar tidak jatuh. “Be careful,” ucap sebuah suara berat, rendah, dan sangat familiar. Deg. Kanaya mendongak. “P-Pak Sagara...” suaranya sedikit bergetar. “B-belum pulang?” Jarak mereka terlalu dekat. Terlalu nyata. Terlalu mengingatkan. Kanaya bisa merasakan kehangatan tangan Sagara di pinggangnya. Wajahnya langsung merona merah. Ingatannya tanpa izin kembali pada malam itu—malam ketika kendali hilang, ketika batas runtuh. “Le-lepas, Pak...” ucap Kanaya gugup, tangannya refleks meremas lengan jas Sagara. “I-ini...” Sagara melepaskan pegangannya perlahan, tapi tatapannya masih tertuju pada Kanaya. Tenang. Dalam. Membuat jantung Kanaya berdetak tidak karuan. Kanaya menunduk, berusaha mengatur napas. Ada penyesalan yang tiba-tiba menyelinap. Kenapa malam itu ia harus kehilangan kontrol? Kenapa ia harus terjerumus dalam hubungan yang seharusnya tidak pernah terjadi? Sagara—bosnya. Dan lebih menyakitkan lagi... sahabat dari mantan tunangannya. Kanaya menggigit bibir bawahnya pelan, menahan semua perasaan yang bergejolak di dadanya, sementara suasana sunyi kantor justru membuat jarak di antara mereka terasa semakin sempit. “Boleh saya bicara, Naya?” tanya Sagara akhirnya. Nada suaranya terdengar tenang, tapi ada sesuatu yang tertahan di sana. Kanaya yang sejak tadi menunduk perlahan mendongak. Pandangannya bertemu dengan mata Sagara—tajam, serius, dan jauh dari kesan main-main. “A-ada apa, Pak?” tanya Kanaya pelan. Sagara menarik napas singkat. “Kenapa kamu terus menghindari saya, Naya?” ucapnya. “Padahal ada sesuatu yang jauh lebih serius yang seharusnya kita bicarakan.” Jantung Kanaya langsung berdegup lebih cepat. Ia menggeleng pelan, lalu mundur setapak seolah ingin menjaga jarak yang aman. “Pak... tolong jangan dibahas lagi,” ucapnya, berusaha terdengar tegas meski suaranya sedikit bergetar. “Saya sudah bilang, sebaiknya kita lupakan saja. Anggap malam itu tidak pernah ada.” Tatapan Sagara mengeras. “Bagaimana mungkin, Naya?” katanya. “Saya sudah mengambil sesuatu yang berharga dari diri kamu. Dan saya bersedia untuk bertanggung jawab.” Kanaya langsung mengangkat tangannya, seolah ingin menghentikan pembicaraan itu. “Stop, Pak. Tolong berhenti,” katanya cepat. “Kalimat itu terlalu klise.” Ia menghela napas, mencoba menenangkan dirinya sendiri sebelum melanjutkan. “Saya sudah dewasa,” lanjut Kanaya. “Dan saya harus bertanggung jawab atas perbuatan saya sendiri. Bapak tidak perlu merasa wajib melakukan apa pun.” Ia menatap Sagara lurus, berusaha menunjukkan bahwa dirinya tidak selemah yang mungkin terlihat. “Dan saya juga tidak mengerti maksud tanggung jawab yang Bapak bilang itu seperti apa,” sambungnya. “Apa yang sebenarnya akan Bapak lakukan terhadap saya?” Hening. Sagara tidak langsung menjawab. Ia menatap Kanaya cukup lama, seolah mempertimbangkan sesuatu yang besar—sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali setelah diucapkan. Lalu, dengan suara rendah namun mantap, ia berkata, “Saya bisa menikahi kamu.” Deg. ••• To be continued—“Saya bisa menikahi kamu.”Deg.Seakan seluruh udara di ruangan itu tersedot habis. Kanaya terpaku. Kata-kata itu menggantung di antara mereka, berat dan mengejutkan.Menikah.Bukan sekadar janji kosong. Bukan pula ucapan spontan tanpa pikir panjang.Kanaya menatap Sagara dengan mata membesar, dadanya naik turun tidak beraturan. Ada keterkejutan, ketakutan, juga kebingungan yang bercampur menjadi satu.Ia tidak menyangka... Bahwa pembicaraan ini akan berujung sejauh itu.“Pak... tidak usah sampai seperti itu,” ucap Kanaya lirih. “Saya... saya tidak mungkin menikah dengan Bapak.”“Kenapa tidak?” tanya Sagara.Nada suaranya rendah, namun terdengar menekan. Ia melangkah satu langkah lebih dekat. Terlalu dekat. Punggung Kanaya langsung menyentuh tepi meja kerjanya sendiri, membuat ruang geraknya habis.Aroma parfum Sagara menyergap indra penciumannya—hangat, maskulin, dan terlalu familiar. Ingatan Kanaya seketika melayang pada aroma yang sama, aroma yang semalam membuatnya kehilangan ken
Waktu terus bergulir tanpa terasa.Kanaya masih duduk di kubikelnya, menyelesaikan pekerjaan yang sejak siang tadi perlahan mulai berkurang. Beberapa laporan sudah ia kirim, beberapa lagi tinggal dirapikan. Pandangannya sempat melirik jam di pojok layar komputer.Hampir jam pulang.Belum sempat ia menghela napas lega, langkah kaki mendekat. Pak Dani, supervisor mereka, berhenti di depan kubikel Kanaya dan Sheila.“Nay, Sheil,” panggilnya. “Kalian bisa over time, ya? Ini masih ada laporan yang belum kesusu. Saya nggak bisa ngerjain sekarang, harus ke rumah sakit. Urgent.”Sheila langsung berdiri, ekspresinya sedikit kikuk.“Pak, saya nggak bisa sekarang,” ucapnya cepat. “Saya udah ada janji.”Sheila melirik ke arah Kanaya, seolah meminta pengertian. Kanaya menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan.“Ya udah, Pak,” ujar Kanaya akhirnya. “Biar saya aja yang ngerjain.”Pak Dani terlihat lega. Ia menyerahkan setumpuk berkas ke tangan Kanaya.“Thanks, Nay. Kalau udah selesai, tolong kirim
Pukul satu dini hari. Lift apartemen berhenti dengan bunyi ding pelan. Kanaya melangkah keluar dengan langkah lelah. Bahunya sedikit turun, matanya sembab, tubuhnya terasa berat setelah perjalanan panjang dari Bogor kembali ke Jakarta. Koridor apartemen tampak lengang dan sunyi. Lampu-lampu temaram memantulkan bayangan langkahnya di lantai marmer. Saat Kanaya mendekati unit apartemennya, langkahnya mendadak terhenti. Di depan pintu, tergeletak sebuah keranjang buah yang tertata rapi. Di sampingnya, ada sebuah paper bag kecil berwarna putih. Kanaya mengernyit. “What?” gumamnya pelan. “Dari siapa ini, ya...” Ia menoleh sekilas ke sekeliling koridor yang sepi, memastikan tak ada siapa pun. Dengan tubuh yang sudah lemas, Kanaya membungkuk perlahan dan mengangkat keranjang buah itu. Tidak berat, tapi cukup membuat lengannya pegal. Ia membuka pintu unitnya, lalu masuk dan menyalakan lampu. Apartemen itu terasa sunyi, dingin, dan kosong—kontras dengan rumah orang tuanya yang hangat be
Kanaya baru saja menuruni tangga setelah berganti pakaian di kamarnya. Rambutnya masih setengah lembap, kaus rumah sederhana menggantikan pakaian kerjanya. Begitu sampai di ruang makan, ia melihat ayah dan adiknya sudah duduk di sana. “Eh, Papa sama Dimas udah pulang?” sapa Kanaya. Irwan menoleh, wajahnya langsung terlihat terkejut sekaligus senang. “Loh, Kakak di sini?” tanyanya. Kanaya tersenyum, lalu menghampiri ayahnya dan langsung memeluknya erat. “Kangen. Jadi mampir sebentar,” ucapnya lembut. “Nanti maleman balik ke Jakarta.” Irwan mengusap punggung Kanaya pelan. “Hm... nginep aja, Kak. Yah, besok siang baru kamu balik,” ujarnya mencoba membujuk. “Naya belum libur, Pah,” sahut Kanaya sambil tersenyum kecil. Ia kemudian menarik kursi di meja makan dan duduk di sebelah adiknya, Dimas, yang terlihat sangat fokus menatap layar ponsel, jari-jarinya lincah menekan layar permainan Mobile Legends. “Dek,” panggil Kanaya. “Kamu main game terus. Udah dapet belum kampus buat kul
Kanaya melajukan mobilnya masuk ke jalur tol. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya di Bogor. “Gila ya... Gavin maunya apa sih?” gumam Kanaya, matanya tetap fokus ke jalan. “Dulu aja selalu kayak nggak ada effort. Nggak pernah inisiatif buat nemuin aku, apalagi bahas masa depan. Kenapa sekarang malah kayak gini?” Napasnya terdengar berat. “Harusnya dia seneng dong. Hubungan kita udah selesai, dan dia bebas mau sama cewek manapun, harusnya udah nggak ada urusan lagi sama aku.” Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalan tol yang mulai dipenuhi kendaraan menjelang malam. Lampu-lampu kota menyala satu per satu, menemani pikiran Kanaya yang terus berputar. Tujuh tahun bukan waktu yang singkat. Ia menghabiskan masa remajanya, tumbuh menjadi dewasa, dengan satu nama yang sama, Gavin. Hampir satu jam kemudian, mobil Kanaya memasuki kawasan perumahan tempat orang tuanya tinggal. Kompleks itu terasa familiar dan menenangkan,
“Saya lihat kamu jalan seperti menahan sakit. Kemungkinan saya lupa kalau saya terlalu keras tadi malam.”“Paaak!!!” seru Kanaya spontan, wajahnya langsung merah padam. Ia tahu persis arah pembicaraan Sagara. Ia ingat baik-baik apa yang terjadi malam itu—dan nyeri yang masih terasa pagi tadi. “Saya... permisi dulu, Pak. Terima kasih obatnya.” ucap Kanaya terbata-bata, buru-buru menunduk sopan lalu kabur keluar dari ruangan seperti dikejar. Begitu pintu tertutup, Sagara menyandarkan tubuhnya sambil tersenyum kecil. “Lucu sekali kalau kamu sedang salah tingkah seperti itu, Naya...” gumamnya sambil mengibas pelan berkas di tangannya. Sementara itu, di luar ruangan, Kanaya menatap plastik obat di tangannya sambil menggerutu pelan. “Astaga, bisa-bisanya dia bahas masalah itu... bikin tambah malu aja...” omelnya sambil berjalan cepat kembali ke kubikelnya, wajahnya masih panas karena malu sendiri. ••• Setelah seharian merasa gagal total menjalankan misi menghindari Sagara, akhirnya







