LOGINPukul satu dini hari.
Lift apartemen berhenti dengan bunyi ding pelan. Kanaya melangkah keluar dengan langkah lelah. Bahunya sedikit turun, matanya sembab, tubuhnya terasa berat setelah perjalanan panjang dari Bogor kembali ke Jakarta. Koridor apartemen tampak lengang dan sunyi. Lampu-lampu temaram memantulkan bayangan langkahnya di lantai marmer. Saat Kanaya mendekati unit apartemennya, langkahnya mendadak terhenti. Di depan pintu, tergeletak sebuah keranjang buah yang tertata rapi. Di sampingnya, ada sebuah paper bag kecil berwarna putih. Kanaya mengernyit. “What?” gumamnya pelan. “Dari siapa ini, ya...” Ia menoleh sekilas ke sekeliling koridor yang sepi, memastikan tak ada siapa pun. Dengan tubuh yang sudah lemas, Kanaya membungkuk perlahan dan mengangkat keranjang buah itu. Tidak berat, tapi cukup membuat lengannya pegal. Ia membuka pintu unitnya, lalu masuk dan menyalakan lampu. Apartemen itu terasa sunyi, dingin, dan kosong—kontras dengan rumah orang tuanya yang hangat beberapa jam lalu. Kanaya meletakkan keranjang buah dan paper bag kecil itu di atas meja makan. Matanya meneliti dengan saksama, berharap menemukan kartu kecil atau nama pengirim. Tidak ada. “Nggak ada namanya...” gumamnya pelan. Perasaan tidak nyaman langsung menyusup. Kanaya menghela napas kecil. “Aku kasih sekuriti aja deh besok,” ujarnya pada diri sendiri. “Takut banget nerima makanan dari orang nggak dikenal.” Ia tidak menyentuh apa pun dari dalam keranjang itu. Hanya menyingkirkannya sedikit ke sudut meja, seolah menjaga jarak. Setelah itu, Kanaya melangkah ke dapur. Ia membuka kulkas dan mengeluarkan kotak makanan yang tadi dititipkan ibunya—masakan rumahan yang dibuat dengan penuh perhatian. Dengan gerakan pelan, Kanaya menyimpannya di dalam kulkas. Tangannya sempat tertahan di gagang pintu kulkas sebelum akhirnya ditutup. “Maaf, Mah...” ucapnya lirih. “Nay nggak bisa ngasih ini ke Gavin.” Ia menelan ludah. “Nay udah nggak mau ketemu Gavin lagi.” Klik. Pintu kulkas tertutup. Kanaya berdiri beberapa detik di sana, diam, sebelum akhirnya melangkah menuju kamar. Malam itu terasa sangat melelahkan—secara fisik dan emosional. Untungnya, ia sudah mandi di rumah orang tuanya tadi. Tubuhnya benar-benar sudah kehabisan tenaga. Kanaya hanya mengganti pakaian dengan piyama sederhana, lalu merebahkan diri di atas ranjang. Lampu kamar dimatikan, menyisakan cahaya samar dari lampu kota yang menembus tirai. Matanya terpejam perlahan. Namun pikirannya masih penuh—tentang Gavin, tentang Sagara, tentang semua hal yang belum selesai. Dan di ruang tamu, keranjang buah tanpa nama itu tetap terdiam, seolah menyimpan maksud yang belum sempat terucap. ••• Keesokan harinya. Di kantor, Kanaya sudah tenggelam dalam tumpukan pekerjaan sejak pagi. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard, matanya bolak-balik menatap layar monitor dan dokumen fisik yang menumpuk di sisi mmeja Notifikasi email datang silih berganti, seolah tak memberi jeda sedikit pun. Bahkan untuk sekadar berdiri dan membuat kopi ke pantry saja, Kanaya tidak punya waktu. Waktu terus berjalan, tapi pekerjaannya seperti tidak berkurang—justru semakin bertambah. “Naya...” panggil Sheila dari kubikel sebelah. “Lo beneran nggak ngopi dulu? Nggak pegel duduk dari tadi?” Kanaya bahkan tidak menoleh. Tangannya masih sibuk merapikan data di layar. “Pengen cepetan beres aja,” jawabnya sambil menghela napas. “Sumpah, aku pengen tidur. Ngantuk banget.” Sheila terkekeh kecil. “Lo begadang, ya?” Kanaya baru mau menjawab, tapi wajahnya langsung berubah sedikit tegang. Ia menekan pahanya sendiri, lalu berdiri mendadak. “Astaga... malah kebelet pipis,” gumamnya kesal. Tanpa menunggu respons Sheila, Kanaya langsung berjalan cepat menuju toilet kantor. Sepatunya berdetak pelan di lantai marmer, langkahnya terburu-buru. Lima menit kemudian, setelah keluar dari toilet dan hendak kembali ke kubikelnya, langkah Kanaya tiba-tiba terhenti. Seorang pria berseragam kurir berdiri tak jauh darinya, membawa cup kopi dan paper bag kecil. “Mbak, maaf,” ujar sang kurir sopan. “Atas nama Kanaya yang mana, ya?” Kanaya menoleh, sedikit bingung. “Saya, Bang. Saya Kanaya.” “Oh, bagus,” kata sang kurir lega. “Ini pesanan atas nama Mbak Kanaya. Mohon diterima, ya.” Kanaya spontan menggeleng. “Saya nggak mesen apa-apa, Bang.” Kurir itu tampak canggung, lalu melirik layar ponselnya. “Tapi namanya benar, Mbak. Tolong diterima dulu, ya. Kalau pesanannya nggak keterima, saya bisa kena banned.” Kanaya terdiam. Ia menatap cup kopi itu beberapa detik. Pikirannya langsung melayang ke keranjang buah misterius semalam. Perasaan tidak nyaman kembali muncul. Namun, melihat wajah sang kurir yang tampak sungguh-sungguh khawatir, Kanaya akhirnya mengalah. “Iya... ya sudah, Bang,” ucapnya pelan sambil menerima kopi itu. “Terima kasih banyak, Mbak,” ujar sang kurir sebelum pergi. Kanaya berdiri sebentar di koridor, menatap cup kopi di tangannya dengan ekspresi bingung. Lalu ia melangkah kembali ke kubikelnya dan duduk. Sheila langsung menoleh. “Kenapa lo?” tanyanya, memperhatikan wajah Kanaya yang tampak tidak tenang. Kanaya menghela napas panjang. “Nggak tahu, Shel. Dari semalem aku dapet kiriman misterius terus. Nggak ada nama pengirimnya. Jujur, jadi takut.” Sheila mengernyit. “Takut apaan? Emangnya ada yang mau ngeracunin lo?” Lalu ia terkekeh. “Paling juga dari Gavin, tunangan lo.” “Mantan,” potong Kanaya cepat. “Iya, mantan,” sahut Sheila sambil tertawa kecil. “Sampe lupa.” Kanaya menggeleng pelan. “Bukan dia. Gavin itu tipe yang straight forward banget. Nggak bakal sok misterius kayak gini.” “Udah, terima aja,” kata Sheila santai. “Lagian lo keliatan banget ngantuk, belum ngopi juga. Buruan diminum. Hari masih panjang, Nay. Kerjaan lo bisa makin numpuk.” Kanaya menatap cup kopi itu lagi. Ragu masih ada, tapi rasa kantuk dan kepalanya yang berat akhirnya menang. “Iya deh...” gumamnya. Ia membuka tutup cup dan menyesap kopi itu perlahan. Hangatnya langsung menyebar, sedikit mengusir rasa kantuk yang sejak pagi menghantui. Sementara itu, di ruangannya sendiri... Sagara berdiri di dekat meja kerja, menatap layar monitor dengan sudut bibir terangkat tipis. CCTV kantor menampilkan sudut kubikel tempat Kanaya duduk—dan terlihat jelas bagaimana perempuan itu akhirnya meminum kopi kirimannya. Senyum puas tersungging di wajahnya. Perasaannya semakin sulit disembunyikan, meski untuk saat ini ia masih memilih bersembunyi di balik nama anonim. “Pelan-pelan saja, Naya...” gumamnya rendah. ••• to be continued—“Saya bisa menikahi kamu.”Deg.Seakan seluruh udara di ruangan itu tersedot habis. Kanaya terpaku. Kata-kata itu menggantung di antara mereka, berat dan mengejutkan.Menikah.Bukan sekadar janji kosong. Bukan pula ucapan spontan tanpa pikir panjang.Kanaya menatap Sagara dengan mata membesar, dadanya naik turun tidak beraturan. Ada keterkejutan, ketakutan, juga kebingungan yang bercampur menjadi satu.Ia tidak menyangka... Bahwa pembicaraan ini akan berujung sejauh itu.“Pak... tidak usah sampai seperti itu,” ucap Kanaya lirih. “Saya... saya tidak mungkin menikah dengan Bapak.”“Kenapa tidak?” tanya Sagara.Nada suaranya rendah, namun terdengar menekan. Ia melangkah satu langkah lebih dekat. Terlalu dekat. Punggung Kanaya langsung menyentuh tepi meja kerjanya sendiri, membuat ruang geraknya habis.Aroma parfum Sagara menyergap indra penciumannya—hangat, maskulin, dan terlalu familiar. Ingatan Kanaya seketika melayang pada aroma yang sama, aroma yang semalam membuatnya kehilangan ken
Waktu terus bergulir tanpa terasa.Kanaya masih duduk di kubikelnya, menyelesaikan pekerjaan yang sejak siang tadi perlahan mulai berkurang. Beberapa laporan sudah ia kirim, beberapa lagi tinggal dirapikan. Pandangannya sempat melirik jam di pojok layar komputer.Hampir jam pulang.Belum sempat ia menghela napas lega, langkah kaki mendekat. Pak Dani, supervisor mereka, berhenti di depan kubikel Kanaya dan Sheila.“Nay, Sheil,” panggilnya. “Kalian bisa over time, ya? Ini masih ada laporan yang belum kesusu. Saya nggak bisa ngerjain sekarang, harus ke rumah sakit. Urgent.”Sheila langsung berdiri, ekspresinya sedikit kikuk.“Pak, saya nggak bisa sekarang,” ucapnya cepat. “Saya udah ada janji.”Sheila melirik ke arah Kanaya, seolah meminta pengertian. Kanaya menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan.“Ya udah, Pak,” ujar Kanaya akhirnya. “Biar saya aja yang ngerjain.”Pak Dani terlihat lega. Ia menyerahkan setumpuk berkas ke tangan Kanaya.“Thanks, Nay. Kalau udah selesai, tolong kirim
Pukul satu dini hari. Lift apartemen berhenti dengan bunyi ding pelan. Kanaya melangkah keluar dengan langkah lelah. Bahunya sedikit turun, matanya sembab, tubuhnya terasa berat setelah perjalanan panjang dari Bogor kembali ke Jakarta. Koridor apartemen tampak lengang dan sunyi. Lampu-lampu temaram memantulkan bayangan langkahnya di lantai marmer. Saat Kanaya mendekati unit apartemennya, langkahnya mendadak terhenti. Di depan pintu, tergeletak sebuah keranjang buah yang tertata rapi. Di sampingnya, ada sebuah paper bag kecil berwarna putih. Kanaya mengernyit. “What?” gumamnya pelan. “Dari siapa ini, ya...” Ia menoleh sekilas ke sekeliling koridor yang sepi, memastikan tak ada siapa pun. Dengan tubuh yang sudah lemas, Kanaya membungkuk perlahan dan mengangkat keranjang buah itu. Tidak berat, tapi cukup membuat lengannya pegal. Ia membuka pintu unitnya, lalu masuk dan menyalakan lampu. Apartemen itu terasa sunyi, dingin, dan kosong—kontras dengan rumah orang tuanya yang hangat be
Kanaya baru saja menuruni tangga setelah berganti pakaian di kamarnya. Rambutnya masih setengah lembap, kaus rumah sederhana menggantikan pakaian kerjanya. Begitu sampai di ruang makan, ia melihat ayah dan adiknya sudah duduk di sana. “Eh, Papa sama Dimas udah pulang?” sapa Kanaya. Irwan menoleh, wajahnya langsung terlihat terkejut sekaligus senang. “Loh, Kakak di sini?” tanyanya. Kanaya tersenyum, lalu menghampiri ayahnya dan langsung memeluknya erat. “Kangen. Jadi mampir sebentar,” ucapnya lembut. “Nanti maleman balik ke Jakarta.” Irwan mengusap punggung Kanaya pelan. “Hm... nginep aja, Kak. Yah, besok siang baru kamu balik,” ujarnya mencoba membujuk. “Naya belum libur, Pah,” sahut Kanaya sambil tersenyum kecil. Ia kemudian menarik kursi di meja makan dan duduk di sebelah adiknya, Dimas, yang terlihat sangat fokus menatap layar ponsel, jari-jarinya lincah menekan layar permainan Mobile Legends. “Dek,” panggil Kanaya. “Kamu main game terus. Udah dapet belum kampus buat kul
Kanaya melajukan mobilnya masuk ke jalur tol. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya di Bogor. “Gila ya... Gavin maunya apa sih?” gumam Kanaya, matanya tetap fokus ke jalan. “Dulu aja selalu kayak nggak ada effort. Nggak pernah inisiatif buat nemuin aku, apalagi bahas masa depan. Kenapa sekarang malah kayak gini?” Napasnya terdengar berat. “Harusnya dia seneng dong. Hubungan kita udah selesai, dan dia bebas mau sama cewek manapun, harusnya udah nggak ada urusan lagi sama aku.” Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalan tol yang mulai dipenuhi kendaraan menjelang malam. Lampu-lampu kota menyala satu per satu, menemani pikiran Kanaya yang terus berputar. Tujuh tahun bukan waktu yang singkat. Ia menghabiskan masa remajanya, tumbuh menjadi dewasa, dengan satu nama yang sama, Gavin. Hampir satu jam kemudian, mobil Kanaya memasuki kawasan perumahan tempat orang tuanya tinggal. Kompleks itu terasa familiar dan menenangkan,
“Saya lihat kamu jalan seperti menahan sakit. Kemungkinan saya lupa kalau saya terlalu keras tadi malam.”“Paaak!!!” seru Kanaya spontan, wajahnya langsung merah padam. Ia tahu persis arah pembicaraan Sagara. Ia ingat baik-baik apa yang terjadi malam itu—dan nyeri yang masih terasa pagi tadi. “Saya... permisi dulu, Pak. Terima kasih obatnya.” ucap Kanaya terbata-bata, buru-buru menunduk sopan lalu kabur keluar dari ruangan seperti dikejar. Begitu pintu tertutup, Sagara menyandarkan tubuhnya sambil tersenyum kecil. “Lucu sekali kalau kamu sedang salah tingkah seperti itu, Naya...” gumamnya sambil mengibas pelan berkas di tangannya. Sementara itu, di luar ruangan, Kanaya menatap plastik obat di tangannya sambil menggerutu pelan. “Astaga, bisa-bisanya dia bahas masalah itu... bikin tambah malu aja...” omelnya sambil berjalan cepat kembali ke kubikelnya, wajahnya masih panas karena malu sendiri. ••• Setelah seharian merasa gagal total menjalankan misi menghindari Sagara, akhirnya







