Chapter: Selamat Tinggal, Arga - 8Dua hari sejak kejadian itu, Ghea tidak lagi menapakkan kakinya di tanah Amerta Green. Semua barang pribadinya yang selamat sudah dikemas ke dalam satu koper besar. Ghea memutuskan untuk pergi jauh, pulang ke rumah Bude, kakak perempuan almarhum ibunya yang tinggal di Magelang. Baginya, menetap di kota ini hanya akan terus melukai hatinya dengan ingatan tentang toko tanamannya yang hancur dan tentang pria yang hampir saja sempat ia cintai.Kini, Ghea sudah duduk di kursi ruang tunggu bandara, suara riuh pengumuman jadwal penerbangan saling bersahutan di atas kepalanya. Riuh akan tetapi hati Ghea terasa begitu sunyi.Ghea meraba ponsel di genggamannya. Ibu jari gadis itu bergerak ragu di atas layar membuka ruang obrolannya dengan Arga yang sudah dua hari ini sengaja ia abaikan pesannya. Ghea tahu, dia tidak akan bisa pergi dengan tenang jika belum menyelesaikan bab terakhir di antara mereka.Sambil menahan sesak di dadanya, Ghea mulai mengeti
Last Updated: 2026-07-02
Chapter: Selesai di Sini - 7Matahari pagi baru saja terbit namun bagi Ghea, tidak ada lagi keindahan yang tersisa dari semburat sinarnya. Dia duduk di teras warung Bu Retno, menatap kosong ke arah halaman Amerta Green yang kini hanya berupa tanah merah berantakan dengan serpihan kayu dan daun-daun mati yang mengering. Mata Ghea bengkak akibat menangis semalaman dan jiwanya rasanya sudah kosong melompong. *Ckit!* Suara rem mobil yang tergesa-gesa terdengar. Arga turun dengan penampilan yang sangat berantakan. Dia tidak tidur semalaman demi menyelesaikan semuanya. Arga melangkah cepat menghampiri Ghea, tanpa basa-basi dia meletakkan sebuah map dokumen tebal dan sebuah rekaman tablet di atas meja depan Ghea. "Ghea, lihat ini" ucap Arga, napasnya sedikit memburu. "Ini bukti rekaman CCTV jalan raya dan surat pernyataan bermaterai dari operator ekskavator kemarin, pemilik lahan sewa lamamu yang membayar mereka secara ilegal demi mempercepat pengosongan secara paksa dia memanfaatkan celah." Arga menatap
Last Updated: 2026-06-30
Chapter: Retak - 6Seminggu setelah makan malam itu dunia Ghea rasanya berubah seratus delapan puluh derajat, kehadiran Arga di Amerta Green bukan lagi sebagai ancaman melainkan sesuatu yang selalu Ghea tunggu setiap harinya. Pria itu sering mampir sore-sore, terkadang hanya untuk duduk di kursi kasir sambil memperhatikan Ghea bekerja atau benar-benar menepati janjinya untuk belajar merawat bunga Lily putih. Ghea bahkan mulai terbiasa dengan gaya bicara Arga yang kaku tapi diam-diam perhatian.Siang itu, cuaca kota sangat cerah. Ghea sedang berada di pasar induk tanaman yang jaraknya sekitar satu jam dari toko untuk menyetok beberapa pupuk dan bibit bunga baru. Hatinya berbunga-bunga dia berniat memberikan sebuah kaktus sukulen kecil yang estetik untuk ditaruh di meja kerja Arga sebagai kejutan nanti sore.Namun, saat Ghea sedang memilih pot, ponsel di saku celananya bergetar hebat. Sebuah panggilan telepon dari Bu Retno, pemilik warung kelontong di sebelah tokonya.Ghea menggeser
Last Updated: 2026-05-18
Chapter: Semburat Pagi - 5Kicau burung yang saling bersahutan di balik pagar seng perlahan membangunkan Ghea dari tidur nyenyaknya. Dia membuka matanya, menghalau silau cahaya matahari pagi yang menerobos masuk lewat celah-celah kaca toko.Ghea meregangkan otot lehernya yang terasa agak kaku lalu ingatan tentang kejadian semalam mendadak berputar di kepalanya. Sontak, Ghea langsung menegakkan tubuh dan menoleh ke arah meja kasir.Kursi kayu itu sudah kosong, lilin di atas meja telah mati menyisakan lelehan lilin yang membeku. Ghea buru-buru menyibak selimutnya dan berdiri."Arga?" panggil Ghea, mengedarkan pandangan ke sekeliling toko yang sepi. "Sudah pulang, ya?"Ghea berjalan mendekati meja kasir. Di atas permukaan meja kaca tersebut, segelas teh manis yang semalam disajikannya sudah bersih dan di sampingnya terselip selembar kertas catatan kecil dari robekan buku agenda dengan tulisan tangan yang sangat rapi *Sinyal sudah kembali. Saya harus ke kantor pagi-pagi karena ada
Last Updated: 2026-05-18
Chapter: Sisi Lain - 4Hampir dua jam berlalu namun rintik hujan tak kunjung reda, lilin di atas meja kasir sudah meleleh setengah. Ghea melirik ponselnya yang tergeletak di atas meja, sinyal seluler mati total akibat badai dan baterainya tersisa belasan persen. Ghea menghela napas lalu melirik ke sudut ruangan. Arga masih setia duduk di kursi kayu dengan tangan terlipat di dada, matanya terpejam, rambutnya sudah agak mengering berantakan. "Jalanan depan banjir semata kaki ditambah ada pohon tumbang dekat pembatas seng. Kamu nggak akan bisa pulang lewat jalan raya malam ini" ucap Ghea memecah keheningan, Arga membuka matanya perlahan, dia menatap langit-langit toko yang gelap dan menghela napas berat "Sial," gumamnya pelan. "Ponsel saya juga mati."Ghea bergeser agak menjauh duduk di kursi plastik di balik meja kasir, keadaan mendadak kembali canggung namun, rasa penasaran yang sejak lama ia tahan akhirnya membuat Ghea memberanikan diri untuk bersuara."Kenapa harus kafe?" tany
Last Updated: 2026-05-18
Chapter: Terjebak Badai - 3Malam itu, langit kota mendadak berubah gulita jauh lebih cepat dari biasanya. Angin kencang berembus kasar, membuat daun-daun tanaman hias gantung di teras Amerta Green bergoyang kencang. Ghea buru-buru memindahkan pot-pot kecil yang rentan ke dalam toko, kilatan petir mulai menyambar di langit disusul suara guntur yang menggelegar keras."Aduh, badainya kok ngeri banget sih," gumam Ghea cemas. Dia bergegas mengunci pintu kaca tokonya ketika tiba-tiba dia melihat sorot lampu mobil menembus pagar seng depan.Itu mobil Arga, iaberhenti mendadak dan Arga keluar dengan terburu-buru sambil memegang beberapa lembar kertas denah proyek yang hampir terbang terbawa angin tampaknya, pria itu kembali ke lokasi karena ada alat ukur timnya yang tertinggal di area samping toko.Namun, belum sempat Arga melangkah jauh, hujan deras langsung turun ditambah angin ribut menghantam tubuh tingginya membuat kertas-kertas di tangannya basah dalam sekejap.Melihat Arga yang mulai basah
Last Updated: 2026-05-18