Share

Retak - 6

Penulis: Auren Navé
last update Tanggal publikasi: 2026-05-18 17:14:52

Seminggu setelah makan malam itu dunia Ghea rasanya berubah seratus delapan puluh derajat, kehadiran Arga di Amerta Green bukan lagi sebagai ancaman melainkan sesuatu yang selalu Ghea tunggu setiap harinya. Pria itu sering mampir sore-sore, terkadang hanya untuk duduk di kursi kasir sambil memperhatikan Ghea bekerja atau benar-benar menepati janjinya untuk belajar merawat bunga Lily putih. Ghea bahkan mulai terbiasa dengan gaya bicara Arga yang kaku tapi diam-diam perhatian.

​Siang itu, cuaca kota sangat cerah. Ghea sedang berada di pasar induk tanaman yang jaraknya sekitar satu jam dari toko untuk menyetok beberapa pupuk dan bibit bunga baru. Hatinya berbunga-bunga dia berniat memberikan sebuah kaktus sukulen kecil yang estetik untuk ditaruh di meja kerja Arga sebagai kejutan nanti sore.

​Namun, saat Ghea sedang memilih pot, ponsel di saku celananya bergetar hebat. Sebuah panggilan telepon dari Bu Retno, pemilik warung kelontong di sebelah tokonya.

​Ghea menggeser tombol hijau. "Halo, Assalamualaikum Bu Retno? Ada apa?"

​"Ghea! Kamu di mana nduk?! Cepet balik ke toko, Ghea!!" suara Bu Retno terdengar sangat panik di seberang sana, mengalahkan suara bising deru mesin yang sangat keras sebagai latar belakangnya.

​Jantung Ghea mendadak mencelos. "Kenapa bu? ada apa sama toko saya?"

​"Ini ada truk besar sama ekskavator datang, Ghea! Mereka pasang pagar seng lagi terus langsung mulai ngerobohin area depan tokomu! Ibu udah coba larang tapi katanya mereka cuma jalanin perintah proyek!"

*​Deg.*

​Dunia Ghea rasanya berhenti berputar seketika. "Ngerobohin apa, bu?" bisik Ghea, suaranya mendadak hilang digantikan oleh rasa dingin yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

​"Teras depanmu sudah hancur, Ghea! Rak-rak mawar kamu dilindas! Cepet balik nduk!"

​Ponsel di genggaman Ghea hampir saja terlepas. Tanpa memedulikan belanjaannya yang berserakan di lantai pasar, Ghea langsung berlari kesetanan menuju tempat parkir motornya. Air matanya langsung tumpah membasahi pipi seiring dengan gas motor yang ditariknya dalam-dalam melaju di jalanan kota.

​Pikirannya kusut, hancur, dan ketakutan gila-gilaan. Perintah proyek? Kalimat Bu Retno terus terngiang-ngiang di kepalanya. Proyek itu di bawah kendali Arga.

​“Lahan ini tidak perlu digusur total, Ghea. Tokomu bisa tetap berdiri di sini,” kata-kata manis Arga seminggu lalu mendadak berubah menjadi belati yang menusuk dada Ghea berkali-kali.

​Kamu bohong, Arga... Kamu menipu aku, jerit Ghea dalam hati, dadanya sesak luar biasa oleh rasa kecewa dan benci yang kembali membakar dengan jauh lebih dahsyat.

​Satu jam perjalanan terasa seperti satu keabadian. Begitu motor Ghea berbelok ke arah Amerta Green, pemandangan di depannya sukses membuat dunianya runtuh total untuk kedua kali.

​Asap debu putih membubung ke udara. Sebuah ekskavator kuning besar sedang menggerakkan lengan besinya menghantam sisa-sisa atap teras toko hingga patah berantakan. Rak-rak kayu buatan almarhum ibunya sudah hancur berkeping-keping di atas tanah. Yang paling membuat hati Ghea mati rasa adalah melihat puluhan pot mawar dan tanaman hiasnya hancur tergilas roda gila alat berat tersebut.

​"STOP! BERHENTI! SAYA BILANG BERHENTI!"

​Ghea meninggalkan motornya begitu saja di pinggir jalan dan berlari menerobos pagar proyek sambil menangis histeris, dia tidak memedulikan beberapa pekerja yang mencoba menahannya.

​"Mbak, bahaya Mbak! Jangan masuk area steril!" seru salah satu pekerja berhelm proyek.

​"KELUAR DARI TOKO SAYA! KALIAN SEMUA JAHAT! KELUAR!" Ghea berteriak histeris, memukul dada pekerja yang menahannya dengan kepalan tangan yang gemetar. Tangisnya pecah sejadi-jadinya melihat tempat kenangan ibunya kini compang-camping tak berbentuk, di tengah kekacauan itu mobil hitam Arga yang sangat familiar mengerem mendadak di tepi jalan. Arga turun dari mobil dengan wajah yang memucat begitu melihat ada ekskavator yang sedang beroperasi di lahan tersebut ia langsung berlari masuk ke dalam area proyek.

​"Apa-apaan ini?! Siapa yang memerintahkan pembongkaran hari ini?!" bentak Arga yang menggelegar penuh amarah langsung membuat operator ekskavator mematikan mesinnya.

​Arga menoleh dan matanya langsung menangkap sosok Ghea yang sedang terduduk lemas di atas tanah semen yang kotor menangis tersedu-sedu sambil memeluk satu-satunya pot yang tersisa, pot bunga Lily putih milik ibunya yang untungnya sempat diselamatkan Bu Retno tadi walau beberapa daunnya sudah patah.

​Arga melangkah cepat mendekati Ghea, hatinya tersentuh melihat kehancuran di depan matanya. "Ghea..kamu nggak apa-apa? Dengar saya, saya nggak tahu soal-"

*​PLAK!*

​Satu tamparan keras mendarat di pipi tegas Arga, membuat wajah pria itu terlempar ke samping. Suasana mendadak hening seketika.

​Ghea bangkit berdiri dengan tubuh yang gemetar hebat, matanya yang sembap menatap Arga dengan pandangan yang penuh dengan rasa benci, luka, dan pengkhianatan yang amat sangat mendalam.

​"Jangan sebut nama saya pakai mulut palsu kamu itu, Arga Dirgantara!" desis Ghea, suaranya bergetar menahan tangis yang kembali meledak. "Janji kamu kalau toko ini nggak akan digusur ternyata cuma taktik kotor kamu supaya aku lengah kan? Supaya aku nggak protes lagi?!"

​"Ghea, bukan begitu! Saya benar-benar tidak tahu ada eksekusi hari in-"

​"CUKUP, ARGA! CUKUP!" Ghea berteriak, menutup telinganya, menolak mendengarkan apa pun lagi. "Aku bodoh karena sempat percaya sama iblis kayak kamu! Aku benci kamu Arga. Aku benci banget sama kamu! Pergi dari sini! Bawa semua alat penghancur kamu ini dan pergi dari hidupku!!!"

​Arga terpaku di tempatnya berdiri, lidahnya mendadak kelu. Tamparan Ghea tidak ada apa-apanya dibanding rasa sakit melihat tatapan penuh kekecewaan dari mata gadis itu. Untuk pertama kalinya, sang arsitek yang selalu punya jawaban atas segala hal kini hanya bisa diam membeku di bawah langit siang yang mendadak terasa hampa.

​Mereka tidak tahu, bahwa di seberang jalan, sebuah mobil sedan yang terparkir tersembunyi, sang pemilik lahan sewa yang lama sedang tersenyum puas melihat Amerta Green yang hancur. Sebuah niat jahat yang sengaja dilakukan untuk menyingkirkan Ghea secara paksa tanpa memedulikan bahwa tindakan itu telah menghancurkan dua hati yang baru saja mulai bertaut.

Napas Ghea memburu, dadanya naik-turun menahan sesak yang luar biasa. Dia memeluk erat pot bunga Lily putih satu-satunya harta yang tersisa dari ibunya seolah takut benda itu juga akan direnggut paksa dari tangannya, air matanya terus mengalir tanpa bisa dibendung membasahi kelopak Lily yang patah.

​Arga perlahan menolehkan kembali wajahnya setelah mendapat tamparan keras itu. Pipinya memerah tetapi dia sama sekali tidak peduli pada rasa perih di kulitnya. Namun, rasa perih di dadanya jauh lebih menyiksa melihat kehancuran total di hadapannya dan melihat tatapan Ghea yang kini dipenuhi dinding permusuhan yang jauh lebih tebal dari sebelumnya.

​"Ghea, beri saya waktu sampai besok pagi" ucap Arga suaranya terdengar sangat rendah, parau, namun ada nada memohon yang belum pernah ia keluarkan seumur hidupnya. "Saya bersumpah demi harga diri saya, saya akan cari tahu siapa yang melakukan ini."

​"GAK PERLU!" potong Ghea tajam, suaranya bergetar hebat di sela tangis. "Mau cari tahu apa lagi??? Siapa lagi yang punya kuasa menggerakkan alat berat di proyek ini kalau bukan kamu, Tuan Arsitek Utama?! Kamu pembohong, Arga! Kamu sengaja bikin aku percaya, bikin aku ngerasa aman, biar kamu bisa ngeratain tempat ini tanpa perlawanan dari aku! Puas kamu sekarang?!"

​Setiap kalimat yang keluar dari mulut Ghea rasanya seperti paku yang dihantamkan tepat ke jantung Arga. Dia ingin sekali merengkuh tubuh gemetar gadis itu dan menenangkannya namun dia tahu saat ini kehadirannya justru menjadi sumber luka terbesar bagi Ghea.

​"Operator! Matikan mesinnya sekarang dan bawa alat ini keluar dari sini!" bentak Arga tiba-tiba menoleh ke arah ekskavator dengan kilatan mata yang penuh amarah yang menakutkan kemudian para pekerja yang ada di sana langsung bergerak cepat tanpa berani bersuara sedikit pun, suara bising mesin perlahan menjauh meninggalkan keheningan yang menyakitkan di antara reruntuhan Amerta Green.

​Ghea tidak sudi menatap Arga lagi, dengan tubuh yang masih lemas dan gemetar dia berbalik membelakangi pria itu. Dia berjalan tertatih di antara serpihan kayu rak yang hancur mendekati warung kelontong Bu Retno untuk mengamankan pot Lily miliknya yang tersisa. Ghea benar-benar menutup dirinya rapat-rapat.

​Arga berdiri sendirian di tengah puing-puing tanaman yang hancur. Perlahan, matanya beralih menatap sekeliling luar proyek mencoba mencari petunjuk. Saat itulah, dari kejauhan di seberang jalan, mata elangnya menangkap siluet sebuah mobil sedan yang perlahan melaju pergi secara terburu-buru begitu menyadari alat berat dihentikan.

​Arga menyipitkan matanya, ia sangat mengenali plat nomor mobil tersebut. Itu mobil milik mantan pemilik lahan sewa lama yang tempo hari bersikeras menjual tanah ini dengan harga selangit dan sempat memaki Ghea.

​Dia pelakunya, desis Arga dalam hati. Amarah yang tadinya tertahan di dalam dada kini resmi menyala, membakar habis sisa kesabarannya. Pria tua serakah itu sengaja menyewa oknum pekerja lapangan secara ilegal untuk merobohkan Amerta Green hari ini mengambil keuntungan dari celah waktu revisi Arga yang baru saja disetujui investor dan belum turun surat resminya ke lapangan.

​Arga memutar tubuhnya menatap punggung rapuh Ghea dari kejauhan untuk terakhir kalinya malam itu.

​"Saya akan kembalikan tokomu, Ghea. Walau harus mengorbankan karier saya sendiri," gumam Arga sangat pelan, berjanji pada dirinya sendiri.

​Arga berbalik, melangkah lebar menuju mobil nya begitu pintu mobil tertutup dan mesinnya menyala. Arga langsung menginjak gas dan bersiap untuk menghancurkan balik siapa pun yang sudah berani menyentuh milik Ghea Kirana.

​Malam itu, di bawah langit kota yang mendadak berubah mendung, kesalahpahaman telah meretakkan fondasi yang baru saja mereka bangun.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • The Architecture of Us    Konsumsi Publik - 11

    Dalam kurun waktu tiga hari sejak penundaan ketiga diumumkan sepihak oleh Arga, rumor miring di kalangan pebisnis berubah menjadi konsumsi publik. Sebuah akun portal berita arsitektur dan bisnis lokal mengunggah artikel dengan judul tajam: *Sikap Arogan dan Krisis Profesionalitas Arsitek Utama Dirgantara Landscape: Proyek Miliaran Terbengkalai Tanpa Alasan Jelas.*Efeknya langsung bertebaran dimana-mana hingga Jagat maya, dan media sosial miliknya mulai dipenuhi oleh hujatan. Netizen yang tidak tahu apa-apa dengan mudah menghakimi juga melabeli Arga sebagai anak pemilik perusahaan yang manja, egois, dan tidak menghargai kontrak kerja. Rekam jejak prestasinya selama bertahun-tahun seolah terhapus begitu saja oleh satu kesalahan yang sengaja ia pelihara.*Punya nama besar tapi kerjaan ditunda-tunda terus.**“Krisis kedewasaan. Mentang-mentang arsitek andalan, bisa seenaknya merubah jadwal.”**Tok! Tok!*Siska masuk tanpa menunggu

  • The Architecture of Us    Kegilaan Terbesar - 10

    ​"Ini kegilaan terbesar yang pernah kamu lakukan sepanjang kariermu, Arga!"​Emosi Pak Baskoro memuncak di dalam ruangan kerja Arga. Beliau adalah salah satu investor utama sekaligus rekan senior papanya. Map dokumen revisi proyek dilempar kasar ke atas meja jati. Di ambang pintu, Siska berdiri dengan wajah pucat, tidak berani masuk.​Arga tidak berkedip. Bahkan penampilannya masih sempurna seperti biasanya, namun sorot matanya redup dan dingin. "Saya tidak akan membatalkan proyeknya, Pak Baskoro, saya hanya meminta penundaan pengerjaan."​"Itu sama saja dengan mematikan proyek secara perlahan!" bentak Baskoro frustrasi. "Berita tentang penundaan sepihak ini sudah bocor ke media bisnis. Nama baik Dirgantara Landscape & Architecture bisa hancur!dan menganggapmu tidak profesional, Arga!! Saham perusahaan mu juga bisa terganggu kalau kamu terus-menerus keras kepala tanpa alasan logis seperti ini!"​Arga mengepalkan tangannya di bawah meja hingga buku

  • The Architecture of Us    Garis Hidup Masing-masing - 9

    Satu bulan berlalu sejak deru mesin pesawat membawa Ghea terbang meninggalkan seluruh kepingan memorinya.Kota ini kembali ke ritme biasanya, seolah tidak pernah terjadi badai besar yang menghancurkan sebuah toko tanaman kecil bernama Amerta Green. Hidup berjalan terus, memaksa dua orang yang sempat melanggar batas jarak dua meter itu untuk kembali ke garis hidup mereka masing-masing. Menjadi orang asing yang berpura-pura tidak pernah saling memedulikan.Di pusat kota, gedung mentereng Dirgantara Landscape & Architecture masih berdiri kokoh. Di dalam ruangan paling ujung lantai empat, Arga Dirgantara duduk di balik meja kerja jatinya. Penampilannya kembali sempurna: kemeja hitam formal yang rapi, kancing pergelangan tangan yang terpasang erat, dan ekspresi wajah yang sedingin es."Pak Arga, ini draf akhir untuk pengerjaan fisik kafe di lahan bekas toko tanaman kemarin. Investor meminta pengerjaan pondasi dimulai minggu depan," ucap sang sekretaris sam

  • The Architecture of Us    Selamat Tinggal, Arga - 8

    Dua hari sejak kejadian itu, Ghea tidak lagi menapakkan kakinya di tanah Amerta Green. Semua barang pribadinya yang selamat sudah dikemas ke dalam satu koper besar. Ghea memutuskan untuk pergi jauh, pulang ke rumah Bude, kakak perempuan almarhum ibunya yang tinggal di Magelang. Baginya, menetap di kota ini hanya akan terus melukai hatinya dengan ingatan tentang toko tanamannya yang hancur dan tentang pria yang hampir saja sempat ia cintai.Kini, Ghea sudah duduk di kursi ruang tunggu bandara, suara riuh pengumuman jadwal penerbangan saling bersahutan di atas kepalanya. Riuh akan tetapi hati Ghea terasa begitu sunyi.Ghea meraba ponsel di genggamannya. Ibu jari gadis itu bergerak ragu di atas layar membuka ruang obrolannya dengan Arga yang sudah dua hari ini sengaja ia abaikan pesannya. Ghea tahu, dia tidak akan bisa pergi dengan tenang jika belum menyelesaikan bab terakhir di antara mereka.Sambil menahan sesak di dadanya, Ghea mulai mengeti

  • The Architecture of Us    Selesai di Sini - 7

    Matahari pagi baru saja terbit namun bagi Ghea, tidak ada lagi keindahan yang tersisa dari semburat sinarnya. Dia duduk di teras warung Bu Retno, menatap kosong ke arah halaman Amerta Green yang kini hanya berupa tanah merah berantakan dengan serpihan kayu dan daun-daun mati yang mengering. Mata Ghea bengkak akibat menangis semalaman dan jiwanya rasanya sudah kosong melompong. ​ *Ckit!* ​Suara rem mobil yang tergesa-gesa terdengar. Arga turun dengan penampilan yang sangat berantakan. Dia tidak tidur semalaman demi menyelesaikan semuanya. ​Arga melangkah cepat menghampiri Ghea, tanpa basa-basi dia meletakkan sebuah map dokumen tebal dan sebuah rekaman tablet di atas meja depan Ghea. ​"Ghea, lihat ini" ucap Arga, napasnya sedikit memburu. "Ini bukti rekaman CCTV jalan raya dan surat pernyataan bermaterai dari operator ekskavator kemarin, pemilik lahan sewa lamamu yang membayar mereka secara ilegal demi mempercepat pengosongan secara paksa dia memanfaatkan celah." ​Arga menatap

  • The Architecture of Us    Retak - 6

    Seminggu setelah makan malam itu dunia Ghea rasanya berubah seratus delapan puluh derajat, kehadiran Arga di Amerta Green bukan lagi sebagai ancaman melainkan sesuatu yang selalu Ghea tunggu setiap harinya. Pria itu sering mampir sore-sore, terkadang hanya untuk duduk di kursi kasir sambil memperhatikan Ghea bekerja atau benar-benar menepati janjinya untuk belajar merawat bunga Lily putih. Ghea bahkan mulai terbiasa dengan gaya bicara Arga yang kaku tapi diam-diam perhatian.​Siang itu, cuaca kota sangat cerah. Ghea sedang berada di pasar induk tanaman yang jaraknya sekitar satu jam dari toko untuk menyetok beberapa pupuk dan bibit bunga baru. Hatinya berbunga-bunga dia berniat memberikan sebuah kaktus sukulen kecil yang estetik untuk ditaruh di meja kerja Arga sebagai kejutan nanti sore.​Namun, saat Ghea sedang memilih pot, ponsel di saku celananya bergetar hebat. Sebuah panggilan telepon dari Bu Retno, pemilik warung kelontong di sebelah tokonya.​Ghea menggeser

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status