ANMELDEN"Udah sana keluar! Ngapain tetap di sini? Kelamaan malah menyesal nanti!" Damian sudah setengah geram dengan lamanya Renan bergerak keluar mobil. Beberapa jam yang lalu, Damian baru saja sampai di rumah setelah beberapa hari berada di luar kota. Malam begitu syahdu. Aroma khas hujan masih menyeruak dari alam sekitar. Bahkan uap jalanan masih terasa. Sore tadi kota diguyur hujan lebat. Beruntung langsung berhenti saat menjelang malam. Namun, dinginnya cuaca sangat terasa di kulit. Damian menghembuskan napasnya lelah. Jika saja statusnya dengan Renan bukanlah hubungan keluarga, tentu ia tidak akan bersedia menyetir sendiri hingga 3 jam hanya demi menggagalkan kencan Maurin. Sesampainya mereka di restoran tempat Maurin dinner, Renan hanya duduk tanpa suara di samping Damian. Menyebalkan. "Keluar atau—""Menurut kamu saya sudah cukup pantas untuk bersama Maurin? Terutama di hadapan keluarga kamu." Renan mengatakan itu dengan tenang. "Yang tahu jawabannya kamu sendiri, Bro! Gimana b
"Kenapa nggak jujur aja? Aku nggak sebodoh itu loh sampai gak tahu perasaan Mas yang sebenarnya." Jasmine duduk dengan meletakkan segelas orange jus di meja, tidak jauh dari Renan sedang bermain ponsel. Malam ini Jasmine memutuskan menginap di tempat sang ayah. Tentunya setelah Alan terus membujuk sebab sangat merindukan cucunya. Jasmine pun tidak punya alasan karena Damian juga sedang berada di luar kota sekarang. "Jangan sok tau!" tukas Renan tidak suka. Suasana malam terasa lebih syahdu. Cuaca cenderung kurang baik. Namun, menikmati semilir angin yang menerpa kulit membuat Jasmine ingin bergabung dengan kakaknya di teras samping. "Minum dulu. Tadi jeruknya titipan dari Kak Maurin. Katanya sebagai permintaan maaf karena dinnernya batal." Jasmine melipat bibir menahan tawanya teringat dengan wajah bersalah Maurin yang berujung dengan wajah Renan yang ditekuk dalam. Pria itu bahkan memilih untuk menghabiskan waktu malamnya dengan bermain game dari ponsel. Sesuatu yang sudah lama
"Kenapa diam? Tuh kan, kamu memang gak mau." Maurin tersenyum miring, lalu membuang muka. Dugaannya benar. Renan memang hanya menggertak Damian dengan mengajaknya pacaran. Jangankan dicium, memegang tangan Maurin saja Renan tidak pernah mau. Apa yang terjadi semalam pengecualian. Itu kepepet. "Kenapa masih di sini? Sana pergi! Terima kasih atas bantuannya semalam." Masih dalam mode ketus, Maurin sengaja melepaskan perhatiannya dari Renan. Namun, tidak dalam bertahan lama. Sebab hanya dalam hitungan detik setelah Maurin bersikap ketus, tiba-tiba saja seseorang menarik dagu Maurin. Pupil Maurin membulat. Tiba-tiba saja rasa gugup sekaligus menegangkan menyergap dirinya. "Ka... kamu mau ngapain?" tanya Maurin menatap Renan gugup sekaligus panik.Beberapa saat yang lalu ia memang meminta Renan menciumnya. Tapi jujur, tujuannya hanya untuk menguji Renan saja. Maurin mana berani benar-benar mengatakan itu pada Renan. Malu! "Melakukan apa yang kamu minta." Renan merangkum kedua sisi
"Renan tidak benar-benar mencintai Maurin. Saya tidak bisa mentolerir itu. Bagaimana pun Maurin adalah adik saya." Jasmine menatap Damian tidak mengerti. Dia sendiri tidak bisa menebak isi hati kakaknya. Namun, kini sang suami malah memberikan jawaban yang Jasmine sendiri tidak sangka sebelumnya. Renan hanya pura-pura menyukai Maurin? Atau Renan hanya sekedar menjadikan Maurin tameng agar tidak dipaksa ayah mereka untuk kencan buat dengan wanita-wanita random putri dari kenalan ayah mereka. Sejauh ini Jasmine memang kurang bisa memahami isi pikiran sang kakak yang sering menunjukkan senyum itu. "Jangan terlalu dipikirkan. Itu masalah saya dengan kakak kamu." Damian mengusap puncak kepala Jasmime dengan lembut. Seperti biasa, senyum pria itu selalu terbit dengan sangat sempurna saat di hadapan Jasmine. "Mas Renan tahu sesuatu, ya?" cicit Jasmine, menatap Damian penuh rasa khawatir. Damian terdiam. Senyumnya masih tersemat manis. Sejenak ia menunduk, menyamakan tingginya dengan s
"Kalian...?" Damian menatap Renan dan Maurin bergantian. "Enggak!" sangkal Maurin. Tanpa Damian melanjutkan kalimatnya, Maurin jelas tahu apa yang ada di pikiran Damian setelah menemukannya tertidur di sofa yang sama dengan Renan. Dalam kondisi berpelukan pula. Sementara itu, Jasmine yang duduk di samping Damian hanya diam. Membiarkan suaminya menginterogasi langsung sang kakak dengan Maurin. Tidak hanya Jasmine, Damian pun ikut terkejut saat melihat Maurin dan Renan begitu mesra di sofa ruang tengah satu jam yang lalu. Keduanya sama-sama tidak mengira kedekatan orang terdekat mereka itu ternyata sudah sejauh itu. "Lalu tadi apa? Kalian tidak mungkin tidur berdua seperti itu jika tidak punya hubungan apapun, kan?" tanya Damian curiga. Nada bicara Damian memang tidak meninggi sama sekali. Terkesan tenang. Namun, Jasmine sangat memahami bahwa saat ini Damian sedang dikuasi amarah. Ruang tengah tempat mereka duduk sekarang menjadi menegangkan. Jasmine jelas tidak menyukai hal sepe
"Jangan pergi!" Maurin segera memeluk Renan dari belakang. Langkah Renan terhenti. Napasnya tertahan sejenak. Apalagi saat ia merasakan tidak hanya pinggangnya yang ditahan Maurin, melainkan punggung pun dijadikan gadis itu sebagai tempat bersandar. Apartemen Damian yang sering mereka jadikan tempat singgah itu mendadak panas. Layaknya Renan yang merasakan jantungnya berdebar lebih cepat, suara gerak jarum jam pun terasa cepat. Kedua tangan Renan terkepal di sisi tubuh. Ia hanya bisa melihat sosok Maurin dari bayang-bayang yang tercetak di lantai sebab lampu utama yang tidak dihidupkan. Kamar yang dikhususkan untuk Maurin itu memang lebih sering diterangi dengan lampu dinding yang memberikan efek warm di ruangan. "Aku mohon jangan pergi. Temani aku." Renan menggerutu dalam hati. Suara lirih Maurin membuat Renan lemah. Apalagi tangan gadis itu semakin mendekap Renan kencang. Renan sadar, Maurin pasti masih trauma dengan kejadian beberapa jam di bar tadi. Pria tidak bertanggung
Jasmine buru-buru bangkit sembari menutup hidungnya. "Mas Damian ganti parfum, ya?" Damian menggeleng pelan. Lalu ikut duduk sembari mengendus kemeja depannya sembari memikirkan parfum siapa yang melekat di bajunya. "Mas peluk-peluk cewek, ya? Itu aroma perempuan loh." Jasmine menatap Damian cur
"Ternyata ini galeri milik kamu yang membuat Damian turun langsung mengurus kepemilikannya beberapa waktu lalu!" Miranda menyapu pandangannya tanpa minat. Kedatangan tiba-tiba ibu mertuanya itu membuat Jasmine serba salah. Ia baru saja menyelesaikan lukisan sehingga penampilannya cukup berantakan
Semenjak Damian mengatakan bahwa Alan sudah mengizinkan Jasmine menginap di tempat pria itu, sejak itulah Jasmine tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun. Ia ingin menolak, tapi ragu alasannya akan diterima Damian. Jika tidak menolak, Jasmine khawatir akan membuatnya tidak bisa menahan diri. Pe
"Aku dengar kamu mau menikah. Aku nggak rela melihat kamu bahagia sedangkan aku nggak. Erick dipenjara, aku dipecat. Hiks...." Clara mengusap kasar air matanya dengan tangannya. Soal itu Jasmine tahu. Sejak dulu, kebodohannyalah yang sudah menutupi kelicikan Clara. Bertahun-tahun mengakui Clara s







