Mag-log inTuk. Tuk. Tuk.
Suara langkah kaki yang diiringi ketukan hak sepatu tinggi bergema di sunyinya perpustakaan pusat.
Suara itu lambat terdengar. Namun, memiliki ritme menuntut yang membuat udara di sekitar seketika terasa lebih tipis.
"Revan? Kamu ada di dalam?"
Suara Vanya kembali terdengar memecah kesunyian. Nada suaranya sama sekali tidak terdengar seperti sapaan seorang yang ramah. Itu adalah panggilan dari seseorang yang memiliki kecurigaan penuh.
Di sudut remang perpustakaan, rahang Revan mengeras. Dia yang biasanya selalu tampil tenang dan tidak tersentuh itu kini menunjukkan kepanikan di mata hitamnya.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Revan mencengkeram lengan Alya dan mendorong gadis itu dengan kasar ke celah sempit di antara dua rak buku sastra kuno yang menjulang tinggi.
Alya yang terkejut hanya bisa menurut.
"Jangan bersuara. Jangan bergerak," bisik Revan tepat di telinga Alya yang terdengar sangat rendah dan mengancam.
Kemudian dia berbalik dan menggunakan tubuh tingginya untuk menutupi celah rak tersebut.
Alya masuk ke dalam kegelapan di balik rak. Jantungnya berdentum begitu keras hingga takut Vanya bisa mendengarnya dari luar.
Sambil menyandarkan punggungnya ke dinding beton, Alya berusaha menutupi hidungnya dengan satu tangannya. Cairan hangat dan anyir terus merembes keluar tanpa bisa dicegah olehnya.
Alya memejamkan mata, berusaha keras menahan pening yang seolah dapat memutarbalikkan isi kepalanya. Efek tulisan tadi benar-benar menguras energinya hingga ke tulang.
"Aku di sini."
Suara Revan terdengar datar. Alya membuka sebelah matanya lalu mengintip dari celah buku-buku tebal yang berjejer di rak.
Dia melihat punggung tegap Revan yang kini sedang memegang sebuah buku Arkeologi setebal batu bata. Dan berpura-pura sibuk membaca di bawah temaram lampu taman yang menembus kaca jendela.
Langkah sepatu hak tinggi itu berhenti. Vanya muncul dalam balutan gaun merah marunnya yang elegan. Aroma parfum mawar yang sangat menyengat menyapa hidung Alya dengan samar.
"Ngapain kamu sembunyi di tempat gelap?" tanya Vanya dengan nada rendah. Matanya memindai Revan dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Aku cari kamu ke fakultas, tapi mobilmu masih ada di lobi. Kamu tahu kan aku nggak suka nunggu."
"Aku butuh referensi buat jurnal Prof. Hadi. Buku ini nggak boleh dipinjam," balas Revan dingin dan tanpa menatap mata Vanya. Fokusnya pada tulisan-tulisan yang ada dibuku yang dipegangnya.
Dari celah rak, Alya memperhatikan setiap gerak-gerik mereka. Sifat menelitinya mulai bekerja walau kepalanya berdenyut nyeri.
‘Ada yang aneh,’ pikirnya.
Alya bisa melihat punggung Revan yang biasanya tegak penuh arogan saat ini malah terlihat kaku. Otot-otot di balik kemeja hitam pria itu menegang seolah sedang menahan diri dari sesuatu.
Saat Vanya melangkah maju dan menyentuhkan ujung jarinya ke bahu Revan, Alya melihat pria itu hanya menatap Vanya.
Revan tidak menepis tangan Vanya, tapi juga tidak membalas sentuhan itu dengan kelembutan. Revan bagaikan orang asing di depan Vanya daripada seorang pria yang sedang bermesraan dengan kekasihnya.
‘Ini nggak wajar. Bukan kayak gini harusnya,’ batin Alya. ‘Kok gue lihatnya dia kayak waspada sih?’
Tiba-tiba, perut Alya terasa mual. Suhu tubuhnya mendadak turun, membuatnya menggigil di sudut sempit itu. Dia berusaha menggunakan ujung kausnya untuk menekan lebih kuat ke hidungnya, memastikan tidak ada setetes darah pun yang menetes ke lantai.
Alya menggigit bibir bawahnya untuk menahan ringisan rasa sakit yang dirasakan dari tubuhnya. Sejenak dia menutup mata demi mengenyahkan rasa tidak nyaman di tubuhnya.
Di luar celah, Vanya perlahan menarik tangannya dari bahu Revan. Senyum yang sedari tadi menempel di bibir merah perempuan itu mendadak luntur.
Vanya tidak lagi menatap buku di tangan Revan. Dia mendongak dan hidungnya sedikit berkerut, seolah sedang mengendus udara di sekitarnya.
Alya membeku. Dia berusaha menahan napasnya hingga dadanya terasa sesak. Berharap dengan begitu, Vanya tidak mengendus baunya.
"Ada bau aneh di sini," gumam Vanya lalu memicingkan matanya menatap ke sekeliling sudut remang itu.
"Cuma bau buku tua yang lapuk sama debu. Tempat ini jarang dibersihin," jawab Revan cepat. Dia berusaha mengalihkan perhatian dengan membalik halaman bukunya dengan kasar.
Namun, Vanya menggeleng pelan. Senyum tipis kini kembali terbit di bibirnya. Vanya melangkah menyamping, mencoba melewati bahu Revan.
"Bukan. Aku kenal bau buku tua, Revan," desis Vanya pelan. "Ini bau besi... kayak bau darah. Aku juga nyium wangi sabun mandi murahan yang ganggu hidungku banget."
Mata Alya membelalak di balik kegelapan rak mendengar ucapan itu. Keringat dingin sebesar biji jagung meluncur di pelipisnya.
Revan mencoba bergeser untuk kembali menghalangi pandangan Vanya. Namun, Vanya mengangkat tangan kanannya yang dihiasi cincin besi kuno.
Gestur itu seketika membuat Revan terpaku di tempatnya, seolah ada rantai tidak kasat mata yang hendak mencekik leher pria itu.
Vanya menatap melewati bahu Revan. Pandangannya tertuju lurus pada celah gelap di antara dua rak raksasa tempat Alya bersembunyi.
Hak sepatunya terangkat.
Tuk.
Vanya melangkah satu senti lebih dekat menuju celah rak tersebut.
“Gue nggak boleh lari sekarang,” bisik Alya.Suara Alya terdengar sangat pelan di antara isak tangisnya yang tertahan. Tangannya yang gemetar menyapu air mata dingin di pipinya secara kasar.Rasa sakit hati akibat kenyataan bahwa beasiswanya hanyalah umpan palsu sempat membuat kakinya ingin berlari menjauh dari gedung mencekam ini. Namun, Alya memaksakan dirinya untuk tetap bertahan di balik celah pintu.Ingatan Alya mendadak melayang pada pesan Revan. Revan memintanya untuk berpura-pura tidak tahu apa-apa dan tetap bertahan.Alya butuh informasi. Dia harus tahu apa rencana sebenarnya dari ayah dan anak gila kuasa itu terhadap dirinya dan Revan, agar dia dan Revan bisa menyusun rencana pembalasan.Di dalam ruangan kerja yang luas itu, suara langkah kaki Iwary terdengar berjalan mendekati meja kerjanya.“Terus rencana Papa selanjutnya apa pas malam bulan purnama nanti?” tanya Vanya, menyuarakan rasa penasarannya. “Bukannya selama ini kita udah cukup dapat ekstrak darah peraknya Revan?”
“Umpan beasiswa...?” bisik Alya.Suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam di balik embusan angin pendingin ruangan yang keluar dari celah pintu. Alya masih berdiri kaku di balik dinding, memegangi dadanya yang terasa sangat sesak.Dunia Alya rasanya benar-benar runtuh seketika.Ingatannya melayang kembali ke hari di mana surat penerimaan Beasiswa Penuh Universitas Cakrawala tiba di Panti Asuhan Kasih Bunda.Alya ingat betul bagaimana Ibu Panti menangis terharu sambil memeluknya erat-erat hari itu. Alya ingat bagaimana adik-adik pantinya menatapnya dengan penuh rasa bangga, menganggap Alya sebagai sosok teladan yang berhasil membuktikan bahwa anak panti miskin pun bisa sukses lewat jalur prestasi.Alya telah belajar setengah mati setiap malam. Dia mengorbankan waktu tidurnya demi mempertahankan nilai akademisnya agar beasiswa itu tidak dicabut.Namun sekarang, seluruh kebanggaan dan kerja keras yang dia bangun selama ini hancur berantakan. Semua itu ternyata hanyalah skenario palsu yan
Alya menahan napasnya rapat-rapat. Dia semakin merapatkan telinganya ke celah pintu kayu yang terbuka sedikit. Suara Dekan Iwary dari dalam ruangan terdengar begitu menuntut dan tak sabar.“Apa maksudmu, Vanya? Jangan bertele-tele kalau ngomong,” ulang Dekan Iwary dengan nada suara yang semakin keras dan kesal ketika Vanya hanya menghela napas.Terdengar suara gesekan kursi kulit mahal saat Iwary menegakkan posisi duduknya di balik meja kerja raksasa.Vanya melangkah dua tindak lebih dekat ke meja ayahnya. Suara ketukan hak sepatunya terdengar melambat, dipenuhi oleh kepuasan yang luar biasa.“Alya Senandika itu seorang Penenun Realita, Pa,” desis Vanya mantap. “Dia seorang Weaver!”Keheningan mendadak menyergap ruangan kerja dekan yang luas itu.Alya yang berada di balik pintu merasa jantungnya berhenti berdetak selama beberapa detik. Tangan kirinya mencengkeram dinding beton yang dingin untuk menopang tubuhnya yang mendadak lemas.“Weaver...?” cicit Dekan Iwary pelan.Suara pria tua
‘Nggak bisa. Mendingan Nggak ke sini. Gue harus pergi dari sini...’ pikir Alya.Tumit sepatu Alya sudah berputar setengah langkah di atas lantai marmer yang dingin. Ketakutan yang melumpuhkan membuatnya ingin segera memutar balik tubuhnya dan berlari kencang menuruni anak tangga lantai tiga Gedung Rektorat.Alya sekali lagi menatap papan kuningan di dinding: RUANG KERJA DEKAN - PROF. DR. IWARY.Nama itu terasa seperti nama seorang algojo di dalam kepalanya.Ingatan Alya mendadak tertuju pada tatapan mata Revan di bawah pohon beringin tadi. Pria itu menyuruhnya tetap tenang melalui tatapan mata, tapi melangkah masuk ke ruangan ini rasanya seperti berjalan secara sukarela menuju tiang gantungan.Namun, sebelum kakinya sempat melangkah lari ke arah tangga utama, sebuah suara dari balik belokan lorong mendadak menghentikan gerakannya.Tuk. Tuk. Tuk.Irama ketukan sepatu hak tinggi itu terdengar sangat familiar, melangkah mantap di atas lantai marmer. Vanya sedang berjalan menyusuri loron
‘Gue harus tahan. Gue nggak boleh kepancing,’ pikir Alya.Alya masih berdiri mematung di tengah koridor Fakultas Sastra. Bahu kanannya masih terasa ngilu dan panas akibat cengkeraman keras Vanya dan tekanan Cincin Segel wanita itu.Suara tawa angkuh Vanya dan dua pengikutnya perlahan-lahan menghilang di ujung lorong.Alya menghembuskan napas yang sedari tadi ditahannya, mengusap bekas cengkeraman Vanya di kemeja flanel kusamnya dengan tangan gemetar.Ancaman Vanya yang dibisikkan di telinganya tadi masih bergaung sangat jelas, meneror pikirannya.'Nikmatin sisa-sisa hari tenangmu di kampus ini, Alya.'Alya menggigit bibir bawahnya keras-keras hingga terasa perih. Dia menundukkan kepalanya lebih dalam, memaksakan kakinya melangkah masuk ke dalam ruang kelas.Sepanjang jam perkuliahan, Alya mempertahankan aktingnya, berpura-pura menjadi mahasiswi lemah dan ketakutan di depan dosen dan teman-teman sekelasnya.Dua hari berlalu sejak ancaman Vanya di koridor itu. Dua hari pula dia tidak be
“ALYA?! YA TUHAN, ALYA?!”Jeritan histeris Rini memecah keheningan subuh di kamar asrama nomor 204. Botol minum yang sedang dipegang Rini terlepas begitu saja dari tangannya, jatuh menghantam lantai keramik dengan bunyi brak yang nyaring.Rini berlari menerobos ruangan, langsung menerjang dan mencengkeram kedua bahu Alya dengan sangat kuat. Matanya yang sembab menatap wajah Alya dengan campuran antara rasa tidak percaya, marah, dan kepanikan yang membuncah.“Lo dari mana aja selama empat hari ini, hah?!” bentak Rini. Suaranya pecah, air mata langsung meluncur deras membasahi pipinya. “Gue nyariin lo ke seluruh kampus! Gue melabrak Revan! Gue pikir lo udah mati diculik Vanya!”Rini mengguncang-guncang tubuh Alya dengan gemetar hebat, memeriksa sekujur tubuh Alya untuk memastikan sahabatnya itu tidak terluka parah.Alya menelan ludah dengan susah payah. Hatinya seperti diiris-iris melihat Rini yang menangis histeris karena mencemaskannya. Namun, mengingat instruksi Revan di loteng tadi,
“Kenapa emangnya kalau aku ke sini malam-malam?” tanya Alya menantang.Revan membuang muka. “Sudah malam. Rawan untuk perempuan.”Alya berusaha untuk tidak memutar matanya. Dia sudah terbiasa bepergian seorang diri ke mana pun."Kakak emang hobi ya duduk di pojokan gelap begini?" tanya Alya sambil
"Lo kenapa lagi sih, Al? Dari balik selimut suaranya kedengaran kayak orang lagi nahan sesak gitu," suara Rini memecah keheningan kamar asrama sore itu.Alya sudah tidak ada jam kuliah sedangkan Rini bersiap-siap hendak menghadiri jam kuliah sorenya.Alya tidak menjawab. Dia semakin menenggelamkan
"Al, lo bengongin gantungan kunci itu lagi?" tegur Rini yang baru saja selesai memakai masker wajah.Alya yang sedang memerhatikan gantungan kunci yang ada di atas meja belajarnya tersentak, lalu cepat-cepat memasukkan benda itu ke dalam sakunya."Enggak, Rin. Gue cuma mikir, gimana cara ketemu Kak
“Ini lewat mana sih ya?” bisik Alya memerhatikan sekitar dengan bingung.Malam di Universitas Cakrawala ternyata jauh lebih menakutkan daripada yang Alya bayangkan. Lampu-lampu jalan di area taman belakang gedung Sastra banyak yang padam.Alya mempercepat langkahnya, sesekali melirik peta digital d







