Chapter: Bab 7 — Langkah Awal Menjadi Nona BermasalahLangkah kaki Ruyu berhenti tepat di tengah keramaian jalanan pasar ibukota yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Kain bendera berkibar dengan tulisan nama toko, suara pedagang bersahut-sahutan, dan aroma makanan pinggir jalan bercampur dengan tawa anak-anak yang berlarian di antara kerumunan. “Wah….” Sorot matanya berkeliling dengan antusias seperti anak kecil yang baru pertama kali diajak keluar rumah. “Ternyata begini kehidupan ibukota yang sering digambarkan di cerita latar kuno.” Ia berjalan pelan, membiarkan dirinya hanyut dalam suasana. Namun, pandangannya tertarik pada sebuah bangunan dua lantai yang mencolok di titik tengah kota. Pilar kayu mengkilat, ukiran halus menghiasi tampak depan, dan lampion menggantung rapi. “Gedung Kesenian Meilian?” bacanya perlahan. Kepalanya sedikit dimiringkan, matanya menyipit dengan rasa penasaran. Sesaat kemudian, matanya berbinar. “Kelihatannya tempat yang menarik.” Ruyu melangkah masuk tanpa rasa ragu. Sedangkan, Xiaoli mengiku
Last Updated: 2026-04-14
Chapter: Bab 6 — Hari Sial yang BerlanjutXie Luo’an turun dari kereta kuda begitu sampai di kediaman. Ujung jubah seragam dinas berwarna ungu berkibar tertiup angin sore berhembus lembut setelah melangkahi gerbang utama. Kali ini, ia tidak melewati atau berhenti di aula utama seperti biasanya. Tanpa menanggapi pada para pelayan yang memberi salam, ia langsung berbelok menuju kediaman belakang yang merupakan tempat putri pertamanya tinggal. Begitu sampai, ia berhenti di balik tembok gerbang bulan. Tubuhnya sedikit condong, mengintip ke dalam halaman dengan pelan seperti seorang pencuri. Dari kejauhan, ia dapat melihat Ruyu sedang berjongkok di depan ayam jantan sambil meletakkan mangkuk kecil berisi beras. Tiba-tiba dari belakang Xie Luo’an, seorang pelayan mendekat dan memberanikan diri bertanya dengan nada pelan. “Tuan, apa Anda ada keperluan dengan Nona Pertama?” Xie Luo’an sedikit tersentak. Ia menoleh lalu berdehem singkat untuk menutupi kegelisahannya. “Bukan. Hanya kebetulan–” “Ayah?” Seruan Ruyu yang
Last Updated: 2026-04-06
Chapter: Bab 5 — BeiyanRuyu yang masih tersungkur di tanah dengan ayam jantan masih meronta, langsung membeku setelah mengetahui pria yang di depannya adalah Putra Mahkota. Otaknya berhenti berpikir sejenak, benar-benar kosong. ‘Putra Mahkota ini pasti Pangeran Pertama yang bernama Jin Yuan, kan? Jika dilihat paras dan penampilannya seperti pria berusia hampir 30 tahun, tidak mungkin salah.’ Angin berhembus di halaman dengan pelan. Hanya ayam itu yang berani berkokok keras memecah keheningan. Ia buru-buru berdiri dan menyerahkan ayamnya ke Xiaoli yang berdiri di belakang dan Xiaoli menerimanya dengan gugup. Ruyu merapikan dan menepuk-nepuk debu yang menempel di gaunnya. Setelah dapat menenangkan napasnya yang tersengal-sengal, ia menundukkan kepalanya sambil memberi salam. “Salam Yang Mulia Putra Mahkota.” Putra Mahkota memandangnya dalam-dalam. Tatapannya bergerak dari ujung rambut yang sedikit berantakan hingga ujung kaki. Akhirnya, ia bertanya dengan nada tenang walau sorot matanya sedikit
Last Updated: 2026-04-06
Chapter: Bab 4 — Nona Pertama Tidak Lagi MenakutkanSekian hari setelah dirinya masuk ke dunia baru, seluruh penghuni kediaman Xie hidup dalam ketenangan. Tidak ada suara pecahan barang keramik menghantam lantai, teriakan emosional yang membuat para pelayan gemetar ketakutan, hingga seruan pelayan yang memohon ampun. Di depan tembok pembatas halaman ruangan Ruyu, seorang pelayan dari kamar Ping’er berpapasan dengan kedua pelayan yang baru saja selesai mengganti seprai dan pakaian di kamar Ruyu. Mereka mulai saling berbisik, “Aku perhatikan, Nona kalian tidak seperti biasanya akhir-akhir ini.” “Betul. Aku juga merasa semenjak Nona Kedua jatuh sakit, Nona Pertama tidak pernah lagi marah-marah,” jawab salah satu pelayan di antara mereka. Pelayan satunya ikut menimpali, “Berarti itu tandanya kita sudah berhati-hati agar tidak membuatnya emosi.” Saat mereka masih mengobrol, pintu kamar Ruyu terbuka. Xiaoli keluar sambil membawa sebaskom air. Ketiga pelayan itu melambaikan tangan, menyuruhnya untuk mendekat. “Xiaoli, kau kan sela
Last Updated: 2026-04-06
Chapter: Bab 3 — Kakak Pasti Menyelamatkanmu IIRuyu memperhatikan ruam yang ada di tangan Ping’er dengan saksama. Keningnya berkerut. Kemudian ia menekan pelan salah satu bintik merah dengan ujung jari jempolnya. “Sekilas memang mirip dengan campak jika dilihat dari bentuk bintiknya. Tetapi….” Orang-orang di ruangan dibuat penasaran oleh gerakannya. Ayah dan ibunya juga sampai ikut melangkah maju untuk melihat lebih dekat. Ia sedikit menarik tangan Ping’er agar Tabib Yu dan orang tuanya dapat melihat dengan lebih jelas. Ia menekan bintik merah itu sekali lagi. “Lihat! Bintik merahnya tidak hilang saat ditekan dan juga bentuknya datar.” Mereka tampak tertegun. Tabib Yu memastikan dengan lebih teliti lagi seperti yang Ruyu lakukan. Ruyu menoleh pada Ping’er yang masih terbaring. Ia bertanya dengan nada pelan, “Apakah tanganmu terasa gatal?” Ping’er menggeleng pelan. Kemudian, Ruyu lanjut bertanya, “Apakah seluruh tubuhmu terasa nyeri?” Ping’er mengangguk. Ruyu menjadi yakin dengan dugaannya dan ekspresinya
Last Updated: 2026-04-06
Chapter: Bab 2 — Kakak Pasti Menyelamatkanmu“Tidak! Aku tidak mau hidupku terkena masalah dan mati kedua kalinya.” Zhu Yu meminta para pelayan membubarkan tempat kejadian dan langsung mengikuti ayahnya yang sudah lebih dulu menjauh pergi ke kediaman Xie Ping’er, Nona Kedua yang dimaksud mereka. Salah satu pelayannya ikut menyusul dari belakang lalu berjalan di sampingnya dengan langkah yang cepat. “Namamu siapa?” tanya Zhu Yu singkat. Pelayan yang bersamanya sempat mengerjap bingung sesaat. “Izin menjawab. Nama hamba Xiaoli, Nona,” jawabnya sambil mengimbangi langkah majikannya. “Ternyata kau pelayan pribadiku. Kalau begitu, kita berada di tahun berapa?” “Izin menjawab, Nona. Kita berada di tahun ke-25 Wenzhi.” Langkah Zhu Yu tetap berlanjut. Kali ini, ia bertanya dengan lebih serius. “Apa aku pernah keluar kediaman saat malam hari akhir-akhir ini?” Langkah Xiaoli terhenti dan membuat Zhu Yu ikut berhenti. Ia menoleh dan memperhatikan raut mukanya berubah, seperti terlihat sedang berpikir. “Kemarin malam, saat hamba
Last Updated: 2026-04-06