Se connecterYoonhee Kim atau akrab dipanggil Lizza, seorang wanita yang harus memiliki anak di usia yang masih belia karena kebencian seseorang, karena hal itu kedua orangtuanya meninggalkannya dengan cara bunuh diri karena tidak tahan menanggung malu dan hujatan dari orang-orang. Sementara itu dia sendiri pergi ke Seoul untuk mencari ayah dari anak kandungnya, hingga dia rela menjadi seorang office girl di perusahan besar bernama Park Company. Namun di tempat itulah dia menemukan takdirnya, bagaimana kisah Lizza selanjutnya.
Voir plusRosalie –
"Why are you doing this to me?" I cried, holding his collar. His eyes stared back at me, cold, emotionless. They used to be so full of love, once upon a time. But today they were like black pools on nothingness. This could not be real. Was I in a nightmare? Would I ever wake up from this painful dream?
"I am sorry, I can't take you as my mate, Rosalie. You know that I did not have a choice in this matter. I have to obey the council." Chris said in his deep husky voice. That voice always sent my heart racing, but today I shuddered with hopelessness.
"But I am your mate! How can the council decide your mate? You know it's me! your wolf knows it's me!" I tried to reason. I wiped off the stubborn tears. I knew the rules, an Alpha could only be mated to an Alpha or a high-ranking Beta if the need arose. I was an Omega. Though my dad had been promoted to a Beta, he was an Omega by birth, and so was I. The pack rules were strict. Though it did not make any sense. I was the fasted wolf in the pack, I could even take down several male betas. Though my efforts were futile I continued to cling to hope.
Those memories, those beautiful hopes and dreams, everything was gone in a blink of an eye. It seemed so surreal. My mate was leaving me. He was going to reject me. Chris stared at me. His eyes showed the slightest of emotion. His handsome face softened a little, as him probe my mind.
"Stop trying to read my thoughts!" I shouted.
"I am not reading your thoughts, Rosie. I am just trying to comfort you." He whispered. He came near me; I took a step back to keep our distance. I did not want to be touched by him. I could not handle it.
"Please, don't touch me. Please don't make this any more difficult." I was furious, hurt, and broken. "And please don't call me that.... ever again." I snarled at him.
"I still love you, " he whispered, there was pain and longing in his voice. He stepped further and hugged me. I did not have the energy to resist him anymore. I rested my head on his broad chest and cried. He closed his large arms around me and held me tightly.
"I will always, love you, Rosie, just not in a way you want. I cannot take you as my mate. I would have to reject you. Please, forgive me." He whispered.
My wolf submitted to the Alpha; I could not defy him. If he were rejecting me, I would have to accept the rejection. Even if it broke my heart or made me cry, I did not have a choice.
I felt his lips on my forehead, then my temple. He was showering tiny kisses on my face. His hand had snaked around in my hair and his lips had reached my cheeks. He started kissing them then just before he was about to kiss my lips. I jerked back.
"NO!" placing my hands on his chest I pushed with all my might.
He looked slightly shocked and appalled. "Rosie...." He started to say.
"No! I am not yours anymore, we are not mating anymore. You can't touch me, Chris Reynolds." I stepped back almost standing on the edge of the valley. It was our favourite hangout place. Nobody in the pack knew I was the Alpha’s mate. He asked me to keep it a secret. From everyone, I was naive and stupid. I trusted him.
"I didn't mean to hurt you, Rosie...."
"You have already done enough, my alpha. It is over. I accept your rejection, alpha Chris. You are not mine anymore." I said and bowed. He stared at me with his brown eyes. As if he was not expecting this response.
I ran, without looking back I jumped down into the valley and ran into the forest. My clothes tore and scattered as I shifted into my silver-white wolf. I ran until I reached the highest cliff and howled into the night.
Seonjoo terdiam di tempatnya berdiri. Seolah waktu berhenti berputar. Nama itu—Lizza. Nama yang baru saja beberapa hari ini mengisi pikirannya, yang perlahan masuk ke dalam ruang kosong di hatinya… kini justru menjadi pisau yang mengoyak luka lama yang belum benar-benar sembuh. "Mustahil," gumamnya lirih. Namun bayangan wajah Lizza, sorot matanya yang tenang namun menyimpan kesedihan, serta kehadiran Sean… semua seakan menyatu menjadi satu jawaban yang begitu kejam. Hyemi menyilangkan tangan di dada, menatap Seonjoo dengan senyum tipis yang sulit diartikan. "Aku tidak akan berbohong tentang hal itu. Aku ada di sana saat kakakmu hancur. Aku melihat sendiri bagaimana dia kehilangan segalanya karena wanita itu." Seonjoo mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dadanya kembali terasa sesak. Lizza… Wanita yang ia cintai. Wanita yang ternyata… adalah bagian dari masa lalu kelam keluarganya. "Aku harus pergi," ucapnya tiba-tiba. Tanpa menunggu jawaban, Seonjoo berbalik dan berlari kelu
"Ibu, apa yang terjadi? Ada apa dengan Kak Seonjoo." Lizza menggeleng lemah pada putranya. Saat ini pikirannya tengah kalut. Bingung harus berbuat apa. "Kakak, kau mau ke mana?" "Maaf Sean, Kakak permisi pulang." Seonjoo berlalu pergi dari rumah Lizza tanpa mengucapkan sepatah katapun pada wanita itu. Dia hanya berbicara pada Sean. Lizza menatap nanar punggung lebar Seonjoo yang semakin menjauh dari pandangan matanya. dia sudah menduga semua akan berakhir seperti ini. "Bu, apa Kak Seonjoo marah?" tanyanya. Wajahnya mendongak menatap wajah cantik ibunya yang fokus pada pintu depan di mana sosok Senjoo menghilang. "Mungkin Kak Seonjoo marah dengan Ibu," ucapnya. Sean memperhatikan ibunya yang tampak tak bersemangat setelah kepergian Seonjoo. Dia tidak tahu ada masalah apa antara ibunya dan pria muda itu. Bukanya mereka teman lantas kenapa Seonjoo begitu kecewa dengan ibunya. Sean tidaklah bodoh walaupun usianya baru 10 tahun. Namun, dirinya sudah menjalani kehidupan yang cu
Lizza berjalan terburu-buru sembari menenteng dua kantong besar berisi bahan-bahan makanan menuju flat kecilnya. Dia sudah terlambat untuk memasak makan malam untuk Sean. dia mampir ke tempat Seolwoo dulu tadi untuk mengajarinya memasak, karena Seolwoo sangat payah dalam memasak. Pemuda itu ingin pintar memasak seperti Lizza, karena dia tidak ingin terus merepitkan dengan menumpang makan di rumah wanita cantik itu. Dia tahu diri, apalagi sekarang Lizza tengah dekat Seonjoo, dia tak ingin melihat orang yang dia suka berduaan dengan pria lain.Lizza membuka pintu flat kecilnya, sambil berteriak memanggil Sean putranya."Sean, Ibu pul..., "Lizza urung melanjutkan ucapnnya karena melihat putranya tengah duduk bersandar pada kursi satu-satunya yang ada di flatnya dengan wajah penuh lebam."Astaga! Sean, kau kenapa sayang, kenapa wajahmu lebam begini, bicara pada Ibu.""Aku tidak apa-apa, Bu."
Sean berjalan menghampiri ibunya yang tengah asyik berkutat di dapur kecilnya, bau harum masakan menyeruak ke dalam indera penciuman seorang Sean Kim yang membuat perutnya seketika lapar. Bocah itu mengelus perut kecilnya, mendudukan tubuhnya di lantai ruang tengah rumahnya yang menyatu dengan dapur."Ibu? " Lizza menoleh mendengar Sean memanggilnya."Kau sudah lapar Sayang, sebentar ya Ibu akan membawanya ke situ."Sean menganguk lantas menidurkan kepalanya di atas meja, memperhatikan ibunya yang sibuk menata makanan."Nah sudah selesai ayo kita makan." Sean hanya mengangguk malas, Lizza memandang wajah lesu putranya, dia jadi kwatir."Sean, ada apa denganmu, hem. Kamu sakit?"Bocah itu menggeleng lemah, "Tidak, aku tidak apa-apa, Bu.""Sean, katakan pada Ibu, Sayang. Apa teman-temanmu mengganggumu lagi di sekolah?"Sean mendongakan kepalanya.
Lizza tengah asyik membersihkan kaca jendela di ruang rapat dengan telinga tersumpal earphone. Bahkan bibir merahnya ikut melantunkan lagu-lagu yang cukup hits dari boyband besutan agensi ternama di negeri ginseng itu. Wanita cantik itu adalah seorang fansgirl dari salah satu boyband milik
Lizza merasakan tubuhnya yang teramat pegal akibat lelah bekerja seharian. Dia berjalan lesu menuju apartemen sederhananya yang ia huni bersama puteranya. Langkahnya pelan agar tak mengganggu putera kesayangannya karena mungkin saja Sean sudah tidur karena jam sudah menunjukan pukul 10 malam wakt
"Hei, Noona! Apa kau tekena sindrom love first sigh huh! "Lizza yang masih tak mampu mengalihkan pandangannya dari karyawan baru tersebut, tersentak saat tangan besar Seolwoo menepuk pundaknya dengan cengiran di bibirnya yang sarat akan godaan."Aku tidak," ucapnya gugup wala
Hari ini Lizza datang terlambat ke kantor. Tidurnya berantakan semalam karena kembali dihantui mimpi buruk tentang masalalunya yang menyakitkan. Dia berlari kesetanan menerobos beberapa karyawan di kantor besar di mana dia bekerja membuat beberapa orang mendecih tak suka ke arahnya, bahkan ada ya






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Notes
commentairesPlus