LOGINYoonhee Kim atau akrab dipanggil Lizza, seorang wanita yang harus memiliki anak di usia yang masih belia karena kebencian seseorang, karena hal itu kedua orangtuanya meninggalkannya dengan cara bunuh diri karena tidak tahan menanggung malu dan hujatan dari orang-orang. Sementara itu dia sendiri pergi ke Seoul untuk mencari ayah dari anak kandungnya, hingga dia rela menjadi seorang office girl di perusahan besar bernama Park Company. Namun di tempat itulah dia menemukan takdirnya, bagaimana kisah Lizza selanjutnya.
View MoreSeonjoo terdiam di tempatnya berdiri. Seolah waktu berhenti berputar. Nama itu—Lizza. Nama yang baru saja beberapa hari ini mengisi pikirannya, yang perlahan masuk ke dalam ruang kosong di hatinya… kini justru menjadi pisau yang mengoyak luka lama yang belum benar-benar sembuh. "Mustahil," gumamnya lirih. Namun bayangan wajah Lizza, sorot matanya yang tenang namun menyimpan kesedihan, serta kehadiran Sean… semua seakan menyatu menjadi satu jawaban yang begitu kejam. Hyemi menyilangkan tangan di dada, menatap Seonjoo dengan senyum tipis yang sulit diartikan. "Aku tidak akan berbohong tentang hal itu. Aku ada di sana saat kakakmu hancur. Aku melihat sendiri bagaimana dia kehilangan segalanya karena wanita itu." Seonjoo mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dadanya kembali terasa sesak. Lizza… Wanita yang ia cintai. Wanita yang ternyata… adalah bagian dari masa lalu kelam keluarganya. "Aku harus pergi," ucapnya tiba-tiba. Tanpa menunggu jawaban, Seonjoo berbalik dan berlari kelu
"Ibu, apa yang terjadi? Ada apa dengan Kak Seonjoo." Lizza menggeleng lemah pada putranya. Saat ini pikirannya tengah kalut. Bingung harus berbuat apa. "Kakak, kau mau ke mana?" "Maaf Sean, Kakak permisi pulang." Seonjoo berlalu pergi dari rumah Lizza tanpa mengucapkan sepatah katapun pada wanita itu. Dia hanya berbicara pada Sean. Lizza menatap nanar punggung lebar Seonjoo yang semakin menjauh dari pandangan matanya. dia sudah menduga semua akan berakhir seperti ini. "Bu, apa Kak Seonjoo marah?" tanyanya. Wajahnya mendongak menatap wajah cantik ibunya yang fokus pada pintu depan di mana sosok Senjoo menghilang. "Mungkin Kak Seonjoo marah dengan Ibu," ucapnya. Sean memperhatikan ibunya yang tampak tak bersemangat setelah kepergian Seonjoo. Dia tidak tahu ada masalah apa antara ibunya dan pria muda itu. Bukanya mereka teman lantas kenapa Seonjoo begitu kecewa dengan ibunya. Sean tidaklah bodoh walaupun usianya baru 10 tahun. Namun, dirinya sudah menjalani kehidupan yang cu
Lizza berjalan terburu-buru sembari menenteng dua kantong besar berisi bahan-bahan makanan menuju flat kecilnya. Dia sudah terlambat untuk memasak makan malam untuk Sean. dia mampir ke tempat Seolwoo dulu tadi untuk mengajarinya memasak, karena Seolwoo sangat payah dalam memasak. Pemuda itu ingin pintar memasak seperti Lizza, karena dia tidak ingin terus merepitkan dengan menumpang makan di rumah wanita cantik itu. Dia tahu diri, apalagi sekarang Lizza tengah dekat Seonjoo, dia tak ingin melihat orang yang dia suka berduaan dengan pria lain.Lizza membuka pintu flat kecilnya, sambil berteriak memanggil Sean putranya."Sean, Ibu pul..., "Lizza urung melanjutkan ucapnnya karena melihat putranya tengah duduk bersandar pada kursi satu-satunya yang ada di flatnya dengan wajah penuh lebam."Astaga! Sean, kau kenapa sayang, kenapa wajahmu lebam begini, bicara pada Ibu.""Aku tidak apa-apa, Bu."
Sean berjalan menghampiri ibunya yang tengah asyik berkutat di dapur kecilnya, bau harum masakan menyeruak ke dalam indera penciuman seorang Sean Kim yang membuat perutnya seketika lapar. Bocah itu mengelus perut kecilnya, mendudukan tubuhnya di lantai ruang tengah rumahnya yang menyatu dengan dapur."Ibu? " Lizza menoleh mendengar Sean memanggilnya."Kau sudah lapar Sayang, sebentar ya Ibu akan membawanya ke situ."Sean menganguk lantas menidurkan kepalanya di atas meja, memperhatikan ibunya yang sibuk menata makanan."Nah sudah selesai ayo kita makan." Sean hanya mengangguk malas, Lizza memandang wajah lesu putranya, dia jadi kwatir."Sean, ada apa denganmu, hem. Kamu sakit?"Bocah itu menggeleng lemah, "Tidak, aku tidak apa-apa, Bu.""Sean, katakan pada Ibu, Sayang. Apa teman-temanmu mengganggumu lagi di sekolah?"Sean mendongakan kepalanya.
Lagi-lagi pemandangan menyakitkan itu membuat mata Seolwoo pedih. Dia menghela napasnya panjang. Dia sudah memutuskan untuk membuang perasaannya pada Lizza. Tetapi, kenapa setiap dia melihat Lizza dan Seon Joo semakin lengket setiap hari hatinya merasa begitu sakit."Tid
Seonjoo merebahkan tubuhnya di atas futon di dalam kamar sederhananya. Pikirannya melayang, memikirkan seorang Lizza Kim. Seorang yang begitu menawan. Padahal baru kali ini ia bertemu dengan sosok indah itu, apa ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama. Tidak mungkin, mungkin ini
Sudah sebulan lebih Seonjoo bekerja di Park company, dan semakin hari perasaan cintanya, semakin tumbuh pada Kim Yoonhee atau Lizza. Seonjoo menatap Lizza dalam diam. Saat ini mereka telah bersiap-siap akan pulang ke rumah. Seonjoo berdiri tak jauh dari tempat Lizza yang
"Seonjoo-ah, kau itu lucu sekali. Wajah setampan kau, belum oernah memiliki kekasih, kau bercanda.""Aku serius, Noona."Langkah kaki Bryan terpaku, saat mendengar suara tawa yang berasal dari dalam ruangan office boy. Dia yang awalnya ingin, menemui sepu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings