Chapter: MAMAKASIHBeberapa hari terakhir, udara Desa Cijeruk terasa kurang nyaman di kulit. Dikarenakan, cuaca berawan menyebabkan radiasi panas matahari yang menyinari permukaan bumi, tertahan oleh awan saat akan terpantul kembali ke angkasa, sehingga membuat cuaca menjadi lembap. Biasanya sengatan panas itu akan menguap seiring turun hujan. Setelahnya, suasana sejuk akan kembali dapat dirasakan warga Desa Cijeruk.Siang itu, Mak Acih berjalan seorang diri. Melangkah menyusuri jalan setapak di pinggir areal persawahan desa yang menghampar luas. Ia baru saja pulang dari mengantar makan siang untuk Aki Amin. Sudah seminggu ini, sang suami bekerja menggarap sawah milik Haji Kosim, salah satu juragan beras di desanya.Sekalian lewat, sepulangnya dari sawah, Mak Acih berencana membeli sayur di warung milik Ipat, tetangga desa. Ketika sebuah suara tertangkap gendang telinga Mak Acih kala melewati rumah Kokom, seorang teman sebayanya.“Mak! Ih, malu itu dilihatin orang. Bajunya dipakai dulu kalau mau kelua
Terakhir Diperbarui: 2026-04-20
Chapter: ANAKING JIMAT AWAKING (Bag. 3)Mak Acih berpesan pada Neneng agar membuatkan kafan untuk Asih, sementara ia meminta ijin memakai kamar kosong untuk mengganti pakaiannya yang basah. Untung saja Mak Acih selalu membawa baju ganti saat sedang bekerja. Bekal tambahan kalau sewaktu-waktu dibutuhkan.Selesai berganti baju, Mak Acih kembali menemui Neneng yang masih menggunting-gunting kain kafan untuk Asih. Mak Acih bergegas membantu menggelar kain kafan di samping jenazah.Lembar demi lembar kain terpasang, sesudahnya kemudian dialasi lembaran kapas pada lapisan teratas. Mak Acih meletakkan jenazah Asih di atas lembaran kapas tadi. Plasentanya ikut dibungkus dengan kain kafan dan diletakkan di bagian bawah lutut, sementara tali pusat yang masih terhubung, dibungkus dengan kapas. Helai demi helai kafan kemudian ditutup dan diikat, dengan hanya menyisakan bagian wajah yang tetap dibiarkan terbuka.“Silakan yang mau lihat wajah Almarhumah buat yang terakhir, sebelum kafannya Emak tutup.” Mak Acih memandang berkeliling, la
Terakhir Diperbarui: 2026-04-20
Chapter: ANAKING JIMAT AWAKING (Bag. 2)Neneng dan Mak Acih memasuki rumah duka yang sudah dipenuhi para pelayat. Keluarga tampak berkumpul mengelilingi jenazah Imah, sementara isak tangis terdengar disela-sela suara orang yang riuh mengaji. Mak Acih menyalami Eti, ibunda Imah yang langsung menangis dalam pelukannya. “Sing sabar, Ti. Karunya ka Imah. Jangan ditangisi terus.” Mak Acih menepuk-nepuk bahu Eti untuk menguatkan hati perempuan paruh baya itu. (Yang sabar, Ti. Kasihan ke Imah.) Mak Acih kemudian bersalaman dengan beberapa orang kerabat Imah, termasuk Iksan, suami dari Almarhumah. Pria muda itu tampak muram. Matanya sembab dan memerah. Kesedihan masih tampak di raut wajahnya. Mang Sukri yang selamat dari kecelakaan dan hanya mengalami patah tulang pada bagian tangan kirinya, turut pula hadir di sana. Pria kurus itu berulang kali meminta maaf pada keluarga, yang sudah mengikhlaskan kepergian Imah. Sebuah suratan yang tak dapat ditolak. Ingin menuntut tanggung jawab materi pun percuma. Mang Sukri bukanlah oran
Terakhir Diperbarui: 2026-04-20
Chapter: ANAKING JIMAT AWAKING (Bag. 1)Subuh yang dingin dan sepi di Desa Cijeruk. Sang raja siang masih enggan menampakkan sinarnya. Ketika tiba-tiba suasana syahdu pagi nan sunyi, dibuyarkan suara sepiker masjid yang mengumumkan kabar duka.Hari ini, seorang perempuan warga Desa Cijeruk, telah berpulang. Meninggalkan gemerlap duniawi yang terkadang membuat lupa. Menyilaukan mata dengan keindahannya yang membuai. Merelakan cita-cita yang semasa hidup belum sempat terlaksana. Dan pergi hanya menyisakan kenangan, entah memori indah atau buruk pada sanak kerabat yang walau berat, tetap harus rela si Fulanah tinggalkan.Adalah Imah. Seorang ibu muda berusia 25 tahun. Tujuh tahun berumah tangga, namun Sang Mahakuasa, belum kunjung menganugerahi buah hati yang lama diidamkan Imah dan sang suami. Tak putus asa, berbagai metode untuk kesuburan pun mereka coba. Dan ikhtiar itu membuahkan hasil. Imah akhirnya dinyatakan hamil.Manusia adalah makhluk tak berdaya kuasa, karena segala takdir merupakan milik Sang Raja Manusia. Di usia
Terakhir Diperbarui: 2026-04-20
Chapter: SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 4)“Kain kafannya dipotong sesuai tinggi jenazah, Neng, tapi ditambah kira-kira tiga jengkal.” Mak Acih membentang jemari tangan kanannya lebar-lebar. Neneng manggut-manggut. Ia mengambil gunting, bersiap memotong panjang kain sesuai yang diperintahkan sang bibi.“Bikin tiga helai, Neng.”“Panjangnya sama semua, Bi?” tanya Neneng. Mak Acih mengangguk.“Bikin tali lima atau enam helai, yang satu buat cadangan saja. Lebar talinya kira-kira segini.” Mak Acih menunjukkan sejengkal jari telunjuk dan jari tengahnya, membentuk huruf V. Neneng lagi-lagi menurut. Ia memotong tali sesuai perintah Mak Acih.“Sekarang bikin kain untuk cawatnya, Neng,” ujar Mak Acih. Ia mengambil sehelai kain yang kemudian digunting berbentuk segitiga menyerupai popok bayi.Mak Acih mengambil sehelai kain lagi berukuran kira-kira 100x100 CM, yang kemudian dilipat menjadi bentuk segitiga. “Ini untuk kerudungnya,” terang Mak Acih.“Sekarang kita buat untuk sarungnya. Kamu ukur kira-kira ukuran dari pinggang ke ujung k
Terakhir Diperbarui: 2026-04-20
Chapter: SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 3)Tergesa, Neneng keluar rumah menuju arah kulon rumah Lilis, mencari letak pohon kelor yang ternyata tumbuh di antara pohon pepaya dan rambutan. Dirimbuni semak rumput liar. Bergegas ia memetik beberapa batang daun kelor, lalu memasukkannya dalam tas pandan. Sesuai perintah Mak Acih, buru-buru ia menutup tas agar tidak ada orang yang melihat isi di dalamnya. Dengan langkah lebar, Neneng bergegas masuk kembali ke dalam bilik pemandian. Beruntung, para pelayat yang hadir, tidak ada yang menyadari apa yang sedang dilakukan perempuan berperawakan sedang itu.Tanpa menunggu ditanya, Neneng menyerahkan tas pandan berisi daun kelor pada sang bibi yang langsung membuka dan mengeluarkan isinya. Perempuan sepuh itu mengusap-usap daun kelor di tangan, sambil merapal beberapa bait doa.“Tun, Neng, tolong dibantu doa Al-Fatihah, biar dilancarkan segala urusan Lilis,” ujar Mak Acih pada dua perempuan di depannya yang langsung mengangguk meski tatapan mereka menyiratkan kebingungan.“Bismillahirroh
Terakhir Diperbarui: 2026-04-20