Chapter: HUJAN DALAM MIMPI (Bab 6)Sore yang cerah di Desa Cialas.Selepas Salat Ashar di masjid desa, Ustadz Agum mengajak seluruh jemaah yang hadir untuk melaksanakan Salat Gaib, bagi seluruh korban yang jenazahnya diputuskan tetap terkubur di lokasi bencana terakhir.“Saudara-saudara sekalian, ayo, silakan saf dan posisinya di atur.” Ustadz Agum mengatur posisi jamahnya.Setelah dirasa posisinya sudah sesuai, ia pun memulai prosesi Salat Gaib, diikuti para penduduk desa.“Bismillahirrohmannirrohiim. Ushalli alaa mayyitil ghaaibi arba’a takbiiraatin fardlal kifaayati imaaman lillahi ta’aalaa.” Ust
Last Updated: 2026-09-28
Chapter: HUJAN DALAM MIMPI (Bab 5)“Sepertinya tanah milik Haji Kosim, Kang Ustadz. Sawah beliau ada di bawah Bukit Hejo. Ada juga, tanah milik warga, tapi cuma sedikit yang kena longsor. Kenapa gitu, Kang Ustadz?” tanya RT Madun.Ustadz Agum terdiam sejenak. “Kalau berkenan, kira-kira Haji Kosim bersedia tidak, ya, dibayari tanahnya untuk dijadikan lokasi pemakaman masal terakhir.”“Kok begitu, Kang Ustadz?” tanya Badar tak mengerti
Last Updated: 2026-09-27
Chapter: HUJAN DALAM MIMPI (Bab 4)Hari kelima, total ada tujuh jenazah yang ditemukan. Mereka akhirnya dimakamkan dengan langsung menggunakan kantong jenazah sebagai pengganti kain kafan, dan dalam satu lubang pemakaman masal.“Neng, apa kira-kira, besok jenazah korban akan ditemukan semua?” tanya Mak Acih di sela-sela persiapan acara tahlil. Beberapa hari kemarin, acara tahlil diadakan di lapangan desa.Namun, tadi sore, selesai pemakaman masal, hujan mulai turun. Ustadz Agum memutuskan, tahlilan malam ini diadakan di masjid desa saja.Warga desa yang antusias mengikuti tahlil sejak hari pertama, menurut.Mereka memasang terpal di pelataran masjid untuk men
Last Updated: 2026-09-27
Chapter: HUJAN DALAM MIMPI (Bab 3)Hari kelima.Pencarian jenazah kembali dilakukan. Tim SAR dan aparat desa bertekad menemukan lebih banyak lagi korban yang tertimbun untuk dikebumikan secara layak.“Mak, karena biasanya di hari ke 4 ini, jenazah korban sudah rusak, dan ada kemungkinan juga, mulai terkontaminasi bakteri, nanti disucikannya dengan cara tayamum saja. Mak Acih juga harus pakai sarung tangan karet ini, ya, biar aman.” Ustadz Agum memberikan sekotak sarung tangan karet pada Mak Acih yang langsung mengangguk, dan memasukkannya ke dalam tas pandan.“Berapa orang lagi yang belum ditemukan, Ustad?” tanya Mak Acih.“Kira-kira lima be
Last Updated: 2026-09-26
Chapter: HUJAN DALAM MIMPI (Bab 2)“Subhanalloh, Aki Amin orang baik. Allohu Akbar.” Jaya tak henti bertasbih, mereka yang hadir di sana pun ikut bertasbih.Setelah itu, tanpa buang waktu lagi, karena sebentar lagi akan diadakan proses pemakaman masal, maka Mak Acih memutuskan untuk menyegerakan memandikan jenazah sang suami.Mak Acih, Samih dan Nanang, mulai menggosok setiap bagian tubuh Aki Amin. Surip dan Jaya, bagian menyirami.“Tangan inilah yang dulu Abah pakai untuk menghidupi kita.” Mak Acih menggosok bagian tangan kanan Aki Amin, lalu Samih yang berseberangan di bag
Last Updated: 2026-09-26
Chapter: HUJAN DALAM MIMPI (Bab 1)“Mak, Abah sudah ketemu!” teriaknya dari luar bilik pemandian jenazah perempuan.Mak Acih terpaku sesaat. Jantungnya berdetak kencang, sementara tubuhnya mendadak lemas. Samih dan keluarga Carwen, jenazah yang sedang dimandikan, langsung tanggap, dan memegangi tubuhnya agar tak terjatuh.“Nanti, Nang. Emak lagi tanggung,” sahut Mak Acih, dari dalam bilik pemandian.“Ternyata, jenazah Abah benar tertimbun pohon asem yang roboh, Mak.” Nanang berteriak lagi dari luar.“Iya, Nang,” sahut Mak Acih.“Sudah. Ema
Last Updated: 2026-09-25