author-banner
Bianca bee
Bianca bee
Author

Novels by Bianca bee

Daddy Sitter

Daddy Sitter

Romantic | Comedy | Adult 21+ Setelah kematian istrinya, Daniel seorang konsultan bisnis berusia 38 tahun, merasa terasing dan terjebak dalam rutinitas sehari-hari. Putrinya yang berusia 17 tahun, Reina memutuskan untuk menghadirkan Sarah, seorang pengasuh muda, untuk mengurus Daddynya. Dengan harapan Sarah bisa membawa perubahan positif, Reina juga memiliki rencana untuk memperkenalkan Daddynya pada kemungkinan cinta baru. Di tengah perubahan mendadak dan kebingungan awal, Daniel mulai merasakan kehangatan dan perhatian dari Sarah. Seiring waktu, hubungan mereka berkembang menjadi sesuatu yang lebih mendalam. Daniel, yang sebelumnya merasa kehilangan arah, menemukan kembali rasa cintanya dan harapan untuk masa depan.
Read
Chapter: 16. Tentang perasaan
Di ruang TV, suasana terasa tenang dengan cahaya lampu yang hangat, menyorot wajah Daniel dan ibunya, Claudia, yang duduk berdampingan di sofa. Reina sudah kembali ke kamar, begitu juga dengan Sarah yang memilih untuk menyendiri sejenak. Claudia, yang masih memandangi Daniel dengan perhatian, membuka percakapan dengan suara lembut, "Bagaimana perasaanmu, Son?" Daniel menatap layar TV sejenak, mencoba merangkai kata-kata sebelum akhirnya menjawab, "Aku baik-baik saja, Mom." Claudia mengamati anaknya dengan pandangan penuh kasih, melihat perasaan campur aduk yang sulit disembunyikan. "Apakah sulit merawat Reina sendirian?" tanya Claudia, suaranya dipenuhi kekhawatiran. "Kau tahu, setelah kepergian itu, aku bisa bayangkan betapa beratnya." Daniel tersenyum tipis, meski ada sedikit kelelahan di matanya. "Tidak, Mom," jawabnya mantap, "Reina anak yang baik dan penurut. Dia tidak banyak meminta, dan kami bisa beradaptasi. Aku rasa kami baik-baik saja." Claudia mengangguk, terlihat leg
Last Updated: 2026-06-07
Chapter: 15. Pesta ulang tahun Reina
Hari ini adalah hari istimewa untuk Reina, pesta ulang tahunnya diadakan di sebuah kafe yang sudah dihias dengan meriah. Di kamar Reina, Sarah sibuk membantu gadis itu berdandan. Reina tampak antusias, wajahnya ceria, namun ada sedikit gugup di matanya. "Kak Sarah, aku terlihat cantik, nggak?" tanya Reina sambil memutar tubuhnya di depan cermin. Sarah tersenyum lembut, menata rambut panjang Reina yang jatuh tergerai. "Kamu sudah cantik dari sananya, Reina. Tapi biar kakak tambahkan sedikit sentuhan lagi, ya." Sarah mengambil blush on, menyapukan warna lembut ke pipi Reina. Setelah itu, ia menyisir rambut Reina, membuatnya sedikit bergelombang, lalu menyematkan jepit berbentuk bunga kecil di sisi kiri rambutnya. "Ini, selesai. Sekarang lihat lagi," kata Sarah sambil melangkah mundur. Reina memandangi bayangannya di cermin dan tersenyum lebar. "Wah, Kak Sarah, aku seperti princess!" Sarah tertawa kecil, merasa puas dengan hasilnya. "Putri yang paling cantik malam ini," katany
Last Updated: 2026-06-04
Chapter: 14. Kedatangan Oma Claudia
Siang itu, Daniel berdiri di area kedatangan bandara, matanya sesekali melirik layar monitor. Penerbangan dari Belanda baru saja mendarat, dan ia menunggu dengan sabar di antara kerumunan penjemput lainnya.Tak lama kemudian, pintu kedatangan internasional terbuka. Daniel berdiri lebih tegap, matanya mencari sosok yang sangat dikenalnya. Lalu, ia melihat ibunya, seorang wanita paruh baya dengan rambut beruban yang tertata rapi dan senyum hangat di wajahnya.“Mom!” panggil Daniel sambil melambaikan tangan.Ny. Claudia balas tersenyum, mempercepat langkahnya mendekati putranya. "Daniel, sayang!"Mereka saling berpelukan erat. “Aku merindukanmu, Mom,” ucap Daniel dengan suara lembut.“Mom juga merindukanmu. Dan tentu saja, Reina. Bagaimana cucuku yang manis?”“Dia baik, sangat bersemangat untuk ulang tahunnya. Dia akan sangat senang melihat Ibu,” kata Daniel sambil mengambil koper besar dari tangan ibunya.“Oh, aku tidak sabar untuk memeluknya. Dia pasti tumbuh semakin cantik,” ujar Ny.
Last Updated: 2026-06-03
Chapter: 13. Ulang tahun Reina
Setelah sampai di rumah, Daniel dan Sarah segera bergegas ke dapur untuk mempersiapkan kejutan ulang tahun Reina. Langkah pertama yang mereka lakukan adalah membuat kue ulang tahun. Dengan semangat, Sarah mulai mencampurkan bahan-bahan di mangkuk besar. Ia menghidupkan mixer dan melihat adonan berputar. Sesekali, ia mencolek adonan yang menempel di dinding mangkuk dan merasakan teksturnya. "Bagaimana, Pak?" tanyanya dengan penuh semangat, mengharapkan pujian.Tanpa menjawab, Daniel mendekat dan membawa jari Sarah yang terkena adonan ke mulutnya. "Saya rasa sudah pas," katanya dengan nada serius, namun dengan senyuman di wajahnya.Sarah terkejut dan mendapati dirinya tersipu. "Ahh.. iya pak," jawabnya gugup, padahal bukan itu yang ingin ia tanyakan. Dia terdiam sejenak, merasakan detak jantungnya berdegup kencang."Sarah, saya akan memompa balon. Kamu lanjutkan saja cakenya," kata Daniel sambil mundur sedikit untuk memberikan ruang.Sarah mengangguk, lalu memasukkan adonan kue ke dala
Last Updated: 2026-05-18
Chapter: 12. Persiapan ulang tahun Reina
Pagi itu, suasana rumah masih sunyi ketika Daniel sudah berada di dapur. Sarah berdiri di depan kompor, mengaduk masakan dengan gerakan teratur. Aroma hangat menyebar, membuat pagi terasa lebih hidup. "Sarah..." panggil Daniel pelan. Sarah menoleh. "Ya, Pak?" Daniel mendekat beberapa langkah, lalu menurunkan suaranya. "Besok Reina ulang tahun. Saya ingin menyiapkan kejutan tengah malam." Ekspresi Sarah langsung berubah cerah. "Benarkah? Wah... tentu, Pak. Saya akan bantu. Apa rencananya?" "Kita buat sederhana saja. Kue, dekorasi kecil di ruang tamu. Reina tidak suka yang berlebihan, tapi dia selalu menghargai hal yang tulus." Sarah mengangguk dengan semangat. "Kalau begitu, izinkan saya membuat kuenya. Saya ingin membuat yang spesial untuknya." Daniel memperhatikan Sarah sejenak, lalu tersenyum tipis. "Baik. Nanti siang kita beli bahan-bahannya." "Reina pasti akan sangat senang," ucap Sarah dengan tulus. Suara langkah kaki terdengar dari lantai atas, membuat percakapan merek
Last Updated: 2026-05-14
Chapter: 11. Tidur Bersama
Reina menarik tangan Daniel yang sedang berada di ruang kerja. "Dad, ayo temani aku nonton film horor!" serunya penuh semangat. Meskipun tahu betapa takutnya Reina terhadap film-film menegangkan, rasa penasarannya selalu lebih besar. "Reina, nanti kamu ketakutan, lho," balas Daniel sambil tertawa kecil. "Tidak, Dad! Aku sudah besar. Aku bisa kok!" jawab Reina percaya diri, meski ia sendiri tahu bahwa ia adalah penakut. Dengan senyuman, Daniel mengangguk dan mengikuti Reina. Setibanya di sana, Reina segera mengambil remote TV dan mempersiapkan film horor yang sudah dipilihnya. "Sebentar, Dad! Aku mau mengajak Kak Sarah biar lebih seru," katanya. Reina melesat ke kamar sarah, Reina berdiri di depan pintu kamar Sarah dengan senyum penuh antusias. "Kak Sarah, ayo ikut nonton film horor!" ajaknya, suaranya bersemangat meskipun mata Sarah terlihat sedikit ragu. "Eh... tapi, non Reina... saya nggak terlalu suka film horor," jawab Sarah sambil tersenyum kecut. "Ah, nggak apa-apa,
Last Updated: 2026-05-07
Donaturku Ternyata Ayah Sahabatku

Donaturku Ternyata Ayah Sahabatku

Bianca adalah gadis yang hidup dalam dua dunia. Siang hari, ia mahasiswi berprestasi dengan kacamata bundar dan pendiam, sederhana, tidak mencolok. Penerima beasiswa yang berjuang mati-matian mempertahankan IPK-nya sambil mengirim uang untuk ibunya di kampung. Malam hari, ia adalah Naughty Bee-streamer dewasa bertopeng yang tubuhnya menjadi tontonan ribuan pria. Bukan karena ia ingin. Tapi karena hutang bank mengancam rumah satu-satunya ibunya, dan tidak ada pilihan lain yang tersisa. Lalu ada Mr. Grey. Pria misterius yang tidak pernah meminta vulgar. Tidak pernah mengirim pesan mesum. Hanya gift besar dan keheningan yang justru membuat Bianca semakin penasaran. Siapa dia? Mengapa tatapannya dari balik layar terasa begitu mengawasi? Di dunia nyata, Mr. Grey adalah Richard Wijaya-eksekutif sukses berusia 47 tahun, duda dengan satu anak perempuan: Carisa, sahabat Bianca. Di kantor, ia adalah CEO yang dingin dan disegani. Di rumah, ia adalah ayah yang sibuk dan jarang ada. Tapi di malam hari, ia adalah pria yang menghabiskan ratusan juta rupiah hanya untuk menatap Bee di layar.
Read
Chapter: 12. Lima Puluh Juta dan Satu Nama
Bianca berbaring , ponsel di tangan, kamera depan menyala.Crop top hitam ketat memperlihatkan potongan kecil kulit di perutnya. Di pusar, piercing kecil berkilau tertangkap cahaya ring light yang ia posisikan di samping tempat tidur. Celana tidur sutra abu-abu.Malam ini ia hanya Bianca yang sedang malas.Bee yang tidak perlu topeng karena kamera hanya menangkap dari hidung ke bawah."Malam, semua..."Suaranya pelan. Tidak manja seperti biasanya. Ada nada lelah yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya."Bee cuma mau live sebentar..."Kolom chat mulai ramai. Komentar-komentar biasa: Bee cantik, Bee kenapa keliatan capek, Mau lihat Bee. Matanya sudah tertuju pada satu agenda yang sudah ia pikirkan sejak semalam.Ia menarik napas."Eumm... kayaknya Bee mau buka privat meet."Chat meledak.PRIVAT MEET?BENERAN BEE?AKU MAU AKU MAUBERAPA HARGA NYA BEE?Bianca menggigit bibir bawahnya. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ini pertama kalinya ia membuka layanan ini. Selama berbulan-bulan i
Last Updated: 2026-05-12
Chapter: 11. Panggilan dari London
Pukul sepuluh malam.Richard baru saja selesai membaca laporan keuangan yang tadi tertunda. Tablet sudah ia letakkan di meja, lampu ruang kerja hanya menyisakan satu sumber cahaya dari lampu meja berwarna hangat. Ponsel di atas meja bergetar.Layar menyala: Karina.Richard menatap nama itu beberapa detik. Tidak dengan kebencian, tidak juga dengan rindu. Lebih seperti seseorang yang melihat lembaran lama yang sudah selesai dibaca—diketahui isinya, tidak perlu dibuka lagi.Ia mengangkat.Video call. Wajah Karina muncul di layar, sedikit buram karena koneksi, tapi jelas dalam riasan tipis yang masih ia kenakan."Hi, Rich."Suaranya datar. Ada nada yang tidak pernah berubah dalam tiga tahun ini: kelelahan yang sudah menjadi kebiasaan."Hm.""I hate you."(Aku benci kamu)Richard mendengus pelan. Bukan karena marah, tapi karena ia sudah hafal dialog ini. Setiap kali Karina menelepon, selalu dimulai dengan tiga kata itu. "I know."(Aku tahu)Karina tersenyum kecil. Senyum yang tidak lagi
Last Updated: 2026-05-07
Chapter: 10. Makan Malam yang Dingin
Richard duduk di ujung meja makan.Meja kayu panjang yang mampu menampung dua belas orang tapi hanya tiga yang akan terisi malam ini.Ia membuka tablet di samping piringnya.Laporan keuangan kuartal ketiga masih belum selesai. Jarinya menyentuh layar, menggulir data.Carisa belum turun.Suara dari lantai atas.Tawa Carisa. Suara langkah kaki. Dan suara lain—lebih pelan, lebih tertahan.Richard mengangkat pandangan dari tablet."Ayoo, Bia. Santai aja!" seru Carisa, suaranya memantul di dinding ruang makan yang tinggi.Ia meletakkan tablet di samping piring, melipat tangan di atas meja. Menunggu.Carisa melangkah turun dari anak tangga terakhir, masih menarik tangan di belakangnya. Dan di belakang Carisa, seorang gadis muncul.Gadis itu langsing. Tingginya tidak sampai bahu Carisa meskipun Carisa tidak terlalu tinggi. Kemeja sutra biru muda—Richard mengenali itu, itu milik Carisa.Wajahnya.Ketakutan. Mungkin. Atau kegugupan.Gadis itu tidak menatap Richard. Matanya tertuju pada lantai
Last Updated: 2026-04-30
Chapter: 9. Di Balik Pintu Rumah
Mobil putih itu berbelok pelan memasuki kompleks perumahan mewah di kawasan selatan Jakarta. Bianca sudah beberapa kali ke rumah ini. Tapi ia masih merasa seperti memasuki dunia yang berbeda. Dunia yang tidak pernah menjadi tempatnya. Carisa memarkir mobil di garasi yang sudah menampung satu mobil hitam besar di sampingnya. "Ayah udah pulang," kata Carisa sambil mematikan mesin. Matanya menatap mobil hitam itu. "Bagus, gak perlu nunggu." Bianca merasakan degup aneh di dadanya. Gugup. Wajar, pikirnya. Ini tentang magang. Tentang masa depannya. Tidak lebih. Mereka turun. Carisa berjalan lebih dulu, membuka pintu samping yang langsung menuju dapur. "Selamat sore, Non." "Bibi, Ayah udah pulang?" Carisa bertanya sambil melepas sepatu hak rendahnya. "Sudah, Non. Di ruang kerja tadi. Tadi bilang mau ganti baju dulu." "Oke." Carisa menarik tangan Bianca. "Ayo, kita ke kamar gue dulu." Bianca hanya sempat mengangguk sopan pada wanita itu sebelum ditarik Carisa dan naik ke lantai at
Last Updated: 2026-04-30
Chapter: 8. Tiga Puluh Juta dan Satu Kesempatan
Layar ponsel masih menyala.Bianca menatap angka di aplikasi mobile banking-nya. Jari-jarinya terasa dingin. Bukan karena suhu ruangan—kosannya bahkan tidak punya AC—melainkan karena angka itu sendiri.Saldo: Rp 30.250.000Ia menelan ludah pelan.Lalu menutup aplikasi.Beberapa detik kemudian, ia membukanya lagi.Angkanya tetap sama.Nyata.Memperlihatkan bagian bawahku… bisa menghasilkan segitu.Pikirannya berputar pelan, tapi tubuhnya terasa lambat. Seolah semua yang terjadi terlalu cepat untuk benar-benar dipahami.Ia menatap layar lebih lama.Mencoba merasa senang.Mencoba merasa lega.Tapi yang datang justru sesuatu yang lain.Bukan bahagia. Bukan bangga. Bukan jijik sepenuhnya.Ia berdiri dari kursi.Laptop di meja masih terbuka.Kamera kecil di atasnya—yang tadi malam menangkap setiap gerakannya—masih menghadap ke arahnya.Tapi terasa berbeda.Berat.Ia berjalan ke cermin kecil di belakang pintu.Berhenti.Menatap pantulannya sendiri.Rambut hitam sebahu, kusut. Kacamata bundar
Last Updated: 2026-04-30
Chapter: 7. Bayangan yang Membakar
Pintu apartemen terbuka. Richard masuk tanpa menyalakan lampu. Gelap sudah menjadi kebiasaan. Cahaya dari jendela-jendela besar yang menghadap ke selatan kota sudah cukup menerangi ruangan. Namun tetap saja, tidak ada satu pun yang cukup hangat untuk mengusir dingin di ruang tamu yang terlalu luas ini. Ia menutup pintu pelan. Sepi. Hanya suara langkah kakinya sendiri yang terdengar. Ia melepas jas navy, menggantungkannya di belakang pintu dengan gerakan otomatis. Dasi dilepas, dilipat rapi, dimasukkan ke laci kecil. Sepatu dibuka. Kaus kaki menyusul. Semua berurutan. Semua rapi. Seperti hidupnya. Seperti kebiasaan seorang pria yang sudah terlalu lama hidup sendiri. Ia berjalan ke kamar mandi. Keran dibuka. Air dingin mengalir deras. Tangannya bertumpu di wastafel. Napasnya berat. Tapi bayangan itu— tidak hilang. Kulit putih. Paha yang merapat. Kain hitam yang naik perlahan. Ia membuka keran lebih besar. Air menghantam wajahnya lebih keras. Seolah bisa menghapus
Last Updated: 2026-04-30
Rahasia Di Balik Meja Kerja

Rahasia Di Balik Meja Kerja

Maya, karyawati yang baru setahun menikah namun LDR dengan suaminya, meremehkan pentingnya hubungan intim. Dion, rekan kerja yang sudah beristri, membantah—karena baginya, hubungan intim adalah candu yang tak bisa dilepaskan. Godaan bermula dari ruang kantor yang sepi, batas mereka runtuh. Dari sana, perselingkuhan fisik berubah jadi sesuatu yang lebih rumit: cemburu, rasa memiliki, dan dilema yang tak terucapkan. Dan ketika suami Maya menawarkannya pindah ke luar kota, mereka harus memilih: berhenti, atau terjerumus lebih dalam.
Read
Chapter: 9. Ini baru awal
Dion membuka paha Maya perlahan. Maya hanya bisa meremas seprai putih hotel itu erat-erat. Ia tak berani melihat ke bawah, malu, takut, juga penasaran. Tapi sensasi di sana... aneh. Berdenyut. Cepat sekali. Dan basah. Sangat basah. Dion menunduk. Bibirnya mengecup paha dalam Maya, lembut, hangat, basah. Kecupan itu naik perlahan, mendekati sumber denyut di sana. Tubuh Maya tersentak setiap kali bibir Dion menyentuh kulit sensitifnya. Dion berhenti. Ia menatap Maya dari antara kedua pahanya. "May, aku pegang ya?" Maya mengangguk, tapi matanya masih terpejam erat. Wajahnya memerah, napasnya tersengal. "Buka mata kamu, May." Suara Dion pelan, tapi penuh perintah lembut. "Lihat. Lihat gimana tangan aku dan tubuh kamu bereaksi. Biar kamu tahu nikmat itu kayak apa." Maya membuka mata perlahan. Pandangannya turun, melewati dadanya yang naik turun, melewati perutnya, hingga ke bawah, di mana Dion duduk di antara kedua pahanya yang terbuka. "Lihat sini, May," bisik Dion serak
Last Updated: 2026-05-18
Chapter: 8. Janji nikmat
Maya menggenggam erat ikatan handuknya. Jari-jarinya memutih menahan sesuatu antara keinginan untuk melepaskan atau mempertahankan. Dion mendekat. Langkahnya pelan, tapi pasti. Tubuhnya kini hanya beberapa senti dari Maya. Ia bisa mencium aroma sabun dari kulit Maya yang masih lembab. Rambut basahnya yang setengah kering, wangi sampo bercampur sesuatu yang khas hanya milik Maya. "May..." bisik Dion. Suaranya dalam, serak, seperti menahan sesuatu yang lama terpendam. Maya tidak menjawab. Ia hanya menatap Dion dengan mata yang berkaca-kaca antara takut, rindu, dan sesuatu yang tak berani ia akui. Dion mengulurkan tangan. Perlahan, ujung jarinya menyentuh wajah Maya. Mengusap lembut pipinya yang merona. Maya menutup mata, napasnya memburu. Lalu Dion mendekat. Wajahnya hanya sejengkal dari Maya. Bibirnya hampir menyentuh. "Aku... gak bisa," bisik Dion. Dan tanpa menunggu lebih lama, ia mencium Maya. Bibir mereka bertemu. Hangat. Lembut di awal, tapi cepat berubah menjadi se
Last Updated: 2026-05-14
Chapter: 7. Jarak yang Hilang
Dion membuka matanya perlahan. Cahaya masuk melalui celah tirai, menciptakan garis-garis tipis di lantai kamar. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba menyadari di mana ia berada. Lalu ingatan itu kembali Bandung, hotel, kamar Maya. Ia menoleh. Dan napasnya terhenti. Maya sangat dekat. Punggungnya menempel ke tubuh Dion, hangat, lembut, dengan rambut yang sedikit berantakan dan aroma sampo yang samar. Bagaimana Maya bisa sampai sedekat ini? Dion ingat posisi mereka saat tidur tadi: ada jarak, masing-masing di sisi kasur. Sekarang? Hampir tidak ada jarak. Untung saja Dion tidur menghadap Maya, ia bisa melihat punggung Maya, bukan menghadapnya. Kalau tidak, ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Tapi meski begitu, tangan Dion tidak memeluk. Masih ada kendali. Lalu ia merasakannya. Pantat Maya persis menempel di bagian selangkangannya. Dion menahan napas. Tubuhnya bereaksi. Ini di luar kendalinya. Sial. Ia diam membeku, tidak berani bergerak. Jantungnya berd
Last Updated: 2026-04-29
Chapter: 6. Satu Kamar, Satu Kasur
Dion mengusap wajahnya kasar. Mata perih, punggung kaku, tapi akhirnya pekerjaan selesai. Ia menekan tombol save sekali lagi, memastikan semua data tersimpan dengan aman. Jam menunjukkan pukul 05.12 pagi. Ia meregangkan badan, lehernya berbunyi krek kecil. Di luar jendela, langit Bandung mulai berubah warna—dari hitam pekat menjadi biru tua, lalu semburat oranye di ufuk timur. Pemandangan indah yang tidak sempat ia nikmati. Dion menatap layar. File sudah siap, tinggal submit. Tapi sebelum itu, ia janji akan membangunkan Maya untuk cek bareng. Ia berdiri. Langkahnya pelan menuju pintu kamar yang hanya tertutup geser. Dion berhenti di ambang pintu. Maya tidur dalam posisi miring, menghadap ke arahnya. Selimut hanya menutupi setengah badan, menyisakan bahu dan lengannya yang terbuka. Rambutnya berantakan, sebagian menutupi wajah, sebagian tersebar di bantal. Napasnya teratur, dada naik turun pelan. Dion mengakui bahwa Maya cantik. Bukan kecantikan yang mencolok, tapi yang muncul
Last Updated: 2026-04-29
Chapter: 5. Bandung 3 Pagi
Bandung. Kota itu menyambut mereka dengan udara dingin yang langsung terasa begitu kaki menginjak tanah. Maya menarik napas dalam, menikmati sensasi berbeda dari hiruk pikuk Jakarta. Di sampingnya, Dion mendorong koper masing-masing sambil sesekali mengecek ponsel. Dua hari di Bandung. Presentasi dengan calon klien, revisi di tempat, dan deadline yang mepet. Tim kecil mereka, Maya, Dion, dan dua orang lainlangsung menuju hotel setelah meeting pertama. Hari pertama berjalan intens. Meeting dari siang sampai malam. Klien ternyata tipe detail-oriented, minta ini-itu, revisi sana-sini. Saat mereka kembali ke hotel, jam sudah menunjukkan pukul 22.00. "Besok pagi harus submit," ucap Andi sambil menguap lebar. "Aku udah nggak kuat. Lebih baik aku lanjut nanti subuh aja." Rina mengangguk setuju. "Aku juga. Udah pusing." Maya dan Dion saling pandang. "Kita lanjutin aja," ucap Dion akhirnya. "Kalian berdua istirahat dulu. Nanti kalau udah mepet, aku kabarin." "Mantap, Yan. Makasih," An
Last Updated: 2026-04-29
Chapter: 4. Budak Korporat
Keesokan harinya. Jam menunjukkan pukul 21.30. Kantor sudah sepi. Lampu hanya menyala di beberapa titik. Maya baru saja selesai merapikan mejanya ketika ia mendengar suara kursi berderit dari arah seberang. Ia menoleh. Dion juga berdiri, meraih jaketnya. Mata mereka bertemu. Lalu serempak melihat jam dinding. Lalu kembali bertatapan. Mereka tertawa bersama. "Budak korporat," ucap Dion sambil menggeleng. "Kamu juga," balas Maya. "Kenapa sih malah kita yang sering lembur?" Dion berjalan mendekat, menyandarkan tubuh di pinggir meja Maya. "Ya karena posisi kita penting. Tugas kita lebih banyak dari yang lain. Konsekuensi jadi anak emas bos." Maya menyandarkan tubuh di kursinya, menatap Dion. Matanya menyipit, menggoda. "Kamu kok keliatan seneng banget sih lembur hari ini?" Dion tersenyum lebar. Jawabannya keluar tanpa ragu. "Habis dapat jatah dari istri kemarin. Kamu tahu lah..." Maya memukul lengan Dion pelan. "Idih, dasar nggak bisa nahan hasrat!" "Iya dong, bangga." Dion me
Last Updated: 2026-04-29
You may also like
Love Sugar Daddy
Love Sugar Daddy
Romansa · KarRa
474.5K views
Pemuas Nafsu Tuan Muda
Pemuas Nafsu Tuan Muda
Romansa · Callista_ Ivan
474.1K views
Bercinta Denganmu
Bercinta Denganmu
Romansa · Chida
467.9K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status