Mag-log inDi dalam kamar, Reina sedang membersihkan masker wajah, mempersiapkan dirinya untuk waktu santai. Mendengar ketukan yang keras, dia tahu bahwa pertemuan antara Daniel dan Sarah tidak berjalan dengan baik.
Reina membuka pintu dan melihat ayahnya yang tampak sangat kesal. Dengan cepat, Reina melangkah keluar dan memeluk Daniel untuk menenangkan emosinya. "Daddy, tenanglah. Kak Sarah di sini untuk membantu. Aku sedang melakukan kegiatan di luar rumah, dan dia akan memastikan Daddy tidak merasa kesepian." Daniel terlihat sedikit lebih tenang dengan pelukan Reina, tetapi masih tampak bingung dan frustasi. Reina melanjutkan, "Oma juga sudah setuju dengan keputusan ini. Kak Sarah akan membantu kita di rumah, dan aku yakin dia akan cocok dengan pekerjaan ini." Daniel memijat kepalanya, merasa tertekan dengan situasi yang mendadak ini. Meskipun masih merasa tidak nyaman, dia akhirnya mulai memahami alasan di balik keputusan Reina dan setuju untuk memberinya kesempatan. Dengan itu, Reina memeluk ayahnya dengan lembut, berharap dapat membuatnya merasa lebih baik dan lebih menerima kehadiran Sarah di rumah. Sarah, yang menyaksikan dari jauh, merasa lega melihat Daniel mulai mereda, dan siap untuk melanjutkan tugas barunya dengan semangat yang baru. "Baiklah," ucap Daniel pasrah, merasa bagaimana mungkin dia bisa membantah keinginan ibunya dan Reina yang sudah jelas ingin Sarah tinggal di rumah mereka. Reina menarik tangan ayahnya dengan penuh semangat menuju ruang makan. Di sana, mereka melihat Sarah berdiri dengan canggung di dekat meja makan, terlihat sedikit tidak nyaman di hadapan Daniel. "Kak Sarah, ini Daddy," ujar Reina dengan ceria, memperkenalkan mereka. Daniel, meskipun dengan setengah hati, menganggukkan kepala untuk berkenalan dengan Sarah. Sarah tersenyum kecil dan segera mulai meletakkan makan malam di meja, berusaha mengalihkan perhatiannya dari ketegangan yang ia rasakan. Reina, yang selalu ceria, lalu mengajak Sarah untuk ikut makan bersama di meja makan. Namun, Sarah dengan sopan menolak, merasa tidak enak makan bersama dengan majikannya yang baru. "Oh, tidak apa-apa, Non Reina. Saya bisa makan nanti saja." Reina, tidak menerima penolakan itu, memaksa dengan nada yang ceria, "Tidak, Kak! Semua yang ada di rumah ini harus makan bersama. Iya, kan, Dad?" tanyanya sambil melirik ke arah ayahnya. Daniel hanya menjawab singkat, "Iya," masih sedikit canggung dengan situasi ini. "Baiklah," ucap Sarah pelan, merasa tak punya pilihan lain selain mengikuti kehendak Reina. "Yeay!" seru Reina, senang karena akhirnya Sarah setuju untuk makan bersama mereka. Sarah kemudian duduk di meja makan, tepat di depan Reina, sementara Daniel duduk di tengah-tengah antara mereka. Dengan cepat, Reina bergegas mengambil makanan untuk Milo kucing peliharaan mereka, dan meletakkannya di bawah meja makan. Sementara itu, Sarah dengan penuh perhatian mulai mengambilkan piring dan mengisi nasi untuk Daniel dan Reina. Ia juga menambahkan lauk dan menuangkan air putih ke dalam gelas mereka, melakukannya dengan begitu alami seperti sudah biasa. Daniel berdehem canggung, sedikit terkejut dengan perhatian yang diberikan Sarah padanya. Bukan hanya karena ini adalah pertama kalinya dia dilayani oleh seseorang selain Reina, tetapi juga karena sentuhan lembut dan perhatian Sarah membuatnya merasa sedikit gugup. Namun, dia tidak bisa memungkiri bahwa ada sesuatu yang menenangkan dalam cara Sarah melakukan semuanya. Sementara Reina tersenyum puas melihat interaksi antara ayahnya dan Sarah, Daniel mencoba menikmati makan malam meskipun hatinya masih penuh dengan kebingungan dan perasaan campur aduk. Bagaimanapun juga, Reina tampak sangat bahagia dengan kehadiran Sarah, dan itu cukup membuat Daniel mencoba menerima situasi ini. Setelah makan malam yang penuh kehangatan meski dengan sedikit ketegangan, kembali ke kamarnya. Ia masih memikirkan kejutan yang diberikan oleh memilih pengasuh yang begitu berbeda dari bayangannya. Perasaannya campur aduk, dan satu-satunya orang yang mungkin bisa memahami situasinya adalah ibunya. Dengan segera, Daniel mengambil ponselnya dan menghubungi ibunya. Setelah beberapa kali nada sambung, suara lembut sang ibu terdengar di ujung telepon. "Halo, Daniel. Ada apa, Nak?" Daniel menghela napas panjang sebelum menjawab, "Ibu, aku baru saja pulang dan... Reina telah memberikan aku seorang pengasuh." Ia mencoba menahan emosinya, tetapi kekesalan dalam suaranya sulit disembunyikan. "Dia tidak memberitahuku sebelumnya, dan sekarang ada seorang wanita muda di rumah yang katanya akan menjadi pengasuhku." Di seberang telepon, ibunya tertawa ringan, terdengar jelas bahwa dia menikmati kebingungan Daniel. "Oh, Daniel, Nak, itu hanya karena Reina sangat peduli padamu. Dia tidak ingin kau merasa kesepian atau terlalu lelah. Lagipula, bukankah bagus ada yang merawatmu?" Daniel menggelengkan kepala, meski ibunya tak bisa melihat. "Tapi, Ibu, pengasuh ini... dia terlalu muda, terlalu berbeda dari yang aku bayangkan. Aku tidak tahu harus berkata apa." Ibunya tertawa lebih keras kali ini, merasa terhibur dengan reaksi putranya. "Nak, terkadang kita butuh kejutan dalam hidup. Mungkin ini adalah cara Reina untuk memastikan kau lebih rileks dan terurus dengan baik. Jangan terlalu dipikirkan. Berikan kesempatan pada Sarah untuk membantumu. Siapa tahu, kau malah akan merasa lebih nyaman dengan adanya dia di rumah." Daniel terdiam, mencerna kata-kata ibunya. Meski masih ada rasa ragu dalam dirinya, kata-kata sang ibu sedikit banyak memberikan ketenangan. "Baiklah, Ibu. Aku akan mencoba menerima ini. Tapi kau tahu, aku masih merasa ini agak canggung." "Tak apa, Nak," jawab ibunya dengan nada penuh pengertian. "Kau akan terbiasa. Dan jangan lupa, Reina hanya ingin yang terbaik untukmu." Dengan itu, Daniel menutup telepon dan menatap keluar jendela kamarnya. Dia tahu bahwa ibunya mungkin benar, tetapi masih ada bagian dari dirinya yang merasa belum siap untuk menerima perubahan ini. Namun, dia bertekad untuk setidaknya mencoba. Bagaimanapun, ini adalah keputusan yang didukung oleh dua wanita paling penting dalam hidupnya—ibunya dan putrinya.Di ruang TV, suasana terasa tenang dengan cahaya lampu yang hangat, menyorot wajah Daniel dan ibunya, Claudia, yang duduk berdampingan di sofa. Reina sudah kembali ke kamar, begitu juga dengan Sarah yang memilih untuk menyendiri sejenak. Claudia, yang masih memandangi Daniel dengan perhatian, membuka percakapan dengan suara lembut, "Bagaimana perasaanmu, Son?" Daniel menatap layar TV sejenak, mencoba merangkai kata-kata sebelum akhirnya menjawab, "Aku baik-baik saja, Mom." Claudia mengamati anaknya dengan pandangan penuh kasih, melihat perasaan campur aduk yang sulit disembunyikan. "Apakah sulit merawat Reina sendirian?" tanya Claudia, suaranya dipenuhi kekhawatiran. "Kau tahu, setelah kepergian itu, aku bisa bayangkan betapa beratnya." Daniel tersenyum tipis, meski ada sedikit kelelahan di matanya. "Tidak, Mom," jawabnya mantap, "Reina anak yang baik dan penurut. Dia tidak banyak meminta, dan kami bisa beradaptasi. Aku rasa kami baik-baik saja." Claudia mengangguk, terlihat leg
Hari ini adalah hari istimewa untuk Reina, pesta ulang tahunnya diadakan di sebuah kafe yang sudah dihias dengan meriah. Di kamar Reina, Sarah sibuk membantu gadis itu berdandan. Reina tampak antusias, wajahnya ceria, namun ada sedikit gugup di matanya. "Kak Sarah, aku terlihat cantik, nggak?" tanya Reina sambil memutar tubuhnya di depan cermin. Sarah tersenyum lembut, menata rambut panjang Reina yang jatuh tergerai. "Kamu sudah cantik dari sananya, Reina. Tapi biar kakak tambahkan sedikit sentuhan lagi, ya." Sarah mengambil blush on, menyapukan warna lembut ke pipi Reina. Setelah itu, ia menyisir rambut Reina, membuatnya sedikit bergelombang, lalu menyematkan jepit berbentuk bunga kecil di sisi kiri rambutnya. "Ini, selesai. Sekarang lihat lagi," kata Sarah sambil melangkah mundur. Reina memandangi bayangannya di cermin dan tersenyum lebar. "Wah, Kak Sarah, aku seperti princess!" Sarah tertawa kecil, merasa puas dengan hasilnya. "Putri yang paling cantik malam ini," katany
Siang itu, Daniel berdiri di area kedatangan bandara, matanya sesekali melirik layar monitor. Penerbangan dari Belanda baru saja mendarat, dan ia menunggu dengan sabar di antara kerumunan penjemput lainnya.Tak lama kemudian, pintu kedatangan internasional terbuka. Daniel berdiri lebih tegap, matanya mencari sosok yang sangat dikenalnya. Lalu, ia melihat ibunya, seorang wanita paruh baya dengan rambut beruban yang tertata rapi dan senyum hangat di wajahnya.“Mom!” panggil Daniel sambil melambaikan tangan.Ny. Claudia balas tersenyum, mempercepat langkahnya mendekati putranya. "Daniel, sayang!"Mereka saling berpelukan erat. “Aku merindukanmu, Mom,” ucap Daniel dengan suara lembut.“Mom juga merindukanmu. Dan tentu saja, Reina. Bagaimana cucuku yang manis?”“Dia baik, sangat bersemangat untuk ulang tahunnya. Dia akan sangat senang melihat Ibu,” kata Daniel sambil mengambil koper besar dari tangan ibunya.“Oh, aku tidak sabar untuk memeluknya. Dia pasti tumbuh semakin cantik,” ujar Ny.
Setelah sampai di rumah, Daniel dan Sarah segera bergegas ke dapur untuk mempersiapkan kejutan ulang tahun Reina. Langkah pertama yang mereka lakukan adalah membuat kue ulang tahun. Dengan semangat, Sarah mulai mencampurkan bahan-bahan di mangkuk besar. Ia menghidupkan mixer dan melihat adonan berputar. Sesekali, ia mencolek adonan yang menempel di dinding mangkuk dan merasakan teksturnya. "Bagaimana, Pak?" tanyanya dengan penuh semangat, mengharapkan pujian.Tanpa menjawab, Daniel mendekat dan membawa jari Sarah yang terkena adonan ke mulutnya. "Saya rasa sudah pas," katanya dengan nada serius, namun dengan senyuman di wajahnya.Sarah terkejut dan mendapati dirinya tersipu. "Ahh.. iya pak," jawabnya gugup, padahal bukan itu yang ingin ia tanyakan. Dia terdiam sejenak, merasakan detak jantungnya berdegup kencang."Sarah, saya akan memompa balon. Kamu lanjutkan saja cakenya," kata Daniel sambil mundur sedikit untuk memberikan ruang.Sarah mengangguk, lalu memasukkan adonan kue ke dala
Pagi itu, suasana rumah masih sunyi ketika Daniel sudah berada di dapur. Sarah berdiri di depan kompor, mengaduk masakan dengan gerakan teratur. Aroma hangat menyebar, membuat pagi terasa lebih hidup. "Sarah..." panggil Daniel pelan. Sarah menoleh. "Ya, Pak?" Daniel mendekat beberapa langkah, lalu menurunkan suaranya. "Besok Reina ulang tahun. Saya ingin menyiapkan kejutan tengah malam." Ekspresi Sarah langsung berubah cerah. "Benarkah? Wah... tentu, Pak. Saya akan bantu. Apa rencananya?" "Kita buat sederhana saja. Kue, dekorasi kecil di ruang tamu. Reina tidak suka yang berlebihan, tapi dia selalu menghargai hal yang tulus." Sarah mengangguk dengan semangat. "Kalau begitu, izinkan saya membuat kuenya. Saya ingin membuat yang spesial untuknya." Daniel memperhatikan Sarah sejenak, lalu tersenyum tipis. "Baik. Nanti siang kita beli bahan-bahannya." "Reina pasti akan sangat senang," ucap Sarah dengan tulus. Suara langkah kaki terdengar dari lantai atas, membuat percakapan merek
Reina menarik tangan Daniel yang sedang berada di ruang kerja. "Dad, ayo temani aku nonton film horor!" serunya penuh semangat. Meskipun tahu betapa takutnya Reina terhadap film-film menegangkan, rasa penasarannya selalu lebih besar. "Reina, nanti kamu ketakutan, lho," balas Daniel sambil tertawa kecil. "Tidak, Dad! Aku sudah besar. Aku bisa kok!" jawab Reina percaya diri, meski ia sendiri tahu bahwa ia adalah penakut. Dengan senyuman, Daniel mengangguk dan mengikuti Reina. Setibanya di sana, Reina segera mengambil remote TV dan mempersiapkan film horor yang sudah dipilihnya. "Sebentar, Dad! Aku mau mengajak Kak Sarah biar lebih seru," katanya. Reina melesat ke kamar sarah, Reina berdiri di depan pintu kamar Sarah dengan senyum penuh antusias. "Kak Sarah, ayo ikut nonton film horor!" ajaknya, suaranya bersemangat meskipun mata Sarah terlihat sedikit ragu. "Eh... tapi, non Reina... saya nggak terlalu suka film horor," jawab Sarah sambil tersenyum kecut. "Ah, nggak apa-apa,







