LOGINDaniel tak menyangka makan siang yang ia beli tadi akan membuatnya keracunan makanan. Setelah diberikan perawatan ringan, dokter di klinik menyarankan agar Daniel beristirahat di rumah. Marlo sahabatnya dengan sigap mengantarnya pulang, namun begitu mereka sampai di depan rumah, Daniel nyaris tak bisa berdiri tegak. Sarah yang tengah sibuk membersihkan rumah karna bi Rika sedang pulang kampung, dikejutkan oleh suara mobil yang berhenti di depan. Melihat Daniel dipapah oleh sahabatnya, wajahnya langsung berubah panik. "Pak Daniel, kenapa ini?" "Dia keracunan makanan, cuma butuh istirahat sekarang. Dokter bilang kondisinya akan membaik setelah beberapa jam, tapi dia harus banyak minum dan makan makanan yang ringan," Marlo menjelaskan sambil memapah Daniel ke dalam rumah. Wajah Daniel tampak sangat pucat, keringat dingin membasahi dahinya, dan gerakannya tampak lemah. Sarah mendekat, berusaha menahan kecemasan yang menguasai dirinya. Setelah Daniel berbaring di tempat tidur, Sarah
Setelah menyelesaikan sesi berenangnya, Reina kembali ke rumah dengan ceria, bersiap untuk menghadiri pesta ulang tahun sahabatnya. Begitu tiba di rumah, ia langsung mencari Sarah yang sedang membersihkan dapur. Meskipun Sarah masih merasa sedikit nyeri haidnya. Saat Reina memasuki dapur, ia melihat Sarah yang sedang menyeka permukaan meja dapur. Dengan cepat, Reina mendekat. “Kak Sarah, aku mau minta tolong. Bisa bantu atur rambutku? Aku harus ke pesta ulang tahun sahabatku,” kata Reina dengan nada penuh harapan. Sarah berhenti sejenak, mengelap tangannya dengan lap, dan menatap Reina. “Oh, tentu saja, Non Reina. Aku bisa bantu. Aku pernah ikut kursus kecantikan, jadi sedikit banyak aku mengerti tentang cara-cara merapikan rambut.” Dengan senang hati, Reina menyerahkan alat-alat yang sudah ia siapkan. Mereka berdua memasuki kamar tidur Reina, di mana meja riasnya terletak dengan berbagai alat kecantikan. Reina duduk di depan meja rias, di hadapan cermin besar, sementara S
Pada hari Minggu, suasana rumah Daniel terasa sedikit berbeda. Reina seperti biasa berpamitan riang sebelum pergi berenang bersama teman-temannya. Dengan tas besar di pundaknya, ia tersenyum pada Sarah yang berdiri di dekat pintu. “Kak Sarah, aku pamit dulu ya. Nanti sore baru pulang,” ucap Reina ceria sambil melambaikan tangan. Sarah membalas dengan senyum lembut, “Hati-hati, Non Reina.” Setelah Reina pergi, rumah menjadi sepi. Hanya ada Sarah dan Daniel karena Bi Rika sedang libur mingguan untuk berkumpul dengan keluarganya. Kesadaran bahwa mereka hanya berdua membuat Sarah sedikit gugup, meski ia tetap berusaha menjalankan tugas seperti biasa. Ia mulai beranjak ke dapur untuk menyiapkan makan siang, tetapi tubuhnya mulai terasa tidak enak. Nyeri haid hari pertama mulai datang, membuatnya beberapa kali memegangi perut sambil tetap berusaha bekerja di depan meja dapur. Di ruang keluarga, Daniel memperhatikan dari kejauhan. Ia melihat Sarah tampak pucat dan sering berhenti bergerak,
Dengan lembut, Daniel memegang tangan Sarah yang masih berada di bahunya, mencoba menghentikan sentuhan itu. "Kau bisa kembali tidur, Sarah" ucapnya dengan suara yang nyaris berbisik, berusaha menenangkan dirinya sendiri dan mengembalikan situasi menjadi lebih normal.Sarah menarik tangannya dengan perlahan, menyadari bahwa mungkin ia sudah melampaui batas. "Maaf, Pak. Saya hanya ingin membantu" katanya pelan, menundukkan kepala sebelum mundur perlahan menuju pintu.Sementara itu, Daniel tetap duduk di kursinya, jantungnya berdebar kencang, masih terguncang oleh keintiman yang baru saja terjadi.Sarah keluar dari ruang kerja dengan raut wajah kecewa, dan Daniel bisa merasakan hal itu.Dia bukan tidak menghargai perhatian dan bantuan Sarah, namun ada sesuatu yang tidak bisa dikendalikannya- sesuatu di dalam dirinya yang mulai bangkit, terutama di bawah sana. Pikirannya tak henti-hentinya terjebak pada sentuhan lembut Sarah, bagaimana tangannya menyentuh dan meremas bahunya dengan kehang
Tangan Daniel secara alami berada di punggung Sarah, sementara tangan satunya memeluk Reina dan Milo.Sarah merasakan kehangatan tangan Daniel di punggungnya, sebuah sentuhan yang membuatnya merasa nyaman namun juga membuat jantungnya berdebar.Di sisi lain, Daniel juga merasakan kehangatan yang sama, menyadari betapa berbeda dan mendalamnya momen ini dibandingkan dengan pelukan biasa antara dia dan putrinya.Dalam pelukan itu, mereka berdua saling merasakan kehangatan dan keterhubungan yang belum pernah mereka alami sebelumnya.Walaupun awalnya pelukan ini terasa canggung, dalam beberapa detik, semuanya menjadi lebih alami dan sarat dengan kehangatan yang membuat mereka merasa aneh sekaligus nyaman.Reina yang berada di tengah tersenyum kecil, mengetahui bahwa usahanya untuk mendekatkan mereka perlahan-lahan mulai berhasil.Setelah satu menit berpelukan, Daniel membisikkan lembut, "Sudah satu menit." Dia lalu melepaskan tangannya, dan suasana menjadi canggung kembali. Baik Daniel maup
Pagi itu, Sarah sudah bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan. Dengan teliti, ia membuat roti dengan telur mata sapi dan menyeduh kopi untuk Daniel, sementara susu coklat sudah disiapkan untuk Reina. Namun, ketika melihat jam menunjukkan pukul 6, Sarah mulai khawatir karena belum ada yang keluar dari kamar. Sarah berjalan menuju kamar Daniel dan mengetuk pintunya dengan hati-hati. Tidak ada jawaban. Merasa ragu, dia mencoba memutar gagang pintu, dan ternyata pintu itu tidak terkunci. Dengan perasaan cemas, Sarah memberanikan diri untuk masuk. Kamar itu masih gelap, dan Sarah melihat bahwa Daniel masih tertidur di atas kasur, hanya tertutup selimut hingga sebatas dadanya. Cahaya pagi mulai masuk setelah Sarah membuka tirai, tetapi Daniel tampaknya masih terlelap dan tidak terganggu oleh cahaya tersebut. Dengan ragu-ragu, Sarah mendekat ke kasur, matanya tertuju pada tubuh Daniel yang terlihat gagah di balik selimut. Dia ingat instruksi Reina bahwa jika Daniel tidak bang







