Home / Romansa / Daddy Sitter / 4. Pagi yang Mengubah Batas Rumah Daniel

Share

4. Pagi yang Mengubah Batas Rumah Daniel

Author: Bianca bee
last update publish date: 2026-04-28 16:49:21

Pagi itu, Sarah sudah bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan.

Dengan teliti, ia membuat roti dengan telur mata sapi dan menyeduh kopi untuk Daniel, sementara susu coklat sudah disiapkan untuk Reina.

Namun, ketika melihat jam menunjukkan pukul 6, Sarah mulai khawatir karena belum ada yang keluar dari kamar.

Sarah berjalan menuju kamar Daniel dan mengetuk pintunya dengan hati-hati. Tidak ada jawaban. Merasa ragu, dia mencoba memutar gagang pintu, dan ternyata pintu itu tidak terkunci. Dengan perasaan cemas, Sarah memberanikan diri untuk masuk.

Kamar itu masih gelap, dan Sarah melihat bahwa Daniel masih tertidur di atas kasur, hanya tertutup selimut hingga sebatas dadanya. Cahaya pagi mulai masuk setelah Sarah membuka tirai, tetapi Daniel tampaknya masih terlelap dan tidak terganggu oleh cahaya tersebut.

Dengan ragu-ragu, Sarah mendekat ke kasur, matanya tertuju pada tubuh Daniel yang terlihat gagah di balik selimut. Dia ingat instruksi Reina bahwa jika Daniel tidak bangun, dia harus membangunkannya dengan lembut, mengelus dadanya.

Sarah menunduk, hatinya berdebar-debar, dan dengan ragu-ragu, dia mengulurkan tangan untuk menyentuh dada bidang Daniel. Perlahan, dia mengusap dadanya dengan lembut sambil berkata pelan, "Pak Daniel, Pak Daniel, bangun."

Daniel mulai merasakan gangguan pada tidurnya, dan perlahan matanya terbuka, meskipun pandangannya masih kabur. Saat kesadarannya mulai pulih, dia terkejut mendapati seorang wanita cantik dengan dada seksi yang begitu dekat di hadapannya. Itu adalah Sarah.

Dengan cepat, Daniel duduk tegak di tempat tidur, terkejut dan bingung.

"Apa yang kamu lakukan?" tanyanya dengan nada kaget, tetapi tetap mencoba menahan diri. Sarah yang juga terkejut dengan reaksi Daniel, segera menarik

tangannya dari dadanya. "Maaf, Pak. Kata Non Reina, kalau Bapak belum bangun, saya harus membangunkan Bapak dengan mengelus dada Bapak, soalnya Bapak katanya suka kaget kalau dibangunkan dengan cara lain."

Daniel menghela napas panjang, mencoba memahami situasinya.

"Terima kasih, tapi... silakan keluar dulu," katanya, berusaha menenangkan dirinya.

Sarah mengangguk dengan canggung dan segera keluar dari kamar, menutup pintu dengan pelan. Daniel memijat pelipisnya, merasa heran dengan instruksi aneh yang diberikan oleh putrinya. Sejak kapan cara ini digunakan? Bahkan biasanya Reina membangunkannya dengan berteriak atau melompat ke kasurnya.

Tampaknya, Reina memang memiliki rencana lain di balik semua ini, dan Daniel hanya bisa menghela napas panjang, merasa bingung dengan situasi yang semakin tidak biasa.

Setelah kejadian di kamar tadi, Daniel masih merasa terganggu dengan bayangan tubuh Sarah yang terbungkus pakaian ketat.

Pikirannya penuh dengan kekacauan, dan ia berjalan menuju kamar mandi dengan tujuan untuk menenangkan dirinya.

Di dalam, air dingin yang mengalir dari shower setidaknya membantu sedikit menyingkirkan gambar-gambar yang terus mengganggu pikirannya.

Sementara itu, Sarah melanjutkan tugasnya dan mengetuk pintu kamar

Reina. Ternyata, Reina sudah siap dengan seragam sekolahnya dan segera berjalan ke meja makan, menunggu ayahnya untuk sarapan bersama.

Setelah memastikan Reina baik-baik saja, Sarah kembali ke kamar Daniel. Mendengar suara air dari kamar mandi, Sarah memutuskan untuk membantu Daniel mempersiapkan diri. Dia membuka lemari pakaian Daniel dan memilih setelan kerja yang rapi serta dasi yang cocok untuk hari itu. Setelah menyiapkan semuanya dengan hati-hati di atas kasur, Sarah keluar dari kamar, memastikan semua siap sebelum Daniel selesai mandi.

Tak lama kemudian, Daniel keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk melilit di pinggangnya. Saat melihat pakaian kerjanya sudah tertata rapi di atas kasur, ia mengangkat alisnya, terkejut sekaligus bingung. Selama ini, hanya dia yang mengurus pakaian kerjanya, dan perhatian yang diberikan oleh Sarah ini membuatnya merasa canggung.

Pikirannya kembali teringat pada peristiwa tadi pagi, dan bayangan Sarah dengan pakaian ketatnya terus membayangi dirinya. Namun, kali ini, dia hanya bisa menghela napas panjang, menyadari bahwa hari-hari ke depan mungkin akan dipenuhi dengan lebih banyak kejutan yang tidak pernah dia duga sebelumnya.

Dengan perlahan, Daniel mengenakan pakaiannya, mencoba menyingkirkan pikiran yang tidak perlu, dan bersiap untuk menghadapi hari yang panjang di kantornya. Daniel keluar dari kamar, mengenakan pakaian yang sudah rapi, kecuali dasinya yang masih belum terpasang-sebuah kebiasaan yang sudah berlangsung lama. Karena sering terburu-buru menyiapkan Reina untuk sekolah dan sarapan, Daniel selalu merapikan dasinya nanti saat sudah tiba di kantor.

Sementara itu, Sarah sedang berjalan mendekati kamar daniel untuk mengingatkan Daniel bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 6:30.

Saat melihat Daniel berjalan melintasi ruang keluarga, Sarah menyadari bahwa dasinya belum terpasang. Mengingat apa yang telah diberitahu oleh Reina bahwa Daniel tidak bisa memasang dasi sendiri, Sarah segera mengambil inisiatif.

Dengan langkah cepat namun tenang, Sarah mendekat dan tanpa sepatah kata pun, ia mulai memasangkan dasi untuk Daniel.

Daniel, yang terkejut dengan tindakan Sarah, hanya bisa berdiri diam. Kehangatan dari kedekatan Sarah membuatnya merasa canggung, terutama saat merasakan sentuhan tangan Sarah yang lembut di lehernya.

Dari meja makan, Reina mengamati interaksi mereka dengan mata penuh kegembiraan, berusaha menahan tawa saat melihat bagaimana ayahnya tampak tegang dalam sentuhan Sarah. Reina dengan sengaja berpura-pura sibuk memakan sarapannya agar Daniel tidak menyadari bahwa dia sedang menikmati momen tersebut.

Setelah selesai memasangkan dasi, Sarah mundur dengan sopan, dan Daniel hanya mengangguk singkat, masih merasa tidak nyaman dengan perhatian yang diberikan kepadanya.

Daniel berjalan canggung menuju meja makan, di mana Reina sudah menikmati sarapannya. Ia berdehem pelan, masih terbayang sentuhan tangan Sarah saat memasangkan dasi tadi.

Pikirannya bercampur aduk, dan ia berusaha keras untuk tidak menunduk, menghindari pandangan ke arah leher rendah baju Sarah yang terlihat jelas saat dia mendekatkan diri.

Reina menyadari kecanggungan ayahnya dan tersenyum. "Ayo, Dad," ajak Reina ceria, mengingatkan Daniel bahwa sudah waktunya berangkat.

Rutinitas ini adalah sesuatu yang sangat Daniel nikmati-mengantar putrinya ke sekolah sejak playgroup hingga SMA, sebuah momen yang membuatnya bisa menyaksikan putrinya tumbuh.

Sebelum mereka keluar, Reina menarik Sarah dari dapur. "Kak Sarah, di rumah ini ada kebiasaan setiap pagi kita harus berpelukan selama satu menit sebelum pergi dan memulai aktivitas di rumah," jelas Reina dengan semangat, membuat Sarah tampak bingung dan ragu.

Daniel, yang masih merasa canggung, mengangguk pelan. Memang benar bahwa ia dan Reina memiliki kebiasaan berpelukan, tetapi ia tidak pernah membayangkan harus melibatkan orang lain, apalagi Sarah, dalam kebiasaan itu.

Melihat keraguan Sarah, Reina tetap bersikeras. Ia mengangkat Milo, kucing gemuknya yang dari tadi menempel di kakinya, dan bersiap untuk memulai pelukan keluarga. "Ayo, Dad, rentangkan tangan" perintah Reina sambil berjalan mendekat ke pelukan ayahnya dengan Milo di gendongannya.

Sarah, meskipun masih ragu, akhirnya maju perlahan ke arah Daniel.

Dengan sedikit canggung, mereka semua akhirnya berpelukan-Reina dan Milo berada di tengah-tengah pelukan Sarah dan Daniel. Momen ini, meskipun aneh bagi Daniel, menandai awal dari rutinitas baru yang mungkin akan menjadi bagian dari kehidupan mereka bersama. Daniel menutup pelukan dengan meraih Reina, Milo, dan Sarah sekaligus, membuat suasana semakin hangat dan intim.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Daddy Sitter   16. Tentang perasaan

    Di ruang TV, suasana terasa tenang dengan cahaya lampu yang hangat, menyorot wajah Daniel dan ibunya, Claudia, yang duduk berdampingan di sofa. Reina sudah kembali ke kamar, begitu juga dengan Sarah yang memilih untuk menyendiri sejenak. Claudia, yang masih memandangi Daniel dengan perhatian, membuka percakapan dengan suara lembut, "Bagaimana perasaanmu, Son?" Daniel menatap layar TV sejenak, mencoba merangkai kata-kata sebelum akhirnya menjawab, "Aku baik-baik saja, Mom." Claudia mengamati anaknya dengan pandangan penuh kasih, melihat perasaan campur aduk yang sulit disembunyikan. "Apakah sulit merawat Reina sendirian?" tanya Claudia, suaranya dipenuhi kekhawatiran. "Kau tahu, setelah kepergian itu, aku bisa bayangkan betapa beratnya." Daniel tersenyum tipis, meski ada sedikit kelelahan di matanya. "Tidak, Mom," jawabnya mantap, "Reina anak yang baik dan penurut. Dia tidak banyak meminta, dan kami bisa beradaptasi. Aku rasa kami baik-baik saja." Claudia mengangguk, terlihat leg

  • Daddy Sitter   15. Pesta ulang tahun Reina

    Hari ini adalah hari istimewa untuk Reina, pesta ulang tahunnya diadakan di sebuah kafe yang sudah dihias dengan meriah. Di kamar Reina, Sarah sibuk membantu gadis itu berdandan. Reina tampak antusias, wajahnya ceria, namun ada sedikit gugup di matanya. "Kak Sarah, aku terlihat cantik, nggak?" tanya Reina sambil memutar tubuhnya di depan cermin. Sarah tersenyum lembut, menata rambut panjang Reina yang jatuh tergerai. "Kamu sudah cantik dari sananya, Reina. Tapi biar kakak tambahkan sedikit sentuhan lagi, ya." Sarah mengambil blush on, menyapukan warna lembut ke pipi Reina. Setelah itu, ia menyisir rambut Reina, membuatnya sedikit bergelombang, lalu menyematkan jepit berbentuk bunga kecil di sisi kiri rambutnya. "Ini, selesai. Sekarang lihat lagi," kata Sarah sambil melangkah mundur. Reina memandangi bayangannya di cermin dan tersenyum lebar. "Wah, Kak Sarah, aku seperti princess!" Sarah tertawa kecil, merasa puas dengan hasilnya. "Putri yang paling cantik malam ini," katany

  • Daddy Sitter   14. Kedatangan Oma Claudia

    Siang itu, Daniel berdiri di area kedatangan bandara, matanya sesekali melirik layar monitor. Penerbangan dari Belanda baru saja mendarat, dan ia menunggu dengan sabar di antara kerumunan penjemput lainnya.Tak lama kemudian, pintu kedatangan internasional terbuka. Daniel berdiri lebih tegap, matanya mencari sosok yang sangat dikenalnya. Lalu, ia melihat ibunya, seorang wanita paruh baya dengan rambut beruban yang tertata rapi dan senyum hangat di wajahnya.“Mom!” panggil Daniel sambil melambaikan tangan.Ny. Claudia balas tersenyum, mempercepat langkahnya mendekati putranya. "Daniel, sayang!"Mereka saling berpelukan erat. “Aku merindukanmu, Mom,” ucap Daniel dengan suara lembut.“Mom juga merindukanmu. Dan tentu saja, Reina. Bagaimana cucuku yang manis?”“Dia baik, sangat bersemangat untuk ulang tahunnya. Dia akan sangat senang melihat Ibu,” kata Daniel sambil mengambil koper besar dari tangan ibunya.“Oh, aku tidak sabar untuk memeluknya. Dia pasti tumbuh semakin cantik,” ujar Ny.

  • Daddy Sitter   13. Ulang tahun Reina

    Setelah sampai di rumah, Daniel dan Sarah segera bergegas ke dapur untuk mempersiapkan kejutan ulang tahun Reina. Langkah pertama yang mereka lakukan adalah membuat kue ulang tahun. Dengan semangat, Sarah mulai mencampurkan bahan-bahan di mangkuk besar. Ia menghidupkan mixer dan melihat adonan berputar. Sesekali, ia mencolek adonan yang menempel di dinding mangkuk dan merasakan teksturnya. "Bagaimana, Pak?" tanyanya dengan penuh semangat, mengharapkan pujian.Tanpa menjawab, Daniel mendekat dan membawa jari Sarah yang terkena adonan ke mulutnya. "Saya rasa sudah pas," katanya dengan nada serius, namun dengan senyuman di wajahnya.Sarah terkejut dan mendapati dirinya tersipu. "Ahh.. iya pak," jawabnya gugup, padahal bukan itu yang ingin ia tanyakan. Dia terdiam sejenak, merasakan detak jantungnya berdegup kencang."Sarah, saya akan memompa balon. Kamu lanjutkan saja cakenya," kata Daniel sambil mundur sedikit untuk memberikan ruang.Sarah mengangguk, lalu memasukkan adonan kue ke dala

  • Daddy Sitter   12. Persiapan ulang tahun Reina

    Pagi itu, suasana rumah masih sunyi ketika Daniel sudah berada di dapur. Sarah berdiri di depan kompor, mengaduk masakan dengan gerakan teratur. Aroma hangat menyebar, membuat pagi terasa lebih hidup. "Sarah..." panggil Daniel pelan. Sarah menoleh. "Ya, Pak?" Daniel mendekat beberapa langkah, lalu menurunkan suaranya. "Besok Reina ulang tahun. Saya ingin menyiapkan kejutan tengah malam." Ekspresi Sarah langsung berubah cerah. "Benarkah? Wah... tentu, Pak. Saya akan bantu. Apa rencananya?" "Kita buat sederhana saja. Kue, dekorasi kecil di ruang tamu. Reina tidak suka yang berlebihan, tapi dia selalu menghargai hal yang tulus." Sarah mengangguk dengan semangat. "Kalau begitu, izinkan saya membuat kuenya. Saya ingin membuat yang spesial untuknya." Daniel memperhatikan Sarah sejenak, lalu tersenyum tipis. "Baik. Nanti siang kita beli bahan-bahannya." "Reina pasti akan sangat senang," ucap Sarah dengan tulus. Suara langkah kaki terdengar dari lantai atas, membuat percakapan merek

  • Daddy Sitter   11. Tidur Bersama

    Reina menarik tangan Daniel yang sedang berada di ruang kerja. "Dad, ayo temani aku nonton film horor!" serunya penuh semangat. Meskipun tahu betapa takutnya Reina terhadap film-film menegangkan, rasa penasarannya selalu lebih besar. "Reina, nanti kamu ketakutan, lho," balas Daniel sambil tertawa kecil. "Tidak, Dad! Aku sudah besar. Aku bisa kok!" jawab Reina percaya diri, meski ia sendiri tahu bahwa ia adalah penakut. Dengan senyuman, Daniel mengangguk dan mengikuti Reina. Setibanya di sana, Reina segera mengambil remote TV dan mempersiapkan film horor yang sudah dipilihnya. "Sebentar, Dad! Aku mau mengajak Kak Sarah biar lebih seru," katanya. Reina melesat ke kamar sarah, Reina berdiri di depan pintu kamar Sarah dengan senyum penuh antusias. "Kak Sarah, ayo ikut nonton film horor!" ajaknya, suaranya bersemangat meskipun mata Sarah terlihat sedikit ragu. "Eh... tapi, non Reina... saya nggak terlalu suka film horor," jawab Sarah sambil tersenyum kecut. "Ah, nggak apa-apa,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status