Home / Romansa / Daddy Sitter / 2. Sarah Datang

Share

2. Sarah Datang

Author: Bianca bee
last update publish date: 2026-04-28 16:43:52

Setelah menerima telepon dari Mbak Rika, tetangganya yang bekerja sebagai pembantu di rumah Daniel, Sarah langsung memutuskan untuk berangkat keesokan harinya. Perjalanan dari desanya ke kota memakan waktu 7 jam, dan Sarah akhirnya tiba di sebuah perumahan mewah yang membuatnya sedikit terkesima. Rumah besar dengan taman yang rapi di depannya membuat Sarah merasa sedikit gugup, namun ia tetap percaya diri.

Dengan nafas yang dalam, Sarah melangkah ke pintu depan dan menekan bel. Pintu besar itu terbuka, memperlihatkan Bi Rika yang tersenyum lebar menyambutnya.

"Sarah, akhirnya sampai juga! Perjalanan panjang ya," kata Bi Rika dengan ramah sambil mempersilakan Sarah masuk.

Sarah tersenyum sambil mengangguk. "Iya, Mbak. Lumayan juga, tapi saya senang bisa sampai di sini."

Setelah memasuki rumah yang luas dan elegan, Bi Rika memanggil,

"Non Reina, Sarah-nya sudah datang!"

Tak lama kemudian, dari lantai atas, terdengar langkah kaki yang ringan. Reina muncul di tangga dengan senyum ceria di wajahnya.

Gadis remaja berusia 17 tahun itu tampak hangat dan penuh semangat, jelas berbeda dari kesan serius yang sering terpancar darinya.

"Halo Kak Sarah!" serunya dengan penuh antusias sambil turun menuruni tangga. "Selamat datang, Aku Reina."

Sarah tersenyum lebih lebar melihat sambutan hangat Reina. "Terima kasih non Reina."

Reina memperhatikan Sarah dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Penampilan Sarah yang sedikit terbuka, dengan pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, tampak menarik bagi Reina. Dalam

hati, Reina berpikir, penampilan ini sepertinya cocok untuk melihat apakah ayahnya, Daniel, masih tertarik pada lawan jenis.

Reina lalu mengajak Sarah duduk di ruang tamu. "Jadi, Kak Sarah, ceritakan sedikit tentang dirimu. Apa saja pengalaman Kakak sebelumnya?" tanyanya dengan nada ceria namun penuh rasa ingin tahu.

Sarah mengatur duduknya dan mulai menceritakan latar belakangnya, dari kehidupan di desa hingga pekerjaannya sebagai biduan. Reina mendengarkan dengan penuh perhatian, mencoba menilai apakah Sarah akan cocok untuk menjadi pengasuh sekaligus penggembira hati ayahnya yang kesepian.

Sementara itu, Bi Rika berdiri di sudut, mengamati interaksi antara Sarah dan Reina dengan senyum tersirat, merasa lega bahwa pertemuan awal ini berlangsung dengan baik. Bagi Reina, ini adalah langkah pertama dalam rencananya untuk membawa kebahagiaan kembali ke kehidupan ayahnya.

Sarah juga menjelaskan bahwa setelah ibunya meninggal, dia harus mengambil peran sebagai pengasuh bagi adiknya yang masih bayi.

Pengalaman itulah yang membuatnya terampil dalam merawat dan memperhatikan orang lain, terutama anak-anak.

"Saya jadi terbiasa mengurus adik saya sejak kecil, mengurus bayi memang butuh banyak kesabaran, tapi saya senang melakukannya," ujar Sarah dengan lembut, mengenang masa lalunya.

Reina tersenyum mendengar cerita Sarah, tetapi senyumnya perlahan berubah menjadi tawa kecil. Sarah, yang sedikit bingung, mengernyitkan alisnya dan bertanya, "Non Reina, umur berapa adik bayi yang akan saya jaga di sini?"

Reina tak bisa menahan tawanya lagi dan tertawa lebih keras. Melihat ekspresi kebingungan di wajah Sarah, dia akhirnya menjawab sambil mencoba menahan tawa, "Bukan bayi, Kak Sarah, tapi 'bayi besar'." Sarah terdiam sejenak, jelas masih belum mengerti. Reina kemudian menjelaskan dengan senyum di wajahnya, "Daddyku, Namanya Daniel, dialah 'bayi besar' yang kamu akan jaga. Aku menyebutnya begitu karena kadang dia seperti anak kecil yang butuh banyak perhatian."

Sarah pun tersenyum lega, akhirnya memahami maksud Reina. "Oh, begitu... Saya kira saya akan mengurus bayi sungguhan," kata Sarah sambil tertawa kecil.

Reina mengangguk sambil masih tersenyum. "Tenang saja, Kak. Daddy memang kadang butuh perhatian ekstra, tapi dia orang yang baik. Saya yakin kamu akan cocok dengan pekerjaan ini."

Dengan itu, suasana menjadi lebih santai, dan Sarah mulai merasa lebih nyaman di rumah baru ini, sementara Reina merasa semakin yakin bahwa Sarah adalah pilihan yang tepat untuk menjaga ayahnya.

Setelah beberapa saat mengobrol di ruang tamu, Reina mengajak Sarah untuk berkeliling rumah. Mereka melewati beberapa ruangan, dan Reina mulai menjelaskan berbagai hal tentang rutinitas Daddynya,

Daniel.

"Di sini adalah ruang kerja Daddy" kata Reina sambil menunjukkan ruangan besar dengan meja kerja yang penuh dengan dokumen dan komputer. "Daddy biasanya menghabiskan waktu di sini sampai larut malam, jadi dia sering lupa waktu."

Sarah mengangguk, menyimak penjelasan Reina. "Bagaimana dengan makanannya?"

Reina menjelaskan, "Daddy jarang pulang untuk makan siang, kecuali saat hari libur. Jadi, tugas kamu hanya untuk menyiapkan sarapan dan makan malam. Biasanya dia lebih suka makanan yang sederhana, tapi sekali-sekali bisa juga memasak sesuatu yang istimewa."

Mereka melanjutkan tur ke dapur, di mana Reina menunjukkan berbagai makanan dan minuman yang ada. "Ini stok makanan yang biasanya ada di rumah. Kalau ada yang kurang, tolong kak Sarah beri tahu saya."

Selanjutnya, Reina menunjukkan kamar tidur Daddynya. "Oh, dan ada beberapa kebiasaan Daddy yang perlu kak Sarah perhatikan. Dia suka terlambat bangun, jadi kamu perlu membangunkannya sekitar jam 6 pagi. Caranya adalah dengan halus, seperti elusan lembut di dadanya untuk membangunkannya dengan lembut."

Sarah mencatat dengan seksama. Reina melanjutkan, "Daddy juga suka pijat setelah seharian bekerja keras. Dia sering merasa lelah dan butuh relaksasi."

Reina menunjukkan pakaian ayahnya yang tergantung rapi di lemari.

"Oh, dan satu hal lagi—Daddy tidak bisa memasang dasi sendiri, jadi kak Sarah harus membantunya dengan itu. Pastikan pakaiannya siap sebelum dia keluar dari kamar."

Sarah mengangguk, merasa semakin siap menghadapi tantangan baru ini. Namun, Reina menambahkan dengan senyum misterius, "Satu hal terakhir, Daddy suka pelukan. Ini mungkin agak pribadi, tapi dia merasa lebih nyaman dan hangat ketika ada seseorang yang memeluknya."

Sarah tampak sedikit terkejut, tetapi Reina hanya tersenyum lebar. Ada beberapa hal yang Reina ubah dari yang seharusnya. Reina penasaran bagaimana reaksi daddynya akan melihat Sarah melakukan semua itu.

Harapannya, Sarah bisa membuatnya merasa lebih bahagia Reina melirik ke arah Sarah dengan tatapan penuh harapan, sementara Sarah merasa lebih siap dan penasaran tentang bagaimana semuanya akan berjalan. Dengan itu, mereka kembali ke ruang tamu, siap untuk melanjutkan persiapan Sarah untuk memulai tugas barunya di rumah Daniel.

Malam hari pukul 7, Daniel pulang dari kantor dengan kelelahan yang jelas terlihat di wajahnya. Setelah membuka pintu depan, dia langsung merasakan suasana sepi di rumah. Biasanya, Reina sudah ada di rumah dan mungkin sedang menunggu di kamarnya. Saat Daniel melewati ruang keluarga, dia terkejut melihat seseorang

yang asing berdiri membelakangi pintu dapur, sedang memasak.

Wanita itu mengenakan pakaian ketat yang sedikit terbuka, dan rambut panjangnya tampak berkilau dalam cahaya lampu dapur.

"Siapa kamu?" tanya Daniel dengan nada agak tegas, merasa sedikit tidak nyaman dengan kehadiran yang tiba-tiba ini.

Sarah yang terkejut mendengar suara Daniel, segera berbalik. Melihat seorang pria tampan dalam pakaian kerja yang tampaknya sangat kelelahan, dia merasa cemas.

"Eh, maaf, saya Sarah," jawabnya, mencoba menenangkan situasi.

"Saya di sini sebagai pengasuhnya Daddy Reina."

Daniel terlihat terkejut mendengar penjelasan Sarah. Dengan frustasi, dia berlalu menuju kamar Reina. Sesampainya di depan kamar Reina, dia mengetuk pintu dengan keras.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Daddy Sitter   7. Perhatian Daniel yang Tak Terduga

    Pada hari Minggu, suasana rumah Daniel terasa sedikit berbeda. Reina seperti biasa berpamitan riang sebelum pergi berenang bersama teman-temannya. Dengan tas besar di pundaknya, ia tersenyum pada Sarah yang berdiri di dekat pintu. “Kak Sarah, aku pamit dulu ya. Nanti sore baru pulang,” ucap Reina ceria sambil melambaikan tangan. Sarah membalas dengan senyum lembut, “Hati-hati, Non Reina.” Setelah Reina pergi, rumah menjadi sepi. Hanya ada Sarah dan Daniel karena Bi Rika sedang libur mingguan untuk berkumpul dengan keluarganya. Kesadaran bahwa mereka hanya berdua membuat Sarah sedikit gugup, meski ia tetap berusaha menjalankan tugas seperti biasa. Ia mulai beranjak ke dapur untuk menyiapkan makan siang, tetapi tubuhnya mulai terasa tidak enak. Nyeri haid hari pertama mulai datang, membuatnya beberapa kali memegangi perut sambil tetap berusaha bekerja di depan meja dapur. Di ruang keluarga, Daniel memperhatikan dari kejauhan. Ia melihat Sarah tampak pucat dan sering berhenti bergerak,

  • Daddy Sitter   6. Ketika Kendali Mulai Retak

    Dengan lembut, Daniel memegang tangan Sarah yang masih berada di bahunya, mencoba menghentikan sentuhan itu. "Kau bisa kembali tidur, Sarah" ucapnya dengan suara yang nyaris berbisik, berusaha menenangkan dirinya sendiri dan mengembalikan situasi menjadi lebih normal.Sarah menarik tangannya dengan perlahan, menyadari bahwa mungkin ia sudah melampaui batas. "Maaf, Pak. Saya hanya ingin membantu" katanya pelan, menundukkan kepala sebelum mundur perlahan menuju pintu.Sementara itu, Daniel tetap duduk di kursinya, jantungnya berdebar kencang, masih terguncang oleh keintiman yang baru saja terjadi.Sarah keluar dari ruang kerja dengan raut wajah kecewa, dan Daniel bisa merasakan hal itu.Dia bukan tidak menghargai perhatian dan bantuan Sarah, namun ada sesuatu yang tidak bisa dikendalikannya- sesuatu di dalam dirinya yang mulai bangkit, terutama di bawah sana. Pikirannya tak henti-hentinya terjebak pada sentuhan lembut Sarah, bagaimana tangannya menyentuh dan meremas bahunya dengan kehang

  • Daddy Sitter   5. Ketika Kedekatan Mulai Berubah

    Tangan Daniel secara alami berada di punggung Sarah, sementara tangan satunya memeluk Reina dan Milo.Sarah merasakan kehangatan tangan Daniel di punggungnya, sebuah sentuhan yang membuatnya merasa nyaman namun juga membuat jantungnya berdebar.Di sisi lain, Daniel juga merasakan kehangatan yang sama, menyadari betapa berbeda dan mendalamnya momen ini dibandingkan dengan pelukan biasa antara dia dan putrinya.Dalam pelukan itu, mereka berdua saling merasakan kehangatan dan keterhubungan yang belum pernah mereka alami sebelumnya.Walaupun awalnya pelukan ini terasa canggung, dalam beberapa detik, semuanya menjadi lebih alami dan sarat dengan kehangatan yang membuat mereka merasa aneh sekaligus nyaman.Reina yang berada di tengah tersenyum kecil, mengetahui bahwa usahanya untuk mendekatkan mereka perlahan-lahan mulai berhasil.Setelah satu menit berpelukan, Daniel membisikkan lembut, "Sudah satu menit." Dia lalu melepaskan tangannya, dan suasana menjadi canggung kembali. Baik Daniel maup

  • Daddy Sitter   4. Pagi yang Mengubah Batas Rumah Daniel

    Pagi itu, Sarah sudah bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan. Dengan teliti, ia membuat roti dengan telur mata sapi dan menyeduh kopi untuk Daniel, sementara susu coklat sudah disiapkan untuk Reina. Namun, ketika melihat jam menunjukkan pukul 6, Sarah mulai khawatir karena belum ada yang keluar dari kamar. Sarah berjalan menuju kamar Daniel dan mengetuk pintunya dengan hati-hati. Tidak ada jawaban. Merasa ragu, dia mencoba memutar gagang pintu, dan ternyata pintu itu tidak terkunci. Dengan perasaan cemas, Sarah memberanikan diri untuk masuk. Kamar itu masih gelap, dan Sarah melihat bahwa Daniel masih tertidur di atas kasur, hanya tertutup selimut hingga sebatas dadanya. Cahaya pagi mulai masuk setelah Sarah membuka tirai, tetapi Daniel tampaknya masih terlelap dan tidak terganggu oleh cahaya tersebut. Dengan ragu-ragu, Sarah mendekat ke kasur, matanya tertuju pada tubuh Daniel yang terlihat gagah di balik selimut. Dia ingat instruksi Reina bahwa jika Daniel tidak bang

  • Daddy Sitter   3. Awal yang Canggung di Rumah Daniel

    Di dalam kamar, Reina sedang membersihkan masker wajah, mempersiapkan dirinya untuk waktu santai. Mendengar ketukan yang keras, dia tahu bahwa pertemuan antara Daniel dan Sarah tidak berjalan dengan baik. Reina membuka pintu dan melihat ayahnya yang tampak sangat kesal. Dengan cepat, Reina melangkah keluar dan memeluk Daniel untuk menenangkan emosinya. "Daddy, tenanglah. Kak Sarah di sini untuk membantu. Aku sedang melakukan kegiatan di luar rumah, dan dia akan memastikan Daddy tidak merasa kesepian." Daniel terlihat sedikit lebih tenang dengan pelukan Reina, tetapi masih tampak bingung dan frustasi. Reina melanjutkan, "Oma juga sudah setuju dengan keputusan ini. Kak Sarah akan membantu kita di rumah, dan aku yakin dia akan cocok dengan pekerjaan ini." Daniel memijat kepalanya, merasa tertekan dengan situasi yang mendadak ini. Meskipun masih merasa tidak nyaman, dia akhirnya mulai memahami alasan di balik keputusan Reina dan setuju untuk memberinya kesempatan. Dengan itu, R

  • Daddy Sitter   2. Sarah Datang

    Setelah menerima telepon dari Mbak Rika, tetangganya yang bekerja sebagai pembantu di rumah Daniel, Sarah langsung memutuskan untuk berangkat keesokan harinya. Perjalanan dari desanya ke kota memakan waktu 7 jam, dan Sarah akhirnya tiba di sebuah perumahan mewah yang membuatnya sedikit terkesima. Rumah besar dengan taman yang rapi di depannya membuat Sarah merasa sedikit gugup, namun ia tetap percaya diri. Dengan nafas yang dalam, Sarah melangkah ke pintu depan dan menekan bel. Pintu besar itu terbuka, memperlihatkan Bi Rika yang tersenyum lebar menyambutnya. "Sarah, akhirnya sampai juga! Perjalanan panjang ya," kata Bi Rika dengan ramah sambil mempersilakan Sarah masuk. Sarah tersenyum sambil mengangguk. "Iya, Mbak. Lumayan juga, tapi saya senang bisa sampai di sini." Setelah memasuki rumah yang luas dan elegan, Bi Rika memanggil, "Non Reina, Sarah-nya sudah datang!" Tak lama kemudian, dari lantai atas, terdengar langkah kaki yang ringan. Reina muncul di tangga deng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status