LOGINSetelah menerima telepon dari Mbak Rika, tetangganya yang bekerja sebagai pembantu di rumah Daniel, Sarah langsung memutuskan untuk berangkat keesokan harinya. Perjalanan dari desanya ke kota memakan waktu 7 jam, dan Sarah akhirnya tiba di sebuah perumahan mewah yang membuatnya sedikit terkesima. Rumah besar dengan taman yang rapi di depannya membuat Sarah merasa sedikit gugup, namun ia tetap percaya diri.
Dengan nafas yang dalam, Sarah melangkah ke pintu depan dan menekan bel. Pintu besar itu terbuka, memperlihatkan Bi Rika yang tersenyum lebar menyambutnya. "Sarah, akhirnya sampai juga! Perjalanan panjang ya," kata Bi Rika dengan ramah sambil mempersilakan Sarah masuk. Sarah tersenyum sambil mengangguk. "Iya, Mbak. Lumayan juga, tapi saya senang bisa sampai di sini." Setelah memasuki rumah yang luas dan elegan, Bi Rika memanggil, "Non Reina, Sarah-nya sudah datang!" Tak lama kemudian, dari lantai atas, terdengar langkah kaki yang ringan. Reina muncul di tangga dengan senyum ceria di wajahnya. Gadis remaja berusia 17 tahun itu tampak hangat dan penuh semangat, jelas berbeda dari kesan serius yang sering terpancar darinya. "Halo Kak Sarah!" serunya dengan penuh antusias sambil turun menuruni tangga. "Selamat datang, Aku Reina." Sarah tersenyum lebih lebar melihat sambutan hangat Reina. "Terima kasih non Reina." Reina memperhatikan Sarah dari ujung rambut hingga ujung kaki. Penampilan Sarah yang sedikit terbuka, dengan pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, tampak menarik bagi Reina. Dalam hati, Reina berpikir, penampilan ini sepertinya cocok untuk melihat apakah ayahnya, Daniel, masih tertarik pada lawan jenis. Reina lalu mengajak Sarah duduk di ruang tamu. "Jadi, Kak Sarah, ceritakan sedikit tentang dirimu. Apa saja pengalaman Kakak sebelumnya?" tanyanya dengan nada ceria namun penuh rasa ingin tahu. Sarah mengatur duduknya dan mulai menceritakan latar belakangnya, dari kehidupan di desa hingga pekerjaannya sebagai biduan. Reina mendengarkan dengan penuh perhatian, mencoba menilai apakah Sarah akan cocok untuk menjadi pengasuh sekaligus penggembira hati ayahnya yang kesepian. Sementara itu, Bi Rika berdiri di sudut, mengamati interaksi antara Sarah dan Reina dengan senyum tersirat, merasa lega bahwa pertemuan awal ini berlangsung dengan baik. Bagi Reina, ini adalah langkah pertama dalam rencananya untuk membawa kebahagiaan kembali ke kehidupan ayahnya. Sarah juga menjelaskan bahwa setelah ibunya meninggal, dia harus mengambil peran sebagai pengasuh bagi adiknya yang masih bayi. Pengalaman itulah yang membuatnya terampil dalam merawat dan memperhatikan orang lain, terutama anak-anak. "Saya jadi terbiasa mengurus adik saya sejak kecil, mengurus bayi memang butuh banyak kesabaran, tapi saya senang melakukannya," ujar Sarah dengan lembut, mengenang masa lalunya. Reina tersenyum mendengar cerita Sarah, tetapi senyumnya perlahan berubah menjadi tawa kecil. Sarah, yang sedikit bingung, mengernyitkan alisnya dan bertanya, "Non Reina, umur berapa adik bayi yang akan saya jaga di sini?" Reina tak bisa menahan tawanya lagi dan tertawa lebih keras. Melihat ekspresi kebingungan di wajah Sarah, dia akhirnya menjawab sambil mencoba menahan tawa, "Bukan bayi, Kak Sarah, tapi 'bayi besar'." Sarah terdiam sejenak, jelas masih belum mengerti. Reina kemudian menjelaskan dengan senyum di wajahnya, "Daddyku, Namanya Daniel, dialah 'bayi besar' yang kamu akan jaga. Aku menyebutnya begitu karena kadang dia seperti anak kecil yang butuh banyak perhatian." Sarah pun tersenyum lega, akhirnya memahami maksud Reina. "Oh, begitu... Saya kira saya akan mengurus bayi sungguhan," kata Sarah sambil tertawa kecil. Reina mengangguk sambil masih tersenyum. "Tenang saja, Kak. Daddy memang kadang butuh perhatian ekstra, tapi dia orang yang baik. Saya yakin kamu akan cocok dengan pekerjaan ini." Dengan itu, suasana menjadi lebih santai, dan Sarah mulai merasa lebih nyaman di rumah baru ini, sementara Reina merasa semakin yakin bahwa Sarah adalah pilihan yang tepat untuk menjaga ayahnya. Setelah beberapa saat mengobrol di ruang tamu, Reina mengajak Sarah untuk berkeliling rumah. Mereka melewati beberapa ruangan, dan Reina mulai menjelaskan berbagai hal tentang rutinitas Daddynya, Daniel. "Di sini adalah ruang kerja Daddy" kata Reina sambil menunjukkan ruangan besar dengan meja kerja yang penuh dengan dokumen dan komputer. "Daddy biasanya menghabiskan waktu di sini sampai larut malam, jadi dia sering lupa waktu." Sarah mengangguk, menyimak penjelasan Reina. "Bagaimana dengan makanannya?" Reina menjelaskan, "Daddy jarang pulang untuk makan siang, kecuali saat hari libur. Jadi, tugas kamu hanya untuk menyiapkan sarapan dan makan malam. Biasanya dia lebih suka makanan yang sederhana, tapi sekali-sekali bisa juga memasak sesuatu yang istimewa." Mereka melanjutkan tur ke dapur, di mana Reina menunjukkan berbagai makanan dan minuman yang ada. "Ini stok makanan yang biasanya ada di rumah. Kalau ada yang kurang, tolong kak Sarah beri tahu saya." Selanjutnya, Reina menunjukkan kamar tidur Daddynya. "Oh, dan ada beberapa kebiasaan Daddy yang perlu kak Sarah perhatikan. Dia suka terlambat bangun, jadi kamu perlu membangunkannya sekitar jam 6 pagi. Caranya adalah dengan halus, seperti elusan lembut di dadanya untuk membangunkannya dengan lembut." Sarah mencatat dengan seksama. Reina melanjutkan, "Daddy juga suka pijat setelah seharian bekerja keras. Dia sering merasa lelah dan butuh relaksasi." Reina menunjukkan pakaian ayahnya yang tergantung rapi di lemari. "Oh, dan satu hal lagi—Daddy tidak bisa memasang dasi sendiri, jadi kak Sarah harus membantunya dengan itu. Pastikan pakaiannya siap sebelum dia keluar dari kamar." Sarah mengangguk, merasa semakin siap menghadapi tantangan baru ini. Namun, Reina menambahkan dengan senyum misterius, "Satu hal terakhir, Daddy suka pelukan. Ini mungkin agak pribadi, tapi dia merasa lebih nyaman dan hangat ketika ada seseorang yang memeluknya." Sarah tampak sedikit terkejut, tetapi Reina hanya tersenyum lebar. Ada beberapa hal yang Reina ubah dari yang seharusnya. Reina penasaran bagaimana reaksi daddynya akan melihat Sarah melakukan semua itu. Harapannya, Sarah bisa membuatnya merasa lebih bahagia Reina melirik ke arah Sarah dengan tatapan penuh harapan, sementara Sarah merasa lebih siap dan penasaran tentang bagaimana semuanya akan berjalan. Dengan itu, mereka kembali ke ruang tamu, siap untuk melanjutkan persiapan Sarah untuk memulai tugas barunya di rumah Daniel. Malam hari pukul 7, Daniel pulang dari kantor dengan kelelahan yang jelas terlihat di wajahnya. Setelah membuka pintu depan, dia langsung merasakan suasana sepi di rumah. Biasanya, Reina sudah ada di rumah dan mungkin sedang menunggu di kamarnya. Saat Daniel melewati ruang keluarga, dia terkejut melihat seseorang yang asing berdiri membelakangi pintu dapur, sedang memasak. Wanita itu mengenakan pakaian ketat yang sedikit terbuka, dan rambut panjangnya tampak berkilau dalam cahaya lampu dapur. "Siapa kamu?" tanya Daniel dengan nada agak tegas, merasa sedikit tidak nyaman dengan kehadiran yang tiba-tiba ini. Sarah yang terkejut mendengar suara Daniel, segera berbalik. Melihat seorang pria tampan dalam pakaian kerja yang tampaknya sangat kelelahan, dia merasa cemas. "Eh, maaf, saya Sarah," jawabnya, mencoba menenangkan situasi. "Saya di sini sebagai pengasuhnya Daddy Reina." Daniel terlihat terkejut mendengar penjelasan Sarah. Dengan frustasi, dia berlalu menuju kamar Reina. Sesampainya di depan kamar Reina, dia mengetuk pintu dengan keras.Di ruang TV, suasana terasa tenang dengan cahaya lampu yang hangat, menyorot wajah Daniel dan ibunya, Claudia, yang duduk berdampingan di sofa. Reina sudah kembali ke kamar, begitu juga dengan Sarah yang memilih untuk menyendiri sejenak. Claudia, yang masih memandangi Daniel dengan perhatian, membuka percakapan dengan suara lembut, "Bagaimana perasaanmu, Son?" Daniel menatap layar TV sejenak, mencoba merangkai kata-kata sebelum akhirnya menjawab, "Aku baik-baik saja, Mom." Claudia mengamati anaknya dengan pandangan penuh kasih, melihat perasaan campur aduk yang sulit disembunyikan. "Apakah sulit merawat Reina sendirian?" tanya Claudia, suaranya dipenuhi kekhawatiran. "Kau tahu, setelah kepergian itu, aku bisa bayangkan betapa beratnya." Daniel tersenyum tipis, meski ada sedikit kelelahan di matanya. "Tidak, Mom," jawabnya mantap, "Reina anak yang baik dan penurut. Dia tidak banyak meminta, dan kami bisa beradaptasi. Aku rasa kami baik-baik saja." Claudia mengangguk, terlihat leg
Hari ini adalah hari istimewa untuk Reina, pesta ulang tahunnya diadakan di sebuah kafe yang sudah dihias dengan meriah. Di kamar Reina, Sarah sibuk membantu gadis itu berdandan. Reina tampak antusias, wajahnya ceria, namun ada sedikit gugup di matanya. "Kak Sarah, aku terlihat cantik, nggak?" tanya Reina sambil memutar tubuhnya di depan cermin. Sarah tersenyum lembut, menata rambut panjang Reina yang jatuh tergerai. "Kamu sudah cantik dari sananya, Reina. Tapi biar kakak tambahkan sedikit sentuhan lagi, ya." Sarah mengambil blush on, menyapukan warna lembut ke pipi Reina. Setelah itu, ia menyisir rambut Reina, membuatnya sedikit bergelombang, lalu menyematkan jepit berbentuk bunga kecil di sisi kiri rambutnya. "Ini, selesai. Sekarang lihat lagi," kata Sarah sambil melangkah mundur. Reina memandangi bayangannya di cermin dan tersenyum lebar. "Wah, Kak Sarah, aku seperti princess!" Sarah tertawa kecil, merasa puas dengan hasilnya. "Putri yang paling cantik malam ini," katany
Siang itu, Daniel berdiri di area kedatangan bandara, matanya sesekali melirik layar monitor. Penerbangan dari Belanda baru saja mendarat, dan ia menunggu dengan sabar di antara kerumunan penjemput lainnya.Tak lama kemudian, pintu kedatangan internasional terbuka. Daniel berdiri lebih tegap, matanya mencari sosok yang sangat dikenalnya. Lalu, ia melihat ibunya, seorang wanita paruh baya dengan rambut beruban yang tertata rapi dan senyum hangat di wajahnya.“Mom!” panggil Daniel sambil melambaikan tangan.Ny. Claudia balas tersenyum, mempercepat langkahnya mendekati putranya. "Daniel, sayang!"Mereka saling berpelukan erat. “Aku merindukanmu, Mom,” ucap Daniel dengan suara lembut.“Mom juga merindukanmu. Dan tentu saja, Reina. Bagaimana cucuku yang manis?”“Dia baik, sangat bersemangat untuk ulang tahunnya. Dia akan sangat senang melihat Ibu,” kata Daniel sambil mengambil koper besar dari tangan ibunya.“Oh, aku tidak sabar untuk memeluknya. Dia pasti tumbuh semakin cantik,” ujar Ny.
Setelah sampai di rumah, Daniel dan Sarah segera bergegas ke dapur untuk mempersiapkan kejutan ulang tahun Reina. Langkah pertama yang mereka lakukan adalah membuat kue ulang tahun. Dengan semangat, Sarah mulai mencampurkan bahan-bahan di mangkuk besar. Ia menghidupkan mixer dan melihat adonan berputar. Sesekali, ia mencolek adonan yang menempel di dinding mangkuk dan merasakan teksturnya. "Bagaimana, Pak?" tanyanya dengan penuh semangat, mengharapkan pujian.Tanpa menjawab, Daniel mendekat dan membawa jari Sarah yang terkena adonan ke mulutnya. "Saya rasa sudah pas," katanya dengan nada serius, namun dengan senyuman di wajahnya.Sarah terkejut dan mendapati dirinya tersipu. "Ahh.. iya pak," jawabnya gugup, padahal bukan itu yang ingin ia tanyakan. Dia terdiam sejenak, merasakan detak jantungnya berdegup kencang."Sarah, saya akan memompa balon. Kamu lanjutkan saja cakenya," kata Daniel sambil mundur sedikit untuk memberikan ruang.Sarah mengangguk, lalu memasukkan adonan kue ke dala
Pagi itu, suasana rumah masih sunyi ketika Daniel sudah berada di dapur. Sarah berdiri di depan kompor, mengaduk masakan dengan gerakan teratur. Aroma hangat menyebar, membuat pagi terasa lebih hidup. "Sarah..." panggil Daniel pelan. Sarah menoleh. "Ya, Pak?" Daniel mendekat beberapa langkah, lalu menurunkan suaranya. "Besok Reina ulang tahun. Saya ingin menyiapkan kejutan tengah malam." Ekspresi Sarah langsung berubah cerah. "Benarkah? Wah... tentu, Pak. Saya akan bantu. Apa rencananya?" "Kita buat sederhana saja. Kue, dekorasi kecil di ruang tamu. Reina tidak suka yang berlebihan, tapi dia selalu menghargai hal yang tulus." Sarah mengangguk dengan semangat. "Kalau begitu, izinkan saya membuat kuenya. Saya ingin membuat yang spesial untuknya." Daniel memperhatikan Sarah sejenak, lalu tersenyum tipis. "Baik. Nanti siang kita beli bahan-bahannya." "Reina pasti akan sangat senang," ucap Sarah dengan tulus. Suara langkah kaki terdengar dari lantai atas, membuat percakapan merek
Reina menarik tangan Daniel yang sedang berada di ruang kerja. "Dad, ayo temani aku nonton film horor!" serunya penuh semangat. Meskipun tahu betapa takutnya Reina terhadap film-film menegangkan, rasa penasarannya selalu lebih besar. "Reina, nanti kamu ketakutan, lho," balas Daniel sambil tertawa kecil. "Tidak, Dad! Aku sudah besar. Aku bisa kok!" jawab Reina percaya diri, meski ia sendiri tahu bahwa ia adalah penakut. Dengan senyuman, Daniel mengangguk dan mengikuti Reina. Setibanya di sana, Reina segera mengambil remote TV dan mempersiapkan film horor yang sudah dipilihnya. "Sebentar, Dad! Aku mau mengajak Kak Sarah biar lebih seru," katanya. Reina melesat ke kamar sarah, Reina berdiri di depan pintu kamar Sarah dengan senyum penuh antusias. "Kak Sarah, ayo ikut nonton film horor!" ajaknya, suaranya bersemangat meskipun mata Sarah terlihat sedikit ragu. "Eh... tapi, non Reina... saya nggak terlalu suka film horor," jawab Sarah sambil tersenyum kecut. "Ah, nggak apa-apa,







