Share

57. Happy Ending?

Penulis: Shyneko
last update Tanggal publikasi: 2026-08-08 22:29:25

“Aku nggak akan berubah, aku bisa janjiin itu kalau kamu mau,” ucapku berusaha meyakinkannya, memecah keheningan yang menggantung di antara kami.

Jujur aku sendiri tidak tahu bagaimana meyakinkan Bara yang ternyata selama ini menyimpan trauma, kata-kata saja tentu tidak cukup untuk meyakinkannya.

Tapi semuanya terasa buntu, hanya waktu yang bisa membuktikan kalau janjiku padanya benar.

“Hatiku nggak pernah pergi atau berpindah dari kamu, Bara. Dari dulu sampai sekarang nggak pernah berubah,” la
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   63. Mencari Tahu

    Hanya butuh tiga hari bagi detektif profesional itu untuk melakukan tugasnya.Siang itu ponselku bergetar pelan tanda satu email masuk, aku yang sebelumnya sedang duduk dengan bosan bersama Ibu Seno yang terus menceramahiku soal anak langsung duduk tegak.“Ibu, aku harus kembali ke kamar,” ucapku memotong ocehannya yang tidak habis-habis.“Heh! Ibu belum selesai ngomong, ya. Tips yang baru aku dapat ini penting banget biar kamu cepat hamil.” Dia mengangkat tangan memberi instruksi agar aku tidak pergi kemanapun.“Tapi aku mau ke toilet, Bu. Emang Ibu mau aku pup di sini?” Aku memegangi perut, bertingkah seperti orang yang habis makan cabe sekilo dan sekarang harus buru-buru menuntaskannya.Ibu Seno langsung menatapku jijik. “Mia! Dasar jorok! Pergi sana.” Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan langsung berlari ke kamar, lalu menguncinya dari dalam.“Fyuh! Ternyata menipu orang tua itu nggak susah, kenapa Mia yang dulu tidak bisa berkutik padanya, ya?” gumamku yang berjalan menuju

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   62. Mulai Bergerak

    Pembahasan tentang dokter Friska dan segala informasi yang ingin ku gali dari Seno berakhir setelah dia menyerahkan alamat praktek wanita itu dengan gerakan enggan.“Nih, tapi kamu nggak perlu terlalu sering ke sana, Mia. Itu bukan tempat nyari kenalan,” sungutnya sambil mengirimkan titik gmaps ke ponselku.“Iya, Mas.” Aku mengecek chat di ponsel, menandainya sebagai pesan penting.Seno berbalik dan merebahkan diri membelakangiku, tampaknya dia sudah tidak punya gairah lagi untuk menggodaku karena terganggu dengan pertanyaanku soal dokter Friska.Tapi untuk saat ini semuanya sudah cukup, dan aku juga sudah dapat apa yang kubutuhkan.***Keesokan paginya, aku sengaja bangun lebih siang karena malas menghadapi mulut pedas Ibu Seno di meja makan. Ketika aku membuka mata Seno sudah terlihat rapi, memasang dasinya di depan cermin besar.“Kamu mau sampai kapan tidur terus? Bisa-bisa Ibu marah lagi kalau lihat kamu malas-malasan,” ucap Seno dingin tanpa menoleh ke arahku.“Aku masih capek ab

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   61. Memancing Informasi

    Setelah makan malam selesai aku dan Seno kembali ke kamar yang sama, pada titik ini aku harus mengerahkan seluruh kekuatan mentalku untuk menahan rasa risih dan muak yang bergolak dalam dada.Seno berjalan keluar dari kamar mandi mengenakan piyama yang terbuat dari sutra, mengusap rambutnya yang basah dengan handuk, lalu melangkah santai menuju aku yang sedang duduk di tepi ranjang.Dia duduk tepat di sebelahku.“Kamu pasti kangen mau nyentuh aku, kan?” godanya yang terdengar menyebalkan di telingaku. Itu bahkan bukan pertanyaan, tapi lebih seperti pernyataan yang sudah dia yakini sebagai kebenaran mutlak.“I-iya, Mas,” jawabku terpaksa.Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Seno meraih tanganku dan mengarahkannya masuk ke dalam kerah piyamanya yang sengaja tidak di kancing, menempelkan telapak tanganku ke dadanya.“Selama ini kamu pasti pengen banget nyentuh dadaku yang berotot ini,” katanya bangga, mengangkat dagunya pongah seperti sedang memamerkan sesuatu yang luar biasa.Aku m

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   60. Target Pertama

    Ruang makan mansion Handoko riuh redam dengan suara pelayan yang melakukan pekerjaan masing-masing, ruangan ini begitu mewah tapi membuatku tidak nyaman karena suasananya yang tidak ramah.Lampu gantung kristalnya berkilau, memantulkan cahaya anggun di meja panjang yang sudah terhidang berbagai menu untuk makan malam.Aku duduk di kursi yang memang sudah jadi tempat dudukku sejak dulu, menunggu dengan mode siaga.Malam ini pertama kalinya aku akan bertemu secara langsung dengan Seno, setelah semua kejadian dan pelarianku ke Lisbon.Pintu ruang makan terbuka tepat pukul tujuh malam, Seno melangkah masuk dengan gaya khasnya yang arogan, jas kerjanya masih terpasang rapi.“Udah pulang kamu,” katanya singkat, tanpa senyum apalagi pelukan. Dia langsung duduk di kursi kepala meja seolah kehadiranku hanya hal remeh yang tidak perlu diperhatikan.“Iya, Mas,” jawabku pelan.Seno mengambil segelas air lalu menyesapnya santai, dia melirikku dari ujung matanya.“Lihat? Benar kan yang aku bilang?

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   59. Menyusun Kembali

    Setelah pertemuan yang dramatis dengan Ibu Seno, aku memutuskan pergi ke kamar dan menutup pintu rapat-rapat, lalu langsung merebahkan diri di ranjang. Perjalanan belasan jam dan respon penghuni mansion Handoko yang tidak ramah cukup menguras tenagaku.Aku meraih ponsel dari tas, mencari kontak yang kusimpan dengan nama ‘mr.B’, demi menjaga kerahasiaan dari siapa pun yang mungkin saja suatu hari diam-diam mengecek ponselku.Dengan santai aku menekan tombol panggilan video, dan tidak sampai dering ketiga layarku menyala menampilkan wajah Bara yang tersenyum tampan.“Hai, aku udah sampai nih,” sapaku, ikut tersenyum.“Syukurlah, pasti capek ya perjalanan jauh. Istirahat dulu, gih,” balasnya yang terlihat sedang duduk di ruang tengah shared house yang begitu familiar.“MIA?!” Jisoo tiba-tiba muncul di belakang bahu Bara, menyongsong wajahnya masuk ke frame. “Eh! Beneran Mia. Hai! Gimana perjalanannya? Lancar?” tanyanya heboh.“Woy! Gantian dong!” Jiyeon menyusul dan ikut mendorong Bara,

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   58. Kembali ke Jakarta

    "Para penumpang yang terhormat, dari ruang kemudi, saya Kapten James. Kita baru saja memulai proses penurunan ketinggian menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta. Perkiraan waktu mendarat kita adalah dua puluh menit dari sekarang. Cuaca di Jakarta dilaporkan cerah berawan dengan suhu udara 28 derajat Celsius. Atas nama seluruh kru, terima kasih telah terbang bersama kami. Silakan nikmati sisa perjalanan ini.”Aku membuka mata perlahan saat suara pengumuman pilot menggema dari pengeras suara pesawat. Pipiku basah tanpa sadar, air mata menetes diam-diam saat aku tertidur. Dalam mimpiku, kenangan menyakitkan tentang masa laluku dan Bara tergambar dengan jelas.Ku usap air mata di pipi, menatap pantulan diriku sendiri di jendela pesawat yang menyajikan pemandangan indah.Mengingat kilas balik itu membuatku sadar bahwa selama ini aku bukanlah orang yang lemah. Mia yang asli adalah wanita berani, yang melakukan apa pun sesuai kemauannya sendiri tanpa takut pada siapa pun.Entah sejak kap

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status