Share

54. Dia Pulang

Author: Shyneko
last update publish date: 2026-08-07 22:07:45

“Eh! Aku dengar Kak Seno nembak kamu, ya?” Helen menyenggol lenganku, membuyarkan fokusku yang sedang menonton permainan basket di tribun penonton.

“Hm? Tahu dari mana?” tanyaku sambil menyedot es cekek di tangan.

“Oh! Jadi itu beneran?" pekiknya sambil menutup mulut. "Wah, Mia! Ini gila, sih. Kak Seno itu kan incaran banyak cewek di fakultas kita!” Helen bertepuk tangan heboh, buru-buru aku langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan.

“Ssstt! Pelan-pelan dong! Banyak orang di sini,” bisikk
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nani Sore
kalu aku jdi Mia sih sekangen² itu dan kalu bisa gas ketemu pakai pintu Doraemon,,merindukan seseorang yg kita cintai itu sungguh sangat berat makanya cepet² ketemu biar lega,,, meski aku heran sama si seno² itu sifat NPD nya bner² tak terasa dimasa ini emang sudah pandai bner ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   100. Tidak Lagi Pura-pura

    Begitu masuk ke dalam klinik, petugas di meja resepsionis menatapku dengan mata menyipit tampak sedang berusaha mengenaliku. Detik berikutnya perempuan yang terlihat berumur sekitar tiga puluh itu tersentak pelan, lalu segera berdiri menghampiri, menghalangi jalanku dengan tangan terentang.“Maaf, Ibu tidak boleh masuk,” tegurnya tanpa basa-basi.Aku menatapnya sejenak, membaca sekilas nametag orang di hadapanku yang bernama ‘Nadia’.“Kenapa?” tanyaku singkat, sedikit mendongakkan dagu.“Karena Dokter Friska sedang tidak ada di tempat,” jawabnya tegas, wajah masamnya seakan mengira aku akan takut padanya.Aku melirik ke arah bangku di belakang petugas itu, setidaknya ada lima pasien yang duduk di sana sambil memegang nomor antrian, beberapa bahkan mengipasi diri mereka dengan map rekam medis.“Nggak ada di tempat?” kataku dengan nada mencibir. “Terus, siapa yang lagi periksa pasien-pasien ini?”Nadia gelagapan, matanya bergerak liar berusaha mencari alasan. “I-itu… sekarang ada Dokter

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   99. Tujuan Selanjutnya

    Satu sudut bibirku tersungging kecil mendengar tawarannya. Bukan karena setuju, tapi karena tahu betul Bara bukan sosok yang sebaik itu kalau sedang menghadapi orang lain. Sikap hangat dan lembut itu hanya dia tunjukkan pada orang-orang tertentu.Sebagai satu-satunya pewaris Askara Corp, Bara tidak mungkin berhasil mempertahankan kekuasaannya hingga saat ini jika dia tidak berhati sedingin es.Jika semua rencana balas dendam ini ku serahkan padanya, akan jadi seberingas apa dia nanti? Membayangkannya saja aku tidak mau.Ini bukan waktunya mengambil risiko dan memanfaatkan orang yang memang tidak seharusnya ku manfaatkan seperti objek. Bara terlalu berharga untuk itu.Aku menggeleng, berkata dengan nada lembut agar tidak terkesan meremehkan. “Kalau aku kabur sekarang, itu artinya aku adalah orang pengecut yang mengaku kalah dan bersembunyi di balik punggung orang yang lebih berkuasa. Aku nggak mau dianggap begitu, mau ditaruh di mana harga diriku?”Mataku beralih menuju pintu kaca balk

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   98. Pagi Bersamanya

    Sinar matahari yang mulai terik menyusup lewat celah tirai kamar, menyapa kelopak mataku sampai terbangun. Aku menggeliat, meregangkan tubuh sejenak dengan mata mengerjap malas lalu duduk perlahan.Sisi ranjang di sebelahku sudah kosong, hanya tersisa selimut dan sprei yang acak-acakan sisa kegiatan tadi malam. Aku menunduk, menekan-nekan bahu yang pegal, lalu menoleh pada sesuatu yang terletak rapi di sudut ranjang.Di sana ada kantong belanja yang struknya masih terselip di dalam. Aku mengambil dan mengecek isinya, ada blus krem lengkap dengan celana kain hitam, beberapa dalaman dan bra baru ikut terselip di sana.“Wah! Serius deh, dia beli ini kapan?” gumamku, berdecak kagum.Aku mengangkat pakaian itu sambil memeriksa ukurannya, membayangkan Bara yang belanja pakaian wanita di pagi buta membuatku cekikikan.Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian, aku berhenti sebentar di depan cermin dinding kamar, memutar tubuh memeriksa hasil belanjaan pria itu. Blus elegan dengan poto

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   97. Sentuhan Panas

    Aku mengalihkan pandangan sambil melonggarkan tanganku, malu-malu memperlihatkan tubuh bagian atasku padanya.Bara terpaku beberapa detik, terlihat menelan ludah dengan susah payah. Wajahnya kembali mendekat padaku bersamaan dengan napasnya yang hangat menyapu permukaan kulitku yang terekspos bebas, membuatku memejamkan mata sejenak karena sensasi itu.Bara menopang tubuhnya sendiri agar lebih tinggi dariku menggunakan sikunya.Aku menatap matanya yang sayu itu dengan jantung yang berdegup kencang. Tidak ada keraguan yang seharusnya ku rasakan di saat-saat seperti ini, semuanya tergantikan dengan kepercayaan seutuhnya karena perlakuan Bara yang begitu lembut.Di luar hujan masih setia mengetuk jendela kamar yang tertutup gorden transparan berwarna putih. Dan di dalam remangnya cahaya lampu, Bara mulai bergerak.Dia langsung menuju buah kembar milikku, mengecup lalu menghisap salah satu puncaknya dengan gerakan yang lihai. Lidahnya bermain di sana membuat tubuhku mengencang.Tangannya

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   96. Aku Pilih Kamu

    Tanpa sadar aku mengerutkan alis, tawaku berhenti seketika. “Oh, ya? Kenapa tiba-tiba banget?”“Karena aku udah nggak punya alasan lagi untuk ngelakuin itu,” jawabnya, menatap mataku lekat di tengah temaram lampu kamar. “Selama ini, aku cuma ingin lari dari rasa sakit dan kehilangan. Mencari kehangatan dari setiap orang yang aku kira bisa memberikan kehangatan yang sama dengan yang pernah kamu kasih.”Mulutku sedikit terbuka, cukup terkejut dengan pernyataan itu. Apa sekarang Bara sedang mengungkapkan isi hatinya?“Tapi nggak ada yang bisa memberikan itu walau aku sudah mencarinya hingga ke seberang samudera, Mia. Dan sekarang kamu udah kembali ke hidup aku. Aku nggak perlu siapa pun lagi,” tutur Bara, tidak ada keraguan dalam suaranya sama sekali.“Tapi kenapa?” tanyaku lirih. “Aku udah ninggalin kamu, nyakitin kamu. Kenapa kamu masih bersikap begini? Ada jeda tiga tahun buat kamu move on sama orang lain.”Suaraku bergetar menahan sesak, membayangkan bagaimana tersiksanya Bara selama

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   95. Bara yang Mempesona

    Kondisi Bara tidak lebih baik dariku.Dia menelan ludah dengan susah payah. Jakunnya terlihat naik turun, sementara matanya tertuju padaku dengan intensitas yang berbeda. Saking panasnya pandangan itu, suhu tubuhku rasanya ikut naik.“Iya, nggak masalah.” Suara Bara terdengar serak. “Aku jago menahan diri, kok.”Aku menghela napas kecewa, bukan karena jawaban Bara tidak seperti yang ku harapkan, melainkan kesal pada diri sendiri yang terus berpikir yang tidak-tidak.Namun sedetik kemudian Bara tiba-tiba bergerak, menyelipkan satu tangannya ke bawah lututku, sedangkan satu lagi menopang punggung. Dia mengangkatku dengan posisi bridal style tanpa peringatan sama sekali.Refleks aku memekik, melingkarkan tanganku lebih ke lehernya karena takut jatuh.“B-bara? Kenapa tiba-tiba…”“Kamu kelihatannya kecewa banget pas aku bilang jago nahan diri, Mia. Diam-diam kamu ngarepin sesuatu ya?” potong Bara dengan ekspresi nakal.“Ih! Nggak!” Aku mengelak, memukul pelan dadanya.“Oh, gitu. Yah… padah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status