LOGINKarena permainan licik adik ipar, Ansel yang harusnya mewarisi perusahaan berlian ternama di negeri itu harus menderita dalam lingkaran kemiskinan bersama sang istri. Bahkan, keduanya terpaksa meninggalkan bayi mereka yang masih merah untuk bekerja! Lantas bagaimana kisah Ansel selanjutnya? Mampukah pewaris sesungguhnya itu mendapatkan kembali haknya?
View MoreMeu quarto é o lugar mais seguro da casa porque aqui tudo fica onde eu deixo e nada some sem avisar, as bonecas sentam direitinho no tapete cor-de-rosa, a caminha delas fica encostada na parede de baixo da janela e o sol da tarde entra sempre do mesmo jeito, fazendo um quadrado quentinho no chão que eu gosto de atravessar descalça, mesmo quando o chão está frio em outros lugares.
Hoje eu estou sentada no meio do tapete, com as pernas cruzadas meio tortas, porque nunca consigo ficar igual às meninas das fotos dos livros, e a minha boneca favorita está no meu colo, aquela de cabelo castanho comprido que eu penteio com cuidado para não embaraçar, porque embaraço dói, mesmo quando é cabelo de mentira, e eu não gosto de imaginar dor em coisas que eu gosto.
Do meu lado, bem pertinho, está a foto da mamãe.
Ela fica sempre ali, encostada na caixinha de música que só toca quando eu lembro de dar corda, e eu gosto de deixar a foto perto de mim quando brinco, porque assim parece que ela está assistindo, como se estivesse sentada na cama, com aquele sorriso que não muda nunca, nem quando eu fico olhando por muito tempo.
A mamãe na foto é bonita de um jeito calmo, como quando a gente acorda sem pressa, e eu sei que ela é minha mãe porque o papai diz, porque as pessoas dizem, porque tem vídeos também, mas às vezes eu sinto que sei disso por dentro, como se meu coração tivesse aprendido antes da minha cabeça.
O papai diz que ela mora no céu, mas não daquele jeito que dá para apontar com o dedo, e sim num lugar que não some nunca, mesmo quando a gente fecha os olhos.
Eu não lembro dela de verdade, só lembro das histórias.
O papai conta que ela ria alto quando ficava feliz e que cantava para mim quando eu era bebê, mesmo cantando meio errado, e às vezes, quando a casa fica muito silenciosa à noite, eu imagino que o silêncio é só ela ouvindo a gente dormir.
Meu papai é grande.
Não grande como os gigantes dos livros, mas grande de um jeito que ocupa os lugares, o sofá, a cozinha, os corredores, como se a casa tivesse sido desenhada para ele e eu tivesse sido desenhada para caber no espaço do braço dele quando ele me pega no colo.
Ele trabalha muito, eu sei disso porque as pessoas sempre dizem, e porque ele sai cedo e volta quando o céu já está mudando de cor, mas quando ele chega, ele sempre pergunta como foi meu dia, mesmo que meu dia seja só bonecas, desenhos e histórias repetidas.
Eu gosto quando ele me chama de “pequena”, porque parece que essa palavra me guarda.
Às vezes ele fica olhando para mim como se estivesse pensando em outra coisa, e eu não sei explicar, mas parece um olhar pesado, como quando a mochila da escola fica cheia demais, e eu tenho vontade de dizer que está tudo bem, mesmo sem saber exatamente o que é esse tudo.
No meu quarto tem cheiro de sabonete, lápis de cor e um pouquinho do perfume dele, que fica nas minhas roupas quando ele me abraça forte demais antes de sair, como se estivesse tentando me levar junto sem ninguém perceber.
Eu não sei tudo sobre o mundo.
Eu sei o nome das minhas bonecas, sei que a mamãe está na foto e em algum lugar que não dói mais, sei que o papai é meu e que eu sou dele, e sei que aqui, sentada no tapete com o sol passando devagar pelo chão, eu sou feliz de um jeito simples, daquele que não precisa ser explicado.
Eu encosto a foto da mamãe mais perto da boneca, como se estivesse apresentando as duas, e sorrio sozinha, porque gosto de pensar que, mesmo sem estar aqui de verdade, ela ainda faz parte das minhas brincadeiras, do meu quarto e de mim.
E isso, para mim, já é quase tudo.
Hari berganti, Ansel masih belum kembali dan saat ini Alea mulai menangis tersedu, tetapi untungnya Rina tetap di sisinya dan wanita ini juga yang membantu menenangkan ibu satu anak ini. Namun, kebaikan Rina tidak membuat Ansel kembali. Lelaki itu menghilang hingga satu minggu lamanya. Setiap hari Alea dan Aisha mencoba mencari tanpa melibatkan polisi karena mereka yakin hilangnya Ansel karena perbuatan Evan. Namun, hingga saat ini Aisha tidak menemukan bukti kecurigaannya. Tidak mudah untuk Alea menjalani kehidupannya selama satu minggu ini, Ocean sering menangis dan Alea tidak bisa fokus pada apapun. Jika saya Rina tidak di sisinya mungkin saat ini Alea sudah mendekati kehancurannya. Hari ini, Rina tidak tahan melihat Alea menderita. Maka, dia menghubungi Reza untuk mencari tahu keberadaan Ansel. Wanita ini yakin Reza bisa membantu karena Alea sudah melarangnya melaporkan hilangnya Ansel pada polisi. Sementara, saat ini Ansel disekap oleh Evan. Ya, pelakunya memang Evan. Sudah s
Ansel menemui hari sialnya lagi karena akibat tindakannya dia disandera oleh Evan tanpa sepengetahuan Alea maupun Aisha. Jadi seakan-seakan Ansel menghilang tanpa jejak. Pada pagi ini Alea menunggu suaminya pulang, tapi hingga pukul sembilan dia tidak mendapatkan kabar apa pun. Alea menemui Rina untuk meminta bantuan menghubungi Ansel, tetapi nomor suaminya tidak aktif. "Ansel kemana dan kenapa nomornya tidak aktif, apa menemui Aisha?" Alea khawatir, hanya saja dia tidak ingin memikirkan hal aneh.Alea kembali ke rumahnya, di pangkuannya Ocean merengek padahal anaknya sudah diberikan susu. "Kenapa sayang ...." Lembutnya saat membelai pipi Ocean.Alea tetap melakukan kegiatan seperti biasanya, tetapi Ansel masih belum kembali bahkan ketika matahari sudah berada di puncak langit. Rengekan Ocean hanya berhenti sesaat, sejak pagi-pagi bayi itu terus merengek dan tidak pernah tidur nyenyak. "Nak, kenapa ..., jangan seperti ini ..., papa belum pulang dan tidak bisa dihubungi, mama khawatir
Ansel tertangkap sebelum pria ini menemukan hal penting, maka bawahan yang ditugaskan Evan membawanya secara halus ke hadapan Evan supaya kedok tuannya tidak terbongkar di hadapan para karyawan.Saat ini Evan bertepuk tangan di hadapan Ansel yang berdiri geram. "Kakak ipar, kau memang hebat, kau bisa menebak keberadaan surat-surat penting milikku. Tapi ... aku yakin kau belum menemukan apapun karena tidak semudah itu. Aku sudah menyimpannya sangat rapat dan sulit dijangkau." Sunggingan bibir Evan mengudara sangat menyebalkan di dalam indera penglihatan Ansel. Saat ini Ansel tidak berkata apapun, arah matanya hanya selalu mengikuti gerakan Evan tanpa pernah berkedip sama sekali, bahkan bola matanya hanya berisi api yang siap membakar Evav."Jangan marah. Santai saja. Kakak ipar tidak boleh terlalu tegang karena memiliki anak dan istri yang harus dicukupi. Hm ... apakah rumah sekecil itu tidak membuat kalian pengap heuh? Rasanya untuk bernapas saja terlalu sulit," hina Evan bersama sun
Jumlah kunci yang dimiliki satpam tidak sama dengan sebelum Ansel meninggalkan gedung ini, maka pria ini semakin yakin jika surat-surat penting milik Adithia disimpan di dalam salah satu ruangan di gedung ini. Setelah mencari tahu akhirnya Ansel menemukan satu ruangan yang tidak memiliki kunci. Dia berdiri tepat di depan pintu, ruangan ini memang terisolasi karena pernah terjadi hal tidak diinginkan. Ruangan ini tidak pernah disukai para karyawan karen lokasinya terlalu tinggi hingga mereka mengeluhkan jarak dengan lobby utama. "Ck, apa dugaanku benar. Kau menyimpan semua surat penting milik papa di tempat ini, tempat yang dibenci semua orang? Ya, memang masuk akal jika kau menyimpannya di sini karena tidak ada yang berniat memasuki ruangan ini!" Ansel selalu berhasil membaca isi kepala Evan yang dipenuhi dengan hal-hal licik. Begitupun dengan yang ini, ini mudah untuknya. Namun, apakah dugaannya benar?Ansel tidak memiliki kunci untuk ruangan ini karena salah satu kunci yang berkura
Pada pagi hari, Evan menyiapkan sebuah bubur yang sengaja dibawanya pada Aisha. "Selamat pagi, Sayang." Senyuman lembut diumbar saat istrinya baru saja membuka mata. Tentu saja dahi wanita ini berkerut saat menyaksikan pemandangan asing di hadapannya karena tidak biasanya Evan mengucapkan sapaan. "A
Ansel barusaja mendengar kabar jika Evan menanyakan tentang asuransi milik Adhitia, pria ini mendengarnya langsung dari pengacara sang ayah sekalian menanyakan kejelasan asuransi pada pengurus asuransi yang dipercaya Adhitia. Setelah memastikan kebenarannya maka prasangka merajangnya, “Pasti Evan in
Evan masih disibukan dengan kerugian yang dialami perusahaan milik Dewa, tetapi semakin hari semakin merembet pada perusahaan miliknya. Semua team yang sangat berpengaruh dalam gedung dipanggilnya, dikumpulkan di dalam ruang rapat. “Semakin hari saya mengalami kerugian. Memang tidak besar, tapi jika
Alea membeku setelah mendengar kabar mengejutkan dari Aisha, pun lidahnya berubah kelu hingga iparnya kembali berkata dengan nada ragu, “Apa ... Kakak belum tahu, kak Ansel tidak memberi tahu Kakak?”Alea mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes. “Belum. Mungkin belum sempat,” desah lirihnya.Saat






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.