ログインNirmala Dewi, seorang wanita malam yang berusaha keluar dari dunia yang mencoreng nama baiknya di masyarakat untuk mendapat masa depan yang lebih cerah. Ia terpaksa terjun dalam dunia gelap karena harus membayar hutang almarhum orang tuanya. Tak disangka ia mampu keluar dari jeratan sang pemilik kesepakatan lewat seorang Bagaskara yang memberikan tawaran kepadanya. Tentu ia tak akan menolak saat mendapat tawaran sebesar 1 milyar Rupiah. “Aku menerima tawaran anda tuan.” Jawab Dewi dengan tegas saat menerima ajakan Bagaskara untuk menemani malamnya. Ikuti kisah Sang Dewi yuk, biar tau kelanjutan perjalanan nya bersama CEO seperti apa. Ini novel pertama aku jadi aku buka kritik saran dari kalian 💕 Semoga suka 😘
もっと見るYanna
The familiar musky air of the club filled my nostrils as I walked through the back rooms where all the other girls changed to ready for their performance.
I felt nervous coming back after taking a few months from taking a break. It felt like I was the new girl all over again, my palms felt clammy and I couldn’t get my heart to stop racing.
“Yanna!” Hailey called out as she rushed over to me, engulfing me in a tight hug.
“I’m so glad your back, this place hasn’t been the same without you.” she was in her pink cowgirl outfit ready for her performance.
I giggled softly “It’s good to be back.”
Hailey smiled and nodded. “I have to go right now but we’re definitely hanging out later.” She rushed out as our manager called out for her.
I quickly nodded with a smile as I watched her rush over to her waiting room.
Hailey was the first person to speak to me when I began stripping last year. She had only been in the business for a year but she helped me to know the ropes around stripping and taught me a few tricks for my performance and since then, we’ve been inseparable.
I made my way over to my vanity to get ready. Luckily, I still had time to prepare and calm my nerves a little before I went on stage.
Few minutes passed getting ready and I now sat in my matching red lingerie set, my curly hair was let out and in my strappy red platform heels. My nerves were all over the place as I constantly retouched my makeup.
“Hey Yanna, you’re up next!.” The manager called out.
I took in a deep breath, It felt like my first performance all over again. I adjusted my garter once more as I walked over backstage.
“Loosen up, you look stiff.” My manager said.
“I feel stiff..” I frowned as I tried to relax.
Sighing loudly, he moved closer to me. “Relax, and break a leg.”
On cue the flashing lights turned red indicating I was about to come on stage. Men roared as the announcer called out my name, I made a sultry pose as I knew my silhouette was in view. The roaring became louder as a sexy song came on, feeling the vibe of the song I walked on stage with confidence.
My performance was a blur, men roared as I gave them a view of my ass and climbed the pole. My skin glistened slightly with sweat as I twisted in a mid-air split, working my ass on the pole. Bills rained down on me but I couldn’t forget the feel of a pair of eyes staring intently at me.
“Girlll, you ate that up.” Hailey whistled as I came backstage from my performance.
I shook my head but laughed as I panted softly. “I definitely needed to let loose.”
“Mm hmm.” Hailey hummed in agreement.
The manager walked in as I was retouching my makeup. “Great performance but you’ve been requested for a private session.”
I frowned. “I told you that I won’t be taking any private sessions for the mean time.”
He sighed but nodded. “I wouldn’t have told you if it was just anyone.”
“No, I’m not doing the session. Tell him I feel sick or something.” I wasn’t in the mood to dance for any slimy guy tonight.
“You can’t say no, he’s a very dangerous man.” He stated.
I rolled my eyes, why can’t men just listen when a woman says no.
“Then I’ll go tell him no myself.” I stood up abruptly.
“Wait, if he’s the man that I’m thinking of right now, then just do the session, please.” Hailey held my hand as she pleaded.
My brows furrowed in confusion. “Its fine, I’ll just fake being sick to him.”
Hailey didn’t look so sure with my plan but she let me go. I followed my manager to the private rooms which only loaded men could book, it cost about thirteen grand to just book a room minus payment for the session.
My manager stopped in front of a door. “Be careful.” He warned lastly as he left me standing in front of the door.
My nerves got the best of me as I walked into the dimly lit room.
In the corner of the room, seated on the leather couch is an olive skinned man taking a drag from his cigar.
I froze as his eyes met mine.
His eyes raked my form as I walked over to him cautiously. He’s immaculately dressed in a black tailored suit, slightly unbuttoned collared shirt. His chain peeked from his exposed chest, he was in a very sexy man-spread as his veiny tattooed hands held his cigar.
Fuck, he’s so sexy.
“You took your time.” Even his voice was deep, gruff and don’t get me started on his Italian accent.
I gulp instinctively, all thoughts of rejecting this private session has flown out the window. I bit my lips, trying to gather myself together.
“uhh.. yeah.” What the hell is wrong with me!?
He clips off the end of the cigar rising to his full height. Damn… he’s tall.
Even with my platform heels on, he still towered over me. I’m rooted at my spot as he walked leisurely towards me.
He’s even more attractive up close, my nostrils are invaded with his expensive scent and sex appeal. My knees grows week in my seven inches platform heels.
His perfect brow raised. “Did I not request for a private session?”
My daze was broken as I blushed in embarrassment of literally eye fucking this man. I nodded slowly and cleared my throat.
“There’s a no touching rule, sir.” I state breathlessly.
He stared down at me intensely with a slight smirk on his full lips.
“Go on.”
Ting Tong,,, Ting Tong,,,Dihari yang cerah, Dewi sepertinya kedatangan tamu yang memecahkan keheningan kediaman yang ia tinggali. Dilihatnya dari lubang pintu ada pria yang mengajak nya tinggal di pulau dewata lah yang singgah. “Silahkan masuk” Dewi tersenyum seraya membukakan pintu dan berlalu kearah sofa khusus menjamu tamu yang datang, tentu saja Dion mengekor wanita yang ia kagumi.“Kamu suka tempatnya?” Tanya Dion“Banget, simpel tapi aku suka” balas Dewi“Apa kedatanganku mengganggu kamu?” Tanya Dion yang sungkan karena jujur ia sangat kentara menyukai wanita yang sedang berhadapan dengannya.“Sama sekali ngga kok, tapi ngomong-ngomong kamu emang se formal itu ya kalo lagi ngobrol? Atau aku nya yang ngga sopan?” Tanya Dewi yang kaku dengan cara bicara lawannya ini.Dion yang ditanya oleh sang gadis pujaan pun bersemu merah karena merasa konyol, “kenapa juga aku pake bahasa formal coba sama dia diluar bukan di kanyor kayak biasanya” batin Dion sambil menggaruk tengkuk yang tida
Hari ke hari suasana hati Tuan Arogan makin memburuk, hanya saja ia pandai sekali menutupi semua itu. Sikap yang ia tunjukkan pada orang-orang pun tak berubah, masih menunjukkan seorang Bagaskara Prayudha yang terkenal dingin dan mematikan apabila berhadapan dengannya. Namun siapa tau jika ia mampu ditaklukkan oleh Dewi yang hilang. "Aku ingin jadwalku diatur dengan teliti! Apa kau mendengarkanku wahai tuan sekretaris yang agung!" Ucap Bagaskara yang mampu menekan jantung Rafa berhenti dalam hitungan detik. Seolah tak memberi kesempatan untuk Rafa membela diri, Bagas langsung berdiri mengitari meja kebesarannya untuk menghampiri sekretarisnya yang sedang ketakutan. "Oh ya tuhan, bukankah dia sudah berubah kemarin menjadi orang yang baik setelah Nona itu pergi?" Batin Rafa yang bertanya-tanya tentang perubahan sikap Tuannya itu. "Jangan berpikir aku bisa lemah karena perempuan dan kau dapat lalai dari tugasmu." Ucap Bagaskara menatap lurus kearah pria yang sangat rapi dalam pena
Wanita parubaya melenggang dengan anggun kedalam mansion megah milik Steffan, raut wajahnya yang datar tak dapat ditebak walaupun hatinya sedang berkecamuk. Ia pun langsung duduk di sofa kebesaran sang empunya,”panggilkan tuanmu sekarang juga, bilang kalau aku ingin segera bertemu dengannya.” Titah Viona pada pelayan saat menyambut kedatangannya. “Baik Nyonya” Pelayan tak bisa membantah perintah dari Viona, karena ia tahu bahwa sang pemilik titah sudah seperti ibu sendiri dari tuannya. Mata Viona mengekori kemana arah pelayan yang diperintahnya itu, ternyata kamar utama sang empunya rumah ada tepat lurus diposisi duduknya saat ini. Di lantai dua dengan pintu ukiran sangat elegan adalah kamar utama Steffan, ketika pintu dibuka Steffan langsung menoleh ke ruang utama dan saling bertatap dengan si tamu yang tak lain adalah Viona. steffan pun sudah menganggap ibu mantan sahabatnya itu sebagai ibu sendiri. “Saya memohon maaf tuan karena mengganggu istirahat di akhir pekan,
Bagaskara's POV Aku terbangun di pagi yang cerah, rasanya sangat berat sekali untuk bangun dari tempat tidur ini. Jika bukan ada Mama yang datang dan mengetuk sejak tadi, aku akan tetap melanjutkan tidur. Tentu saja Mama akan mengamuk jika aku mengabaikannya, bisa-bisa aku jadi gelandangan. "ada apa sih pagi-pagi gini udah rusuh aja sih Mam?" ucapku kesal tatkala mendengar gedoran pintu yang tak kunjung berhenti. Hari ini jadwal untuk kerja sengaja kuminta dikosongkan karena tubuh ini juga butuh istirahat. apalagi beberapa hari belakangan energiku terkuras habis memikirkan wanita yang telah mencuri hati ini. Tapi sepertinya Mama nggak mungkin kalo cuma mau temu kangen sampe rusuh gini. "Ada apa sih maaaa?" tanyaku sedikit memasang wajah kesal. "Turun dalam waktu 5 menit, mama tunggu dibawah. ingat! hanya 5 menit untuk bersih-bersih dan langsung turun." Perintah Mama dengan wajah yang menahan amarah. "iya ma." Aku pun bergegas kekamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gig
Di tempat yang lain, singgasana kebesaran sang tuan Arogan sedang diliputi suasana yang tegang. Itu semua karena ulah anak buah yang diperintahkan tak mendapat kabar baik untuk sang tuannya. "Sudah kubilang. Aku hanya ingin kabar baik! Bukan sekedar basa basi kalian!" Suara barithon yang menggel
Bagaskara menggeliat tat kala sinar mentari pargi yang membuatnya terbangun. Namun Bagaskara tak melihat sosok wanita yang sudah membuatnya tidur nyenuak semalam. Ia pun langsung mencari kebetadaan Dewi kedalam toilet. “Kosong.” Ucap Bagaskara “Dewiiiiiii, Dewiiiii! Kamu dimana!.” Suara Bgaskara me
Masih didalam dekapan yang hangat, Dewi terkejut saat mendengar penuturan Bagaskara. “Kamu harus tau alasan kenapa saya rela memberikan kamu uang dalam jumlah yang besar. Itu karena kamu adalah wanita yang mampu membuat gairah saya kembali seperti sebelum menikah.” Tutur Bagaskara
Ketika Dewi sedang asyik menyantap makanannya, Bagaskara ternyata telah selesai membersihkan diri dan langsung menghampiri Dewi yang berada di balkon. “Makan yang santai, jangan seperti orang yang tidak pernah makan seolah besok mati kelaparan!” Ujar Bagaskara “Astaga. Apakah tuan hobinya selalu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.