Warisan Dari Orang Yang Salah
ActionPria DinginMandiriLegenda
"Di sekte ini, yang lemah adalah sampah. Tapi mereka tidak tahu, sampah inilah yang memegang kunci kematian tetua agung mereka."
Saka hanyalah seorang pemuda pembersih gua tanpa bakat di Sekte Awan Biru, yang saban hari dihina dan ditindas. Namun, sebuah insiden berdarah di Gua Terlarang mengubah segalanya. Saka secara tidak sengaja mewarisi ingatan taktis dan teknik terlarang milik Tetua Danu—seorang ahli yang tewas dikhianati organisasinya.
Bersembunyi di balik topeng murid lemah, Saka mulai merayap di balik kegelapan. Satu per satu musuh yang mengusiknya dilenyapkan tanpa sisa. Ketika konspirasi besar mulai mengguncang sekte, sang 'pembersih sampah' siap muncul sebagai pencabut nyawa nomor satu.
Lesen
Chapter: Bab 33: Ujian Garis PedangPernyataan Saka yang menerima Ujian Garis Pedang tanpa ragu bergema tegas di atas pelataran marmer putih Puncak Utama. Bisik-bisik suram langsung merebak di antara para murid inti Sekte Dalam. Mereka menatap Saka dengan pandangan tak percaya—sebagian menganggapnya sangat pemberani, sementara sebagian besar menilai murid baru dari Puncak Belakang itu terlampau sombong dan bodoh. Tetua Lucius menyunggingkan senyuman culas yang tak lagi disembunyikan. Matanya berkilat penuh kemenangan. “Bocah ingusan. Kau sendiri yang melangkah masuk ke dalam lubang kuburmu!” batin Tetua Lucius girang. Penatua Ridwan menatap Saka dengan dahi berkerut cemas. Dia melangkah mendekat, lalu berbisik pelan di samping Saka. "Saka, kau tidak perlu memaksakan diri. Ujian Garis Pedang mengalirkan kehendak pedang dari para leluhur sekte. Jika fondasi pemahaman pedangmu belum menyatu sempurna dengan jiwa, niat pedang di dalam formasi itu sanggup merobek meridianmu hingga cacat permanen." Saka membalas tatapan Pen
Zuletzt aktualisiert: 2026-08-11
Chapter: Bab 32: Gerbang Sekte DalamSinar fajar merekah di ufuk timur, membakar kabut tipis yang menyelimuti Puncak Belakang. Saka melangkah keluar dari pondok kayunya dengan jubah abu-abu kusam yang kini nampak bersih sempurna. Meski penampilannya tetap sederhana dan merendah, aura yang terpancar dari gerak-gerik Saka telah berubah drastis. Berkat penyerapan Pil Pemurni Jiwa dan keberhasilannya menembus puncak Ranah Pengumpulan Qi tingkat sembilan, setiap pijakan kakinya membawa ketenangan yang tak tergoyahkan. Ngunggg... Suara deru angin lembut terdengar dari atas langit. Sebuah kereta kayu cendana berukir awan keemasan yang ditarik oleh dua ekor burung bangau bersayap perak meluncur turun dari angkasa, mendarat dengan sangat anggun di pelataran rumput Puncak Belakang. Seorang pria paruh baya mengenakan jubah biru tua bersulam benang emas melangkah turun dari kereta. Dia adalah Utusan Puncak Utama Sekte Dalam, yang diutus khusus untuk menjemput sang Juara Utama Turnamen Sekte Luar. "Kau pasti Saka," ujar utusa
Zuletzt aktualisiert: 2026-08-11
Chapter: Bab 31: Pemurnian Dantian dan Pengikisan SegelAroma amis darah segar melayang tipis di udara kliring Puncak Belakang, tersapu oleh hembusan angin malam yang dingin. Empat mayat pembantai suruhan Tetua Lucius terbaring kaku di atas tanah berdebu, namun Saka sama sekali tidak mengalihkan pandangannya pada para pecundang tersebut. Bagi seorang mantan pakar yang telah melintasi ribuan pertempuran darah di kehidupan masa lalu, kematian empat pembunuh tingkat rendah tak lebih dari debu yang tersapu angin. Saka mengibaskan lengan jubah abu-abunya, menyulut seberkas api Qi murni dari ujung jarinya untuk membakar habis keempat mayat tersebut hingga menjadi abu tanpa menyisakan jejak sedikit pun. Setelah kliring tua itu kembali bersih dan sunyi, Saka berjalan perlahan menuju pondok kayunya yang terisolasi di balik rerimbunan pohon bambu. Di dalam pondok kayu yang sederhana, Saka duduk bersila di atas alas jerami yang dingin. Dia memejamkan mata sejenak, menenangkan denyut nadi serta mengatur irama napasnya hingga mencapai kondisi kehen
Zuletzt aktualisiert: 2026-08-11
Chapter: Bab 30: Perburuan Dalam KegelapanKegelapan malam membungkus Puncak Belakang dengan keheningan yang mencekam. Hanya derit daun bambu yang saling bergesekan diterpa angin malam dan derak halus kerikil di bawah pijakan kaki Saka. Kliring tua yang terisolasi itu kini menjadi panggung tersembunyi, jauh dari jangkauan pengawasan para penjaga arena Sekte Awan Biru.Saka berdiri tegap di tengah kliring, membiarkan jubah abu-abu kusamnya berkibar bebas. Tatapannya lurus menembus pekatnya malam, memancar dengan kilatan keemasan yang redup namun mematikan."Empat ekor lalat Faksi Pangeran Biru," ujar Saka dengan suara datar yang membelah sunyi. "Kalian merayap terlalu lambat untuk ukuran seorang pembunuh."Wush! Wush! Wush! Wush!Empat bayangan serba hitam melompat keluar dari balik pepohonan bambu secara bersamaan. Mereka mengepung Saka dari empat penjuru angin, mengunci seluruh celah melarikan diri. Di tangan masing-masing pembunuh, terhunus belati ganda beracun yang memancarkan pendaran hijau kebiruan yang sangat berbahaya.
Zuletzt aktualisiert: 2026-08-10
Chapter: Bab 29: Hadiah dan IntrikAroma kayu cendana dan keharuman obat kuno yang membumbung tipis dari kotak kayu di tangan Saka seolah menyihir pelataran utama Sekte Awan Biru. Di dalam kotak itu bersemayam Pil Pemurni Jiwa, sebuah obat spiritual tingkat tinggi yang menjadi impian setiap murid sekte luar. Bagi murid biasa, pil tersebut adalah kunci emas untuk menerobos kemacetan kultivasi. Namun bagi Saka, pil itu adalah bahan vital untuk memurnikan meridian internalnya serta mengikis sisa-sisa segel Teknik Penyegelan Jiwa Sembilan Surga.Penatua Ridwan menepuk bahu Saka dengan hangat. Senyum di wajah sesepuh itu memancarkan kepuasan yang mendalam."Saka, dalam sejarah Sekte Awan Biru, belum pernah ada murid dari Puncak Belakang yang mengukir sejarah sehebat ini," ujar Penatua Ridwan, suaranya yang tenang membawa bobot berwibawa. "Besok pagi, utusan dari Puncak Utama Sekte Dalam akan menjemputmu. Persiapkan dirimu, karena persaingan di sana jauh lebih keras dibanding apa yang kau lihat hari ini.""Terima kasih atas
Zuletzt aktualisiert: 2026-08-10
Chapter: Bab 28: Takhta Teratas Sekte LuarAtmosfer di Panggung Utama Sekte Awan Biru mendadak bergetar hebat. Angin sore yang berhembus kencang seolah terhenti, tertahan oleh riak energi tak kasat mata yang perlahan meluap dari tubuh Saka. Tidak ada lagi penyamaran berlebih. Meskipun jubah abu-abunya masih kusam dan bernoda debu, aura kedalaman jiwa yang terpancar dari sepasang mata keemasannya membuat ribuan murid di sekeliling arena menahan napas secara refleks.Fikri meneguk ludah. Ujung tombak besi berat di tangannya gemetar pelan. Sebagai seorang kultivator Ranah Pengumpulan Qi tingkat ketujuh puncak, dia memiliki kepekaan bahaya yang jauh lebih tinggi dibanding murid biasa. Tekanan jiwa yang dilepaskan Saka saat ini bukan sekadar tekanan Qi biasa—itu adalah dominasi murni dari seorang penguasa pedang tiada tanding."Seni Tombak Naga Gelombang: Tusukan Pembelah Samudra!"Fikri meraung lantang, mencoba mengusir rasa gentar di dadanya. Dia melangkah maju dengan kecepatan penuh, menyalurkan seluruh sisa energi Qi di dalam d
Zuletzt aktualisiert: 2026-08-10