
Terjerat Cinta Sang Kapten
Nara menjalani pernikahan yang perlahan terasa bagaikan sangkar dingin. Raka, pria yang dulunya menghujaninya dengan kehangatan dan kasih sayang, kini berubah menjadi sosok yang jaraknya terasa kian jauh, acuh, serta selalu menomorduakan dirinya. Di tengah rasa hampa dan kesepian yang mengikis batinnya, rutinitas penerbangan menjadi satu-satunya pelarian Nara untuk bernapas.
Namun, dunia penerbangan itu tak lagi sama sejak hadirnya Dion—pimpinan penerbangan yang tampan, karismatik, dan secara terang-terangan menunjukkan ketertarikan padanya. Dion menghadirkan perhatian intens dan getaran emosional yang sudah lama padam dari hidup Nara. Meski rasa bersalah terus membayangi langkahnya, pendekatan Dion yang memikat dan penuh pesona perlahan meruntuhkan benteng pertahanan Nara, mengikat mereka dalam ikatan rahasia berisiko tinggi di setiap kota persinggahan.
Saat Nara mulai terjerat dalam pusaran perasaan terlarang dan konflik batin yang kian bergejolak, sebuah fakta tak terduga mendadak terungkap. Rahasia besar di balik sikap dingin Raka selama ini akhirnya terbongkar, menghancurkan seluruh asumsi Nara dan membawanya ke persimpangan keputusan terbesar dalam hidupnya.
Read
Chapter: Bab 89: Kafe Tua di BandungPerjalanan dua jam menumpangi kereta cepat menuju Bandung dilalui Nara dalam keheningan yang melelahkan.Di luar jendela kereta, pemandangan bukit-bukit hijau melintas cepat di bawah langit sore yang berawan tipis.Pikiran Nara terus berputar pada potongan-potongan peristiwa yang menyeretnya sampai ke titik ini.Keinginan Raka yang ingin bertemu untuk menjelaskan semuanya, hingga konfrontasi fisik yang baru saja ia lewati di apartemen tadi pagi.Hujan gerimis menyambut kedatangan Nara di Stasiun Bandung. Ia memesan taksi daring, menyebutkan alamat sebuah kafe tua yang tersimpan rapi dalam memorinya.Kafe itu berdiri di sudut lorong berasitektur kolonial. Bangunannya mempertahankan bentuk aslinya dengan dinding bata terkelupas artistik, jendela kayu tinggi, dan pendar lampu kekuningan yang temaram.Di sudut ruangan dekat jendela kafe inilah Raka pertama kali memintanya menjadi pendamping hidup—sebuah momen hangat yang kini terasa begitu asing
Last Updated: 2026-11-06
Chapter: Bab 88: Halangan dari Dion (!)Nara melangkah kembali ke dalam kamar utama usai meneguk air di dapur.Pendar temaram lampu tidur membingkai siluet Dion yang sudah duduk tegak di tepi tempat tidur.Ponsel milik Nara berada di dalam cengkeraman jemari pria itu, layarnya masih memancarkan notifikasi konfirmasi tiket kereta cepat menuju Bandung jam dua siang nanti.Langkah Nara terhenti seketika. Hawa udara di kamar terasa mendadak berat dan menyempit.Dion mendongak, menatap Nara lurus-lurus.Tidak ada bentakan atau raungan amarah, namun raut mukanya mengeras oleh rasa kecewa dan dominasi yang terusik.Pria itu melempar ponsel tersebut ke atas kasur dengan gerakan perlahan."Bandung?" tanya Dion singkat, intonasinya mengalir tenang tetapi amat menekan. "Kereta cepat jam dua siang nanti, atas nama Nara Kirana. Kamu mau pergi nemuin siapa, Nara?"Nara menelan ludah yang terasa kesat di tenggorokan. Ia tidak mencoba merebut ponselnya atau mengarang alibi konyol; i
Last Updated: 2026-11-06
Chapter: Bab 87: Rencana PertemuanKeheningan kembali menguasai apartemen itu usai kepergian Dion ke kantor operasional maskapai. Pintu utama yang terkunci otomatis menyisakan ruang gerak yang terisolasi bagi Nara.Pagi melangkah pelan menuju siang, membias cahaya matahari yang redup tertutup awan mendung di balik kaca jendela besar.Nara berdiri di tengah ruang utama, memandangi tas bahunya yang tergeletak di atas sofa kulit. Keputusan untuk menyetujui ajakan pertemuan Raka di Bandung besok sore telah ia bulatkan.Namun, mengurus logistik keberangkatan secara diam-diam dari dalam hunian Dion membutuhkan ketelitian ekstra.Dion bukan pria yang mudah terkecoh; setiap gerak-gerik dan perubahan kebiasaan Nara selalu berada di bawah pengawasannya.Nara melangkah mendekati meja rias di kamar utama, meraih ponselnya. Ia membuka aplikasi pemesanan tiket kereta api cepat rute Jakarta-Bandung untuk jadwal besok siang.Jemarinya bergerak gesit menyelesaikan pembayaran elektronik, memil
Last Updated: 2026-11-05
Chapter: Bab 86: Pesan Misterius dari RakaSuasana di dalam unit apartemen mewah itu terasa begitu lengang usai kepindahan singkat Dion ke ruang kerja pribadi.Ketegangan dari penolakan tanda tangan surat cerai tadi pagi masih meninggalkan jejak di udara. Nara terduduk di tepi ranjang utama, memandangi pantulan dirinya di cermin meja rias.Wajahnya tampak lelah, namun sorot matanya menyimpan ketetapan hati yang tak lagi mudah dipengaruhi.Ponsel milik Nara yang tergeletak di atas bantal bergetar halus.BZZZZ... BZZZZ...Nara mengulurkan tangan, meraih benda tipis itu. Layar menunjukkan sebuah pesan masuk dari nomor kontak Raka.Binar mata Nara terbelalak sejenak; sejak malam pertengkaran hebat mereka di ruang tengah rumah, Raka tidak pernah sekali pun mencoba menghubungi atau mengirimkan pesan singkat.Dengan napas yang tertahan pelan, Nara menggeser layar untuk membaca isi pesan tersebut:Nara, aku tahu kamu lagi sama Dion sekarang. Aku gak akan minta atau
Last Updated: 2026-11-05
Chapter: Bab 85: PenundaanUjung pena yang hampir saja menggoreskan tandatangan Nara di atas lembar meterai itu mendadak berhenti.Titik hitam kecil dari tinta menjadi satu-satunya jejak yang tertinggal di atas kertas putih bersih tersebut.Nara menghembuskan napas pelan, menarik tangannya perlahan dari cengkeraman Dion.Ia meletakkan pena berkilau itu di samping dokumen, lalu menutup amplop draf perceraian dengan gerakan yang amat mantap."Aku tidak bisa menandatanganinya sekarang, Dion," kata Nara. Suaranya meluncur tenang, tanpa nada tinggi, namun diimbuhi ketegasan yang realistis.Dion membeku di tempat duduknya. Binar matanya yang semula dipenuhi ketenangan percaya diri seketika berubah kencang.Ia memajukan tubuhnya, menatap Nara dengan sorot pandang yang tajam dan tidak sabar."Kenapa?" tanya Dion. Intonasinya menekan, memotong keheningan kamar dengan pertanyaan kaku. "Apa lagi yang bikin kamu ragu, Nara? Kertas ini cuma formalitas untuk membebaskanmu da
Last Updated: 2026-11-04
Chapter: Bab 84: Keraguan Menjelang EksekusiPena hitam berkilau di jemari Nara terasa makin berat, seolah bobot seluruh masa lalunya tertuang di ujung tinta kering tersebut.Lembar demi lembar berkas perceraian di atas meja nakas menampilkan deretan frasa hukum yang dingin. Perpisahan, pembagian hak, dan pengakhiran ikatan pernikahan.Di halaman terakhir, tepat di atas garis bertuliskan namanya, kotak meterai kosong menantikan pembuktian keputusan yang tak lagi bisa ditarik kembali.Dion duduk bersandar di sampingnya. Bahu tegap pria itu menempel di lengan Nara, mengalirkan kehangatan yang kontras dengan dinginnya lembaran kertas di pangkuannya.Binar mata Dion memperhatikan setiap gerak jemari Nara, menantikan kepatuhan yang sudah ia rancang sejak lama.Nara menunduk, memandangi tanda tangan Raka yang belum ada di sana. Draf surat ini dibuat sepihak oleh tim hukum pilihan Dion, dirancang untuk memotong seluruh jalur komunikasi antara dirinya dan suaminya."Kenapa berhenti, Nara?" pan
Last Updated: 2026-11-04