
Terjebak Gairah Sang Kapten
Nara menjalani pernikahan yang perlahan terasa seperti penjara dingin. Raka, pria yang dulunya menghujaninya dengan kehangatan dan kasih sayang, perlahan berubah menjadi sosok yang cuek, dingin, dan selalu menomorduakan dirinya. Di tengah hampa dan kesepian yang mengikis batinnya, penerbangan demi penerbangan menjadi satu-satunya pelarian Nara. Namun, penerbangan itu tak lagi sama sejak Kapten Dion—pilot atasan dengan pesona dominan, tampan, dan agresif—secara terang-terangan menunjukkan ketertarikannya.
Dion menghadirkan gairah, perhatian intens, dan ketegangan fisik yang tak pernah lagi Nara rasakan dari suaminya. Meski rasa bersalah terus menghantuinya, pendekatan Dion yang manipulatif sekaligus memikat perlahan meruntuhkan benteng pertahanan Nara. Hubungan gelap berisiko tinggi pun terjalin di balik pintu rumah tangga. Saat Nara mulai tenggelam dalam pusaran gairah dan konflik batin yang makin bergejolak, sebuah penemuan tak terduga mengungkap tabir di balik dinginnya Raka selama ini—sebuah rahasia yang menghancurkan semua asumsinya dan membawa hubungan mereka ke jurang keputusan terbesar.
Baca
Chapter: Bab 7: Jarak yang TerkikisBunyi klik dari kunci pintu yang merapat bergema di dalam kamar nomor 1208.Nara berdiri mematung di tempatnya. Matanya membelalak menatap Dion yang kini melangkah tenang menuju meja bundar di dekat jendela.Pria itu meletakkan nampan kayu yang dibawanya, lalu dengan gerakan terampil menuangkan cairan merah pekat dari botol anggur ke dalam dua gelas kristal.Aroma cologne mahal bernuansa woody dan amber milik Dion mendadak mendominasi udara kamar, menggantikan wangi pendingin ruangan yang steril.Wangi yang maskulin—sebuah aroma yang seolah menyengat indra Nara dan membuatnya kian sadar akan keberadaan sang pilot."Kapten, ini sungguh tidak profesional," tegur Nara pelan. Tangannya refleks merapatkan ikatan tali bathrobe putih yang membungkus tubuhnya. "Kalau ada yang melihat Anda masuk ke kamar saya—""Tidak ada yang melihat, Nara," potong Dion tenang. Pria itu berbalik, membawa satu
Terakhir Diperbarui: 2026-09-22
Chapter: Bab 6: Gelas PertamaNara menatap pesan dari Kapten Dion di layar ponselnya dengan dada berdebar kencang. Jemarinya melayang di atas papan ketik virtual, diliputi keraguan mendalam.Sebagian kecil dalam dirinya—bagian yang terluka dan merasa kesepian—tertarik untuk menyambut ajakan itu, sekadar untuk merasa dihargai. Namun, nurani dan statusnya sebagai seorang istri sah menahannya kuat-kuat.Ia menelan ludah, menetralkan desiran aneh di dadanya, lalu mulai mengetik balasan dengan formal dan hati-hati.“Terima kasih atas perhatiannya, Kapten. Tapi mohon maaf, saya sudah sangat lelah setelah penerbangan tadi dan ingin segera istirahat di kamar. Selamat malam.”Nara menekan tombol kirim.Nara menghela napas lega, merasa telah mengambil keputusan yang tepat. Ia tidak boleh melintasi batasan profesionalitas, apalagi memberikan ruang bagi pria lain untuk masuk ke dalam celah keretakan rumah tangganya.Ia meletakkan ponsel itu di atas meja samping tempat tidur, lalu berjalan menuju cermin untuk menyisir rambut h
Terakhir Diperbarui: 2026-09-20
Chapter: Bab 5: Pesan yang Tak DibalasAroma mint yang menenangkan bercampur hangat tubuh Dion terasa membekas di benak Nara.Sentuhan kuat di pinggangnya di ruang galley beberapa jam lalu terus terngiang, seolah menolak sirna meski roda pesawat kini telah menyentuh landasan Bandara Changi, Singapura.Nara berusaha bersikap seprofesional mungkin hingga proses deboarding usai.Namun, setiap kali pandangannya secara tak sengaja bertemu dengan manik mata cokelat gelap milik Dion yang berdiri di pintu kokpit saat menyapa penumpang keluar, dadanya selalu berdesir kencang.Ada binar penuh arti di mata pria itu, sarat akan makna terselubung yang makin sulit Nara abaikan.Setelah seluruh proses penerbangan selesai dan prosedur administrasi ditutup, para awak pesawat dijemput oleh bus khusus maskapai menuju hotel transit di kawasan Marina Bay.Di sepanjang perjalanan, Nara lebih banyak melemparkan pandangan ke luar jendela bus, menatap gemerlap lampu kota Singapura yang memantul di atas permukaan air.Maya yang duduk di sampingnya
Terakhir Diperbarui: 2026-09-19
Chapter: Bab 4: Terjangan TurbulensiSensasi hangat dari sentuhan Dion di punggung tangannya seolah masih terasa di kulit Nara. Membuatnya menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan kekacauan di dalam dadanya.Prosedur boarding berlangsung cepat dan efisien. Penumpang mengalir masuk mengisi lorong-lorong kabin kelas bisnis dan ekonomi.Sebagai pramugari senior, Nara memamerkan senyum terbaiknya. Menyapa setiap penumpang dengan nada suara yang hangat dan anggun.Namun di balik kedok profesional itu, pikiran Nara terus melayang. Terbagi antara helai rambut di jas Raka dan tatapan memikat Dion yang seolah bisa membaca semua rahasia emosinya."Pintu kabin sudah cross-check dan teratur, Mbak Nara," lapor Maya seraya menghampirinya di area galley depan."Terima kasih, Maya. Persiapkan diri untuk take-off," jawab Nara tenang.Tak lama kemudian, suara bariton yang sudah sangat familiar terdengar memecah keheningan kabin melalui sistem Public Address. Suara Kapten Dion mengudara, memberikan informasi penerbangan dengan gaya bica
Terakhir Diperbarui: 2026-09-19
Chapter: Bab 3: Tatapan di KokpitAtmosfer di dalam briefing room terasa menegang seketika.Dion melangkah mantap menuju ujung meja oval, membiarkan topi kaptennya tergeletak santai di atas permukaan kaca. Posturnya yang tegap dan garis wajahnya yang tegas memancarkan otoritas yang tak terbantahkan.Pria itu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, menatap satu per satu awak kru pesawat yang berdiri kaku dalam posisi siap."Selamat pagi," ulang Dion dengan suara yang menggema di setiap sudut ruangan. "Penerbangan kita hari ini menuju Singapura. Cuaca di rute prediksi cerah berawan, namun kita tetap harus waspada terhadap potensi turbulensi ringan di atas Kepulauan Riau."Semua kru menyahut serentak dengan nada hormat. Nara ikut mengangguk, berusaha menjaga pandangannya tetap tertuju pada dokumen cetak di tangannya.Namun, Nara bisa merasakan ketegangan aneh—sebuah insting yang memberitahunya bahwa ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya dengan intensitas yang berbeda.Saat Dion memberikan pengarahan terkait pr
Terakhir Diperbarui: 2026-09-19
Chapter: Bab 2: Seragam dan PelarianJemari Nara gemetar hebat saat memegang helai rambut bergelombang berwarna cokelat terang itu. Di telapak tangannya, helai itu tampak begitu nyata, kontras dengan kulit mulusnya.Bau parfum vanilla berry yang manis dan pekat seolah meracuni udara di sekitarnya, menempel ketat di kain jas hitam milik Raka dan kini menusuk langsung ke relung dadanya.Nara menatap Raka yang masih terlelap di atas tempat tidur. Pria itu bernapas teratur, tampak begitu tenang tanpa beban, seolah tidak baru saja membawa jejak wanita lain ke dalam rumah mereka. Hati Nara teriris.Haruskah ia membangunkan Raka sekarang juga? Haruskah ia menarik selimut itu, menjejalkan jas bernoda aroma asing ini ke wajah suaminya, dan menuntut penjelasan?Namun, tenggorokannya terasa tercekat. Ketakutan yang amat sangat mendadak melumpuhkannya.Kerapuhan pernikahan mereka membuat Nara gentar; ia takut jika ia mendesak Raka pagi ini, kebenaran yang keluar dari mulut pria itu justru akan menghancurkan sisa-sisa ikatan mereka s
Terakhir Diperbarui: 2026-09-19