Chapter: 110. Atmosfer menjadi lebih serius“Ini yang terakhir, loh. Yang Kakek ambil itu potongan besar. Singkongnya juga besar. Setelah ini, jangan ambil lagi.”Avidius duduk di sebelah Barid.Sosok satunya sudah lebih dahulu duduk, bahkan tangannya sudah menyambar sajian di meja. Ia Leonere, mengambil tempat duduk di sebelah Edvard. Sofa yang diduduki Eduardo adalah sofa tunggal dan tubuh Eduardo lebih dari cukup untuk membuat sofa kecil itu nyaris tanpa celah.Leonere mengambil roti bulat, diameternya kira-kira 12―15 sentimeter. Satu telur dadar bulat utuh diambil kemudian, ia letakkan di atas roti. Ia ambil botol saus tomat, menuangnya di atas telur. Botol saus ditaruh, roti ia lipat jadi setengah lingkaran.Avidius hendak mengambil roti juga. Namun, tangannya dipukul pelan.“Apa, sih, Kakek?”Avidius mengusap punggung tangannya.“Di mana etikamu? Lihat itu ada tamu. Katakan sesuatu pada Dokter Ed.”“Kami sudah tegur sapa, kok. Iya, kan, Dokter?”
Última actualización: 2025-10-03
Chapter: 109. Sarapan di kediaman Eduardo“Ehem!”Dehaman itu nyaring, menggoyahkan mata Bexter dalam sekejap. Kepalanya bergerak, matanya mendelik. Dexter si pelaku langsung pura-pura memandangi atap.Tawa halus yang tertahan Bexter dengari. Suara khas si asik bungsu. Bexter tidak melempar tatapan yang sama seperti yang ia lakukan pada Dexter. Hanya teguran halus yang ia lakukan.“Cerys ….”Jejak kemerahan masih tertinggal di pipi Bexter.“Iya, aku berhenti.” Cerys mengangkat satu tangan, tetapi wajahnya tidak bisa menipu. Garis senyum yang terpatri itu teramat jelas untuk tidak terlihat. “Sebaiknya aku tidur sekarang.”Tepat sesudah berucap begitu, Cerys berpura-pura menguap. Sebelah matanya melirik Dexter, mengirim sinyal tak bersuara yang segera bersambut.“Ah!” Dexter mengangkat sebelah tangan. “Aku juga perlu tidur. Esok aku harus bangun pagi sekali.”Sambil lalu, Dexter menatap Bexter, melempar senyum penuh arti. Ia hampiri Cerys, merangkul si bungsu.“Selamat malam, Kak Bexter dan Elwanda!” Riang Cerys berkata. Satu t
Última actualización: 2025-10-02
Chapter: 108. Beginikah rasanya punya anak?“Tuan Bexter!”Seruan mengudara dari paviliun. Mival yang semula duduk di teras jadi berdiri, menyambut Bexter dengan wajah berseri-seri.“Mival.” Lirih Bexter bergumam, mengarahkan langkah menuju Mival. Ia berhenti tiga langkah di depan Mival, kemudian bertanya, “Sudah malam. Kenapa di sini?”Semestinya itu tidak jadi pertanyaan. Bexter sudah punya jawabannya meski tidak tahu benar atau tidak.“Aku menunggu Tuan Bexter.”“Menungguku? Ada sesuatu?”“Hum!” Mival mengangguk cepat. “Aku ingin tanya soal Bailey dan Shaw.”Jawaban dalam pikiran Bexter memang benar. Hal itulah yang bakal jadi pertanyaan Mival.Bexter mengulas senyum. “Pertanyaan yang bagaimana itu?”“Kudengar Shaw diserang di hutan ketiga. Aku juga dengar Bailey pergi, belum kembali sampai sekarang. Katanya, Bailey pergi menyusul Shaw. Aku juga tidak melihat Bailey hari ini. Apa itu benar?”Muka cerah Mival sirna. Siapa pun yang memperhatikan pasti dapat melihat kecemasan dan rasa ingin tahu yang besar pada Mival saat ini.
Última actualización: 2025-08-04
Chapter: 107. Teka-teki Amory “Tuan seorang penerka andal!” Shaw cengar-cengir.“Oh, tentu! Aku hafal bocah-bocah sepertikau.” Amory menunjuk Shaw dengan sendok seraya terkekeh.Cengiran Shaw makin lebar. Suasana hatinya memang membaik, kian jernih pula pikirannya hingga ia teringat akan tujuan kedatangannya. Bertepatan dengan itu, hanya sesaat sebelum Shaw mengeluarkan kata, Amory melempar tanya.“Jadi, apa yang membawamu kemari? Takkan kau datang untuk panasea atau sekadar berkunjung.”Baru saja Shaw hendak membawa topik itu ke udara. Amory ini seperti pemanah berpengalaman, penembak jitu yang mampu segera meraih inti pembicaraan. Kalau ia ada di meja bundar petinggi Zanwan, pastilah banyak permasalahan segera teratasi.Secara alami, karakteristik Amory mulai terukir pada pusat pemahaman Shaw. Ia makin mengenal Amory, makin tahu orang seperti apa paman Bailey ini.“Tugas. Aku ke sini karena tugas.”Shaw mengatur makanannya, mengambil sedikit-sedikit dari tiap makanan yang ada kecuali lauk berkuah cokelat pekat,
Última actualización: 2025-08-04
Chapter: 106. Kemampuan warisan HuntAmory kembali dengan sebuah keranjang bambu kecil. Ia letakkan keranjang itu di nakas, kemudian menyalakan penerangan―lentera. Kala ia berbalik, dilihatnya Shaw yang murung menatap Bailey.“Bailey hanya sedang menyesuaikan diri. Tubuhnya sedang beradaptasi. Dia akan segera pulih,” kata Amory sambil mendekati tempat tidur.Shaw beranjak, memberi tempat duduk kepada Amory.“Beradaptasi dengan apa?”“Kemampuan warisan Hunt.”Sesaat, Shaw tidak bertanya lagi. Ia menatap wajah Bailey, melihat mata Bailey terus meneteskan air. Ia baru mengajukan pertanyaan saat Amory mengolesi obat herbal di kening Bailey.“Berapa lama dia akan seperti itu? Berapa lama waktu adaptasinya?”“Setidaknya dua hari. Bisa lebih lama, tapi tidak sampai sepekan.”“Dua hari itu lama. Apa Bailey sungguh akan baik-baik saja? Apa dia akan makan minum atau kita membantunya makan minum?”Amory tersenyum menanggapi pertanyaan tersebut. Ia menarik tangan dari kening Bailey, sejenak menatap Shaw.“Kau ini sangat khawatir, ya
Última actualización: 2025-08-03
Chapter: 105. Tumbang“Aku cukup ingat jalannya kalau dari barat,” kata Shaw dengan suara rendah. Ia berpaling tatap ke sungai, lalu meneruskan, “Petunjuk yang aku punya cuma sungai dan tebing dengan air terjun.”“Ya sudah, kita teruskan. Ikuti sungai itu saja.” Tangan basah Bailey menepuk pelan pundak Shaw. “Tak ada waktu berpikir. Pemburu kita sangat banyak.”Shaw tidak enak hati. Ia khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada Bailey, tetapi ia pun tidak punya ide lain kecuali sesuatu yang barusan hadir di kepalanya.“Sebentar, Bailey.”Shaw mencekal lengan Bailey, menahannya yang hendak berlari. Shaw menarik tangannya setelah Bailey menghadap dirinya dengan sorot tanya. Sesudah itu, kedua tangan Shaw bertemu, tetapi tidak benar-benar menempel telapak tangannya.Semilir angin berembus. Sekejap berselang, Shaw mengarahkan telapak tangannya ke dada Bailey.Bailey keberatan, tetapi matanya spontan memperhatikan penampilan Shaw, lalu ia bergeming―tidak menahan maupun menolak apa yang Shaw lakukan.“Kudengar kau
Última actualización: 2025-08-03
Chapter: 5. Itu Jati?!Adipati Ginggana memandangi jalanan belokan ke kanan. Nada suaranya lebih rendah dan serius saat dia bicara.“Jejak mobil dari arah pasar cuma satu, itu mengarah ke jalan lurus.”“Itu menuju puncak. Jalan mentok di pertigaan, tapi cuma belokan ke kanan yang untuk mobil. Jalan satunya jalan setapak. Sebelum ke sana ada beberapa belokan, tapi jalan kecil, tak muat untuk mobil.” Ayah Jati meragu sambil memandangi jalanan belokan ke kanan dan mengingat-ingat. “Aku tak yakin semua akan baik-baik saja kalau Jati benar ke sana. Itu jalan alternatif ke vila. Orang-orang dari luar kota biasa menginap di sana, kan?”“Oh, itu jalan ke vila-vila?”“Iya.”“Keluarga Tikta dan Soga punya vila.” Jiwa tiba-tiba bicara dan itu bagai cahaya dalam gelap.“Kita ke sana.” Adipati Ginggana segera berbalik, kembali ke mobil.“Ke manalah anakku Jati. Aku jadi makin khawatir dia betulan kenapa-kenapa.” Ayah Jati tiba-tiba murung begitu dia masuk.Adipati Ginggana memberi tepukan di pundak ayah Jati.“Optimisla
Última actualización: 2026-02-04
Chapter: 4. Petunjuk“Itu ….”Yuswan memutar otak. Dia mencoba memahami apa tepatnya kata sore yang Jiwa maksud, momen mana yang dimaksud.Lokasi awal pertemuan dengan Jati mencuat dalam kepalanya. Itu saat sore dan itu pilihan paling aman. Jadi, Yuswan segera melanjutkan ucapan.“Itu … saya ketemu Jati di pasar.”“Terus?” Jiwa masih belum puas.“Kami ngobrol ringan, terus belanjaan saya pada jatuh. Jati bantu mungutin.”“Terus?”“Ya, begitu.”“Kauyakin?”Jiwa tidak melakukan apa pun selain bicara dan menatap Yuswan, tetapi itu lebih dari cukup untuk menekan mental Yuswan perlahan-lahan. Jiwa serupa interogator—tatapannya tajam, haus informasi, dan penuh penilaian.Seharusnya Soga atau Tikta yang ada di sini, bukan dirinya. Yuswan tak seceplas-ceplos Soga yang kata-katanya penuh keyakinan. Dia pun tidak seberani Tikta yang mampu menguasai situasi. Dia tidak yakin bisa menyimpan rahasia berlama-lama karena untuk sekadar terlihat meyakinkan pun dia kesulitan.Yuswan memeras otaknya lebih keras, memilin tiap
Última actualización: 2026-02-04
Chapter: 3. Mencari JatiJalanan lengang di pinggiran kota.Ayah Jati melajukan sepeda dengan kecepatan sedang. Lampu oranye di tengah setir menyorot bebatuan datar di bawah.Sambil melajukan sepeda, ayah Jati berteriak, lantang dan penuh harap.“Jatiii!”“Jaaatiiiiiiii!”Suaranya membelah sunyi, membahana menembus malam.Jalanan kian berkelok, lebarnya cukup untuk satu mobil, tiga mobil jika dihitung total dengan jalur sepeda dan pejalan kaki. Pagar bambu tebal selutut orang dewasa di kanan kiri jalan, di baliknya hijau pohon dan rumput—sesekali bunga dan pohon dengan daun berwarna, lampu jalanan di tiap lima meter.Sepeda terus melaju di jalur khusus, memasuki jalan besar di pertigaan.Rumah-rumah terlihat. Ayah Jati terus melaju dan berteriak.Makin jauh, kendaraan lain mulai terlihat.Sepeda memasuki pusat kota. Sebuah rumah dengan pagar hitam menjulang menjadi tempat berhenti.Turun dari sepeda, ayah Jati menekan bel di sisi pagar. Beberapa detik setelahnya, datang seorang petugas keamanan berseragam hit
Última actualización: 2026-02-04
Chapter: 2. Jati mau diapain?Langkah berhenti beberapa meter dari anak tangga teratas. Sebuah pintu kayu cokelat pekat polos di depan.Asisten Adipati Dristan menyalip, lalu membuka pintu itu dengan sekali memutar knop.Penerangan putih yang pertama terlihat kala pintu terbuka. Keramik putih di bawahnya, berkilau bagai menerima cahaya lampu dan memantulkannya dengan gembira.Asisten Adipati Dristan masuk, menghampiri sebuah meja di ujung dekat tembok, membakar dua dupa, kemudian membuka kresek putih. Helaian bunga pancawarna dikeluarkan sang asisten dari kresek, lalu ditaburkannya bunga-bunga itu ke lantai secara sembarang. Sesudahnya, dia keluar seraya melipat kresek dan menyimpannya ke saku jas.“Sudah siap, Tuanku,” kata sang asisten, menghadap Adipati Dristan. Dia menyingkir, memberi jalan untuk Adipati Dristan memasuki ruangan.Yuswan secara refleks merapatkan diri lebih dekat ke Tikta. Di sebelah lain Tikta, Soga tidak berani sekadar bergerak.Pemandangan di dalam ruangan tidak biasa dan aroma dupa yang per
Última actualización: 2026-02-04
Chapter: 1. JebakDerap sepatu hitam yang mengkilap berhenti di depan tubuh Jati. Kaki pemakainya jatuh, satu lututnya nyaris menempel lantai. Tangan kekarnya mencengkeram wajah Jati di dagu. Mata hitamnya menatap lekat, tiap inci wajah Jati di antara ruam dan pekat darah dalam sorotannya. Ibu jarinya mengelus lembut pipi Jati beriring bibirnya mengalunkan suara lirih. “Untuk seorang lelaki, kulitmu halus sekali.” Suara itu menembus pendengaran Jati lebih lantang dari yang semestinya. Peringatan dalam kepala Jati kian nyaring dan cepat bersuara, menjalar bagai aliran listrik ke sekujur tubuh. Waspada. Jijik. Tatapan Jati menajam di bawah sorot lekat pria di hadapannya. Makin lama dia menatap, makin riuh perutnya bergejolak seolah-olah semua isi di dalamnya siap untuk meluncur keluar kapan saja. Ini terasa salah. Sangat salah. Jati mencoba berdiri. Namun, sedikit dia bergerak, dalam sekejap dia makin terkunci. Kaki dua pengawal berdasi dan berjas hitam makin kuat menginjak betisnya sementara tanga
Última actualización: 2026-02-03