ホーム / Urban / GEMA JATI / 4. Petunjuk

共有

4. Petunjuk

作者: Maula Faza
last update 最終更新日: 2026-02-04 12:29:06

“Itu ….”

Yuswan memutar otak. Dia mencoba memahami apa tepatnya kata sore yang Jiwa maksud, momen mana yang dimaksud.

Lokasi awal pertemuan dengan Jati mencuat dalam kepalanya. Itu saat sore dan itu pilihan paling aman. Jadi, Yuswan segera melanjutkan ucapan.

“Itu … saya ketemu Jati di pasar.”

“Terus?” Jiwa masih belum puas.

“Kami ngobrol ringan, terus belanjaan saya pada jatuh. Jati bantu mungutin.”

“Terus?”

“Ya, begitu.”

“Kauyakin?”

Jiwa tidak melakukan apa pun selain bicara dan menatap Yuswan, tetapi itu lebih dari cukup untuk menekan mental Yuswan perlahan-lahan. Jiwa serupa interogator—tatapannya tajam, haus informasi, dan penuh penilaian.

Seharusnya Soga atau Tikta yang ada di sini, bukan dirinya. Yuswan tak seceplas-ceplos Soga yang kata-katanya penuh keyakinan. Dia pun tidak seberani Tikta yang mampu menguasai situasi. Dia tidak yakin bisa menyimpan rahasia berlama-lama karena untuk sekadar terlihat meyakinkan pun dia kesulitan.

Yuswan memeras otaknya lebih keras, memilin tiap kata yang tebersit di sana dengan seksama sementara wajahnya makin jelas menampilkan betapa gugupnya dia.

“Ah, belanjaan yang banyak itu, Nak?” Lantrik mengambil celah. Dia tahu anak lelakinya butuh bantuan.

“Iya.” Yuswan mengusap tengkuk. Kegugupannya berkurang karena pertanyaan ayahnya. “Itu untuk tugas praktek kreatif yang diberi minggu lalu. Saya belum ngerjain, bingung mau bikin apa. Mau coba bikin kreasi makanan.”

“Oh, tugas itu.” Jiwa membenarkan bahwa Yuswan tidak mengada-ada, tetapi tujuan utama pertanyaannya bukan untuk itu. Jadi, dia bertanya lagi, “Setelah itu kalian ke mana?”

Kegugupan Yuswan bertambah lagi, ditambah dia harus menjaga etika. Kalau saja tidak ada para orang tua, hanya ada Jiwa saja, dia bisa melepaskan formalitas dan bicara lebih leluasa.

Manalagi pertanyaan Jiwa ambigu; bermakna ganda antara Jiwa bertanya karena benar-benar tidak tahu atau sekadar jebakan. Jiwa tidak bertanya ‘Jati ke mana’, melainkan menggunakan kata ‘kalian’. Itu murni pertanyaan yang sekaligus senjata.

Di sisi lain, ayah Jati, Adipati Ginggana, dan Geruh hanya menonton. Ekspresi tenang ketiganya berbanding terbalik dengan Lantrik yang kebingungan.

“A … Jati khawatir saya kesulitan bawa barang belanjaan. Jadi, dia bantu bawain belanjaan ke mobil dan saya anter dia sampai perempatan lapangan.”

“Ooh ….” Sekarang Jiwa terdengar percaya. Dia lekas menoleh dari Yuswan dan berkata, “Bisa jadi Jati di lapangan atau main di kebun sekitar sana sampai lupa waktu.”

Adipati Ginggana mengerjap, mempertanyakan apa yang ada di pikiran anak lelakinya. Dia tahu Jiwa bisa diandalkan. Namun, tidak mengira akan sesingkat itu sesi pertanyaan Jiwa kepada Yuswan sedangkan informasi akurat soal keberadaan Jati belum didapatkan, belum bisa dipercayai sepenuhnya sebagai kejujuran dan kebenaran.

Lain halnya dengan ayah Jati yang matanya membulat seolah-olah teringat sesuatu.

“Oh, iya! Jati memang terkadang ke sana.”

“Yah, sepertinya itu saja. Maaf, Lantrik, kami mengganggu malam-malam.” Adipati Ginggana mewakili pamit, pasrah karena ayah Jati pun mendukung pernyataan Jiwa.

“Iya, Lantrik. Maafkan. Anakku belum pulang sampai sekarang. Aku coba tanya-tanya teman sekelasnya, mana tahu ada yang lihat atau ketemu anakku dari siang hari ini.” Ayah Jati turut bicara. Dia belum bilang alasan dia mencari Yuswan, merasa harus mengatakan itu karena dia tahu kalau dia tidak mengatakannya mungkin Yuswan takkan dapat segera tidur lagi setelah ini karena Lantrik akan menanyainya ini itu.

“Ah, tidak mengapa. Justru kalau diperlukan, saya bersedia ikut mencari. Tidak lazim untuk anak-anak belum pulang jam segini.”

Tanpa diduga, Lantrik malah menawarkan bantuan.

Ayah Jati melirik Adipati Ginggana yang segera menyahut.

“Bantuanmu berharga sekali. Aku akan merepotkanmu untuk pergi ke rumah kepala distrik kalau kau sungguh tak keberatan. Mungkin Jati akan lebih cepat ditemukan kalau-kalau dia tak ada di sekitar lapangan.”

“Tidak masalah, Tuanku. Saya akan pergi!”

Lantrik tiba-tiba menjadi bersemangat. Senyumnya mengembang sempurna. Mendapat kepercayaan Adipati Ginggana adalah hal istimewa, bagai harta karun atau anugerah yang menaikkan harkat. Lantrik tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

“Geruh akan pergi bersamamu.”

Namanya disebut sang adipati, Geruh kontan mengangguk kecil.

“Baik, Tuanku!” Lantrik juga mengangguk. Rasa senang memenuhi hatinya.

Tanpa sempat duduk, ayah Jati keluar lagi. Adipati Ginggana dan Jiwa di belakangnya diikuti Geruh, Lantrik, dan Yuswan.

Mobil melaju tanpa Geruh—Adipati Ginggana yang menyupir—menuju perempatan lapangan. Tidak sampai lima menit perjalanan untuk sampai ke sana.

Mobil berhenti di perempatan. Keadaan terang di sepanjang jalan. Namun, hanya itu saja tanda-tanda kehidupan. Tidak ada rumah, tidak ada orang atau kendaraan lewat. Hanya tanah lapang dan rerumputan, pohon dengan daun berwarna-warni antara satu pohon dan lainnya, serta aneka bunga.

Adipati Ginggana keluar. Ayah Jati keluar dari kursi samping kemudi. Jiwa keluar dari kursi belakang.

“Jarang ada yang lewat sini larut malam,” kata ayah Jati.

“Itu bagus,” sahut Adipati Ginggana. Dia menyingkap lengan kemejanya, mengotak-atik jam tangan selagi dia berjalan.

Sinar biru memancar lurus dari jam tangan, menyusuri permukaan jalan serupa mesin pemindai. Adipati Ginggana menggerakkan serta tangan kirinya, memindai jalanan di belokan kiri, lurus, dan belokan kanan.

“Kalau dari pasar, mobil datang dari kiri, kan?” tanya Adipati Ginggana seusai sinar biru dari jam tangannya padam.

“Iya.” Ayah Jati yang bicara, sebuah anggukan menyertainya. “Kalau dari sini, lurus ke sana buat ke rumahku. Kalau dari arah pasar terus berhenti di perempatan ini, berarti belok kiri buat ke rumahku.”

“Dan untuk ke rumah Yuswan, belok kanan dari arah pasar,” kata Adipati Ginggana tanpa mengalihkan pandang dari layar jam tangan.

“Benar, Papa.” Jiwa yang menyahut kali ini.

“Tapi tak ada jejak mobil belok kanan dari arah pasar. Cuma ada mobil dari arah kanan dari sini dan tak ada jejak mobil sempat berhenti dari arah pasar, tak ada jejak kaki turun dari mobil.”

“Sudah pasti begitu,” ujar Jiwa.

Ayah Jati dan Adipati Ginggana mengarahkan atensi mereka kepada Jiwa.

“Jati tak turun di sini,” ujar Jiwa lagi.

“Kamu bilang Jati bisa jadi ke sini.” Adipati Ginggana meminta penjelasan.

Ayah Jati juga penasaran. Dia ikut bertanya, “Kenapa Nak Jiwa yakin Jati tak turun di sini? Tapi Jati memang terkadang ke sini.”

“Benar. Namun, kali ini Jati tidak turun di sini, tidak ke sini dan pulang sendirian.” Jiwa mulai menjawab.

Jiwa menghirup udara sejenak, lalu meneruskan jawaban.

“Pertama, Yuswan, kan, pergi naik mobil. Dia ada supir pribadi. Dia tak butuh bantuan Jati lagi untuk bawain belanjaan ke mobil. Yah, mungkin Jati bantuin, tapi mesti tetap dibantu supir. Tak mungkin Jati bantu bawain belanjaan sampai naik ke mobil, terus Yuswan anterin Jati ke sini, terus Jati turun di sini.”

“Kedua, Jati bilang mau belanja. Kalau dia bilang mau belanja, artinya dia mau belanja, tapi dari omongan Yuswan, Jati tidak belanja.”

“Yuswan itu kelihatan banget kalau bohong dan dia bohong tadi walau tak sepenuhnya. Dia mungkin benar soal pergi ke sini sama Jati, tapi mungkin tidak soal Jati turun di sini.”

“Selain itu, Jiwa curiga Jati jadi korban keusilan Yuswan dan gengnya lagi.”

“Geng?” Ayah Jati mengulang kata.

Jiwa mengangguk kecil. “Yuswan sering main sama Soga dan Tikta. Mereka ke mana-mana hampir selalu bertiga. Di sekolah, mereka disebut geng. Mereka ambisius soal peringkat dan kejuaraan sekolah, terutama Tikta. Nah, mereka ini sering kalah saing sama Jati dan Jiwa, terus entah kesal atau apa, mereka jadi kadang usil, tapi cuma ke Jati. Cuma sejauh ini mereka tak pernah melewati batas, sih.”

“Masuk akal.” Adipati Ginggana manggut-manggut. “Problematika remaja, tapi kalau benar itu masalahnya, ini sudah kelewat batas.”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • GEMA JATI   5. Itu Jati?!

    Adipati Ginggana memandangi jalanan belokan ke kanan. Nada suaranya lebih rendah dan serius saat dia bicara.“Jejak mobil dari arah pasar cuma satu, itu mengarah ke jalan lurus.”“Itu menuju puncak. Jalan mentok di pertigaan, tapi cuma belokan ke kanan yang untuk mobil. Jalan satunya jalan setapak. Sebelum ke sana ada beberapa belokan, tapi jalan kecil, tak muat untuk mobil.” Ayah Jati meragu sambil memandangi jalanan belokan ke kanan dan mengingat-ingat. “Aku tak yakin semua akan baik-baik saja kalau Jati benar ke sana. Itu jalan alternatif ke vila. Orang-orang dari luar kota biasa menginap di sana, kan?”“Oh, itu jalan ke vila-vila?”“Iya.”“Keluarga Tikta dan Soga punya vila.” Jiwa tiba-tiba bicara dan itu bagai cahaya dalam gelap.“Kita ke sana.” Adipati Ginggana segera berbalik, kembali ke mobil.“Ke manalah anakku Jati. Aku jadi makin khawatir dia betulan kenapa-kenapa.” Ayah Jati tiba-tiba murung begitu dia masuk.Adipati Ginggana memberi tepukan di pundak ayah Jati.“Optimisla

  • GEMA JATI   4. Petunjuk

    “Itu ….”Yuswan memutar otak. Dia mencoba memahami apa tepatnya kata sore yang Jiwa maksud, momen mana yang dimaksud.Lokasi awal pertemuan dengan Jati mencuat dalam kepalanya. Itu saat sore dan itu pilihan paling aman. Jadi, Yuswan segera melanjutkan ucapan.“Itu … saya ketemu Jati di pasar.”“Terus?” Jiwa masih belum puas.“Kami ngobrol ringan, terus belanjaan saya pada jatuh. Jati bantu mungutin.”“Terus?”“Ya, begitu.”“Kauyakin?”Jiwa tidak melakukan apa pun selain bicara dan menatap Yuswan, tetapi itu lebih dari cukup untuk menekan mental Yuswan perlahan-lahan. Jiwa serupa interogator—tatapannya tajam, haus informasi, dan penuh penilaian.Seharusnya Soga atau Tikta yang ada di sini, bukan dirinya. Yuswan tak seceplas-ceplos Soga yang kata-katanya penuh keyakinan. Dia pun tidak seberani Tikta yang mampu menguasai situasi. Dia tidak yakin bisa menyimpan rahasia berlama-lama karena untuk sekadar terlihat meyakinkan pun dia kesulitan.Yuswan memeras otaknya lebih keras, memilin tiap

  • GEMA JATI   3. Mencari Jati

    Jalanan lengang di pinggiran kota.Ayah Jati melajukan sepeda dengan kecepatan sedang. Lampu oranye di tengah setir menyorot bebatuan datar di bawah.Sambil melajukan sepeda, ayah Jati berteriak, lantang dan penuh harap.“Jatiii!”“Jaaatiiiiiiii!”Suaranya membelah sunyi, membahana menembus malam.Jalanan kian berkelok, lebarnya cukup untuk satu mobil, tiga mobil jika dihitung total dengan jalur sepeda dan pejalan kaki. Pagar bambu tebal selutut orang dewasa di kanan kiri jalan, di baliknya hijau pohon dan rumput—sesekali bunga dan pohon dengan daun berwarna, lampu jalanan di tiap lima meter.Sepeda terus melaju di jalur khusus, memasuki jalan besar di pertigaan.Rumah-rumah terlihat. Ayah Jati terus melaju dan berteriak.Makin jauh, kendaraan lain mulai terlihat.Sepeda memasuki pusat kota. Sebuah rumah dengan pagar hitam menjulang menjadi tempat berhenti.Turun dari sepeda, ayah Jati menekan bel di sisi pagar. Beberapa detik setelahnya, datang seorang petugas keamanan berseragam hit

  • GEMA JATI   2. Jati mau diapain?

    Langkah berhenti beberapa meter dari anak tangga teratas. Sebuah pintu kayu cokelat pekat polos di depan.Asisten Adipati Dristan menyalip, lalu membuka pintu itu dengan sekali memutar knop.Penerangan putih yang pertama terlihat kala pintu terbuka. Keramik putih di bawahnya, berkilau bagai menerima cahaya lampu dan memantulkannya dengan gembira.Asisten Adipati Dristan masuk, menghampiri sebuah meja di ujung dekat tembok, membakar dua dupa, kemudian membuka kresek putih. Helaian bunga pancawarna dikeluarkan sang asisten dari kresek, lalu ditaburkannya bunga-bunga itu ke lantai secara sembarang. Sesudahnya, dia keluar seraya melipat kresek dan menyimpannya ke saku jas.“Sudah siap, Tuanku,” kata sang asisten, menghadap Adipati Dristan. Dia menyingkir, memberi jalan untuk Adipati Dristan memasuki ruangan.Yuswan secara refleks merapatkan diri lebih dekat ke Tikta. Di sebelah lain Tikta, Soga tidak berani sekadar bergerak.Pemandangan di dalam ruangan tidak biasa dan aroma dupa yang per

  • GEMA JATI   1. Jebak

    Derap sepatu hitam yang mengkilap berhenti di depan tubuh Jati. Kaki pemakainya jatuh, satu lututnya nyaris menempel lantai. Tangan kekarnya mencengkeram wajah Jati di dagu. Mata hitamnya menatap lekat, tiap inci wajah Jati di antara ruam dan pekat darah dalam sorotannya. Ibu jarinya mengelus lembut pipi Jati beriring bibirnya mengalunkan suara lirih.“Untuk seorang lelaki, kulitmu halus sekali.”Suara itu menembus pendengaran Jati lebih lantang dari yang semestinya. Peringatan dalam kepala Jati kian nyaring dan cepat bersuara, menjalar bagai aliran listrik ke sekujur tubuh.Waspada.Jijik.Tatapan Jati menajam di bawah sorot lekat pria di hadapannya. Makin lama dia menatap, makin riuh perutnya bergejolak seolah-olah semua isi di dalamnya siap untuk meluncur keluar kapan saja.Ini terasa salah. Sangat salah.Jati mencoba berdiri. Namun, sedikit dia bergerak, dalam sekejap dia makin terkunci. Kaki dua pengawal berdasi dan berjas hitam makin kuat menginjak betisnya sementara tangan mere

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status