ホーム / Urban / GEMA JATI / 3. Mencari Jati

共有

3. Mencari Jati

作者: Maula Faza
last update 最終更新日: 2026-02-04 00:36:01

Jalanan lengang di pinggiran kota.

Ayah Jati melajukan sepeda dengan kecepatan sedang. Lampu oranye di tengah setir menyorot bebatuan datar di bawah.

Sambil melajukan sepeda, ayah Jati berteriak, lantang dan penuh harap.

“Jatiii!”

“Jaaatiiiiiiii!”

Suaranya membelah sunyi, membahana menembus malam.

Jalanan kian berkelok, lebarnya cukup untuk satu mobil, tiga mobil jika dihitung total dengan jalur sepeda dan pejalan kaki. Pagar bambu tebal selutut orang dewasa di kanan kiri jalan, di baliknya hijau pohon dan rumput—sesekali bunga dan pohon dengan daun berwarna, lampu jalanan di tiap lima meter.

Sepeda terus melaju di jalur khusus, memasuki jalan besar di pertigaan.

Rumah-rumah terlihat. Ayah Jati terus melaju dan berteriak.

Makin jauh, kendaraan lain mulai terlihat.

Sepeda memasuki pusat kota. Sebuah rumah dengan pagar hitam menjulang menjadi tempat berhenti.

Turun dari sepeda, ayah Jati menekan bel di sisi pagar. Beberapa detik setelahnya, datang seorang petugas keamanan berseragam hitam.

“Tuan Lin?” Petugas mengernyit samar.

“Ya. Apa Adipati ada di rumah? Saya ada perlu.”

“Ada, Tuan Lin. Mari masuk.”

Petugas mengubah sedikit arah berdirinya—menyerong menghadap ke pos, lalu berseru dengan mantap.

“Tuan Lin di sini!”

Tidak lama kemudian, pagar berderit dan terbuka.

“Mari, Tuan Lin.” Petugas menyingkir memberi jalan dan mengantar ayah Jati.

Petugas lain keluar dari pos jaga, menyapa ramah ayah Jati. Hal sama dilakukan seorang petugas lain yang sedang berkeliling saat mereka berpapasan.

Setibanya di depan pintu utama, petugas yang mengantar ayah Jati menekan bel.

Tidak sampai lima menit, pintu terbuka.

“Lin?!”

Panggilan itu terlontar begitu pintu dibuka. Sang adipati pemimpin wilayah ini keluar, mengernyit heran. Kerutan di keningnya makin dalam menyadari ayah Jati tampak tidak baik-baik saja. Dia lekas berpaling ke petugas dan mengibaskan tangan.

Sang petugas mengangguk dan pergi.

“Masuk, Lin,” kata sang adipati seraya membuka pintu lebih lebar. “Ada apa? Tidak biasanya kau datang malam-malam, selarut ini pula.”

“Anakmu di rumahkah, Gin?”

Gin adalah nama panggilan khusus; cuma ayah Jati yang bernyali memanggilnya demikian. Orang lain memanggil sang adipati dengan nama utuh dan gelarnya: Adipati Ginggana, bahkan lebih sering dengan tambahan: Tuanku Adipati Ginggana.

“Tentu saja anakku di rumah. Mau di mana dia larut malam begini?” Adipati Ginggana makin heran. “Duduklah.”

“Anakku Jati belum pulang, Gin. Sudah kucoba telepon, tak diangkatnya semua teleponku.” Ayah Jati tetap berdiri, tidak menggubris ucapan terakhir Adipati Ginggana yang mempersilakannya duduk. “Apa anakmu masih bangun? Bisakah aku bertemu dengannya?”

“Jati belum pulang?!” Adipati Ginggana spontan menyahut. “Aku tak tahu Jiwa masih bangun atau tidak, ini sudah hampir tengah malam, tapi biar kupanggilkan. Kau duduklah dulu.”

Adipati Ginggana segera berdiri dan pergi, langkahnya lebar-lebar dan cepat.

Ayah Jati menjatuhkan tubuh di sofa panjang. Kedua tangannya bertumpu di paha, jari-jemari kedua tangannya saling bertaut dan meremas.

Kurang dari tiga menit, Adipati Ginggana kembali bersama seorang remaja lelaki.

“Paman Lin.” Sang remaja menyalami ayah Jati, kemudian duduk di sofa kosong di seberang ayah Jati. “Kata Papa, Jati belum pulang. Benar, Paman Lin?”

Ayah Jati kontan mengangguk. “Iya, Nak Jiwa, Jati belum pulang. Paman sudah coba telepon dari berjam-jam lalu, tak ada yang diangkat. Nak Jiwa mungkin tahu di mana atau ke mana Jati pergi?”

“Saya tak yakin, Paman Lin. Tadi siang kami ke perpus kota, itu cuma sampai sekitar jam empat sore. Saya antar Jati sampai bundaran pasar distrik, dia minta berhenti di sana, katanya mau beli beberapa barang dan tak perlu diantar lagi karena bisa memakan waktu. Setelah itu saya tak tahu Jati ke mana. Kami tak berkabar juga karena Jati belum balas pesan saya.”

“Hmm … pasar itu 24 jam, tapi tak mungkin Jati masih di sana.” Ayah Jati mengusap wajah. Keringat dingin terasa oleh tangannya yang kecokelatan. Dia kemudian menoleh kepada Adipati Ginggana. “Bisakah tanya petugas keamanan yang tersebar di sekitaran pasar itu, Gin? Mana tahu ada yang lihat anakku.”

Adipati Ginggana sedang memegang ponsel. Jemarinya yang panjang dan kurus mengotak-atik di layar. Sebuah bekas luka bergaris di punggung telapak tangan kanannya.

Tanpa menoleh, Adipati Ginggana membalas, “Aku sudah tanya petugas CCTV pusat. Mereka malah bilang rekaman sore hampir petang di bundaran pasar hilang, tapi mereka temukan Jati.”

“Mana? Di mana Jati anakku?”

Adipati Ginggana mengangkat ponsel. Video yang diputar tertampil di layar. Jiwa dan ayah Jati mencondongkan badan untuk melihat video itu.

“Itu Yuswan,” kata Jiwa saat video memperlihatkan Jati berbincang dengan seorang remaja lelaki yang membawa tiga tas belanja di depan bangunan pasar.

Satu tas tote yang didekap Yuswan goyah, buah-buahan dan sayuran berjatuhan darinya. Yuswan kewalahan, dua tas lain turut terlepas dari dekapannya. Jati membantunya memunguti belanjaan yang berceceran. Video berakhir di sana.

Adipati Ginggana menarik kembali ponselnya.

“CCTV mulai dari sana sudah hilang; pasar sampai pinggiran timur dan selatan. Oh, tidak, bukan cuma hilang,” kata Adipati Ginggana. Sesaat menjeda, kemudian dia memicing. “CCTV di sana malah tidak berfungsi sampai sekarang.”

“Kok, bisa?” Ayah Jati bertanya.

“Petugas sedang cari tahu penyebabnya.”

Ayah Jati mengernyit. “Kau … mencurigai sesuatu?”

“Kurasa pikiran kita sama.” Adipati Ginggana tertawa kecil, memalingkan tatap dari layar ponsel.

“Aku jadi makin cemas.” Ayah Jati berdiri. “Aku akan ke rumah Yuswan. Terima kasih, Gin, Nak Jiwa.”

“Saya ikut, Paman Lin!” Jiwa ikut berdiri, lalu menoleh ke Adipati Ginggana. “Boleh, kan, Papa?”

“Ya.”

“Tumben kau bolehkan anakkau pergi larut malam.” Ayah Jati berdecak, menyunggingkan senyum meledek.

Adipati Ginggana menjawab enteng, “Karena ada kau dan karena aku juga ikut.”

Ayah Jati mengerjap.

Adipati Ginggana melanjutkan, “Kita pergi bersama. Pakai mobilku saja. Aku curiga hilangnya Jati berkaitan dengan masalah CCTV. Kau mungkin akan butuh wewenangku.”

Selarik senyum terbit di wajah Adipati Ginggana.

“Terserah kau saja.” Ayah Jati menyahut datar. Di matanya, senyum Adipati Ginggana adalah senyum yang terlampau percaya diri dan sayangnya dia tidak bisa membalas dengan penolakan atau semacamnya—bantuan Adipati Ginggana sangat dibutuhkan saat ini.

Di luar, sebuah mobil hitam dikeluarkan dari garasi.

Geruh, asisten Adipati Ginggana, yang menjadi supir atas perintah sang adipati.

Sepuluh menit perjalanan, mobil berbelok, memasuki halaman luas setelah seorang sekuriti membukakan pagar. Seorang sekuriti lain berlari ke rumah.

Saat pintu mobil terbuka dan para penumpangnya turun, pemilik rumah sudah menyambut.

“Selamat datang di gubuk kami!”

“Mari masuk!”

“A … maafkan kelancangan saya. Namun, kalau boleh saya tahu, apa kiranya yang membawa Tuanku sekalian ke sini?”

“Kami hendak menemui Yuswan, Lantrik.” Ayah Jati yang menjawab.

Lantrik si pemilik rumah mengernyit. Sebuah tanya mencuat dalam kepalanya. Namun, dia segera memberi perintah kepada sekuriti.

“Mari masuk.”

Lantrik memberi jalan. Gerak-geriknya kaku, terlihat sekali dia tegang dan masih terkejut, matanya sedikit memerah. Selain karena dibangunkan tiba-tiba dan diberitahu soal kedatangan rombongan Adipati Ginggana, dia baru ingat dia bertanya lebih dulu sebelum mereka benar-benar masuk. Di lingkungan sosial mereka, itu tidak sopan.

Begitu mereka mencapai ruang tamu, Yuswan muncul bersama sekuriti.

“Langsung saja.” Ayah Jati memulai percakapan. “Nak Yuswan, apa Nak Yuswan tahu di mana Jati?”

Yuswan sudah gugup dan takut saat sekuriti mengatakan ayah Jati datang mencarinya bersama Jiwa hingga Adipati Ginggana dan asisten kepercayaannya. Dia sudah mengira ayah Jati akan mencari Jati, tetapi tidak mengira pencarian itu akan langsung datang ke rumahnya. Dia bersyukur dia sudah di rumah dan bersih-bersih diri, tetapi rasa takut tetap menghantuinya.

“Eh, Jati … saya tidak tahu di mana Jati, Pak Lin.” Yuswan memaksa lidahnya bicara. Sekarang dia merasa dia akan menjadi batu.

“Kau terlihat bersama Jati sore lalu.” Jiwa bagai menembakkan peluru.

Yuswan benar-benar menjadi batu sekarang—kaku tak bergerak, bahkan tidak berkedip beberapa saat, dan wajahnya pucat pasi.

“Gimana … gimana Jiwa tau?!” Yuswan bermonolog dalam pikirannya. “Apa dia juga tau aku sama Jati pergi ke vila? Ouh, habislah akuuu!”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • GEMA JATI   5. Itu Jati?!

    Adipati Ginggana memandangi jalanan belokan ke kanan. Nada suaranya lebih rendah dan serius saat dia bicara.“Jejak mobil dari arah pasar cuma satu, itu mengarah ke jalan lurus.”“Itu menuju puncak. Jalan mentok di pertigaan, tapi cuma belokan ke kanan yang untuk mobil. Jalan satunya jalan setapak. Sebelum ke sana ada beberapa belokan, tapi jalan kecil, tak muat untuk mobil.” Ayah Jati meragu sambil memandangi jalanan belokan ke kanan dan mengingat-ingat. “Aku tak yakin semua akan baik-baik saja kalau Jati benar ke sana. Itu jalan alternatif ke vila. Orang-orang dari luar kota biasa menginap di sana, kan?”“Oh, itu jalan ke vila-vila?”“Iya.”“Keluarga Tikta dan Soga punya vila.” Jiwa tiba-tiba bicara dan itu bagai cahaya dalam gelap.“Kita ke sana.” Adipati Ginggana segera berbalik, kembali ke mobil.“Ke manalah anakku Jati. Aku jadi makin khawatir dia betulan kenapa-kenapa.” Ayah Jati tiba-tiba murung begitu dia masuk.Adipati Ginggana memberi tepukan di pundak ayah Jati.“Optimisla

  • GEMA JATI   4. Petunjuk

    “Itu ….”Yuswan memutar otak. Dia mencoba memahami apa tepatnya kata sore yang Jiwa maksud, momen mana yang dimaksud.Lokasi awal pertemuan dengan Jati mencuat dalam kepalanya. Itu saat sore dan itu pilihan paling aman. Jadi, Yuswan segera melanjutkan ucapan.“Itu … saya ketemu Jati di pasar.”“Terus?” Jiwa masih belum puas.“Kami ngobrol ringan, terus belanjaan saya pada jatuh. Jati bantu mungutin.”“Terus?”“Ya, begitu.”“Kauyakin?”Jiwa tidak melakukan apa pun selain bicara dan menatap Yuswan, tetapi itu lebih dari cukup untuk menekan mental Yuswan perlahan-lahan. Jiwa serupa interogator—tatapannya tajam, haus informasi, dan penuh penilaian.Seharusnya Soga atau Tikta yang ada di sini, bukan dirinya. Yuswan tak seceplas-ceplos Soga yang kata-katanya penuh keyakinan. Dia pun tidak seberani Tikta yang mampu menguasai situasi. Dia tidak yakin bisa menyimpan rahasia berlama-lama karena untuk sekadar terlihat meyakinkan pun dia kesulitan.Yuswan memeras otaknya lebih keras, memilin tiap

  • GEMA JATI   3. Mencari Jati

    Jalanan lengang di pinggiran kota.Ayah Jati melajukan sepeda dengan kecepatan sedang. Lampu oranye di tengah setir menyorot bebatuan datar di bawah.Sambil melajukan sepeda, ayah Jati berteriak, lantang dan penuh harap.“Jatiii!”“Jaaatiiiiiiii!”Suaranya membelah sunyi, membahana menembus malam.Jalanan kian berkelok, lebarnya cukup untuk satu mobil, tiga mobil jika dihitung total dengan jalur sepeda dan pejalan kaki. Pagar bambu tebal selutut orang dewasa di kanan kiri jalan, di baliknya hijau pohon dan rumput—sesekali bunga dan pohon dengan daun berwarna, lampu jalanan di tiap lima meter.Sepeda terus melaju di jalur khusus, memasuki jalan besar di pertigaan.Rumah-rumah terlihat. Ayah Jati terus melaju dan berteriak.Makin jauh, kendaraan lain mulai terlihat.Sepeda memasuki pusat kota. Sebuah rumah dengan pagar hitam menjulang menjadi tempat berhenti.Turun dari sepeda, ayah Jati menekan bel di sisi pagar. Beberapa detik setelahnya, datang seorang petugas keamanan berseragam hit

  • GEMA JATI   2. Jati mau diapain?

    Langkah berhenti beberapa meter dari anak tangga teratas. Sebuah pintu kayu cokelat pekat polos di depan.Asisten Adipati Dristan menyalip, lalu membuka pintu itu dengan sekali memutar knop.Penerangan putih yang pertama terlihat kala pintu terbuka. Keramik putih di bawahnya, berkilau bagai menerima cahaya lampu dan memantulkannya dengan gembira.Asisten Adipati Dristan masuk, menghampiri sebuah meja di ujung dekat tembok, membakar dua dupa, kemudian membuka kresek putih. Helaian bunga pancawarna dikeluarkan sang asisten dari kresek, lalu ditaburkannya bunga-bunga itu ke lantai secara sembarang. Sesudahnya, dia keluar seraya melipat kresek dan menyimpannya ke saku jas.“Sudah siap, Tuanku,” kata sang asisten, menghadap Adipati Dristan. Dia menyingkir, memberi jalan untuk Adipati Dristan memasuki ruangan.Yuswan secara refleks merapatkan diri lebih dekat ke Tikta. Di sebelah lain Tikta, Soga tidak berani sekadar bergerak.Pemandangan di dalam ruangan tidak biasa dan aroma dupa yang per

  • GEMA JATI   1. Jebak

    Derap sepatu hitam yang mengkilap berhenti di depan tubuh Jati. Kaki pemakainya jatuh, satu lututnya nyaris menempel lantai. Tangan kekarnya mencengkeram wajah Jati di dagu. Mata hitamnya menatap lekat, tiap inci wajah Jati di antara ruam dan pekat darah dalam sorotannya. Ibu jarinya mengelus lembut pipi Jati beriring bibirnya mengalunkan suara lirih.“Untuk seorang lelaki, kulitmu halus sekali.”Suara itu menembus pendengaran Jati lebih lantang dari yang semestinya. Peringatan dalam kepala Jati kian nyaring dan cepat bersuara, menjalar bagai aliran listrik ke sekujur tubuh.Waspada.Jijik.Tatapan Jati menajam di bawah sorot lekat pria di hadapannya. Makin lama dia menatap, makin riuh perutnya bergejolak seolah-olah semua isi di dalamnya siap untuk meluncur keluar kapan saja.Ini terasa salah. Sangat salah.Jati mencoba berdiri. Namun, sedikit dia bergerak, dalam sekejap dia makin terkunci. Kaki dua pengawal berdasi dan berjas hitam makin kuat menginjak betisnya sementara tangan mere

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status