ホーム / Urban / GEMA JATI / 5. Itu Jati?!

共有

5. Itu Jati?!

作者: Maula Faza
last update 最終更新日: 2026-02-04 13:04:20

Adipati Ginggana memandangi jalanan belokan ke kanan. Nada suaranya lebih rendah dan serius saat dia bicara.

“Jejak mobil dari arah pasar cuma satu, itu mengarah ke jalan lurus.”

“Itu menuju puncak. Jalan mentok di pertigaan, tapi cuma belokan ke kanan yang untuk mobil. Jalan satunya jalan setapak. Sebelum ke sana ada beberapa belokan, tapi jalan kecil, tak muat untuk mobil.” Ayah Jati meragu sambil memandangi jalanan belokan ke kanan dan mengingat-ingat. “Aku tak yakin semua akan baik-baik saja kalau Jati benar ke sana. Itu jalan alternatif ke vila. Orang-orang dari luar kota biasa menginap di sana, kan?”

“Oh, itu jalan ke vila-vila?”

“Iya.”

“Keluarga Tikta dan Soga punya vila.” Jiwa tiba-tiba bicara dan itu bagai cahaya dalam gelap.

“Kita ke sana.” Adipati Ginggana segera berbalik, kembali ke mobil.

“Ke manalah anakku Jati. Aku jadi makin khawatir dia betulan kenapa-kenapa.” Ayah Jati tiba-tiba murung begitu dia masuk.

Adipati Ginggana memberi tepukan di pundak ayah Jati.

“Optimislah, Lin. Jati akan pulang. Kita akan temukan dia. Kalau sesuatu yang buruk terjadi padanya, sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi pada kota ini juga.”

“Kenapa begitu, Papa?” Jiwa bertanya dari kursi belakang. “Oh, apa karena nanti urusannya bukan cuma sama Paman Lin, tapi sama Papa juga? Karena Papa pasti bantu Paman Lin, kan? Papa dan Paman Lin sahabat sejak lama, saling bantu dan tolong dalam susah dan duka.”

Adipati Ginggana menanggapi ucapan polos anaknya dengan senyum penuh arti sebelum akhirnya melontarkan balasan.

“Mungkin saja, Nak. Mungkin saja.”

Jiwa tidak bertanya lagi. Dia mulai sibuk berpikir. Kata-kata ayahnya masuk ke otaknya serupa teka-teki.

“Di depan itu hati-hati, Gin, ada tanjakan panjang.” Ayah Jati berujar pelan seraya mengusap mata yang berair dan memerah.

Sesuai ucapan ayah Jati, mobil bertemu tanjakan yang hampir 100 meter panjangnya. Kurang dari 100 meter setelahnya adalah pertigaan. Jalan besar berbelok ke kanan sementara jalan lurus adalah jalan setapak menuju rindang pepohonan, permukaannya masih tanah berkerikil.

“Dari sini pelankan sedikit, Papa.” Jiwa menginstruksi. Atensinya menembus kaca mobil, menyisir tiap sudut tempat di kanan kiri jalan.

“Oke.”

Sembari mengingat-ingat vila milik keluarga Tikta dan Soga, Jiwa menajamkan penglihatan tiap kali mobil mendekati vila.

Bertepatan dengan dia ingat lokasi vila keluarga Tikta dan Soga, matanya memicing. Bukan karena sudah dekat dengan vila yang dicari, melainkan karena dia melihat sesosok berdiri di kejauhan depan.

Seperti manusia, tetapi meragukan karena sosok itu wajahnya tampak pekat, tidak jelas, dan hanya berdiri; bergeming bagai patung di halaman sebuah vila tanpa dinding pagar.

Usai beberapa saat memperhatikan dengan seksama, dia akhirnya berteriak.

“Jati! Itu Jati!”

Ayah Jati yang mulai mengantuk langsung terbuka lebar dan segar matanya, spontan memandang keluar dan membalas dengan seruan.

“Mana Jati anakku?!”

“Di depan vila! Itu! Yang berdiri itu!” Jiwa menunjuk sosok yang terlihat masih tidak bergerak.

Makin dekat mobil, wajah sosok itu makin terlihat, tetapi samar karena hampir seluruhnya tertutupi meskipun sosoknya cukup jelas di bawah sorot lampu, ditambah dia hanya berdiri dan memandangi mobil.

“Itu Jati!” Jiwa berseru lagi.

“Ya, itu Jati anakku!” Ayah Jati sudah akan menangis.

Mobil berhenti di tepi jalan.

“Sebentar.” Adipati Ginggana berucap pelan, ada waspada dan peringatan dalam suaranya. “Perhatikan baik-baik. Kalau betul yakin itu Jati, kita keluar.”

Jiwa dan ayah Jati tidak membantah. Mereka menoleh ke kaca, mengamati sosok yang bergeming di halaman vila.

Sosok itu tetap diam.

Jiwa memandang ke bawah, mencari bayangan sang sosok. Dia lega saat akhirnya dia menemukan sosok itu memiliki bayangan.

Ayah Jati mengamati bagian lain. Mata Jati adalah targetnya. Dia hanya menatap sebentar, lalu bicara dengan yakin, bibirnya gemetar.

“Dia anakku, Gin. Dia Gema Jati anakku!”

“Benar, Papa, itu Jati! Pakaiannya sama seperti siang tadi. Dia juga punya bayangan, bukan hantu.”

Selesai mengatakan itu, Jiwa memandangi wajah Jati, seketika itu hatinya diliputi kesedihan. Air menggenangi matanya.

“Buka pintunya, Gin. Itu Jati anakku!”

Adipati Ginggana menghela napas sejenak, kemudian membuka kunci pintu mobil.

Ayah Jati yang pertama keluar, berlari menghampiri Jati sambil memanggil nama Jati dan menangis.

“Jatiiii!”

Lari ayah Jati tiba-tiba terhenti. Sebuah tangan mencekal lengannya. Tangan yang sama mencekal lengan Jiwa yang ada di belakangnya. Kala dia dan Jiwa menengok, mereka mendapati Adipati Ginggana menatap mereka dengan serius.

“Ada sesuatu.” Adipati Ginggana berujar pelan, perlahan menoleh ke arah sang sosok.

Itu memang terlihat seperti Jati. Namun, Adipati Ginggana merasakan ada yang berbeda; sesuatu yang tidak biasa.

Ayah Jati segera mengendalikan diri, menguasai kembali perasaannya yang bergejolak. Napasnya berangsur stabil, rasa ingin menangisnya lenyap. Di saat ini, dia merasakan apa yang Adipati Ginggana rasakan.

Jiwa menatap bingung, tetapi tetap diam dan memperhatikan. Matanya sekali lagi menatap bayangan Jati di tanah, lalu tidak sengaja melihat tetesan darah di sekitar kaki Jati.

Tetesan itu mengarah ke luar halaman vila, ke jalanan yang berlawanan arah dari datangnya mobil.

Jiwa kembali menatap Jati. Pertanyaan bermunculan dalam kepalanya.

Tiba-tiba suara terdengar dari Jati, sangat pelan.

“Ayah ….”

Mendengar itu, ayah Jati maju perlahan.

Adipati Ginggana melepaskan tangannya dari lengan Jiwa dan ayah Jati. Dia turut melangkah, kewaspadaan menyala dalam dirinya.

“Jati anakku ….”

“Ayah ….” Jati berucap lagi, pelan dan pilu, lalu dia terisak.

Air bercucuran di pipi Jati, perlahan menyapu sesuatu yang menutupi hampir seluruh wajahnya—darah yang mengering.

“Jati anakkuuu!” Ayah Jati menghambur memeluk Jati, lalu menangis sampai tubuhnya bergetar.

“Ayah ….” Jati mencoba mengangkat kedua tangan, tetapi kedua tangannya hanya terangkat sedikit, lalu jatuh terkulai.

Tangis Jiwa pun pecah sedangkan Adipati Ginggana hanya menatap dengan tenang.

“Jati anakku ….” Ayah Jati mengurai pelukan. Kedua tangannya membingkai wajah Jati, tidak benar-benar menyentuh. Dia sangat tahu itu darah. Tangannya gemetar hebat. “Apa yang terjadi padamu, Nak? Siapa yang melakukan ini padamu?”

Jati tidak menjawab. Dia membuka mulut, tetapi tidak bicara. Bibirnya bergerak pelan seperti tidak ada kekuatan.

“Sakit.” Jiwa berujar di sela tangis, lalu mengusap habis air matanya. “Jati bilang sakit. Gerak bibirnya mengucapkan kata sakit.”

Segera setelah itu, Jati limbung. Matanya bergerak seperti hendak memejam. Ayah Jati menangkap, membawa Jati ke dalam pelukan.

“Sebaiknya kita ke rumah sakit.” Adipati Ginggana bicara.

Ayah Jati tidak menolak.

Adipati Ginggana membantu ayah Jati menggotong Jati ke mobil.

Jiwa berlari, membukakan pintu belakang mobil.

Ayah Jati masuk lebih dahulu, lalu pintu ditutup setelah Jati masuk.

Jiwa mengambil tempat duduk di kursi samping kemudi. Sejenak dia menengok ke luar jendela mobil, ke halaman vila, tepatnya ke tetesan darah Jati. Gegas dia mengeluarkan ponsel, menyalakan perekam video, lalu atensinya tertuju penuh ke jejak tetesan darah Jati seiring mobil melaju.

Di kursi belakang, ayah Jati menangis lagi. Tangannya membelai lembut kepala Jati yang bersandar di bahunya.

“Tetap bangun, Jati. Kau tak boleh menutup mata.” Ayah Jati berujar lirih, suaranya parau, seolah-olah mengatakan itu membuatnya kehilangan seluruh tenaga. “Tetaplah bangun, Nak. Ayah di sini.”

Setelah mobil jauh, darah Jati yang berjejak di halaman vila dan sepanjang jalan mengeluarkan asap hitam. Makin asap membubung, makin darah menyusut, lalu akhirnya darah dan asap lenyap.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • GEMA JATI   5. Itu Jati?!

    Adipati Ginggana memandangi jalanan belokan ke kanan. Nada suaranya lebih rendah dan serius saat dia bicara.“Jejak mobil dari arah pasar cuma satu, itu mengarah ke jalan lurus.”“Itu menuju puncak. Jalan mentok di pertigaan, tapi cuma belokan ke kanan yang untuk mobil. Jalan satunya jalan setapak. Sebelum ke sana ada beberapa belokan, tapi jalan kecil, tak muat untuk mobil.” Ayah Jati meragu sambil memandangi jalanan belokan ke kanan dan mengingat-ingat. “Aku tak yakin semua akan baik-baik saja kalau Jati benar ke sana. Itu jalan alternatif ke vila. Orang-orang dari luar kota biasa menginap di sana, kan?”“Oh, itu jalan ke vila-vila?”“Iya.”“Keluarga Tikta dan Soga punya vila.” Jiwa tiba-tiba bicara dan itu bagai cahaya dalam gelap.“Kita ke sana.” Adipati Ginggana segera berbalik, kembali ke mobil.“Ke manalah anakku Jati. Aku jadi makin khawatir dia betulan kenapa-kenapa.” Ayah Jati tiba-tiba murung begitu dia masuk.Adipati Ginggana memberi tepukan di pundak ayah Jati.“Optimisla

  • GEMA JATI   4. Petunjuk

    “Itu ….”Yuswan memutar otak. Dia mencoba memahami apa tepatnya kata sore yang Jiwa maksud, momen mana yang dimaksud.Lokasi awal pertemuan dengan Jati mencuat dalam kepalanya. Itu saat sore dan itu pilihan paling aman. Jadi, Yuswan segera melanjutkan ucapan.“Itu … saya ketemu Jati di pasar.”“Terus?” Jiwa masih belum puas.“Kami ngobrol ringan, terus belanjaan saya pada jatuh. Jati bantu mungutin.”“Terus?”“Ya, begitu.”“Kauyakin?”Jiwa tidak melakukan apa pun selain bicara dan menatap Yuswan, tetapi itu lebih dari cukup untuk menekan mental Yuswan perlahan-lahan. Jiwa serupa interogator—tatapannya tajam, haus informasi, dan penuh penilaian.Seharusnya Soga atau Tikta yang ada di sini, bukan dirinya. Yuswan tak seceplas-ceplos Soga yang kata-katanya penuh keyakinan. Dia pun tidak seberani Tikta yang mampu menguasai situasi. Dia tidak yakin bisa menyimpan rahasia berlama-lama karena untuk sekadar terlihat meyakinkan pun dia kesulitan.Yuswan memeras otaknya lebih keras, memilin tiap

  • GEMA JATI   3. Mencari Jati

    Jalanan lengang di pinggiran kota.Ayah Jati melajukan sepeda dengan kecepatan sedang. Lampu oranye di tengah setir menyorot bebatuan datar di bawah.Sambil melajukan sepeda, ayah Jati berteriak, lantang dan penuh harap.“Jatiii!”“Jaaatiiiiiiii!”Suaranya membelah sunyi, membahana menembus malam.Jalanan kian berkelok, lebarnya cukup untuk satu mobil, tiga mobil jika dihitung total dengan jalur sepeda dan pejalan kaki. Pagar bambu tebal selutut orang dewasa di kanan kiri jalan, di baliknya hijau pohon dan rumput—sesekali bunga dan pohon dengan daun berwarna, lampu jalanan di tiap lima meter.Sepeda terus melaju di jalur khusus, memasuki jalan besar di pertigaan.Rumah-rumah terlihat. Ayah Jati terus melaju dan berteriak.Makin jauh, kendaraan lain mulai terlihat.Sepeda memasuki pusat kota. Sebuah rumah dengan pagar hitam menjulang menjadi tempat berhenti.Turun dari sepeda, ayah Jati menekan bel di sisi pagar. Beberapa detik setelahnya, datang seorang petugas keamanan berseragam hit

  • GEMA JATI   2. Jati mau diapain?

    Langkah berhenti beberapa meter dari anak tangga teratas. Sebuah pintu kayu cokelat pekat polos di depan.Asisten Adipati Dristan menyalip, lalu membuka pintu itu dengan sekali memutar knop.Penerangan putih yang pertama terlihat kala pintu terbuka. Keramik putih di bawahnya, berkilau bagai menerima cahaya lampu dan memantulkannya dengan gembira.Asisten Adipati Dristan masuk, menghampiri sebuah meja di ujung dekat tembok, membakar dua dupa, kemudian membuka kresek putih. Helaian bunga pancawarna dikeluarkan sang asisten dari kresek, lalu ditaburkannya bunga-bunga itu ke lantai secara sembarang. Sesudahnya, dia keluar seraya melipat kresek dan menyimpannya ke saku jas.“Sudah siap, Tuanku,” kata sang asisten, menghadap Adipati Dristan. Dia menyingkir, memberi jalan untuk Adipati Dristan memasuki ruangan.Yuswan secara refleks merapatkan diri lebih dekat ke Tikta. Di sebelah lain Tikta, Soga tidak berani sekadar bergerak.Pemandangan di dalam ruangan tidak biasa dan aroma dupa yang per

  • GEMA JATI   1. Jebak

    Derap sepatu hitam yang mengkilap berhenti di depan tubuh Jati. Kaki pemakainya jatuh, satu lututnya nyaris menempel lantai. Tangan kekarnya mencengkeram wajah Jati di dagu. Mata hitamnya menatap lekat, tiap inci wajah Jati di antara ruam dan pekat darah dalam sorotannya. Ibu jarinya mengelus lembut pipi Jati beriring bibirnya mengalunkan suara lirih.“Untuk seorang lelaki, kulitmu halus sekali.”Suara itu menembus pendengaran Jati lebih lantang dari yang semestinya. Peringatan dalam kepala Jati kian nyaring dan cepat bersuara, menjalar bagai aliran listrik ke sekujur tubuh.Waspada.Jijik.Tatapan Jati menajam di bawah sorot lekat pria di hadapannya. Makin lama dia menatap, makin riuh perutnya bergejolak seolah-olah semua isi di dalamnya siap untuk meluncur keluar kapan saja.Ini terasa salah. Sangat salah.Jati mencoba berdiri. Namun, sedikit dia bergerak, dalam sekejap dia makin terkunci. Kaki dua pengawal berdasi dan berjas hitam makin kuat menginjak betisnya sementara tangan mere

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status