ログインLangkah berhenti beberapa meter dari anak tangga teratas. Sebuah pintu kayu cokelat pekat polos di depan.
Asisten Adipati Dristan menyalip, lalu membuka pintu itu dengan sekali memutar knop. Penerangan putih yang pertama terlihat kala pintu terbuka. Keramik putih di bawahnya, berkilau bagai menerima cahaya lampu dan memantulkannya dengan gembira. Asisten Adipati Dristan masuk, menghampiri sebuah meja di ujung dekat tembok, membakar dua dupa, kemudian membuka kresek putih. Helaian bunga pancawarna dikeluarkan sang asisten dari kresek, lalu ditaburkannya bunga-bunga itu ke lantai secara sembarang. Sesudahnya, dia keluar seraya melipat kresek dan menyimpannya ke saku jas. “Sudah siap, Tuanku,” kata sang asisten, menghadap Adipati Dristan. Dia menyingkir, memberi jalan untuk Adipati Dristan memasuki ruangan. Yuswan secara refleks merapatkan diri lebih dekat ke Tikta. Di sebelah lain Tikta, Soga tidak berani sekadar bergerak. Pemandangan di dalam ruangan tidak biasa dan aroma dupa yang perlahan menyengat membuat mereka bertiga bergidik. Dalam pikiran mereka segera bergema dua kata: tempat ritual. “Kalian bertiga tetap di sini,” kata asisten Adipati Dristan. Bagai anak yang patuh, Yuswan, Soga, dan Tikta mengangguk serempak dalam kekakuan. Mereka tidak ikut masuk, tetapi mereka masih dapat melihat ke dalam. Mereka melihat dua pengawal membaringkan Jati di atas kasur berseprai putih. Rantai dipasang ke tangan Jati oleh dua pengawal. Kala pandangan mereka berpindah ke sang asisten, mereka memelotot dan makin membeku. Asisten Adipati Dristan … sedang melucuti celana Jati. Sesudah itu, rantai dipasang ke kaki Jati. “Jati mau diapain? Kok, celananya dilepas?” Yuswan bertanya, berbisik. Takut dan ngeri menyelimutinya. “Gak tahu,” kata Tikta, sama lirihnya. “Kita biarin?” Soga turut berbisik. Ketiganya segera mengunci mulut dan nyaris tidak bergerak saat sang asisten dan dua pengawal keluar, lalu pintu ditutup oleh salah satu pengawal. Tidak terlalu lama dari itu, ketiganya mulai gemetar kala suara Jati tiba-tiba terdengar. Lantang. Penuh kesakitan. Jati tidak sekadar berteriak. Dia menggerung dengan suara yang seolah-olah keluar dari lubuk terdalam dirinya. Dia menggerung … bagai orang yang sekarat. Tegang melahap atmosfer. Tiba-tiba suara instrumen berdering disertai getar. Yuswan, Soga, dan Tikta terperanjat bagai mendengar dentuman. “Yuuusss! Kau bikin kaget aja tauu!” Soga menahan kesal, berucap dengan suara kecil seraya mengurut dada. “Gak sengaja. Aku juga kaget,” timpal Yuswan sambil merogoh saku jaket, mengeluarkan ponsel yang berdering dan menyala. Di detik berikutnya, wajahnya memucat panik melihat layar ponsel. “Eh, mamaku nelepon!” Tikta langsung merespon. “Jangan diangkat. Senyapkan aja nada HP-mu.” “Iya, jangan diangkat. Paling nyuruh pulang.” Soga turut menimpali. Yuswan melakukannya. Dia mengubah pengaturan nada menjadi senyap, mematikan layar ponsel setelah telepon berhenti, lalu memasukkannya kembali ke saku. Tidak ada yang bicara lagi. Hanya suara Jati menggerung yang memenuhi udara. Beberapa menit berlalu, suara Jati berhenti. Beberapa menit berikutnya, knop pintu berputar dan pintu perlahan terbuka. Adipati Dristan muncul. Yuswan, Tikta, dan Soga spontan memperhatikan. Adipati Dristan terlihat sama seperti saat masuk ke kamar: ekspresi datar, pakaian rapi, masih memakai sepatu, jam tangan terpasang, bahkan gaya rambut pun sama. Adipati Dristan meneleng sedikit, sesaat. Itu sebuah isyarat. Asisten dan dua pengawal memasuki kamar. Tikta, Yuswan, dan Soga tetap di tempat. Mereka melihat rantai di kedua kaki dan tangan Jati dilepas, celana Jati dipakaikan lagi. Mereka melihat Jati terpejam. Asisten Adipati Dristan keluar lagi. Dua pengawal di belakangnya sembari membawa rantai. “Sudah, Tuanku,” kata sang asisten. Adipati Dristan mengangguk kecil. “Kalian akan merahasiakan ini, kan?” tanya Adipati Dristan sambil menatap Tikta, Yuswan, dan Soga. “Semua yang terjadi di sini, kecuali kalian siap dengan akibatnya.” Suara itu tenang, tetapi ancaman di dalamnya lantang sekali. “Tentu. Ini memang harus dirahasiakan, Tuanku,” timpal Tikta. Secara langsung tidak langsung, ada permintaan, penekanan, dan keharusan dalam ucapan Tikta. Dia mengharapkan Adipati Dristan akan melakukan hal yang sama; merahasiakan. Namun, Adipati Dristan tidak menanggapi lagi, malah beralih tatap kepada Soga. Tahu bahwa dia juga harus bicara, Soga segera melontarkan balasan. “Ya, tentu! Mana mungkin kami menggali kuburan sendiri.” Beralih lagi, Adipati Dristan menatap Yuswan yang langsung gugup. “Y … ya, benar kata Tikta dan Soga.” “Bagus.” Adipati Dristan mengulas senyum. “Bersihkan semuanya. Jangan sampai ada jejak dan bereskan Jati.” Sesudah bilang begitu, Adipati Dristan pergi. Dua pengawal mengikutinya sementara sang asisten berhenti di depan Yuswan, Soga, dan Tikta. “Bereskan sampai tuntas. Jangan sampai ada yang terlewat,” kata sang asisten, kemudian melanjutkan jalan. “Gimana ini?” Yuswan bicara sambil memandang ke lantai bawah, melihat dua pengawal menutup pintu depan dari luar setelah Adipati Dristan dan sang asisten keluar. “Beresin jejaklah. Gimana lagi?” Soga memandang ke arah yang sama. Tikta memasuki kamar. Soga dan Yuswan datang saat dia sudah berada di sisi tempat tidur. “Bunga-bunga ini buat apa, sih?” Soga berucap, memperhatikan helaian bunga di lantai. Beberapa tampak seperti terinjak, sisanya utuh. “Gak tahu. Dupanya juga,” timpal Yuswan, melirik dupa berasap di meja dekat tembok. Tikta tidak bersuara. Soga menengok padanya, mendekati tempat tidur, lalu melontarkan tanya. “Kau kenapa, Ta?” Tidak menjawab, Tikta hanya menatap Jati. Yuswan mendekat, mengamati Jati dengan resah. “Dia … dia masih hidupkah?” Bersamaan dengan pertanyaan itu, Tikta meraih tangan Jati, menempelkan dua jari di pergelangan tangan Jati, lalu menoleh dengan wajah memucat. Apa yang terlontar darinya membuat Yuswan dan Soga memelotot. “Aku gak ngerasain denyutnya.” “Serius?” Soga bergegas meraih tangan lain Jati, melakukan hal yang sama, lalu menempatkan jari telunjuk di depan hidung Jati, menempelkan tangan di dada Jati, terakhir di leher Jati. “Aku juga gak ngerasain tanda-tanda kehidupan Jati!” “Terus gimana ini?” Yuswan mulai panik. “Rencana kita, kan, gak nyampe ngebunuh Jati. Kalau dia gak bangun lagi gimana?” “Jati?!” Soga memegang lengan Jati dan mengguncangnya. “Jatiii!” “Dia tetep gak bangun!” Yuswan makin panik. “Kita bersihin dulu jejaknya mumpung darah masih basah. Bakal lebih susah dan lama kalau udah kering,” kata Tikta, melihat tetesan darah di seprai dan lantai. “Adipati Dristan mungkin gak akan tinggal diam kalau kita gak beresin jejak. Kita juga yang bakal kena getahnya nanti.” “Oke.” Soga berhenti mengguncang Jati. “Kalian bersihin di bawah, aku mulai dari sini,” kata Tikta lagi. Saling mengangguk, Soga dan Yuswan segera keluar, berlari ke lantai bawah, sedangkan Tikta menuju meja dupa. Seperempat jam berlalu, ketiganya berkumpul lagi di kamar. “Sekarang Jati,” kata Soga, mendekat ke tempat tidur sambil menstabilkan napas dan mengelap keringat di kening. “Kita apain?” “Ke puskesmas jauh. Rumah sakit lebih jauh lagi. Kalau kita gak cepet pulang, orang tua kita mungkin bakal nyuruh orang buat nyari kita. Orang tua Jati pasti nyariin Jati juga.” Yuswan menggigit ibu jari tangan kanannya. “Mau dibuang ke tempat lain?” Soga bertanya. Yuswan menoleh, kaget. “Gimana kalau dia masih hidup?” “Tapi udah gak ada denyutnya. Napasnya juga gak kerasa. Apa mau dikubur? Bener-bener bersih jejak nanti.” “Gila kau, Ga!” “Ya, gimana? Kalau mau nyelametin, harus gerak sekarang. Dia keburu koit kalau kita banyak cincong doang. Nah, masalahnya, mau digimanain?”Adipati Ginggana memandangi jalanan belokan ke kanan. Nada suaranya lebih rendah dan serius saat dia bicara.“Jejak mobil dari arah pasar cuma satu, itu mengarah ke jalan lurus.”“Itu menuju puncak. Jalan mentok di pertigaan, tapi cuma belokan ke kanan yang untuk mobil. Jalan satunya jalan setapak. Sebelum ke sana ada beberapa belokan, tapi jalan kecil, tak muat untuk mobil.” Ayah Jati meragu sambil memandangi jalanan belokan ke kanan dan mengingat-ingat. “Aku tak yakin semua akan baik-baik saja kalau Jati benar ke sana. Itu jalan alternatif ke vila. Orang-orang dari luar kota biasa menginap di sana, kan?”“Oh, itu jalan ke vila-vila?”“Iya.”“Keluarga Tikta dan Soga punya vila.” Jiwa tiba-tiba bicara dan itu bagai cahaya dalam gelap.“Kita ke sana.” Adipati Ginggana segera berbalik, kembali ke mobil.“Ke manalah anakku Jati. Aku jadi makin khawatir dia betulan kenapa-kenapa.” Ayah Jati tiba-tiba murung begitu dia masuk.Adipati Ginggana memberi tepukan di pundak ayah Jati.“Optimisla
“Itu ….”Yuswan memutar otak. Dia mencoba memahami apa tepatnya kata sore yang Jiwa maksud, momen mana yang dimaksud.Lokasi awal pertemuan dengan Jati mencuat dalam kepalanya. Itu saat sore dan itu pilihan paling aman. Jadi, Yuswan segera melanjutkan ucapan.“Itu … saya ketemu Jati di pasar.”“Terus?” Jiwa masih belum puas.“Kami ngobrol ringan, terus belanjaan saya pada jatuh. Jati bantu mungutin.”“Terus?”“Ya, begitu.”“Kauyakin?”Jiwa tidak melakukan apa pun selain bicara dan menatap Yuswan, tetapi itu lebih dari cukup untuk menekan mental Yuswan perlahan-lahan. Jiwa serupa interogator—tatapannya tajam, haus informasi, dan penuh penilaian.Seharusnya Soga atau Tikta yang ada di sini, bukan dirinya. Yuswan tak seceplas-ceplos Soga yang kata-katanya penuh keyakinan. Dia pun tidak seberani Tikta yang mampu menguasai situasi. Dia tidak yakin bisa menyimpan rahasia berlama-lama karena untuk sekadar terlihat meyakinkan pun dia kesulitan.Yuswan memeras otaknya lebih keras, memilin tiap
Jalanan lengang di pinggiran kota.Ayah Jati melajukan sepeda dengan kecepatan sedang. Lampu oranye di tengah setir menyorot bebatuan datar di bawah.Sambil melajukan sepeda, ayah Jati berteriak, lantang dan penuh harap.“Jatiii!”“Jaaatiiiiiiii!”Suaranya membelah sunyi, membahana menembus malam.Jalanan kian berkelok, lebarnya cukup untuk satu mobil, tiga mobil jika dihitung total dengan jalur sepeda dan pejalan kaki. Pagar bambu tebal selutut orang dewasa di kanan kiri jalan, di baliknya hijau pohon dan rumput—sesekali bunga dan pohon dengan daun berwarna, lampu jalanan di tiap lima meter.Sepeda terus melaju di jalur khusus, memasuki jalan besar di pertigaan.Rumah-rumah terlihat. Ayah Jati terus melaju dan berteriak.Makin jauh, kendaraan lain mulai terlihat.Sepeda memasuki pusat kota. Sebuah rumah dengan pagar hitam menjulang menjadi tempat berhenti.Turun dari sepeda, ayah Jati menekan bel di sisi pagar. Beberapa detik setelahnya, datang seorang petugas keamanan berseragam hit
Langkah berhenti beberapa meter dari anak tangga teratas. Sebuah pintu kayu cokelat pekat polos di depan.Asisten Adipati Dristan menyalip, lalu membuka pintu itu dengan sekali memutar knop.Penerangan putih yang pertama terlihat kala pintu terbuka. Keramik putih di bawahnya, berkilau bagai menerima cahaya lampu dan memantulkannya dengan gembira.Asisten Adipati Dristan masuk, menghampiri sebuah meja di ujung dekat tembok, membakar dua dupa, kemudian membuka kresek putih. Helaian bunga pancawarna dikeluarkan sang asisten dari kresek, lalu ditaburkannya bunga-bunga itu ke lantai secara sembarang. Sesudahnya, dia keluar seraya melipat kresek dan menyimpannya ke saku jas.“Sudah siap, Tuanku,” kata sang asisten, menghadap Adipati Dristan. Dia menyingkir, memberi jalan untuk Adipati Dristan memasuki ruangan.Yuswan secara refleks merapatkan diri lebih dekat ke Tikta. Di sebelah lain Tikta, Soga tidak berani sekadar bergerak.Pemandangan di dalam ruangan tidak biasa dan aroma dupa yang per
Derap sepatu hitam yang mengkilap berhenti di depan tubuh Jati. Kaki pemakainya jatuh, satu lututnya nyaris menempel lantai. Tangan kekarnya mencengkeram wajah Jati di dagu. Mata hitamnya menatap lekat, tiap inci wajah Jati di antara ruam dan pekat darah dalam sorotannya. Ibu jarinya mengelus lembut pipi Jati beriring bibirnya mengalunkan suara lirih.“Untuk seorang lelaki, kulitmu halus sekali.”Suara itu menembus pendengaran Jati lebih lantang dari yang semestinya. Peringatan dalam kepala Jati kian nyaring dan cepat bersuara, menjalar bagai aliran listrik ke sekujur tubuh.Waspada.Jijik.Tatapan Jati menajam di bawah sorot lekat pria di hadapannya. Makin lama dia menatap, makin riuh perutnya bergejolak seolah-olah semua isi di dalamnya siap untuk meluncur keluar kapan saja.Ini terasa salah. Sangat salah.Jati mencoba berdiri. Namun, sedikit dia bergerak, dalam sekejap dia makin terkunci. Kaki dua pengawal berdasi dan berjas hitam makin kuat menginjak betisnya sementara tangan mere







