ログイン
Derap sepatu hitam yang mengkilap berhenti di depan tubuh Jati. Kaki pemakainya jatuh, satu lututnya nyaris menempel lantai. Tangan kekarnya mencengkeram wajah Jati di dagu. Mata hitamnya menatap lekat, tiap inci wajah Jati di antara ruam dan pekat darah dalam sorotannya. Ibu jarinya mengelus lembut pipi Jati beriring bibirnya mengalunkan suara lirih.
“Untuk seorang lelaki, kulitmu halus sekali.” Suara itu menembus pendengaran Jati lebih lantang dari yang semestinya. Peringatan dalam kepala Jati kian nyaring dan cepat bersuara, menjalar bagai aliran listrik ke sekujur tubuh. Waspada. Jijik. Tatapan Jati menajam di bawah sorot lekat pria di hadapannya. Makin lama dia menatap, makin riuh perutnya bergejolak seolah-olah semua isi di dalamnya siap untuk meluncur keluar kapan saja. Ini terasa salah. Sangat salah. Jati mencoba berdiri. Namun, sedikit dia bergerak, dalam sekejap dia makin terkunci. Kaki dua pengawal berdasi dan berjas hitam makin kuat menginjak betisnya sementara tangan mereka mengunci lengan dan menekan pundaknya. “Siapa namamu?” Pria itu bertanya. Dia Dristan, seorang adipati dari wilayah tetangga yang datang untuk urusan kerja—seharusnya begitu; itu yang Jati tahu dari kabar yang menyebar. Jati mengerang, ngilu merambat cepat dalam tubuhnya. Tekanan dari dua pengawal Adipati Dristan menembus lapisan rapuh kulitnya yang terluka di balik pakaian bernoda. “Siapa namanya?” Adipati Dristan bertanya lagi. Tatapannya tidak berpindah. Kali ini, jawaban segera dia dapatkan; sebuah suara mengudara dari belakang. “Jati, Tuanku.” Tikta, teman sekelas Jati, yang menjawab. Dia mengulang dan menambahkan, “Gema Jati Saguna.” “Aahh ….” Adipati Dristan mengangguk. “Nama belakangmu familier sekali.” Cengkeraman tangan lepas, jemari Adipati Dristan berpindah mengelus pelipis Jati yang bebas darah. “Aku benci matamu. Tatapanmu pun tidak kusuka.” Seolah tidak mengharapkan tanggapan, jemari Adipati Dristan bergerak turun, mengelus bibir Jati yang nyaris seluruhnya tertutupi darah. “Bibirmu cantik. Terlalu cantik.” Jemari putih itu berpindah lagi, bergerak ke pipi Jati. “Baru remaja, wajahmu sudah sangat menawan. Kamu pasti akan jauh lebih menawan saat dewasa, mungkin beberapa tahun yang akan datang.” Jati spontan menahan napas. Gejolak di perutnya makin tidak terkendali. Ini benar-benar salah. Mengapa seorang adipati berlakon demikian?! Adipati Dristan memiliki fitur wajah yang mumpuni. Dia sering disebut awet muda, terlepas dari usianya yang 40-an. Kesannya lekat pada figur publik yang digilai kaum wanita dan disegani kaum pria di saat bersamaan. Citranya yang bersih dan bagai malaikat dalam wujud manusia menjadikannya dambaan sempurna untuk dijadikan idola maupun pasangan. Semua tentangnya amat baik dari luar dan di depan kamera. Akan tetapi, malam ini Jati menemukan kebenaran yang bahkan tak pernah dia sangka akan pernah dimiliki seorang adipati. “Tak inginkah kamu katakan sesuatu? Tidakkah kesempatan ini langka?” Mulut yang acapkali membius banyak orang itu berucap lagi. Alih-alih memperbaiki suasana, tiap kata yang terucap justru makin memberatkan atmosfer. Keberadaan Adipati Dristan, tatapannya, sentuhannya, dan semua ucapan dengan suara lirih itu hanya membuat Jati mual. Sebelum Adipati Dristan sempat mengucapkan apa pun lagi, Jati meludah kasar. Akibatnya, liur bercampur darah mewarnai wajah Adipati Dristan, kemudian seperti yang Jati harapkan, Adipati Dristan beranjak dan menjauh. Beberapa meter di depan Jati, Tikta serta dua remaja di sampingnya membeliak dengan mulut terbuka. Dua pengawal Adipati Dristan segera memberi respon. “Eegghhh!” Jati mengerang lagi. Dia kira dia akan mati rasa setelah semua luka yang dia alami, tetapi rasa sakit itu masih sangat nyata baginya. Sementara itu, asisten Adipati Dristan yang berdiri memisahkan tiga remaja dengan Adipati Dristan memandang tanpa perubahan ekspresi yang berarti; tetap datar dan terlihat tidak berminat pada apa yang sedang terjadi. “Lancang banget kau!” Suara Tikta bergema. Dia maju satu dua langkah, kedua tangan mengepal. “Berani kau berbuat kayak gitu ke Tuanku Adipati Dristan?!” Tikta seolah-olah bersiap menyemburkan angkara murka. Akan tetapi, sebagai orang biasa menjadi target amarah dan keusilan Tikta, Jati tahu betul itu tidak sepenuhnya kesungguhan. Jati hafal: Tikta akan merah padam muka putihnya kalau sedang marah. “Kau gak lihat darahku yang berceceran itu? Lihat itu yang nyaris kaupijak. Lihat baik-baik. Siapa yang lancang di sini?” Jati akhirnya bicara. Sekejap dia terbatuk, sekejap napasnya tersengal. Mendengar Jati bicara, Adipati Dristan berdecak sambil mengelap wajah dengan sapu tangan yang dia keluarkan dari saku jas. Di sisi lain, Tikta menurunkan tatap. Percikan darah menghias keramik putih, beberapa bahkan bagai genangan air hujan di jalan dan tanah lapang. Segera sesudahnya, Tikta mundur, kembali ke tengah dua remaja lainnya: Yuswan si tembam dan Soga si kurus yang bagai sawo matang kulitnya. “Kenapa kalian jebak aku? Apa salahku?” Jati bicara lagi. Sebentar dia menatap Yuswan, lalu berkata, “Apa ini, Yus? Bukan ini yang kaubilang padaku. Bukan untuk ini kauajak aku ke vila ini. Kenapa, Yus?” Yuswan bungkam, mulutnya terkatup. “Kau masih tanya? Makanya punya otak, tuh, dipake mikir!” Soga yang menimpali. Suara dan ekspresinya seiras menunjukkan kejengkelan. Tikta mengambil giliran bicara. “Harusnya kau gak satu sekolah sama kami. Kaupikir kau hebat karena jadi murid teladan dan selalu juara atas? Kaupikir kau bisa masuk perguruan tinggi? Jadi cendekiawan di istana? Bapakkau cuma buruh, Jati. Kau gak mampu, kenapa maksa banget, sih?!” “Lihat, kan? Sekarang kautahu apa resikonya berurusan sama kami!” Soga bicara lagi. “Resiko macam ini? Pakai bantuan orang berkuasa? Ini malah nunjukin kalau kalian memang kalah dari aku,” kata Jati. “Kau!” Kali ini Tikta benar-benar marah. “Udah gak berdaya masih juga kau banyak omong. Kau sama sekali gak takut, ya?” “Dengarlah, kalian ….” Jati memelankan suara. Napasnya kian pendek-pendek. “Menang karena nyingkirin orang lain dengan cara kotor cuma dilakuin oleh pecundang.” “Kalian tetep kalah walau kalian jadi juara sekolah sekalipun.” “Dan Adipati itu ….” “Orang yang kalian panggil tuanku itu gak beres. Dia … dia harus dibawa ke rumah sakit buat periksa psikis.” Tepat setelah mengatakan itu, sebuah tendangan menerjang dada Jati sampai dia terpental membentur dinding, lalu ambruk. Soga dan Yuswan membeliak. Tikta yang paling terkejut; kaku menatap asisten Adipati Dristan yang sudah berada di depan dan memunggunginya. “Cukup!” Adipati Dristan bicara. “Bawa dia. Jangan sampai dia pingsan.” Jati terpejam dan tidak bergerak. Dua pengawal meraih tubuhnya, menamparnya berulang kali sampai dia membuka mata, lalu menyeretnya menyusul Adipati Dristan. Asisten Adipati Dristan mengikuti. Yuswan dan Soga bertukar tatap, kemudian mengikuti setelah Tikta berjalan. Ketiganya membisu menaiki tangga. Mereka memandangi anak tangga untuk menghindari menginjak darah, sesekali berpaling kepada Jati yang diseret bagai mayat hidup.Adipati Ginggana memandangi jalanan belokan ke kanan. Nada suaranya lebih rendah dan serius saat dia bicara.“Jejak mobil dari arah pasar cuma satu, itu mengarah ke jalan lurus.”“Itu menuju puncak. Jalan mentok di pertigaan, tapi cuma belokan ke kanan yang untuk mobil. Jalan satunya jalan setapak. Sebelum ke sana ada beberapa belokan, tapi jalan kecil, tak muat untuk mobil.” Ayah Jati meragu sambil memandangi jalanan belokan ke kanan dan mengingat-ingat. “Aku tak yakin semua akan baik-baik saja kalau Jati benar ke sana. Itu jalan alternatif ke vila. Orang-orang dari luar kota biasa menginap di sana, kan?”“Oh, itu jalan ke vila-vila?”“Iya.”“Keluarga Tikta dan Soga punya vila.” Jiwa tiba-tiba bicara dan itu bagai cahaya dalam gelap.“Kita ke sana.” Adipati Ginggana segera berbalik, kembali ke mobil.“Ke manalah anakku Jati. Aku jadi makin khawatir dia betulan kenapa-kenapa.” Ayah Jati tiba-tiba murung begitu dia masuk.Adipati Ginggana memberi tepukan di pundak ayah Jati.“Optimisla
“Itu ….”Yuswan memutar otak. Dia mencoba memahami apa tepatnya kata sore yang Jiwa maksud, momen mana yang dimaksud.Lokasi awal pertemuan dengan Jati mencuat dalam kepalanya. Itu saat sore dan itu pilihan paling aman. Jadi, Yuswan segera melanjutkan ucapan.“Itu … saya ketemu Jati di pasar.”“Terus?” Jiwa masih belum puas.“Kami ngobrol ringan, terus belanjaan saya pada jatuh. Jati bantu mungutin.”“Terus?”“Ya, begitu.”“Kauyakin?”Jiwa tidak melakukan apa pun selain bicara dan menatap Yuswan, tetapi itu lebih dari cukup untuk menekan mental Yuswan perlahan-lahan. Jiwa serupa interogator—tatapannya tajam, haus informasi, dan penuh penilaian.Seharusnya Soga atau Tikta yang ada di sini, bukan dirinya. Yuswan tak seceplas-ceplos Soga yang kata-katanya penuh keyakinan. Dia pun tidak seberani Tikta yang mampu menguasai situasi. Dia tidak yakin bisa menyimpan rahasia berlama-lama karena untuk sekadar terlihat meyakinkan pun dia kesulitan.Yuswan memeras otaknya lebih keras, memilin tiap
Jalanan lengang di pinggiran kota.Ayah Jati melajukan sepeda dengan kecepatan sedang. Lampu oranye di tengah setir menyorot bebatuan datar di bawah.Sambil melajukan sepeda, ayah Jati berteriak, lantang dan penuh harap.“Jatiii!”“Jaaatiiiiiiii!”Suaranya membelah sunyi, membahana menembus malam.Jalanan kian berkelok, lebarnya cukup untuk satu mobil, tiga mobil jika dihitung total dengan jalur sepeda dan pejalan kaki. Pagar bambu tebal selutut orang dewasa di kanan kiri jalan, di baliknya hijau pohon dan rumput—sesekali bunga dan pohon dengan daun berwarna, lampu jalanan di tiap lima meter.Sepeda terus melaju di jalur khusus, memasuki jalan besar di pertigaan.Rumah-rumah terlihat. Ayah Jati terus melaju dan berteriak.Makin jauh, kendaraan lain mulai terlihat.Sepeda memasuki pusat kota. Sebuah rumah dengan pagar hitam menjulang menjadi tempat berhenti.Turun dari sepeda, ayah Jati menekan bel di sisi pagar. Beberapa detik setelahnya, datang seorang petugas keamanan berseragam hit
Langkah berhenti beberapa meter dari anak tangga teratas. Sebuah pintu kayu cokelat pekat polos di depan.Asisten Adipati Dristan menyalip, lalu membuka pintu itu dengan sekali memutar knop.Penerangan putih yang pertama terlihat kala pintu terbuka. Keramik putih di bawahnya, berkilau bagai menerima cahaya lampu dan memantulkannya dengan gembira.Asisten Adipati Dristan masuk, menghampiri sebuah meja di ujung dekat tembok, membakar dua dupa, kemudian membuka kresek putih. Helaian bunga pancawarna dikeluarkan sang asisten dari kresek, lalu ditaburkannya bunga-bunga itu ke lantai secara sembarang. Sesudahnya, dia keluar seraya melipat kresek dan menyimpannya ke saku jas.“Sudah siap, Tuanku,” kata sang asisten, menghadap Adipati Dristan. Dia menyingkir, memberi jalan untuk Adipati Dristan memasuki ruangan.Yuswan secara refleks merapatkan diri lebih dekat ke Tikta. Di sebelah lain Tikta, Soga tidak berani sekadar bergerak.Pemandangan di dalam ruangan tidak biasa dan aroma dupa yang per
Derap sepatu hitam yang mengkilap berhenti di depan tubuh Jati. Kaki pemakainya jatuh, satu lututnya nyaris menempel lantai. Tangan kekarnya mencengkeram wajah Jati di dagu. Mata hitamnya menatap lekat, tiap inci wajah Jati di antara ruam dan pekat darah dalam sorotannya. Ibu jarinya mengelus lembut pipi Jati beriring bibirnya mengalunkan suara lirih.“Untuk seorang lelaki, kulitmu halus sekali.”Suara itu menembus pendengaran Jati lebih lantang dari yang semestinya. Peringatan dalam kepala Jati kian nyaring dan cepat bersuara, menjalar bagai aliran listrik ke sekujur tubuh.Waspada.Jijik.Tatapan Jati menajam di bawah sorot lekat pria di hadapannya. Makin lama dia menatap, makin riuh perutnya bergejolak seolah-olah semua isi di dalamnya siap untuk meluncur keluar kapan saja.Ini terasa salah. Sangat salah.Jati mencoba berdiri. Namun, sedikit dia bergerak, dalam sekejap dia makin terkunci. Kaki dua pengawal berdasi dan berjas hitam makin kuat menginjak betisnya sementara tangan mere







