author-banner
NIL
NIL
Author

Romane von NIL

Setelah Diceraikan, Aku Mengambil Alih Perusahaannya

Setelah Diceraikan, Aku Mengambil Alih Perusahaannya

Dark RomanceBos / CEOGadis BaikPewarisHubungan PalsuTantangan PernikahanMenegangkan
Setelah tiga tahun menikah, Nadira Prameswari diceraikan Adrian Mahendra, pewaris keluarga konglomerat, karena dituduh membocorkan rahasia perusahaan. Beberapa bulan kemudian, Nadira kembali sebagai perempuan mandiri dan profesional yang memiliki kemampuan untuk membuktikan dirinya. Kehadirannya membuat Adrian menyadari bahwa perempuan yang pernah ia sia-siakan ternyata jauh lebih berharga dari yang ia bayangkan. Ketika rahasia perusahaan mulai terungkap, Nadira harus memilih: membangun masa depan tanpa Adrian atau memberi kesempatan kedua kepada pria yang pernah menghancurkannya.
Lesen
Chapter: Bab 8.2 — Laporan yang Hilang
Leonard mengembuskan napas pendek. “Dia mulai berubah pikiran.” “Saya tidak yakin,” jawab Selena. “Mungkin dia hanya ingin terlihat objektif.” “Jangan meremehkan orang yang mulai mempertanyakan keputusannya sendiri.” Selena terdiam. Ia tahu Leonard tidak menyukai ketidakpastian. Terlebih, jika ketidakpastian itu melibatkan seseorang yang dapat mengganggu keseimbangan kekuasaan dalam keluarga mereka. “Apakah menurut Anda Nadira mengetahui sesuatu?” tanyanya. “Mengetahui apa?” “Transaksi-transaksi yang sedang diperiksa.” Leonard tidak segera menjawab. “Banyak orang mengetahui adanya transaksi yang tidak biasa. Itu tidak berarti mereka memahami keseluruhan persoalannya.” “Namun, jika dia masuk ke tim restrukturisasi, dia bisa mendapatkan akses yang lebih luas.” “Kalau dia diterima, kita lihat ruang lingkup penugasannya. Jangan membuat masalah yang belum tentu ada.” Nada suara Leonard terdengar tenang, tetapi tegas. Selena memahami maksudnya. Ia tidak boleh ber
Zuletzt aktualisiert: 2026-11-05
Chapter: Bab 8.1 — Laporan yang Hilang
Pukul 15.06, Nadira Prameswari duduk di sebuah kedai kopi yang tidak jauh dari gedung Mahendra Group. Laptopnya terbuka di atas meja. Di sebelahnya, segelas teh hangat mulai kehilangan uap. Ia baru saja mengirimkan pesan kepada Maya Putri, pengacaranya, mengenai pesan anonim yang diterima setelah wawancara. Jawaban Maya datang beberapa menit kemudian. Jangan buru-buru mencari dokumen yang disebutkan dalam pesan itu. Kita belum tahu siapa pengirimnya, apakah informasinya benar, atau apa tujuannya. Simpan bukti komunikasi dan jangan mengambil tindakan di luar kewenanganmu. Nadira membaca pesan itu dua kali. Ia memang ingin tahu laporan apa yang dimaksud orang tersebut. Terlebih, kalimat tentang nama yang dihapus membuatnya teringat pada transaksi mencurigakan yang pernah ia temukan. Namun, ia tidak akan membiarkan seseorang mengarahkannya seperti bidak di papan catur. Jika ada laporan yang hilang, ia membutuhkan bukti bahwa laporan itu pernah ada. Dan jika seseorang meng
Zuletzt aktualisiert: 2026-11-05
Chapter: Bab 7.3 — Kursi di Ruang Rapat
Ia meninggalkan ruangan tanpa menunggu Adrian mengatakan apa pun lagi. Di lorong, Nadira berjalan menuju lift dengan langkah teratur. Baru setelah pintu lift tertutup, ia mengembuskan napas panjang. Ia tidak menyangka harus berhadapan langsung dengan Adrian hari ini. Namun, ia juga tidak menyesal datang. Selama wawancara, ia tidak meminta perlakuan khusus. Ia tidak menggunakan hubungan mereka untuk memperoleh informasi. Ia juga tidak membiarkan rasa sakit mengganggu jawabannya. Ia telah melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang profesional. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Bima. Terima kasih atas partisipasi Ibu hari ini. Kami akan menghubungi Ibu kembali setelah keputusan tim. Nadira membalas singkat, lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia belum mendapatkan pekerjaan itu. Tetapi ia telah membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia masih mampu berdiri di hadapan Adrian tanpa harus mengecilkan dirinya. Dan untuk saat ini, itu lebih penting d
Zuletzt aktualisiert: 2026-11-04
Chapter: Bab 7.2 — Kursi di Ruang Rapat
Ia mengira pertemuan telah berakhir. Namun, sebelum ia sempat meraih tas, pintu ruang rapat terbuka. Seorang staf masuk dengan ekspresi gugup. “Maaf mengganggu. Pak Adrian sudah tiba.” Bima mengangkat wajah. “Pak Adrian?” “Beliau meminta bergabung dalam pembahasan.” Nadira membeku selama sepersekian detik. Ia tidak tahu Adrian akan hadir. Bima menoleh kepadanya. “Apakah Ibu keberatan jika beliau ikut dalam sesi penutupan?” Nadira memahami bahwa menolak begitu saja mungkin akan menimbulkan kesan bahwa dirinya tidak siap menghadapi konflik kepentingan. Namun, ia juga tidak ingin pertemuan profesional berubah menjadi pembicaraan pribadi. “Saya tidak keberatan, selama pembahasan tetap dalam ruang lingkup proses seleksi dan tidak membahas persoalan pribadi kami.” Bima mengangguk. “Tentu.” Beberapa detik kemudian, Adrian masuk. Adrian mengenakan setelan abu-abu gelap dengan kemeja putih tanpa dasi. Ia menyapa Bima dan Siska sebelum matanya berhenti pada Nadir
Zuletzt aktualisiert: 2026-11-04
Chapter: Bab 7.1 — Kursi di Ruang Rapat
Pukul 08.30, Nadira Prameswari berdiri di depan cermin apartemen, merapikan ujung hijabnya untuk ketiga kalinya. Bukan karena ia tidak puas dengan penampilannya. Ia hanya belum terbiasa menghadapi hari yang begitu menentukan setelah beberapa hari terakhir terasa seperti rangkaian kehilangan. Di atas tempat tidur, blazer hitam dan celana bahan senada terlipat rapi. Nadira memilih kemeja berwarna krem untuk melengkapi penampilannya. Sederhana, profesional, dan tidak terlalu mencolok. Hari ini, ia akan mengikuti wawancara tahap berikutnya untuk proyek restrukturisasi Mahendra Group. Perusahaan milik keluarga suaminya. Perusahaan yang namanya belakangan terus muncul dalam pesan-pesan misterius. Dan perusahaan yang mungkin menyimpan jawaban atas tuduhan yang telah menghancurkan pernikahannya. Nadira memasukkan buku catatan, laptop, dan salinan dokumen profesional ke dalam tas. Ia memastikan tidak membawa berkas internal Mahendra Group yang pernah dilihatnya ketika masih mem
Zuletzt aktualisiert: 2026-11-04
Chapter: Bab 6.3 — Undangan yang Tidak Terduga
“Kamu boleh berubah pikiran kapan saja. Tetapi ingat, Nak, kamu tidak perlu membenci seseorang untuk memilih pergi dari sesuatu yang menyakitimu.” Nadira menunduk. Kalimat itu menyentuh bagian hatinya yang selama ini berusaha ia sembunyikan. Ia tidak membenci Adrian. Itulah yang membuat semuanya sulit. Jika ia membenci suaminya, mungkin akan lebih mudah baginya untuk menutup pintu dan tidak pernah menoleh lagi. Namun, perasaan tidak selalu menghilang hanya karena seseorang telah menyakitinya. Kadang-kadang, seseorang masih mencintai orang yang sama sambil mulai menyadari bahwa ia tidak bisa terus hidup dengan cara yang sama. “Terima kasih, Bu,” bisiknya. Ibu Ratih menggenggam tangannya. “Apa pun keputusanmu nanti, pastikan itu benar-benar keputusanmu. Bukan karena tekanan Adrian, bukan karena Ibu, dan bukan karena orang lain.” Nadira mengangguk. Ia tidak tahu apakah suatu hari nanti ia akan kembali menjadi bagian dari keluarga ini. Namun, ia bersyukur bahwa set
Zuletzt aktualisiert: 2026-11-04
Das könnte dir auch gefallen
Oleh-oleh dari Mertua
Oleh-oleh dari Mertua
Lainnya · Nyemas Sarifah Riyanto
371.1K Aufrufe
BUKAN MENANTU BODOH
BUKAN MENANTU BODOH
Lainnya · Melysa
234.3K Aufrufe
Cute Pumpkin & The Badboy
Cute Pumpkin & The Badboy
Lainnya · Ncheet Nca
215.1K Aufrufe
Pria Super Kaya
Pria Super Kaya
Lainnya · Megumi
209.9K Aufrufe
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status