Setelah Diceraikan, Aku Mengambil Alih Perusahaannya

Setelah Diceraikan, Aku Mengambil Alih Perusahaannya

last updateLast Updated : 2026-11-05
By:  NILUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
19Chapters
18views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Setelah tiga tahun menikah, Nadira Prameswari diceraikan Adrian Mahendra, pewaris keluarga konglomerat, karena dituduh membocorkan rahasia perusahaan. Beberapa bulan kemudian, Nadira kembali sebagai perempuan mandiri dan profesional yang memiliki kemampuan untuk membuktikan dirinya. Kehadirannya membuat Adrian menyadari bahwa perempuan yang pernah ia sia-siakan ternyata jauh lebih berharga dari yang ia bayangkan. Ketika rahasia perusahaan mulai terungkap, Nadira harus memilih: membangun masa depan tanpa Adrian atau memberi kesempatan kedua kepada pria yang pernah menghancurkannya.

View More

Chapter 1

Bab 1.1 — Surat Cerai di Malam Gala

Malam itu, Nadira Prameswari mengetahui bahwa tiga tahun pernikahan bisa berakhir bahkan sebelum hidangan penutup disajikan.

“Besok, pengacaraku akan menghubungimu.”

Kalimat itu keluar dari mulut Adrian Mahendra tanpa jeda, tanpa keraguan, seolah-olah ia sedang membicarakan jadwal rapat direksi yang perlu dipindahkan.

Nadira terdiam.

Di hadapan mereka, ratusan tamu memenuhi ballroom Hotel Arunika. Lampu kristal bergantung megah di langit-langit, denting gelas terdengar bersahutan, dan alunan piano mengiringi gala tahunan Mahendra Group. Para pemegang saham, pejabat, serta pengusaha ternama berkumpul untuk merayakan keberhasilan perusahaan yang selama puluhan tahun dibangun keluarga Mahendra.

Adrian berdiri di sampingnya dengan setelan hitam yang sempurna. Pria itu tetap terlihat tenang, tampan, dan berwibawa seperti biasanya.

Hanya Nadira yang tahu bahwa beberapa detik lalu, suaminya baru saja memberitahunya bahwa pernikahan mereka akan segera berakhir.

“Apa maksudmu?” tanyanya pelan.

Adrian tidak segera menjawab. Tatapannya justru beralih kepada seorang pria berambut perak yang sedang berjalan mendekati mereka. Leonard Mahendra, paman Adrian sekaligus salah satu petinggi perusahaan, mengangkat gelasnya sambil tersenyum kepada beberapa tamu.

“Kita sudah membicarakannya berkali-kali, Nadira.”

“Tidak.” Nadira menggeleng perlahan. “Kita membicarakan masalah perusahaanmu. Kita membicarakan tuduhan yang bahkan belum pernah kamu jelaskan kepadaku. Kita tidak pernah membicarakan perceraian.”

Rahang Adrian mengeras.

“Aku tidak ingin memperpanjang masalah ini di tempat umum.”

“Kalau begitu, seharusnya kamu tidak membicarakannya di sini.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Adrian benar-benar menatapnya.

Ada sesuatu yang berubah dalam sorot mata suaminya. Bukan penyesalan, bukan pula kesedihan. Lebih menyerupai ketidaksukaan karena Nadira tidak memberikan reaksi yang ia harapkan.

Adrian mengenalnya sebagai perempuan yang selalu berusaha menjaga pernikahan mereka. Perempuan yang akan memilih diam ketika keluarga Mahendra mengabaikannya, yang akan meminta maaf lebih dahulu setelah pertengkaran, dan yang selalu menyediakan makan malam meskipun suaminya pulang lewat tengah malam.

Mungkin karena itulah Adrian mengira Nadira akan menerima keputusannya tanpa banyak perlawanan.

“Kamu tahu apa yang terjadi pada perusahaan minggu lalu,” katanya. “Dokumen internal bocor. Investor menarik diri. Dewan direksi menuntut penjelasan. Dan namamu muncul dalam laporan akses dokumen itu.”

Nadira menatapnya tidak percaya.

“Namaku muncul karena aku yang diminta memeriksa laporan keuangan anak perusahaan itu. Kamu sendiri yang memberikan akses kepadaku.”

“Bukan berarti kamu berhak mengambil semua dokumen.”

“Aku tidak mengambil semua dokumen.”

“Kalau begitu, jelaskan mengapa beberapa berkas penting dikirim ke alamat surel yang terhubung dengan akunmu.”

Nadira terdiam sesaat.

Ia sudah menjelaskan hal itu tiga hari lalu. Ia bahkan menawarkan diri untuk menunjukkan riwayat akses, perangkat yang digunakan, serta seluruh catatan pekerjaannya. Namun, Adrian tidak pernah memberinya kesempatan menyelesaikan penjelasan.

Suaminya lebih memilih mendengar laporan dari orang-orang yang bekerja di sekelilingnya.

“Kamu bahkan belum memeriksa bukti yang kuberikan,” ujar Nadira. “Kamu langsung memutuskan bahwa aku bersalah.”

“Aku tidak punya waktu untuk mengurusi persoalan pribadi di tengah krisis perusahaan.”

Nadira tertawa kecil, tetapi tidak ada kegembiraan di dalamnya.

“Persoalan pribadi?”

Adrian mengembuskan napas panjang. “Jangan membuat ini lebih sulit.”

Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada tuduhan sebelumnya.

Selama tiga tahun, Nadira telah berusaha menjadi istri yang tidak menambah beban hidup Adrian. Ia belajar memahami jadwal kerja yang tidak menentu, menghadiri acara keluarga yang membuatnya merasa seperti orang asing, dan membiasakan diri dengan rumah besar yang lebih sering sunyi daripada hangat.

Ia tidak pernah meminta Adrian berhenti bekerja. Tidak pernah menuntutnya meninggalkan perusahaan demi menghabiskan waktu bersama. Bahkan ketika ulang tahun pernikahan mereka tahun lalu terlewat begitu saja, Nadira masih berusaha meyakinkan dirinya bahwa cinta tidak selalu harus dirayakan dengan cara yang sama.

Namun, ia tidak pernah membayangkan bahwa ketika dirinya membutuhkan kepercayaan suaminya, Adrian justru menjadi orang pertama yang meragukannya.

“Adrian,” panggilnya, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. “Lihat aku dan jawab satu pertanyaan.”

Pria itu menoleh.

“Apakah kamu benar-benar percaya aku mengkhianatimu?”

Keheningan singkat memisahkan mereka dari kebisingan ballroom.

Nadira menunggu.

Ia masih menginginkan satu hal yang sederhana: kesempatan untuk didengar oleh orang yang pernah berjanji akan mempercayainya.

Namun, Adrian hanya berkata, “Aku tidak bisa mempertaruhkan perusahaan untuk mempertahankan pernikahan yang sudah tidak berjalan.”

Sesuatu di dalam dada Nadira seolah berhenti bergerak.

Jadi, begitulah cara suaminya memandang pernikahan mereka.

Bukan sebagai hubungan yang harus diperjuangkan bersama, melainkan sesuatu yang bisa dilepaskan ketika dianggap tidak lagi menguntungkan.

Sebelum Nadira sempat menjawab, suara perempuan terdengar dari belakang mereka.

“Adrian, para investor sudah menunggu.”

Selena Adiwangsa berdiri beberapa langkah dari mereka, mengenakan gaun satin berwarna gading. Rambut panjangnya ditata rapi, sementara sepasang anting berlian memantulkan cahaya lampu.

Nadira mengenali anting itu.

Ia pernah melihatnya dalam sebuah foto lama milik keluarga Mahendra. Perhiasan tersebut merupakan milik mendiang ibu Adrian, benda yang selama ini disimpan di brankas keluarga dan hampir tidak pernah dikenakan siapa pun.

Kini, perhiasan itu berada di telinga Selena.

“Maaf mengganggu,” ujar Selena dengan senyum tipis. Tatapannya beralih kepada Nadira. “Aku tidak tahu kalian sedang membicarakan sesuatu yang pribadi.”

Nadira tidak menjawab. Ia hanya menatap anting tersebut beberapa detik lebih lama.

Adrian menyadari arah pandangannya.

“Anting itu dipinjamkan kepadanya untuk acara malam ini,” jelas Adrian, seolah-olah Nadira baru saja mengajukan protes.

“Aku tidak bertanya,” jawab Nadira.

Selena tersenyum samar, kemudian menyentuh salah satu antingnya.

“Nyonya Mahendra pasti tahu bahwa keluarga ini punya banyak pertimbangan mengenai siapa yang pantas mengenakan barang-barang peninggalan keluarga.”

Ucapan itu terdengar sopan. Terlalu sopan untuk disebut penghinaan secara langsung.

Namun, Nadira memahami maksudnya.

Ia menoleh kepada Adrian, menunggu suaminya mengatakan sesuatu. Membela dirinya, setidaknya meminta Selena berhenti berbicara seperti itu.

Adrian justru melihat jam tangannya.

“Kita lanjutkan pembicaraan ini nanti.”

Lalu ia berjalan meninggalkan Nadira bersama Selena.

Tidak ada sentuhan di bahunya. Tidak ada pertanyaan apakah ia baik-baik saja. Bahkan tidak ada satu kali pun Adrian menoleh untuk memastikan istrinya mengikuti langkahnya.

Nadira berdiri sendirian di tengah ballroom, sementara orang-orang di sekelilingnya terus tertawa dan berbincang seakan tidak ada sesuatu yang baru saja hancur.

Ia akhirnya memahami bahwa kesepian tidak selalu datang ketika seseorang benar-benar sendirian.

Terkadang, kesepian datang ketika orang yang seharusnya berdiri di sisimu memilih berjalan pergi.

Nadira meninggalkan ballroom dua puluh menit kemudian.

Ia tidak menangis di toilet hotel, tidak menelepon sahabatnya, dan tidak berusaha mengejar Adrian. Ia hanya meminta sopir mengantarnya pulang.

Sepanjang perjalanan, ponselnya bergetar beberapa kali.

Pesan dari grup keluarga Mahendra muncul di layar. Seseorang mengunggah foto Adrian bersama Selena, berdiri berdampingan di dekat panggung. Keterangan fotonya berbunyi bahwa keduanya terlihat serasi sebagai pasangan yang sama-sama memahami dunia bisnis.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
19 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status