LOGINSetelah tiga tahun menikah, Nadira Prameswari diceraikan Adrian Mahendra, pewaris keluarga konglomerat, karena dituduh membocorkan rahasia perusahaan. Beberapa bulan kemudian, Nadira kembali sebagai perempuan mandiri dan profesional yang memiliki kemampuan untuk membuktikan dirinya. Kehadirannya membuat Adrian menyadari bahwa perempuan yang pernah ia sia-siakan ternyata jauh lebih berharga dari yang ia bayangkan. Ketika rahasia perusahaan mulai terungkap, Nadira harus memilih: membangun masa depan tanpa Adrian atau memberi kesempatan kedua kepada pria yang pernah menghancurkannya.
View MoreMalam itu, Nadira Prameswari mengetahui bahwa tiga tahun pernikahan bisa berakhir bahkan sebelum hidangan penutup disajikan.
“Besok, pengacaraku akan menghubungimu.” Kalimat itu keluar dari mulut Adrian Mahendra tanpa jeda, tanpa keraguan, seolah-olah ia sedang membicarakan jadwal rapat direksi yang perlu dipindahkan. Nadira terdiam. Di hadapan mereka, ratusan tamu memenuhi ballroom Hotel Arunika. Lampu kristal bergantung megah di langit-langit, denting gelas terdengar bersahutan, dan alunan piano mengiringi gala tahunan Mahendra Group. Para pemegang saham, pejabat, serta pengusaha ternama berkumpul untuk merayakan keberhasilan perusahaan yang selama puluhan tahun dibangun keluarga Mahendra. Adrian berdiri di sampingnya dengan setelan hitam yang sempurna. Pria itu tetap terlihat tenang, tampan, dan berwibawa seperti biasanya. Hanya Nadira yang tahu bahwa beberapa detik lalu, suaminya baru saja memberitahunya bahwa pernikahan mereka akan segera berakhir. “Apa maksudmu?” tanyanya pelan. Adrian tidak segera menjawab. Tatapannya justru beralih kepada seorang pria berambut perak yang sedang berjalan mendekati mereka. Leonard Mahendra, paman Adrian sekaligus salah satu petinggi perusahaan, mengangkat gelasnya sambil tersenyum kepada beberapa tamu. “Kita sudah membicarakannya berkali-kali, Nadira.” “Tidak.” Nadira menggeleng perlahan. “Kita membicarakan masalah perusahaanmu. Kita membicarakan tuduhan yang bahkan belum pernah kamu jelaskan kepadaku. Kita tidak pernah membicarakan perceraian.” Rahang Adrian mengeras. “Aku tidak ingin memperpanjang masalah ini di tempat umum.” “Kalau begitu, seharusnya kamu tidak membicarakannya di sini.” Untuk pertama kalinya malam itu, Adrian benar-benar menatapnya. Ada sesuatu yang berubah dalam sorot mata suaminya. Bukan penyesalan, bukan pula kesedihan. Lebih menyerupai ketidaksukaan karena Nadira tidak memberikan reaksi yang ia harapkan. Adrian mengenalnya sebagai perempuan yang selalu berusaha menjaga pernikahan mereka. Perempuan yang akan memilih diam ketika keluarga Mahendra mengabaikannya, yang akan meminta maaf lebih dahulu setelah pertengkaran, dan yang selalu menyediakan makan malam meskipun suaminya pulang lewat tengah malam. Mungkin karena itulah Adrian mengira Nadira akan menerima keputusannya tanpa banyak perlawanan. “Kamu tahu apa yang terjadi pada perusahaan minggu lalu,” katanya. “Dokumen internal bocor. Investor menarik diri. Dewan direksi menuntut penjelasan. Dan namamu muncul dalam laporan akses dokumen itu.” Nadira menatapnya tidak percaya. “Namaku muncul karena aku yang diminta memeriksa laporan keuangan anak perusahaan itu. Kamu sendiri yang memberikan akses kepadaku.” “Bukan berarti kamu berhak mengambil semua dokumen.” “Aku tidak mengambil semua dokumen.” “Kalau begitu, jelaskan mengapa beberapa berkas penting dikirim ke alamat surel yang terhubung dengan akunmu.” Nadira terdiam sesaat. Ia sudah menjelaskan hal itu tiga hari lalu. Ia bahkan menawarkan diri untuk menunjukkan riwayat akses, perangkat yang digunakan, serta seluruh catatan pekerjaannya. Namun, Adrian tidak pernah memberinya kesempatan menyelesaikan penjelasan. Suaminya lebih memilih mendengar laporan dari orang-orang yang bekerja di sekelilingnya. “Kamu bahkan belum memeriksa bukti yang kuberikan,” ujar Nadira. “Kamu langsung memutuskan bahwa aku bersalah.” “Aku tidak punya waktu untuk mengurusi persoalan pribadi di tengah krisis perusahaan.” Nadira tertawa kecil, tetapi tidak ada kegembiraan di dalamnya. “Persoalan pribadi?” Adrian mengembuskan napas panjang. “Jangan membuat ini lebih sulit.” Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada tuduhan sebelumnya. Selama tiga tahun, Nadira telah berusaha menjadi istri yang tidak menambah beban hidup Adrian. Ia belajar memahami jadwal kerja yang tidak menentu, menghadiri acara keluarga yang membuatnya merasa seperti orang asing, dan membiasakan diri dengan rumah besar yang lebih sering sunyi daripada hangat. Ia tidak pernah meminta Adrian berhenti bekerja. Tidak pernah menuntutnya meninggalkan perusahaan demi menghabiskan waktu bersama. Bahkan ketika ulang tahun pernikahan mereka tahun lalu terlewat begitu saja, Nadira masih berusaha meyakinkan dirinya bahwa cinta tidak selalu harus dirayakan dengan cara yang sama. Namun, ia tidak pernah membayangkan bahwa ketika dirinya membutuhkan kepercayaan suaminya, Adrian justru menjadi orang pertama yang meragukannya. “Adrian,” panggilnya, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. “Lihat aku dan jawab satu pertanyaan.” Pria itu menoleh. “Apakah kamu benar-benar percaya aku mengkhianatimu?” Keheningan singkat memisahkan mereka dari kebisingan ballroom. Nadira menunggu. Ia masih menginginkan satu hal yang sederhana: kesempatan untuk didengar oleh orang yang pernah berjanji akan mempercayainya. Namun, Adrian hanya berkata, “Aku tidak bisa mempertaruhkan perusahaan untuk mempertahankan pernikahan yang sudah tidak berjalan.” Sesuatu di dalam dada Nadira seolah berhenti bergerak. Jadi, begitulah cara suaminya memandang pernikahan mereka. Bukan sebagai hubungan yang harus diperjuangkan bersama, melainkan sesuatu yang bisa dilepaskan ketika dianggap tidak lagi menguntungkan. Sebelum Nadira sempat menjawab, suara perempuan terdengar dari belakang mereka. “Adrian, para investor sudah menunggu.” Selena Adiwangsa berdiri beberapa langkah dari mereka, mengenakan gaun satin berwarna gading. Rambut panjangnya ditata rapi, sementara sepasang anting berlian memantulkan cahaya lampu. Nadira mengenali anting itu. Ia pernah melihatnya dalam sebuah foto lama milik keluarga Mahendra. Perhiasan tersebut merupakan milik mendiang ibu Adrian, benda yang selama ini disimpan di brankas keluarga dan hampir tidak pernah dikenakan siapa pun. Kini, perhiasan itu berada di telinga Selena. “Maaf mengganggu,” ujar Selena dengan senyum tipis. Tatapannya beralih kepada Nadira. “Aku tidak tahu kalian sedang membicarakan sesuatu yang pribadi.” Nadira tidak menjawab. Ia hanya menatap anting tersebut beberapa detik lebih lama. Adrian menyadari arah pandangannya. “Anting itu dipinjamkan kepadanya untuk acara malam ini,” jelas Adrian, seolah-olah Nadira baru saja mengajukan protes. “Aku tidak bertanya,” jawab Nadira. Selena tersenyum samar, kemudian menyentuh salah satu antingnya. “Nyonya Mahendra pasti tahu bahwa keluarga ini punya banyak pertimbangan mengenai siapa yang pantas mengenakan barang-barang peninggalan keluarga.” Ucapan itu terdengar sopan. Terlalu sopan untuk disebut penghinaan secara langsung. Namun, Nadira memahami maksudnya. Ia menoleh kepada Adrian, menunggu suaminya mengatakan sesuatu. Membela dirinya, setidaknya meminta Selena berhenti berbicara seperti itu. Adrian justru melihat jam tangannya. “Kita lanjutkan pembicaraan ini nanti.” Lalu ia berjalan meninggalkan Nadira bersama Selena. Tidak ada sentuhan di bahunya. Tidak ada pertanyaan apakah ia baik-baik saja. Bahkan tidak ada satu kali pun Adrian menoleh untuk memastikan istrinya mengikuti langkahnya. Nadira berdiri sendirian di tengah ballroom, sementara orang-orang di sekelilingnya terus tertawa dan berbincang seakan tidak ada sesuatu yang baru saja hancur. Ia akhirnya memahami bahwa kesepian tidak selalu datang ketika seseorang benar-benar sendirian. Terkadang, kesepian datang ketika orang yang seharusnya berdiri di sisimu memilih berjalan pergi. Nadira meninggalkan ballroom dua puluh menit kemudian. Ia tidak menangis di toilet hotel, tidak menelepon sahabatnya, dan tidak berusaha mengejar Adrian. Ia hanya meminta sopir mengantarnya pulang. Sepanjang perjalanan, ponselnya bergetar beberapa kali. Pesan dari grup keluarga Mahendra muncul di layar. Seseorang mengunggah foto Adrian bersama Selena, berdiri berdampingan di dekat panggung. Keterangan fotonya berbunyi bahwa keduanya terlihat serasi sebagai pasangan yang sama-sama memahami dunia bisnis.Leonard mengembuskan napas pendek. “Dia mulai berubah pikiran.” “Saya tidak yakin,” jawab Selena. “Mungkin dia hanya ingin terlihat objektif.” “Jangan meremehkan orang yang mulai mempertanyakan keputusannya sendiri.” Selena terdiam. Ia tahu Leonard tidak menyukai ketidakpastian. Terlebih, jika ketidakpastian itu melibatkan seseorang yang dapat mengganggu keseimbangan kekuasaan dalam keluarga mereka. “Apakah menurut Anda Nadira mengetahui sesuatu?” tanyanya. “Mengetahui apa?” “Transaksi-transaksi yang sedang diperiksa.” Leonard tidak segera menjawab. “Banyak orang mengetahui adanya transaksi yang tidak biasa. Itu tidak berarti mereka memahami keseluruhan persoalannya.” “Namun, jika dia masuk ke tim restrukturisasi, dia bisa mendapatkan akses yang lebih luas.” “Kalau dia diterima, kita lihat ruang lingkup penugasannya. Jangan membuat masalah yang belum tentu ada.” Nada suara Leonard terdengar tenang, tetapi tegas. Selena memahami maksudnya. Ia tidak boleh ber
Pukul 15.06, Nadira Prameswari duduk di sebuah kedai kopi yang tidak jauh dari gedung Mahendra Group. Laptopnya terbuka di atas meja. Di sebelahnya, segelas teh hangat mulai kehilangan uap. Ia baru saja mengirimkan pesan kepada Maya Putri, pengacaranya, mengenai pesan anonim yang diterima setelah wawancara. Jawaban Maya datang beberapa menit kemudian. Jangan buru-buru mencari dokumen yang disebutkan dalam pesan itu. Kita belum tahu siapa pengirimnya, apakah informasinya benar, atau apa tujuannya. Simpan bukti komunikasi dan jangan mengambil tindakan di luar kewenanganmu. Nadira membaca pesan itu dua kali. Ia memang ingin tahu laporan apa yang dimaksud orang tersebut. Terlebih, kalimat tentang nama yang dihapus membuatnya teringat pada transaksi mencurigakan yang pernah ia temukan. Namun, ia tidak akan membiarkan seseorang mengarahkannya seperti bidak di papan catur. Jika ada laporan yang hilang, ia membutuhkan bukti bahwa laporan itu pernah ada. Dan jika seseorang meng
Ia meninggalkan ruangan tanpa menunggu Adrian mengatakan apa pun lagi. Di lorong, Nadira berjalan menuju lift dengan langkah teratur. Baru setelah pintu lift tertutup, ia mengembuskan napas panjang. Ia tidak menyangka harus berhadapan langsung dengan Adrian hari ini. Namun, ia juga tidak menyesal datang. Selama wawancara, ia tidak meminta perlakuan khusus. Ia tidak menggunakan hubungan mereka untuk memperoleh informasi. Ia juga tidak membiarkan rasa sakit mengganggu jawabannya. Ia telah melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang profesional. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Bima. Terima kasih atas partisipasi Ibu hari ini. Kami akan menghubungi Ibu kembali setelah keputusan tim. Nadira membalas singkat, lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia belum mendapatkan pekerjaan itu. Tetapi ia telah membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia masih mampu berdiri di hadapan Adrian tanpa harus mengecilkan dirinya. Dan untuk saat ini, itu lebih penting d
Ia mengira pertemuan telah berakhir. Namun, sebelum ia sempat meraih tas, pintu ruang rapat terbuka. Seorang staf masuk dengan ekspresi gugup. “Maaf mengganggu. Pak Adrian sudah tiba.” Bima mengangkat wajah. “Pak Adrian?” “Beliau meminta bergabung dalam pembahasan.” Nadira membeku selama sepersekian detik. Ia tidak tahu Adrian akan hadir. Bima menoleh kepadanya. “Apakah Ibu keberatan jika beliau ikut dalam sesi penutupan?” Nadira memahami bahwa menolak begitu saja mungkin akan menimbulkan kesan bahwa dirinya tidak siap menghadapi konflik kepentingan. Namun, ia juga tidak ingin pertemuan profesional berubah menjadi pembicaraan pribadi. “Saya tidak keberatan, selama pembahasan tetap dalam ruang lingkup proses seleksi dan tidak membahas persoalan pribadi kami.” Bima mengangguk. “Tentu.” Beberapa detik kemudian, Adrian masuk. Adrian mengenakan setelan abu-abu gelap dengan kemeja putih tanpa dasi. Ia menyapa Bima dan Siska sebelum matanya berhenti pada Nadir
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.