
DI PELUKAN TUAN PEMBURU BERBAHAYA
Cassie, harus memutar arah hidupnya sebagai mahasiswa S2 di Universitas Amsterdam setelah insiden yang membuat ayahnya menghilangnya.
Ditengah kesedihannya, seorang pria tampan nan misterius tiba-tiba muncul, mengaku sebagai rekan kerja sang ayah. Pria itu bernama Arthur Hunter, Chairman dari yayasan museum Jakarta.
Namun, Cassie sudah tau, yang Arthur kerjakan lebih kelam dari sekedar mengoleksi benda bersejarah. Dia ternyata bagian dari organisasi mafia perdagangan benda bersejarah ilegal.
Dengan kemampuan manipulatifnya, Arthur berhasil meyakinkan Cassie untuk ikut bersamanya ke Jakata dan bekerja untuknya di Museum Jakarta.
Cassie yang sangat berharap bisa menemukan sang ayah, akhirnya terpaksa bekerjasama dengan pria berbahaya itu karena Arthur menjanjikan perlindungan dan informasi mengenai ayahnya.
Ketika Cassie mulai menaruh hati, kenyataan pahit satu persatu terkuak. Arthur dengan segala kemegahannya ternyata menyimpan banyak rahasia.
Akan kah Cassie bisa bertahan hidup di dalam cengekaram pria seberbahaya Arthur?
قراءة
Chapter: BAB 45 Malam LelangArthur menatap dingin pada Diah dan Duan yang mengekor di belakangku. Kedua pengawal itu masuk ke dalam penthouse dengan tangan yang dipenuhi tumpukan kantong belanja berlogo merek-merek mewah, berjuang menjaga keseimbangan saat melangkah masuk ke dalam penthouse.“Kamu berniat membuka gerai fesyen di rumah saya?” tanya Arthur dengan satu alis terangkat.Dia melepaskan jas hitamnya, dan mengendurkan dua kancing teratasnya sebelum mendaratkan tubuh dengan santai di sofa panjang ruang tengah.Aku meliriknya sekilas lalu berjalan melewatinya dengan raut acuh tak acuh. Namun, ingatan tentang kartu hitam miliknya yang harus segera aku kembalikan membuat aku menghentikan langkah. Aku berbalik, lalu menaruh kartu hitam itu di atas meja rendah di depan Arthur.“Terimakasih atas kemurahan hati anda, Tuan Chairman,” ucapku sarkastik.Arthur tidak terpengaruh oleh sindiranku. Satu sudut bibirnya terangkat, menampilkan senyum miring yang menjengkelkan. Matanya menyapu tumpukan kantong belanjaan d
آخر تحديث: 2026-09-12
Chapter: BAB 44 Gaun Di ButikHanya butuh dua kali dering sebelum sambungan teleponku diangkat oleh Arthur. Sambil berjalan mondar-mandir di depan jendela kamar, aku segera mengutarakan keresahanku begitu Diah berlalu dari kamar.“Aku enggak mau belanja bareng Diah,” cetusku, tidak memberi Arthur sapaan basa-basi.“Ada apa, Cassidy?” Suara berat Arthur terdengar tenang dari seberang saluran, diiringi samar-samar gemeresik lembaran dokumen. “Bibirmu masih menginginkanku, sampai-sampai kamu harus menelepon pagi-pagi begini?”Pipi mendadak terasa hangat, tetapi aku menahan napas, menolak terpancing oleh ucapan provokatifnya “Kamu suruh Diah nemenin aku beli gaun buat acara lelang nanti malam?”“Ya, bukankah bagus jika acara belanja ditemani oleh sesama wanita? Duan tidak akan mengerti warna gaun atau perhiasan yang cocok untukmu.”“Tapi enggak sama Diah!” tegasku.“Jangan memicu drama kekanak-kanakan, atau saya batalkan rencana kita ke rumah lelang,” ancam Arthur. Intonasinya berubah rendah, sarat akan otoritas yang
آخر تحديث: 2026-09-05
Chapter: BAB 43 Horor Di Pagi HariKalimatku membuat Arthur membeku. Kuncian jemarinya pada tengkukku sedikit mengendur, bersama wajahnya yang satu sentimeter menjauh. Tidak lebih dari itu, sorot matanya tidak menujukan kemarahan, dan tak ada makian kasar yang keluar dari bibirnya. Padahal aku sudah mengetatkan rahangku mempersiapkan diri untuk reaksi murka Arthur atas penawaran nekat yang baru saja aku tawarkan.Hanya butuh jeda singkat sebelum raut datarnya berubah. Kekehan pelan yang bernada mengejek meluncur dari bibirnya. Manik mata yang masih diselimuti kabut alkohol itu kini menatapku tajam. Keheranan yang sempat membuatnya membeku kini berubah menjadi ketertarikan liar pada tantangan yang disodorkan. Pria siap membeli permainanku.“Menjual daya tarikmu untuk bertransaksi dengan saya?” bisik Arthur rendah, sempat menggetarkan nyali yang susah payah aku pertahankan. “Sebutkan harganya, Cassidy.”“Bawa aku ke Rumah Lelang Larasati,” pintaku tegas tanpa mengedipkan mata, menjaga intonasinya agar tetap dingin dan ta
آخر تحديث: 2026-09-04
Chapter: BAB 42 MinibarSudah lewat tengah malam dan pikiran tentang Kompas Hyade di dalam daftar barang lelang terus menjagaku dari rasa kantuk. Rasa ragu sempat menyelinap saat memikirkan cara supaya bisa ikut Arthur ke acara lelang itu. Acara itu pasti dihadiri oleh orang-orang penting negara ini, termasuk Prabu Digdaya. Arthur jelas tidak akan membiarkanku berada di tempat terbuka yang membahayakan nyawaku.Namun, semakin aku berpikir, semakin aku yakin bahwa kompas itu bisa menuntunku pada astrolab. Bahkan mungkin, ada petunjuk mengenai hilangnya Papa. Apapun resikonya, aku harus ikut.Kaki telanjangku menapakkan langkah di marmer dingin ruang tengah. Aku sudah tahu harus ke mana mencari Arthur selarut ini. Arthur dan minibar di tengah malam memang tidak bisa dipisahkan. Pria itu biasa duduk berlama-lama di bawah remangnya lampu minibar yang menggantung rendah.Punggung tegap Arthur menyambutku ketika aku menginjakkan kaki di area bar. Di tangannya botol wiski yang hampir habis digenggam erat. Tanpa ge
آخر تحديث: 2026-09-03
Chapter: BAB 41 Rumah LelangSensasi dingin menjalar dari ujung jemari hingga ke dasar tengkuk. Diah, gadis muda yang begitu telaten merawatku dengan senyum lembutnya ternyata adalah eksekutor lapangan berdarah dingin. Jika aku membandingkan garis waktu kabar kematian Rajh di berita dengan hari di mana aku bertemu Diah, sungguh mengerikan membayangkan bahwa dia baru saja merenggut nyawa seseorang.Malam itu, setelah seharian aku dikurung Arthur di ruang arsip museum, Diah menyambutku dengan secangkir teh hangat dan memastikan aku nyaman di kamar tamu. Senyum ramahnya, benar-benar menipuku. Rasa mual mendadak mengocok perutku.Derap langkah salah satu pengawal Arthur yang melintas di koridor area servis membuyarkan lamunanku. Suara pintu yang tertutup menandakan ia masuk ke salah satu ruangan. Aku tidak boleh ketahuan.Dengan napas tersengal yang kutahan sekuat tenaga, kumatikan layar ponsel itu. Kubersihkan sidik jariku pada kain kemeja, mengembalikan ponsel dan vial obat ke dalam kotak karton, lalu menyelipkanny
آخر تحديث: 2026-09-02
Chapter: BAB 40 Pembunuh SebenarnyaBerjam-jam aku habiskan di depan laptop untuk melakukan riset. Puluhan jurnal yang terebar di internet aku baca perlahan. Sebagian besar teori sudah kukuasai, tetapi beberapa jurnal baru terbitan luar negeri tetap memberiku petunjuk serta pemahaman baru.Aku hampir melupakan makan siang kalau bukan Diah yang mengingatkan. Gadis itu berdiri mematung di ambang pintu tanpa berani melangkah sejengkal pun melewati batas ruang kerja Arthur.“Bisa bawakan ke sini makan siang saya?” pintaku tanpa menoleh ke arahnya. Jurnal yang sedang ku baca di layar monitor terlalu menarik untuk aku tinggalkan.Walau pun tidak langsung menjawab, sudut mataku menangkap anggukan kecil dari Diah yang masih berdiri canggung di ambang pintu. Lalu beberapa menit kemudian makan siang pun di antar Diah, lengkap dengan potongan buah dan air putih dingin.Waktu bergulir cepat. Duan akhirnya muncul menemuiku di ruang kerja Arthur sambil membawa dua cangkir teh dan satu kotak bronis panggang yang dia sodorkan di depanku
آخر تحديث: 2026-08-31
Chapter: Pengumuman penting!Hai apa kabar pembaca setiaku.Mau menyampaikan aja bahwa cerita ini akan di lanjut di buku yang berbeda. karena sebenarnya kisah Katy dan Jace seharunya sudah tamat ketika mereka bertunangan.Hanya saja saya masih sayang sama mereka berdua dan ingin mereka punya cerita yang lebih lanjut.Maka dari itu aku bikin Dia-Lo-Gue Season 2 dengan cerita yang pelik, konflik yang lebih berat, dan karakter yang lebih dewasa. Jadi, ratenya harus di ganti karena cerita Dia-Lo-Gue seasion pertama itu rate remaja.Segitu aja dulu ya,, ditunggu lanjutan Dia-Lo-Gue season 2.XOXO,Anna kuhas
آخر تحديث: 2025-07-23
Chapter: PART 91 (EUPHORIA KEKUASAAN)Aku menjejakkan kaki ke lantai marmer mewah di lobi utama kediaman keluarga Ashad, merasakan atmosfer megah yang selalu membuatku sedikit terintimidasi. Budi, membawaku bertemu Jace di ruang kerjanya. Sebuah ruangan yang terasa seperti perwujudan kepribadian keluarga Ashad. Dingin, elegan, namun diselimuti aura kekuasaan yang tak terbantahkan.Buku-buku tebal berjejer sempurna di rak kayu gelap, aroma kopi pahit dan kulit mahal menyelimuti udara. Jace berdiri di dekat jendela besar, membelakangi Katy, siluetnya yang tegap terpantul samar di kaca.“Aku enggak tahu kapan kamu pamit pulang dari rumah Mama. Aku kira kita bakal nginep di sana.” Suaraku membuatnya berbalik.Jace berjalan perlahan, raut wajah ceria dan ramah yang dia tampilkan di meja makan ibuku telah hilang, berganti dengan ekspresi datar tanpa emosi, lebih dingin dari embusan AC sentral yang terasa menusuk kulit.“Kamu terlalu sibuk sama handphone-mu. Sampai aku harus kirim orang buat jemput kamu di sana.”Kalimat Jace men
آخر تحديث: 2025-07-21
Chapter: PART 90 (MERENGGANG)Embun sisa hujan semalam masih mendekap erat jendela kamar hotel yang megah, meredupkan cahaya pagi menjadi kelabu yang sendu. Di atas ranjang satin yang kusut, jejak pergulatan yang panas dan penuh gairah masih membekas.Aku masih terbaring di ranjang besar ini. Di samping lelaki yang setiap napasnya terhembus, menimbulkan renjatan penyesalan yang dalam. Pikiranku kembali pada kegiatan kami beberapa jam yang lalu. Sebuah ritual sakral yang biasanya terselip senyuman manja, bisikan cinta, dan dekapan kerinduan. Namun yang terjadi hanyalah pelampiasan amarah yang tak terucapkan.Beberapa titik air keluar dari sudut mata. Bercampur dengan bulir keringat, jejak aktifitas kami yang intens di kamar hotel sedingin ini. Mataku menerawang ke langit-langit ruangan. Mencari tahu, kenapa aku bisa menangis saat orang yang aku rindukan ada disampingku.Aku buru-buru bangkit dari ranjang. Berjalan menyebrangi kamar menuju kamar mandi besar dengan bath tup mewah lengkap dengan berbagai minyak aromat
آخر تحديث: 2025-07-20
Chapter: PART 89 (HUKUMAN)Dunia seolah berhenti bernapas. Hawa malam mendadak terasa seperti belati es yang menusuk ke dalam dada. Siluet lelaki yang sedang menatapku dari balik kaca mobil seolah melemparkan palu godam ke arahku yang siap meremukan setiap jengkal organ tubuhku.“Kayaknya mobil itu ada orangnya.” Suara Hiro semakin meyakinkanku bahwa malam ini tidak akan mudah untuk aku lalui.“Gue masuk sekarang. Makasih tumpangannya ya. Hati-hati dijalan,” ucapku sambil menyerahkan helm padanya dengan tergesa-gesa.“Gue anterin sampai ke dalam.”“Enggak perlu!” tanpa sadar, intonasiku meningkat karena rasa panik yang menyerang.Sudut mataku kembali melirik ke arah kaca mobil yang gelap. Aku menyadari, dibalik kaca itu, ada mata yang masih mengawasi gerak gerak kami berdua.Dahi Hiro bertaut. “Jam tiga pagi ada orang di dalam mobil lagi ngintai rumah lo. Elo yakin ini aman?”Aku menghembuskan napas dengan kasar. “Gue kenal mobil itu . Enggak ada masalah. Semua aman.”Aku coba menyakinkannya dengan nada bicara
آخر تحديث: 2025-07-19
Chapter: PART 88 (MOTOR BESAR) Akhirnya aku tenggelam kembali ke dalam lautan kode. Baris demi baris kode aku baca kembali dengan seksama demi mencari kesalahan pada sintaks yang sudah diberi catatan oleh Hiro sebelumnya. Cukup banyak catatan yang ditambahkan ke dalam program ini. Contohnya seperti:“Logika modul harus spesifik, belajar lagi cara kerja fungsi.”“Penamaan harus ringkas dan unik. Jangan bikin bingung diri sendiri.”“Banyak banget catatan kaki, ini bikin program atau nulis diari?”Kata-kata dengan kesan menghina tidak hanya keluar dari mulut Hiro. Bahkan dalam back-end program saja, dia masih sempat membuatku kesal. Namun, lebih dari pada itu, aku merasa terhibur dengan kalimat-kalimatnya. Seperti sedang dimarahi betulan rasanya.Sesekali Hiro datang menghampiriku. Baik itu untuk menanyakan apakah ada kesulitan atau tidak, atau hanya sekedar duduk diam menemani. Bahkan dia masih sempat membawakan mie goreng untukku. Katanya, jangan sepelekan rasa lapar kalau sedang menulis kode. Karena otak sedang be
آخر تحديث: 2025-07-18
Chapter: PART 87 (ROTI MANIS)Suara klakson yang melengking, deru mesin yang tak putus, dan riuh rendah tawa bercampur aduk menciptakan melodi khas akhir pekan kota. Aku membiarkan diriku terseret arus, tanpa tujuan pasti, menikmati kebebasan anonimitas yang hanya bisa kutemukan di tengah keramaian. Sesekali aku berpapasan dengan pasangan muda mudi yang bercengkerama dengan mesra. Menumbuhkan perasaan iri yang biasanya tidak pernah aku rasakan selama ini.Bagaimana aku bisa iri pada kisah cinta orang lain, sedangkan aku punya tunangan yang sempurna di sana.Lelah dengan hiruk pikuk jalanan kota, aku memutuskan untuk mencari tempat untuk sekedar duduk santai sambil menyeruput kopi. Kebetulan tidak jauh dari tempatku berdiri, aku menemukan sebuah kedai kopi yang sedikit tersembunyi dan dihimpit gedung tinggi dengan banyak pohon di sekitarnya.Suara lonceng terdengar seiring pintu kaca aku dorong untuk membuka jalan. Begitu kakiku sudah masuk ke dalam, aku terkejut karena kafe tersembunyi ini ternyata penuh dengan pe
آخر تحديث: 2025-07-17