Chapter: Pengumuman penting!Hai apa kabar pembaca setiaku.Mau menyampaikan aja bahwa cerita ini akan di lanjut di buku yang berbeda. karena sebenarnya kisah Katy dan Jace seharunya sudah tamat ketika mereka bertunangan.Hanya saja saya masih sayang sama mereka berdua dan ingin mereka punya cerita yang lebih lanjut.Maka dari itu aku bikin Dia-Lo-Gue Season 2 dengan cerita yang pelik, konflik yang lebih berat, dan karakter yang lebih dewasa. Jadi, ratenya harus di ganti karena cerita Dia-Lo-Gue seasion pertama itu rate remaja.Segitu aja dulu ya,, ditunggu lanjutan Dia-Lo-Gue season 2.XOXO,Anna kuhas
Last Updated: 2025-07-23
Chapter: PART 91 (EUPHORIA KEKUASAAN)Aku menjejakkan kaki ke lantai marmer mewah di lobi utama kediaman keluarga Ashad, merasakan atmosfer megah yang selalu membuatku sedikit terintimidasi. Budi, membawaku bertemu Jace di ruang kerjanya. Sebuah ruangan yang terasa seperti perwujudan kepribadian keluarga Ashad. Dingin, elegan, namun diselimuti aura kekuasaan yang tak terbantahkan.Buku-buku tebal berjejer sempurna di rak kayu gelap, aroma kopi pahit dan kulit mahal menyelimuti udara. Jace berdiri di dekat jendela besar, membelakangi Katy, siluetnya yang tegap terpantul samar di kaca.“Aku enggak tahu kapan kamu pamit pulang dari rumah Mama. Aku kira kita bakal nginep di sana.” Suaraku membuatnya berbalik.Jace berjalan perlahan, raut wajah ceria dan ramah yang dia tampilkan di meja makan ibuku telah hilang, berganti dengan ekspresi datar tanpa emosi, lebih dingin dari embusan AC sentral yang terasa menusuk kulit.“Kamu terlalu sibuk sama handphone-mu. Sampai aku harus kirim orang buat jemput kamu di sana.”Kalimat Jace men
Last Updated: 2025-07-21
Chapter: PART 90 (MERENGGANG)Embun sisa hujan semalam masih mendekap erat jendela kamar hotel yang megah, meredupkan cahaya pagi menjadi kelabu yang sendu. Di atas ranjang satin yang kusut, jejak pergulatan yang panas dan penuh gairah masih membekas.Aku masih terbaring di ranjang besar ini. Di samping lelaki yang setiap napasnya terhembus, menimbulkan renjatan penyesalan yang dalam. Pikiranku kembali pada kegiatan kami beberapa jam yang lalu. Sebuah ritual sakral yang biasanya terselip senyuman manja, bisikan cinta, dan dekapan kerinduan. Namun yang terjadi hanyalah pelampiasan amarah yang tak terucapkan.Beberapa titik air keluar dari sudut mata. Bercampur dengan bulir keringat, jejak aktifitas kami yang intens di kamar hotel sedingin ini. Mataku menerawang ke langit-langit ruangan. Mencari tahu, kenapa aku bisa menangis saat orang yang aku rindukan ada disampingku.Aku buru-buru bangkit dari ranjang. Berjalan menyebrangi kamar menuju kamar mandi besar dengan bath tup mewah lengkap dengan berbagai minyak aromat
Last Updated: 2025-07-20
Chapter: PART 89 (HUKUMAN)Dunia seolah berhenti bernapas. Hawa malam mendadak terasa seperti belati es yang menusuk ke dalam dada. Siluet lelaki yang sedang menatapku dari balik kaca mobil seolah melemparkan palu godam ke arahku yang siap meremukan setiap jengkal organ tubuhku.“Kayaknya mobil itu ada orangnya.” Suara Hiro semakin meyakinkanku bahwa malam ini tidak akan mudah untuk aku lalui.“Gue masuk sekarang. Makasih tumpangannya ya. Hati-hati dijalan,” ucapku sambil menyerahkan helm padanya dengan tergesa-gesa.“Gue anterin sampai ke dalam.”“Enggak perlu!” tanpa sadar, intonasiku meningkat karena rasa panik yang menyerang.Sudut mataku kembali melirik ke arah kaca mobil yang gelap. Aku menyadari, dibalik kaca itu, ada mata yang masih mengawasi gerak gerak kami berdua.Dahi Hiro bertaut. “Jam tiga pagi ada orang di dalam mobil lagi ngintai rumah lo. Elo yakin ini aman?”Aku menghembuskan napas dengan kasar. “Gue kenal mobil itu . Enggak ada masalah. Semua aman.”Aku coba menyakinkannya dengan nada bicara
Last Updated: 2025-07-19
Chapter: PART 88 (MOTOR BESAR) Akhirnya aku tenggelam kembali ke dalam lautan kode. Baris demi baris kode aku baca kembali dengan seksama demi mencari kesalahan pada sintaks yang sudah diberi catatan oleh Hiro sebelumnya. Cukup banyak catatan yang ditambahkan ke dalam program ini. Contohnya seperti:“Logika modul harus spesifik, belajar lagi cara kerja fungsi.”“Penamaan harus ringkas dan unik. Jangan bikin bingung diri sendiri.”“Banyak banget catatan kaki, ini bikin program atau nulis diari?”Kata-kata dengan kesan menghina tidak hanya keluar dari mulut Hiro. Bahkan dalam back-end program saja, dia masih sempat membuatku kesal. Namun, lebih dari pada itu, aku merasa terhibur dengan kalimat-kalimatnya. Seperti sedang dimarahi betulan rasanya.Sesekali Hiro datang menghampiriku. Baik itu untuk menanyakan apakah ada kesulitan atau tidak, atau hanya sekedar duduk diam menemani. Bahkan dia masih sempat membawakan mie goreng untukku. Katanya, jangan sepelekan rasa lapar kalau sedang menulis kode. Karena otak sedang be
Last Updated: 2025-07-18
Chapter: PART 87 (ROTI MANIS)Suara klakson yang melengking, deru mesin yang tak putus, dan riuh rendah tawa bercampur aduk menciptakan melodi khas akhir pekan kota. Aku membiarkan diriku terseret arus, tanpa tujuan pasti, menikmati kebebasan anonimitas yang hanya bisa kutemukan di tengah keramaian. Sesekali aku berpapasan dengan pasangan muda mudi yang bercengkerama dengan mesra. Menumbuhkan perasaan iri yang biasanya tidak pernah aku rasakan selama ini.Bagaimana aku bisa iri pada kisah cinta orang lain, sedangkan aku punya tunangan yang sempurna di sana.Lelah dengan hiruk pikuk jalanan kota, aku memutuskan untuk mencari tempat untuk sekedar duduk santai sambil menyeruput kopi. Kebetulan tidak jauh dari tempatku berdiri, aku menemukan sebuah kedai kopi yang sedikit tersembunyi dan dihimpit gedung tinggi dengan banyak pohon di sekitarnya.Suara lonceng terdengar seiring pintu kaca aku dorong untuk membuka jalan. Begitu kakiku sudah masuk ke dalam, aku terkejut karena kafe tersembunyi ini ternyata penuh dengan pe
Last Updated: 2025-07-17

DI PELUKAN TUAN PEMBURU BERBAHAYA
Cassie, harus memutar arah hidupnya sebagai mahasiswa S2 di Universitas Amsterdam setelah insiden yang membuat ayahnya menghilangnya.
Ditengah kesedihannya, seorang pria tampan nan misterius tiba-tiba muncul, mengaku sebagai rekan kerja sang ayah. Pria itu bernama Arthur Hunter, Chairman dari yayasan museum Jakarta.
Namun, Cassie sudah tau, yang Arthur kerjakan lebih kelam dari sekedar mengoleksi benda bersejarah. Dia ternyata bagian dari organisasi mafia perdagangan benda bersejarah ilegal.
Dengan kemampuan manipulatifnya, Arthur berhasil meyakinkan Cassie untuk ikut bersamanya ke Jakata dan bekerja untuknya di Museum Jakarta.
Cassie yang sangat berharap bisa menemukan sang ayah, akhirnya terpaksa bekerjasama dengan pria berbahaya itu karena Arthur menjanjikan perlindungan dan informasi mengenai ayahnya.
Ketika Cassie mulai menaruh hati, kenyataan pahit satu persatu terkuak. Arthur dengan segala kemegahannya ternyata menyimpan banyak rahasia.
Akan kah Cassie bisa bertahan hidup di dalam cengekaram pria seberbahaya Arthur?
Read
Chapter: BAB 38 Sup Kuah HangatDi pagi hari, kondisiku sudah jauh lebih baik. Nyeri datang bulan berkurang dan sakit kepala sudah tidak terlalu menyiksa. Hanya saja, makanan yang dibawa Diah ke kamar belum ada yang bisa masuk lebih dari dua suap.“Mbak, kalau mau minum pereda nyeri lagi, minimal buburnya dimakan separuhnya,” bujuk Diah ketika melihat mangkuk bubur pagi ini masih penuh.Aku meliriknya sebelum kembali memejamkan mata menahan rasa mual yang mendadak naik. “Saya masih ngantuk. Nanti siang saya pasti makan banyak.”Tidak lama, suara langkah kaki membuatku kembali membuka mata. Arthur muncul dari ambang pintu, disusul oleh seseorang dengan pakaian rapi yang membawa tas medis hitam berukuran sedang.“Ini Dokter Sylvanus. Kemarin dia sudah memeriksamu waktu kamu belum sadar,” papar Arthur ketika dia sudah berdiri ujung ranjang, memperkenalkan pria oriental yang tersenyum ramah padaku.Aku menyapanya dengan anggukan kecil dan membalas senyum ramahnya dengan tarikan garis bibir yang kaku.“Bagaimana perasaanm
Last Updated: 2026-08-28
Chapter: BAB 37 Perhatian?Aku sudah membaca belasan jurnal dan puluhan kali eksperimen. Tenaga dan kesadaranku terkuras habis. Semakin hari, rasa berat di kepala semakin menguat. Ada kalanya aku muntah sehabis makan akibat terlalu lama menghirup uap kimia yang terkumpul di ruangan tertutup ini.Entah di hari ke berapa Diah mulai membawakanku obat-obatan dan vitamin. Menu makananku semakin diperhatikan tetapi hal itu justru membuatku semakin kehilangan nafsu makan.Aku yakin sudah lebih dari seminggu aku menginap di studio dan siklus datang bulan memperparah kondisi fisikku hari ini. Kram hebat di perut serta kepala berdenyut kencang membuat persendianku menyerah menopang tubuh. Badanku bergetar menahan lemas, dengan keringat dingin yang mulai mengucur deras di pelipis.“Diah, kamu ke toko terdekat ya. Tolong beliin aku pembalut sama obat pereda nyeri,” pintaku dengan suara pelan, menahan rasa melilit di perut.Diah segera mengangguk patuh walau sebelumnya sempat menatapku dengan cemas. Tanpa banyak bertanya, d
Last Updated: 2026-08-27
Chapter: BAB 36 DiahArthur mematung. Menatapku tak percaya dengan sorot teramat kelam. Dia sangat marah, tentu saja bukan karena rasa sakit fisik di pipinya tidak seberapa untuk pria bertubuh setegap dirinya. Ada ego yang berhasil aku robek dengan dua kali tamparan berturut-turut di studio ini. Tiga tamparan jika menghitung kejadian malam sehabis pesta di kediaman Jenderal Sebastian.“Sekarang enyah dari hadapanku, Arthur. Itu pun kalau kamu masih mau astroab sialan itu ditemukan,” desisku. Penuh rasa muak yang terlihat suaraku yang bergetar.Arthur masih tidak bergeming. Dia tidak membalas tamparan, tidak pula meluapkan amarahnya dalam suara kencang. Otot-otot rahangnya yang sebelumnya keras perlahan mengendur. Dia menghela napas panjang untuk mengendalikan diri, sebelum kembali menatapku dengan sorot yang lebih terkontrol, dingin, tetapi tak lagi mengancam secara agresif.“Kamu benar. Fokus kita hanya mencari astrolab itu.” bisiknya datar. Pengendalian emosi yang rapi untuk seorang mafia yang kejam. “S
Last Updated: 2026-08-24
Chapter: BAB 35 Tamparan LagiUdara di dalam studio Papa terasa mencekik. Hening panjang setelah Arthur melontarkan fakta mengejutkan tentang Jenderal Sebastian membuat Leon membeku di tempat.“Sampah negara tentu saja pandai mengarang cerita. Kenapa tidak sekalian katakan bahwa Presiden yang melakukan penculikan itu,” desis Leon dengan dada yang masih terlihat naik turun dengan cepat. Menahan amarah.“Walau kemungkinan itu bisa saja terjadi mengingat rekam jejaknya.” Arthur menghela napas pendek. Dia mengangkat bahunya sejenak lalu menurunkannya kembali sebelum melanjutkan kalimatnya “Tapi kali ini saya tidak asal menuduh ayahmu.”Arthur melepaskan cengkeramannya di pinggangku. Dengan santai, dia merogoh ponsel dari saku celananya, mengetuk layar beberapa kali, lalu memperlihatkan gambar dokumen berisi sebuah tabel. Aku tidak begitu mengerti isinya, namun tabel itu terlihat memuat banyak penanda waktu dan keterangan kejadian.“Ini poto dokumen resmi log transmisi permintaan armada QRF dan Medevac ke posko,” Pamer
Last Updated: 2026-08-23
Chapter: BAB 34 Kekalahan KaptenLeon spontannya bergerak tepat ke depan badanku. Menghalangi akses pandangan Arthur padaku sepenuhnya dengan tubuhnya yang tegap. Tidak dengan raut panik. Sikap kaki dan dan gestur tangan yang bersiap menandakan dia bukan amatiran dalam menghadapi bahaya.Namun, tetap saja kali ini rencana dia terlalu impulsif. Tanpa dukungan dari militer, Leon hanyalah sipil yang sedang menikmati masa cutinya. Di tambah lagi dia baru keluar dari rumah sakit dengan luka yang masih segar. Ini sama saja bunuh diri.“Arthur, ini salahku.” Aku beranikan untuk bersuara. Mencoba mencegah hal yang lebih buruk terjadi di studio ini. “Aku yang undang dia. Aku mau menyelesaikan apa yang seharusnya selesai.”Leon menoleh cepat ke arahku. Alisnya bertaut rapat dengan mata menyipit, menatapku heran. “Kamu enggak perlu bicara seperti itu, Cass. Kamu enggak perlu takut.”Aku menelan ludah. Tentu saja aku harus takut. Arthur bisa meledakan kepalan pria ini kapan pun dia mau.Arthur menyunggingkan senyum tipis dengan
Last Updated: 2026-08-22
Chapter: BAB 33 Ketegangan di StudioEnzo menghampiriku ketika Arthur sudah menghilang di balik koridor menuju ruang kerjanya.“Nona, Anda akan bersama Duan hari ini. Satu jam lagi, Duan akan naik dan menemani anda ke studio Tuan Henry.” Enzo membacakan agendaku hari ini dengan nada robotnya.Aku tidak menjawab, hanya memberinya lirikan dingin. Lagi pula Enzo tidak membutuhkan respon dariku karena begitu dia selesai bicara, pria itu segera memutar badannya, dan berjalan ke ruang kerja Arthur untuk menyusul sang atasan.Aku baru saja hendak merapikan piring ketika ponsel disaku gaunku berbunyi nyaring. Nama laura muncul di layar.“Halo, La. Tumben pagi-pagi udah nelepon gue,” sapaku begitu ikon hijau aku geser.“Cassie, dengar. Jangan bicara apapun.”Suara bariton yang menyambar dari seberang membuat jantungku seolah terlepas dari tempatnya. Ini jelas bukan suara Laura. Ini suara Leon, suara yang sangat ingin aku dengar di tengah kecemasan akan keadaannya yang selalu menghantui pikiranku.“Le—”“SHH! Jangan sebut namaku,”
Last Updated: 2026-08-21