LOGINMatahari sudah lama terbit, dan aku masih belum mampu menguatkan tekad untuk beranjak dari tempat tidur. Sarapan yang diantar Diah beberapa jam lalu masih bertengger di atas nakas, sama sekali belum kusentuh.Aku meraba nakas, mengambil ponsel yang semalam kembali dipinjamkan Arthur padaku. Mengetuk layar beberapa kali mencari nama Laura pada daftar kontak.“Cassie! Astaga, susah banget komunikasi sama lo. Nomor ini enggak aktif seminggu lebih. Elo baik-baik aja, kan?” pekik dari ujung sambungan. Suara Laura yang nyaring membuatku menjauhkan ponsel dari telinga.“Gue baik-baik aja,” jawabku sambil tersenyum kecil. Tidak bisa menahan rasa gembira bisa mendengar suara sahabatku lagi.“Kemarin gue sempet main ke museum. Berharap bisa ketemu lo di sana. Tapi gue baru inget kalo elo udah enggak dibolehin kerja lagi sama Tuan Grey lo itu,”“Tuan Grey? Gila kali lo.” umpatku, tidak setuju pada julukan yang diberikan Laura untuk Arthur. Tuan Grey setidaknya mencintai Anastasya, sedangkan Arth
Di pagi hari, kondisiku sudah jauh lebih baik. Nyeri datang bulan berkurang dan sakit kepala sudah tidak terlalu menyiksa. Hanya saja, makanan yang dibawa Diah ke kamar belum ada yang bisa masuk lebih dari dua suap.“Mbak, kalau mau minum pereda nyeri lagi, minimal buburnya dimakan separuhnya,” bujuk Diah ketika melihat mangkuk bubur pagi ini masih penuh.Aku meliriknya sebelum kembali memejamkan mata menahan rasa mual yang mendadak naik. “Saya masih ngantuk. Nanti siang saya pasti makan banyak.”Tidak lama, suara langkah kaki membuatku kembali membuka mata. Arthur muncul dari ambang pintu, disusul oleh seseorang dengan pakaian rapi yang membawa tas medis hitam berukuran sedang.“Ini Dokter Sylvanus. Kemarin dia sudah memeriksamu waktu kamu belum sadar,” papar Arthur ketika dia sudah berdiri ujung ranjang, memperkenalkan pria oriental yang tersenyum ramah padaku.Aku menyapanya dengan anggukan kecil dan membalas senyum ramahnya dengan tarikan garis bibir yang kaku.“Bagaimana perasaanm
Aku sudah membaca belasan jurnal dan puluhan kali eksperimen. Tenaga dan kesadaranku terkuras habis. Semakin hari, rasa berat di kepala semakin menguat. Ada kalanya aku muntah sehabis makan akibat terlalu lama menghirup uap kimia yang terkumpul di ruangan tertutup ini.Entah di hari ke berapa Diah mulai membawakanku obat-obatan dan vitamin. Menu makananku semakin diperhatikan tetapi hal itu justru membuatku semakin kehilangan nafsu makan.Aku yakin sudah lebih dari seminggu aku menginap di studio dan siklus datang bulan memperparah kondisi fisikku hari ini. Kram hebat di perut serta kepala berdenyut kencang membuat persendianku menyerah menopang tubuh. Badanku bergetar menahan lemas, dengan keringat dingin yang mulai mengucur deras di pelipis.“Diah, kamu ke toko terdekat ya. Tolong beliin aku pembalut sama obat pereda nyeri,” pintaku dengan suara pelan, menahan rasa melilit di perut.Diah segera mengangguk patuh walau sebelumnya sempat menatapku dengan cemas. Tanpa banyak bertanya, d
Arthur mematung. Menatapku tak percaya dengan sorot teramat kelam. Dia sangat marah, tentu saja bukan karena rasa sakit fisik di pipinya tidak seberapa untuk pria bertubuh setegap dirinya. Ada ego yang berhasil aku robek dengan dua kali tamparan berturut-turut di studio ini. Tiga tamparan jika menghitung kejadian malam sehabis pesta di kediaman Jenderal Sebastian.“Sekarang enyah dari hadapanku, Arthur. Itu pun kalau kamu masih mau astroab sialan itu ditemukan,” desisku. Penuh rasa muak yang terlihat suaraku yang bergetar.Arthur masih tidak bergeming. Dia tidak membalas tamparan, tidak pula meluapkan amarahnya dalam suara kencang. Otot-otot rahangnya yang sebelumnya keras perlahan mengendur. Dia menghela napas panjang untuk mengendalikan diri, sebelum kembali menatapku dengan sorot yang lebih terkontrol, dingin, tetapi tak lagi mengancam secara agresif.“Kamu benar. Fokus kita hanya mencari astrolab itu.” bisiknya datar. Pengendalian emosi yang rapi untuk seorang mafia yang kejam. “S
Udara di dalam studio Papa terasa mencekik. Hening panjang setelah Arthur melontarkan fakta mengejutkan tentang Jenderal Sebastian membuat Leon membeku di tempat.“Sampah negara tentu saja pandai mengarang cerita. Kenapa tidak sekalian katakan bahwa Presiden yang melakukan penculikan itu,” desis Leon dengan dada yang masih terlihat naik turun dengan cepat. Menahan amarah.“Walau kemungkinan itu bisa saja terjadi mengingat rekam jejaknya.” Arthur menghela napas pendek. Dia mengangkat bahunya sejenak lalu menurunkannya kembali sebelum melanjutkan kalimatnya “Tapi kali ini saya tidak asal menuduh ayahmu.”Arthur melepaskan cengkeramannya di pinggangku. Dengan santai, dia merogoh ponsel dari saku celananya, mengetuk layar beberapa kali, lalu memperlihatkan gambar dokumen berisi sebuah tabel. Aku tidak begitu mengerti isinya, namun tabel itu terlihat memuat banyak penanda waktu dan keterangan kejadian.“Ini poto dokumen resmi log transmisi permintaan armada QRF dan Medevac ke posko,” Pamer
Leon spontannya bergerak tepat ke depan badanku. Menghalangi akses pandangan Arthur padaku sepenuhnya dengan tubuhnya yang tegap. Tidak dengan raut panik. Sikap kaki dan dan gestur tangan yang bersiap menandakan dia bukan amatiran dalam menghadapi bahaya.Namun, tetap saja kali ini rencana dia terlalu impulsif. Tanpa dukungan dari militer, Leon hanyalah sipil yang sedang menikmati masa cutinya. Di tambah lagi dia baru keluar dari rumah sakit dengan luka yang masih segar. Ini sama saja bunuh diri.“Arthur, ini salahku.” Aku beranikan untuk bersuara. Mencoba mencegah hal yang lebih buruk terjadi di studio ini. “Aku yang undang dia. Aku mau menyelesaikan apa yang seharusnya selesai.”Leon menoleh cepat ke arahku. Alisnya bertaut rapat dengan mata menyipit, menatapku heran. “Kamu enggak perlu bicara seperti itu, Cass. Kamu enggak perlu takut.”Aku menelan ludah. Tentu saja aku harus takut. Arthur bisa meledakan kepalan pria ini kapan pun dia mau.Arthur menyunggingkan senyum tipis dengan







