INICIAR SESIÓNQiara tidak pernah menyangka pilihannya untuk menjadi babysitter akan mengubah hidupnya. Hubungannya dengan Richard, sang Bos Duda, yang awalnya tidak terlalu baik, berubah akibat satu malam tak terduga. Lantas, bagaimana kisah Qiara? Apakah ia akan bertahan di dekat Richard atau memilih untuk resign saja?
Ver másSuara tangis bayi membuat air mata Richard mengalir. pun dengan Qiara. Qiara terengah, usai melewati rasa sakitnya. Bayi laki-laki lahir dengan sehat. "Anaknya sehat, Pak, Bu," ujar sister yang kini menggendong bayi Richard dan Qiara, yang kini akan dibersihkan. Richard mwnghujani ciuman di kening Qiara, air matanya menetes. Ia takut, kejadian seperti dulu akan terulang kembali. Istrinya meninggal, saat melahirkan Alista. "Sayang, anak kita ...." Qiara tak sanggup berkata-kata, kepalanya sudah terasa berat dengan mata yang terlihat sangat lelah. "Mas ... syukurlah." Perlahan, Qiara menutup mata. Tubuhnya terasa lemah. melihat Qiara memejamkan mata, Richard langsung mendelik, rasa sesak menjalar ke dada. Ia takut, Qiara akan seperti Yasmin. Tidak, ia tidak mau kalau hal itu akan terjadi lagi. "Qiara, Sayang! Bangun!" Richard terus mengguncang tubuh Qiara yang terbaring lemah di atas ranjang persalinan. "Qiara! Sayang... buka matamu!" suaranya bergetar hebat. Tang
Oma Hesty menangis dengan memeluk Inara. Ia sudah sangat takut atas apa yang telah menimpa Qiara. Diculik, dipaksa berlari dalam keadaan hamil pula. Air matanya menetes dengan tangan mengusap perut buncit Qiara. “Oma benar-benar takuy, Qiara,” rintih Oma Hesty. “Bersyukur sekali cicit oma dan kamu baik-baik saja.” Qiara mengulum senyuman. Ia terharu akan perhatian Oma Hesty. Kepalanua menggeleng dengan lemah dengan mata berkaca-kaca. “Semuanya sudah lewat, Oma. Qiara baik-baik saja, kok.” Oma Hesty menyeka air matanya sendiri. Ia tak menyangka, jika hati Qiara sebesar ini. Bahkan ia tak mau menuntut Hana lebih kejam lagi. “Mulai sekarang, kamu harus tinggal sama Oma. Oma seriusan takut kalau ada apa-apa sama kamu lagi, Qiara.” Belum sempat Oma membalas, pintu kamar terbuka perlahan. Richard masuk sambil menggendong Alista—bayi mungil berusia sembilan bulan dengan pipi tembam dan mata bulat besar yang langsung membesar begitu melihat Qiara. “Ma…” Alista mengoceh sambil me
Mobil Richard berhenti dengan kasar di depan IGD rumah sakit. Richard langsung menggendong Qiara dan berlari menuju pintu masuk. Para petugas medis langsung menyambut mereka dan membawa Qiara ke dalam ruangan.Richard menjelaskan kepada dokter tentang apa yang terjadi pada Qiara, tentang penculikan dan pelarian yang menegangkan yang baru saja mereka alami. Dokter mendengarkan dengan saksama, lalu meminta Richard untuk menunggu di luar. "Kami akan melakukan yang terbaik untuk Ibu Qiara," ujar dokter dengan tenang.Richard terdiam di kursi tunggu, tangannya mengepal erat. Dia merasa panik, takut, dan tidak berdaya. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika sesuatu terjadi pada Qiara dan calon bayinya.Richard terduduk lemas, matanya terpejam. Dia berdoa dengan sungguh-sungguh, memohon agar Tuhan melindungi Qiara dan calon bayinya. "Ya Tuhan, tolong lindungi Qiara dan calon bayi kami. Berikan kami kekuatan untuk melewati masa-masa sulit ini," bisik Richard dalam h
Dor Richard terperanjat. Bunyi ledakan membuatnya ternganga, tak percaya. Haidar tertembak di bagian lengan kiri. Namun, nampaknya pria itu tak menyerah, ia membalas dengan satu tembakan yang berhasil tepat sasaran. Buru-buru Richard menghampirinya. “Haidar, kamu enggak apa-apa?” Richard sangat panik. Suara sirene mobil aparat mulai terdengar, beberapa petugas turun dari mobil, mengejar para pelaku, termasuk Denis. Richard berjongkok di samping Haidar, tubuh sahabatnya itu terkulai lemas dengan darah yang mengalir dari luka tembak di lengannya. Detak jantung Haidar terdengar lemah, dan napasnya tersengal-sengal. Richard berusaha menenangkan Haidar, "Tenang, Haidar. Ambulans sudah dalam perjalanan."Polisi yang membantu mengevakuasi Haidar, segera mengamankan lokasi kejadian. Penjahat yang menembaki Haidar berhasil ditangkap. Richard merasa lega, tetapi keprihatinannya terhadap Haidar tetap tak tergoyahkan.Richard mengambil ponselnya dan menghubungi ambulans. "Halo, saya
“Keluar kalian!” teriak ketiga pria yang mengejar Qiara, Richard dan Haidar. “Mas, aku sudah gak kuat lagi,” rintih Qiara sambil memegangi perutnya sendiri. “Stt, kamu harus bersabar sayang. Kita akan segera pergi dari sini.” Richard berbisik, seraya mengusap lengan sang istri. Menenggelamkan wajah
Mobil Richard berhenti dengan bunyi decitan ban yang mengeras di atas aspal. Udara malam terasa dingin menusuk kulit, membawa aroma tanah basah dan dedaunan kering. Richard melangkah keluar, tubuhnya tegap dan tangannya menggenggam erat pistol di pinggang. Di sampingnya, Hana, dengan wajah pucat pas
Richard berlari tergesa-gesa menuju gudang. Asap tebal mengepul dari celah pintu, bau gosong menyengat hidungnya. Ia terengah-engah, berusaha menahan kepanikan."Semua karyawan sudah dievakuasi?" tanyanya kepada seorang karyawan yang berdiri di dekat pintu, wajahnya pucat pasi."Sudah, Pak. Tidak ada
Tangan Qiara membawa tangan Richard yang bergetar ke perutnya. Qiara tersnyum senang, ahirnya ia tahu, jika dugaannya salah, bukan karena Richard tak mau anak darinya, akan tetapii masih dalam trauma. Ia akan mencoba menyembuhkan rasa takut suaminya itu.“Mas, ada kehidupan di sini.”Air mata Richard






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñas