Chapter: Akhir Dari Segalanya (Tamat)Hari yang ku nantikan akhirnya datang juga. "Selamat siang, Tuan Mark. Apa benar kau yang memanggilku?" Akhirnya wanita licik itu masuk dalam perangkapku. Dia datang seorang diri. "Silahkan duduk, Nona Monika. Aku memang ingin bertemu denganmu." Ya, wanita itu adalah Monika. Wanita yang selama tiga bulan terakhir ku curigai kehadirannya. Setiap kali melangkah, wanita itu pasti ada dimana-mana. Bukankah ini sesuatu yang mencurigakan? Bahkan pertemuan kami pun seolah direncanakan dengan matang. "Ada apa, Tuan Mark? Apa kau merindukanku?" Kali ini Monika tak segan menunjukkan jati dirinya. Dia membelai pundak serta dahiku. Seakan hendak menggoda. Faktanya adalah aku tidak tertarik sama sekali. "Tentu saja aku merindukanmu. Kalau tidak, untuk apa aku capek-capek memintamu datang?" Aku sungguh muak terhadap diriku sendiri. Menyentuh paha wanita selain Maria, membuatku jijik dan ingin muntah. "Benarkah? Kalau begitu tunggu apa lagi? Silahkan jamah aku." Aku sudah duga, Monika past
Last Updated: 2024-04-30
Chapter: Dan TernyataTiga bulan sudah istriku menjalani tahap pemulihan. Dan hari ini akhirnya kami diizinkan kembali ke rumah.Senang rasanya bisa melangkah bersama seperti ini. Menghirup udara serta aroma khas rumah yang telah lama dirindukan.Sewaktu berada di rumah sakit, Maria kerap menanyakan rumah ini. Maklum saja, dua tahun koma tentu membuatnya melupakan banyak hal. Selalu yang diingat hanyalah peristiwa enam tahun silam.Tapi tidak masalah, yang terpenting adalah dia telah kembali padaku. Sisanya biar takdir yang urus.Aku tidak ingin hal lain mengusik ketenangan kami. Sudah cukup aku melihat air mata di pipi Maria. Sekarang waktunya dia bahagia."Sayang, berapa lama aku koma? Mengapa semuanya tampak sama? Bukankah kau bilang, bahwa aku koma selama dua tahun? Tapi kau dan aku masih terlihat sama."Entah apa maksud dari pertanyaan ini. Maria duduk di depan cermin rias miliknya. Sedangkan aku meletakkan tas milik istriku itu."Apa menurutmu ada yang berbeda dari rumah ini? Atau cermin itu yang ber
Last Updated: 2024-04-30
Chapter: Wanita Itu Datang LagiAku masih menunggu hasil pemeriksaan Maria. Tiba-tiba sosok wanita asing datang menghampiriku."Tuan Mark? Ah, benar itu Anda. Tadinya aku ragu untuk menyapa, takut salah orang. Tapi rupanya benar-benar Anda," ucap wanita yang nyaris membuatku lupa siapa dia."Ah ya, Nona...""Monika."Bahkan aku melupakan namanya saking tidak pentingnya dia. Entah wanita ini datang dari sudut mana, tiba-tiba berdiri di depanku dengan senyuman yang menurutku mencari perhatian."Ah, benar. Monika," gumamku acuh.Tuhan, Kau bisa tahu betapa aku tidak menyukai interaksi ini. Aku sungguh canggung dan merasa aneh."Mark, dia..."Leo menghampiri kami dengan tatapan penuh tanyanya."Bukan siapa-siapa. Hanya seseorang yang tak sengaja bertemu. Aku nyaris menabraknya sewaktu menjemput Leo tadi siang. Entah mengapa kami selalu bertemu dimana-mana," jelasku bernada sedikit kesal.Entah mengapa, semenjak Maria siuman. Aku lebih sensitif terhadap wanita lain... Maksduku adalah aku tidak suka ada perempuan lain di
Last Updated: 2024-04-30
Chapter: Jangan Menikah LagiMark Pov.Setelah sekian lama menyaksikan istriku terbaring koma tak berdaya di rumah sakit yang ku bangun sendiri, kini akhirnya ia kembali pulih.Mungkin Tuhan telah bosan mendengar doa serta keluhanku. Atau mungkin Maria sakit hati setelah aku mengancamnya menikah lagi.Sungguh, aku tersenyum gemas ketika mengingat hari itu. Andai bukan di rumah sakit. Andai kondisinya telah membaik seperti dulu. Maka aku akan menciumnya secara bertubi-tubi. Lalu mengajaknya bercinta sepanjang hari.Maria, istriku itu sangat suka menggoda ketika usianya beranjak lebih dewasa. Bukan tanpa usaha, dia semakin bijaksana dan berwibawa.Sampai detik ini, aku masih belum percaya, bahwa Tuhan akhirnya mengabulkan segala hajat yang ku panjatkan.Pun Joe, Putra kami satu-satunya. Anak itu tak pernah berhenti mendoakan Ibunya yang sekarat. Walau sempat kecewa serta nyaris putus asa karena Maria tak kunjung sadar juga. Akan tetapi, Joe berhasil melalui itu semua.Harus aku akui, Anak itu sungguh luar biasa ber
Last Updated: 2024-04-30
Chapter: Habis Gelap, Terbitlah TerangHari itu Mark dan Joe tengah merayakan ulang tahun Maria yang ketiga puluh satu. Walau wanita itu masih setia dengan tidur panjangnya.Selang infus dan oksigen menjadi saksi bisu mereka merayakan hari kelahiran Ibu satu Anak tersebut. Seolah hendak mengatakan kepada dunia, bahwa meski dalam situasi dan kondisi apapun, mereka tetap setia menanti kehadiran Maria di tengah-tengahnya.Walau entah kapan waktu itu akan segera datang. Yang pasti baik Mark maupun Joe, keduanya kompak tidak ingin putus asa."Happy birthday to you... Happy birthday too you... Happy birthday to you... Happy birthday... Happy birthday to you..."Mark dan Joe menyanyikan lagu selamat ulang tahun kepada Maria."Maaf, aku terlambat... Belum dimulaikan acara tiup lilinnya? Maaf, tadi aku mampir di butik teman untuk membeli gaun ini sebagai hadiah. Nanti kalau Mommy dari cucuku yang tampan ini sembuh, bisa langsung dikenakan."Sementara Mely datang terlambat, karena masih harus mencari hadiah ulang tahun untuk menantu
Last Updated: 2024-04-29
Chapter: Munculnya Wanita LainEntah dengan jurus doa apa lagi harus Mark dan Joe panjatkan kepada Tuhan agar Maria segera sadar dari komanya.Telah berbagai macam cara dilakukan. Akan tetapi, hasilnya masih tetap sama. Sampai akhirnya memasuki tahun kedua."Mark, apa kau tidak berencana untuk menikah lagi? Maaf sebelumnya, bukan aku tidak menghormati istrimu. Akan tetapi, bila melihat situasi dan kondisinya saat ini. Sangat sulit untuk selamat. Sebaiknya kau mengambil keputusan cepat. Apa kau tidak memikirkan Putramu? Dia juga menginginkan sosok Ibu," ucap Wilyam."Terimakasih atas nasehatmu, Bro. Aku tahu kau peduli padaku, tapi maaf. Aku tidak bisa. Berbicara mengenai Putraku, tentu saja aku memikirkan masa depannya. Namun, bukankah sangat egois bila aku meminta restunya untuk menikah lagi demi memberi Ibu baru? Sementara Ibu kandungnya masih terbaring tak berdaya di rumah sakit... Maaf, aku tidak bisa," jawab Mark, menolak tegas usulan Wilyam."Baiklah, aku tidak keberatan. Aku hanya ingin menyampaikan gagasank
Last Updated: 2024-04-27
Chapter: Kamu Masih Saja Cemburu?Malam itu terasa berbeda setelah semua yang terjadi. Dimana akhirnya Anggun mengakui hubungannya bersama Azura kepada Rena.Kini wanita itu tak lagi segan menunjukkan perasaan serta emosinya. Azura... pria itu tak jauh berbeda. Lebih dari Anggun, ia memiliki keluasan cinta yang begitu besar.Malam itu, ia sengaja memberi ruang kepada Anggun untuk bertemu Rena di apartment lamanya demi membahas suatu masalah, katanya.Azura tidak bertanya lebih, hanya memberi izin selayaknya suami kepada istri."Jadi Rena adalah temanmu?" tanya Azura begitu Anggun kembali ke rumah mereka. Mereka duduk di ruang keluarga dengan secangkir teh di tangan masing-masing."Iya, dia sahabat baikku," jawab Anggun tanpa ragu."Mengapa kau tidak beritahu aku kalau kau punya terman bernama Rena?" tanya Azura sekali lagi. Lalu pria itu menyeruput tehnya yang masih hangat."Karena kamu tidaka pernah bertanya... lagi pula kita tidak pernah membahas urusan pribadi masing-masing. Aku juga tidak tahu kau bekerja di mana,
Last Updated: 2026-02-17
Chapter: Suamiku Bos SahabatkuMalam itu terasa ganjil. Anggun duduk di ruang tamu apartemen yang sempat dikontraknya dulu sebelum menikah, dengan tangan masih dingin meski udara tidak terlalu sejuk. Pikirannya terus kembali pada satu momen di cafe, yang mana tatapan Rena terkesan menyelidik ketika menyadari siapa Azura.Malam ini, Anggun memutuskan untuk singgah di apartmennya itu atas izin Azura. Alasannya cukup klasik, ia masih belum siap membawa orang lain ke rumah Azura, karena merasa tak enak hati terhadap pria itu.Raut wajah Rena saat di kafe, bukan hanya keterkejutan, melainkan ada rasa tertipu.Tak lama terdengar suara bel berbunyi. Dan Anggun pun berdiri, menarik napas panjang, lalu membuka pintu.Begitu pintu itu terbuka, Rena berdiri di sana. Wajahnya tidak marah, tapi jelas penuh pertanyaan."Masuk," kata Anggun pelan. Begitu pintu tertutup, Rena langsung berbalik menghadapnya."Jadi," ucapnya perlahan, "suamimu adalah Azura?"Anggun menelan ludah, antara canggung dan merasa bersalah."Iya," sahutnya.
Last Updated: 2026-02-16
Chapter: Ketika Azura Cemburu.Siang itu cafe tidak terlalu ramai, tapi cukup hidup untuk menjadi tempat bersembunyi dari dunia.Anggun duduk berhadapan dengan Rena di sudut dekat jendela. Cahaya siang menyentuh wajah wanita itu, membuat ekspresinya terlihat lebih lembut dari biasanya.Rena menyipitkan mata, memperhatikan wajah Anggun yang menurutnya berbeda."Kamu kelihatan beda, ya," kata Rena sembari menyandarkan tubuh ke sandaran kursi. Ia melipat kedua tangannya."Beda bagaimana?" tanya Anggun sambil mengaduk es teh yang mulai mencair."Seperti orang yang sedang jatuh cinta, tapi pura-pura tidak mau mengaku," sahut Rena datar, tapi cukup mengena di hati Anggun.Anggun pun tersenyum kecil. "Kamu terlalu banyak menonton drama," jawabnya."Bukan terlalu banyak menonton drama, Sayang, tapi aku terlalu lama mengenalmu. Apa... suamimu akhirnya benar-benar jatuh cinta ya?" jawab Rena cepat. Namun, di ujung kalimat, ia menyelipkan pertanyaan.Anggun tidak segera menjawab. Wanita itu menatap meja terlebih dahulu, seola
Last Updated: 2026-02-15
Chapter: Melangkah BersamaPagi datang tanpa peringatan. Cahaya matahari menyelinap pelan melalui celah tirai, jatuh di lantai kamar dengan warna keemasan yang terlalu jujur untuk diabaikan.Anggun terbangun lebih dulu. Namun, Ia tidak langsung bergerak. Ada keheningan yang terasa berbeda saat itu, tetapi bukan sepi, melainkan penuh sisa-sisa kehangatan.Sementara Azura masih tertidur di sisinya. Wajahnya tampak lebih dewa saat tidur. Garis-garis tegas yang biasanya menjadi tameng, kini melunak.Lalu Anggun menatapnya lama, seperti sedang membaca ulang sebuah keputusan yang telah ia ambil semalam, keputusan yang tidak bisa ditarik kembali.Anggun merasakan kehangatan di dadanya… lalu perlahan mengencang. Bersamaan dengan itu, kedua sudut bibir Anggun tertarik tipis, membentuk senyuman bahagia di sana.Dalam benak Anggun, semalam terasa nyata. Pagi ini pun nyata, tetapi justru di sanalah ketakutan mulai tumbuh.Ya, sejenak ketakutan tumbuh di hatinya. Bukan karena kontrak yang telah diingkar, melainkan pada kehi
Last Updated: 2026-02-13
Chapter: Malam yang IndahMalam itu tidak datang dengan tergesa. Lampu-lampu kota di balik jendela hanya menjadi latar buram ketika Anggun berdiri diam di tengah kamar, seolah sedang menimbang ulang seluruh hidupnya. Ada begitu banyak ketakutan yang pernah menahannya. Dimulai dari usia, status, masa lalu, kontrak yang mengikat tanpa rasa. Namun kini, semuanya berdiri berhadapan dengan satu perasaan yang tak lagi bisa ia abaikan.Sementara Azura berdiri beberapa langkah darinya. Ia tidak mendekat, tidak pula menjauh. Tatapan matanya lembut, berbeda dari tatapan dingin yang biasa ia layangkan di dunia luar. Saat ini tidak ada tuntutan di sana. Tidak ada pula paksaan.Tak lama Anggun menoleh, menatap pria itu lama, seolah ingin menghafal wajahnya, wajah seseorang yang sepuluh tahun lebih muda darinya, tapi malam ini terasa jauh lebih dewasa dengan caranya mencintai.“Apa kamu masih ragu?” tanya Azura pelan.“Iya... aku takut kalau perasaan ini hanya singgah sebentar, lalu pergi diam-diam. Aku juga takut kalau set
Last Updated: 2026-02-12
Chapter: Saat Azura Membaca Vonis Dokter Tanpa SengajaKertas itu tidak seharusnya ada di sana. Azura tahu benda tipis itu begitu matanya menangkap lembaran putih yang tergeletak di meja makan, terselip di antara tablet vitamin dan map berisi dokumen perusahaan yang semestinya ia bawa ke ruang kerja. Tulisan dokter tercetak rapi, dingin, dan terlalu klinis untuk berada di ruang yang seharusnya hangat.Reflek Azura berhenti melangkah. Lalu tangannya terulur tanpa sadar, lantas berhenti di udara, seolah memberi dirinya sendiri waktu untuk berpikir ulang. Namun, rasa ingin tahu dan sesuatu yang lebih dalam mendadak muncul, lebih personal mengalahkan kehati-hatian.Azura pun membacanya. Awalnya satu baris, lalu baris berikutnya. Kemudian masuk pada baris kalimat yang membuat dadanya mengeras.Diagnosis: tanda penuaan dini pada sistem reproduksi dan hormonal.Reflek Azura menghela napas pelan. Bukan marah, bukan kecewa. Yang datang justru pemahaman yang terlambat. Lalu menyusul potongan-potongan memori sikap Anggun yang selama ini ia anggap se
Last Updated: 2026-02-11
Chapter: Dekapan Hangat"Aku ingin menuntut balas Paman Hartanto." Ucapan itu ibarat jarum menusuk kalbu Yoga. Parasnya yang tampan mendadak suram."Apa maksudmu?" Kening pria itu mengernyit penasaran."Kau tidak akan mengerti." Aku tidak berani menatap mata suamiku. Nalusirku seolah menahan agar tidak memberitahunya."Kalau begitu beritahu aku agar aku mengerti. Jika ceritanya panjang, maka buat lebih singkat, padat, dan jelas. Kau bukan anak kecil yang tak pandai menyusun paragraf." Siapa sangka bila Yoga justru mengatakan banyak hal.Sontak aku berpaling, menatap dalam netra suamiku. Di sinilah aku bisa menangkap kesungguhannya. Yoga bisa dipercaya."Paman Hartanto adalah penyebab Ayah meninggal." Suaraku bergetar ketika memoriku tertuju kepada mendiang ayah.Semua peristiwa menyakitkan dulu, kembali menari-nari di pelupuk mata. Seolah tengah mengejek."Dia merebut semua yang kami miliki. Aset, rumah, mobil, perhiasan, hingga beberapa lahan hasil kerja keras ayah. Namun, yang tak kalah menyakitkan adalah.
Last Updated: 2026-01-08
Chapter: Mintalah Bantuan Yoga"Apa?" Bahkan suaraku nyaris tercekat. Duaniaku seketika runtuh."Ibu dilecehkan?" Aku tak kuasa mendengar semua cerita Uti. Jika hanya berbicara soal harta, aku masih bisa merelakan. Namun, ini menyangkut ibu. Wanita yang telah melahirkanku. Bukankah aku tidak berguna sebagai anak?"Aku tahu kau pasti terkejut begitu mendengar ceritaku. Itulah sebabnya aku sempat mengurung niat untuk memberitahumu, tapi sepertinya kau berhak tahu. Walau bagaimanapun juga dia adalah ibumu.""Uti, apa kau yakin dengan apa yang ditemukan Papimu?" Aku berdiri, memegang kedua lengan Uti. Menatap wanita itu dengan derai air mata.Aku terkulai lemah ketika tahu kehormatan ibu dilecehkan. Apa yang harus aku katakan padanya nanti? Haruskan aku mempertanyakan kejadian memalukan itu?"Yumi, aku tahu kau terkejut mendengar ini. Bukan hanya kamu, aku dan papi juga masih belum percaya. Mengingat hubungan ayahmu dengannya. Pria itu menutup rapat cerita. Bahkan orang di sekitarnya pun tidak tahu apa-apa saja. Namun,
Last Updated: 2026-01-07
Chapter: Fakta BaruAku tidak ingat part mana melakukan kesalahan. Menurutku, mengunjungi ibu bukanlah sebuah dosa. Aku sungguh membutuhkan sandaran setelah melalui beberapa peristiwa menyesakkan dada."Apa maksudmu melanggar kontrak? Aku tidak mengerti.""Jelas saja kau tidak mengerti, karena kau tidak pernah memikirkan perjanjian kita. Kau hanya sibuk menyusun rencana balikan sama mantan!"Aku rasa kali ini Yoga sudah keterlaluan. Bagaimana bisa dia mengatakan hal buruk tentangku. Sedangkan semalam aku sudah mengatakan, bahwa tidak ada hubungan apapun antara aku dan Aditya. Apa bercinta membuatnya hilang ingatan?"Yoga, aku rasa kau sudah melewati batas," ujarku masih menguasai diri."Aku tidak melakukan kesalahan apapun.""Kau--""Jika kau masih menemui ibu di sana tanpa sepengetahuanku, maka aku tidak akan segan-segan membatalkan semua perjanjian kita. Dan orang-orang pasar itu--""Cukup!"Aku sudah tak tahan lagi mendengar semua ocehan Yoga. Dia sudah terlalu jauh melangkah."Yoga, apa aku pernah mel
Last Updated: 2026-01-06
Chapter: Anggap KesalahanTujuan pernikahan adalah membangun sebuah keluarga sakinah, mawaddah, warohma. Setidaknya itulah salah satu ajaran agama yang kami anut.Tuhan sangat membenci perceraian. Pun mempermainkan pernikahan atas dasar kontrak. Manusia tidak boleh semena-mena memperlakukan sebuah hubungan sebagai simbol simbiosis mutualis.Selayaknya cerita drama korea ataupun china. Kisah kami hampir sama. Menikah secara kontrak, seolah mengenyampingkan perintah agama. Padahal sudah jelas tertera dalam kitab suci kami, bahwa tidak lengkap agama seseorang bila tidak menikah. Dalam hal ini yang berarti usia sudah mencapai baligh.Haruskah aku memperjelas urusan agama ini bersama Yoga? Bagaimana jika pria itu bertanya mengapa aku tidak mempersoalkan sedari awal?Mengapa setelah semua yang terjadi, aku justru berubah pikiran. Bagaimana jika Yoga mengira aku memanfaatkan dirinya. Atau hanya karena kami telah tidur bersama."Aakk--"Aku membekap mulutku setelah berteriak kencang. "Apa yang aku lakukan? Mengapa aku
Last Updated: 2026-01-05
Chapter: Hasrat Otot Perut"Bukankah kau lebih suka dipaksa? Baiklah, aku akan memaksamu untuk bicara."Cup!Yoga membekap mulutku dengan kedua bibir tipisnya. Pria itu mencium, hingga membuatku terpaku."Aakk--"Harus ku akui, untuk sesaat aku terperangkap dalam dekapan Yoga. Ciuman itu serasa meniup ubun-ubun.Setelahnya kesadaranku kembali menyapa. Aku menggigit bibir pria itu hingga menyisakan luka.Yoga berdiri menarik diri. Akhirnya dadaku kembali lega. "Mengapa kau menggigitku?""Apa menurutmu aku harus diam saja ketika kau menindihku?" sarkasku tak terima."Kau--"Aku memalingkan wajah. Menggigit bibir bawah, tempat Yoga menciumnya. Sekali lagi deru jantungku kembali berdegup. Apakah aku telah jatuh cinta pada pria brengsek ini?Tidak! Aku tidak boleh jatuh cinta padanya. Aku tidak boleh jadi perebut cinta wanita lain. Masih ada Mawar diantara kami.Wanita itu telah kembali. Mungkin sebentar lagi hubungan mereka berkembang. Sedang aku harus melanjutkan hidup seperti biasa.Untuk sesaat keheningan menyap
Last Updated: 2026-01-04
Chapter: Yoga di Ujung JalanPukul lima sore aku menyelesaikan semua desai pesanan orang. Meski diterpa masalah, aku tetap profesional memperhatikan pekerjaan.Hari ini aku memutuskan untuk mengunjungi ibu. Lama tak bersua dengannya, membuatku rindu. Di sisi lain, aku ingin merasakan nikmatnya sambal pete buatan wanita yang telah melahirkanku itu.Aku masih belum siap bertemu Yoga. Walau bagaimanapun juga pria itu telah membuatku terluka.Dalam perjalanan menuju rumah ibu, ponselku terus berdering. Aku menepi untuk memastikan siapa yang menghubungiku."Yoga." Adalah suamiku, orang yang membuat perjalananku terhambat.Aku menolak panggilan itu. Namun, ponselku kembali berdering. Lagi-lagi aku tidak bersedia bicara dengannya. Aku berencana ingin menenangkan diri di kediangan ibu."Assalamu'alaikum," ucapku begitu sampai rumah.Pukul setengah delapan malam, akhirnya aku menyambangi kediaman ibu. "Yumi? sedang apa kau kemari, Nak? Apa kau datang sendirian? Mana suamimu?"Bisa dipastikan ibu menanyakan Yoga. Mengingat
Last Updated: 2026-01-03