MasukBesi jeruji penjara terasa dingin dan berkarat saat Dewi menempelkan jemarinya yang gemetar di sana. Bau apak, keringat, dan desinfektan murahan menyeruak, mengikis sisa-sisa kemewahan yang biasanya melekat pada tubuh wanita paruh baya itu.Di seberang meja kayu yang retak-retak, Aira duduk dengan pakaian tahanan berwarna jingga yang tampak terlalu besar untuk tubuhnya yang kian kurus. Wajah gadis itu pucat, dengan lingkaran hitam tebal di bawah matanya, menjadi saksi bisu malam-malam tanpa tidur di atas lantai semen yang dingin.Dewi memandang putrinya dengan dada yang sesak oleh rasa bersalah, tetapi sekaligus oleh ketakutan egois yang masih mencengkeramnya."Aira..." Suara Dewi bergetar, nyaris teredam oleh hiruk-pikuk suara tangisan dan bisikan dari bilik kunjungan lain. "Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu."Aira mengangkat wajah. Matanya yang dulu berbinar kini tampak kosong, seperti sumur tua yang kering. Gadis itu menatap ibunya tanpa ekspresi, sebuah kekosongan yang justru lebih me
Malam itu terasa berbeda setelah semua yang terjadi. Dimana akhirnya Anggun mengakui hubungannya bersama Azura kepada Rena.Kini wanita itu tak lagi segan menunjukkan perasaan serta emosinya. Azura... pria itu tak jauh berbeda. Lebih dari Anggun, ia memiliki keluasan cinta yang begitu besar.Malam itu, ia sengaja memberi ruang kepada Anggun untuk bertemu Rena di apartment lamanya demi membahas suatu masalah, katanya.Azura tidak bertanya lebih, hanya memberi izin selayaknya suami kepada istri."Jadi Rena adalah temanmu?" tanya Azura begitu Anggun kembali ke rumah mereka. Mereka duduk di ruang keluarga dengan secangkir teh di tangan masing-masing."Iya, dia sahabat baikku," jawab Anggun tanpa ragu."Mengapa kau tidak beritahu aku kalau kau punya terman bernama Rena?" tanya Azura sekali lagi. Lalu pria itu menyeruput tehnya yang masih hangat."Karena kamu tidaka pernah bertanya... lagi pula kita tidak pernah membahas urusan pribadi masing-masing. Aku juga tidak tahu kau bekerja di mana,
Malam itu terasa ganjil. Anggun duduk di ruang tamu apartemen yang sempat dikontraknya dulu sebelum menikah, dengan tangan masih dingin meski udara tidak terlalu sejuk. Pikirannya terus kembali pada satu momen di cafe, yang mana tatapan Rena terkesan menyelidik ketika menyadari siapa Azura.Malam ini, Anggun memutuskan untuk singgah di apartmennya itu atas izin Azura. Alasannya cukup klasik, ia masih belum siap membawa orang lain ke rumah Azura, karena merasa tak enak hati terhadap pria itu.Raut wajah Rena saat di kafe, bukan hanya keterkejutan, melainkan ada rasa tertipu.Tak lama terdengar suara bel berbunyi. Dan Anggun pun berdiri, menarik napas panjang, lalu membuka pintu.Begitu pintu itu terbuka, Rena berdiri di sana. Wajahnya tidak marah, tapi jelas penuh pertanyaan."Masuk," kata Anggun pelan. Begitu pintu tertutup, Rena langsung berbalik menghadapnya."Jadi," ucapnya perlahan, "suamimu adalah Azura?"Anggun menelan ludah, antara canggung dan merasa bersalah."Iya," sahutnya.
Siang itu cafe tidak terlalu ramai, tapi cukup hidup untuk menjadi tempat bersembunyi dari dunia.Anggun duduk berhadapan dengan Rena di sudut dekat jendela. Cahaya siang menyentuh wajah wanita itu, membuat ekspresinya terlihat lebih lembut dari biasanya.Rena menyipitkan mata, memperhatikan wajah Anggun yang menurutnya berbeda."Kamu kelihatan beda, ya," kata Rena sembari menyandarkan tubuh ke sandaran kursi. Ia melipat kedua tangannya."Beda bagaimana?" tanya Anggun sambil mengaduk es teh yang mulai mencair."Seperti orang yang sedang jatuh cinta, tapi pura-pura tidak mau mengaku," sahut Rena datar, tapi cukup mengena di hati Anggun.Anggun pun tersenyum kecil. "Kamu terlalu banyak menonton drama," jawabnya."Bukan terlalu banyak menonton drama, Sayang, tapi aku terlalu lama mengenalmu. Apa... suamimu akhirnya benar-benar jatuh cinta ya?" jawab Rena cepat. Namun, di ujung kalimat, ia menyelipkan pertanyaan.Anggun tidak segera menjawab. Wanita itu menatap meja terlebih dahulu, seola
Pagi datang tanpa peringatan. Cahaya matahari menyelinap pelan melalui celah tirai, jatuh di lantai kamar dengan warna keemasan yang terlalu jujur untuk diabaikan.Anggun terbangun lebih dulu. Namun, Ia tidak langsung bergerak. Ada keheningan yang terasa berbeda saat itu, tetapi bukan sepi, melainkan penuh sisa-sisa kehangatan.Sementara Azura masih tertidur di sisinya. Wajahnya tampak lebih dewa saat tidur. Garis-garis tegas yang biasanya menjadi tameng, kini melunak.Lalu Anggun menatapnya lama, seperti sedang membaca ulang sebuah keputusan yang telah ia ambil semalam, keputusan yang tidak bisa ditarik kembali.Anggun merasakan kehangatan di dadanya… lalu perlahan mengencang. Bersamaan dengan itu, kedua sudut bibir Anggun tertarik tipis, membentuk senyuman bahagia di sana.Dalam benak Anggun, semalam terasa nyata. Pagi ini pun nyata, tetapi justru di sanalah ketakutan mulai tumbuh.Ya, sejenak ketakutan tumbuh di hatinya. Bukan karena kontrak yang telah diingkar, melainkan pada kehi
Malam itu tidak datang dengan tergesa. Lampu-lampu kota di balik jendela hanya menjadi latar buram ketika Anggun berdiri diam di tengah kamar, seolah sedang menimbang ulang seluruh hidupnya. Ada begitu banyak ketakutan yang pernah menahannya. Dimulai dari usia, status, masa lalu, kontrak yang mengikat tanpa rasa. Namun kini, semuanya berdiri berhadapan dengan satu perasaan yang tak lagi bisa ia abaikan.Sementara Azura berdiri beberapa langkah darinya. Ia tidak mendekat, tidak pula menjauh. Tatapan matanya lembut, berbeda dari tatapan dingin yang biasa ia layangkan di dunia luar. Saat ini tidak ada tuntutan di sana. Tidak ada pula paksaan.Tak lama Anggun menoleh, menatap pria itu lama, seolah ingin menghafal wajahnya, wajah seseorang yang sepuluh tahun lebih muda darinya, tapi malam ini terasa jauh lebih dewasa dengan caranya mencintai.“Apa kamu masih ragu?” tanya Azura pelan.“Iya... aku takut kalau perasaan ini hanya singgah sebentar, lalu pergi diam-diam. Aku juga takut kalau set
Beberapa saat setelah pernikahan. Pras dan Fatma membawa Anggun dan Azura ke rumah mereka. "Kemarilah, ikut Mama." Sesampainya di rumah, Fatma menyeret pelan Anggun untuk dibawa ke dalam kamar. Meninggalkan Azura yang selalu bungkam."Jelaskan sama Mama, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa pria itu,
“Apakah tidak ada solusi lain?” tanya Anggun pada Bayu. Suara gadis itu sedikit bergetar. Namun, masih tetap berusaha untuk tegar. “Tidak ada,” sahut Bayu tegas. Anggun kian melemah. Jika benar tidak ada solusi lain. Artinya dia harus menikah. Namun, siapa yang mau menikahi orang asing. Anggun m
Anggun buru-buru bangkit dan mencari pakaiannya selagi pemuda itu masih terpejam. Namun, ketika telah sepenuhnya berhasil memakai kembali semua pakaian, Anggun justru dikagetkan dengan suara berat yang muncul. “Berisik sekali!” Sontak Anggun menoleh dan mendapati pemuda itu telah membuka mata. Tat
“Hasil USG menunjukkan ada tanda-tanda penuaan dini ovarium. Kemungkinan Anda tidak akan mengalami menstruasi selama beberapa bulan ke depan.”Dokter berjenis kelamin wanita itu memberi selembar hasil pemeriksaan kepada Anggun.“Penuaan ovarium itu maksudnya gimana, Dok?” tanya Anggun, keningnya ha







