author-banner
Imamah Nur
Imamah Nur
Author

Novels by Imamah Nur

Dalam Dekapan Kakak Ipar

Dalam Dekapan Kakak Ipar

Alissa terkejut ketika menyadari pria yang menghangatkan ranjangnya bukanlah Virgo melainkan pria lain, dan parahnya pria itu adalah kakak sepupu dari suaminya sendiri yaitu, Nicholas Ferdian Barata. Bukannya meminta maaf, Nicholas malah meminta Alissa untuk menjadi wanita simpanan. Hal itu membuat Alissa menjadi geram karena merasa pria itu menganggap hina dirinya. Ia menolak dan ingin pergi dari kehidupan Nicholas. Sayangnya, Alissa tak kuasa untuk keluar dari jerat Nicholas karena pria itu adalah CEO baru di perusahaan Alexa tempat dia bekerja. Apakah Alissa akan jatuh ke tangan Nicholas saat mengetahui sang suami telah berselingkuh? Ataukah ia mampu pergi dari kehidupan Nicholas dan membenahi hubungan rumah tangganya yang terancam kandas dengan Virgo?
Read
Chapter: Bab 67. End
"Terima kasih," ucap Nicholas seraya menepuk pundak Aska. "Sama-sama. " Aska tersenyum tulus meskipun hatinya menyimpan kepedihan. "Jaga dia baik-baik, jangan kecewakan lagi," ujar Aska pada Nicholas. "Dan kamu Alissa, kembalilah kepada kebahagiaanmu. Aku senang jika melihatmu bahagia," ucapnya kemudian. Alissa hanya mengangguk lemah tanpa berani melihat wajah Aska. "Sudah sana kasihan pak penghulunya sudah menunggu." Nicholas menyentuh tangan Alissa lalu menggenggamnya. Jantung Alissa berdegup kencang. Nicholas membawa Alissa duduk di depan penghulu. "Aska apa-apaan ini?" Melati tidak terima dan hendak melangkah ke arah Nicholas dengan wajah murka, namun Tuan Barata langsung menggenggam tangan istrinya dan menahan. "Sudah Ma, kasihan putra kita. Mama tidak mau kalau sampai dia depresi, kan? Cobalah terima pilihannya. Hanya Niko yang tahu mana yang baik untuk dirinya. Mama mau seumur hidup anak kita tidak menikah?" Akhirnya Melati mengurungkan diri. "Terlebih apa T
Last Updated: 2024-12-23
Chapter: Bab 66. Ikhlas
"Tugasmu menjaga Alissa sudah selesai, kembalikan dia padaku!' Nada tegas Nicholas membuat mata Alissa membelalak. Tangannya reflek menutup mulut.Aska memandang Nicholas dengan senyuman sinis. "Sudah sadar Tuan Niko? Kemana saja Anda selama ini? Bukankah aku telah menyerahkannya tapi Anda sendiri yang menolak?" Aska tertawa hambar. "Sekarang sudah terlambat!' Nada suara Aska tak kalah tegas.Nicholas memandang Aska dengan tatapan menusuk. Aska balas menatap tajam seolah tidak ada ketakutan dalam hatinya. Alissa melirik Aska lalu Nicholas kemudian dia menunduk. Kedua tangannya saling terpaut dan meremas satu sama lain."Jadi kau tidak mau patuh?""Aku bukan lagi bawahanmu!"Nicholas mendesah kasar. Dia berjalan cepat ke arah kedua mempelai lalu menarik cepat tangan Alissa. Alissa yang tidak fokus langsung terseret menjauh."Hentikan Niko, kamu jadi perhatian semua orang!" Melati menegur sembari menghampiri putranya. Namun Nicholas sama sekali tidak menghiraukan."Tuan lepasin saya!"
Last Updated: 2024-12-20
Chapter: Bab 65. Hari Pernikahan
"Aku tidak sakit Pa, Ma." Nicholas selalu menolak tatkala kedua orang tuanya memintanya agar mau diperiksa oleh dokter. "Tapi akhir-akhir ini kamu-" "Ada yang salah denganku?" Nicholas menggeleng. "Tidak ada yang salah dengan diriku Ma, Pa, tapi apa yang ada di sekitarku tampaknya salah." "Apa maksudmu Nik?" Nicholas menggelengkan kepalanya sekali lagi. "Apa Papa dan Mama tidak merahasiakan sesuatu dariku?" Nicholas menatap wajah kedua orang tuanya secara bergantian. Melati terkejut. "Aku tidak mengerti Maksudmu." Entah memang tidak paham atau hanya pura-pura tidak mengerti Melati menatap ke arah lain. Dari dalam jendela suasana hari terlihat cerah. Namun, di hati ketiga orang di dalam rumah tampak suram. "Apa benar Laura itu istriku? Siapa sebenarnya Alissa?" Mata Nicholas memerah. Dia merasa ditipu oleh orang tuanya sendiri. "Ya," jawab Melati datar, ekspresinya pun hambar. "Cukup! Kepalsuan ini jangan diteruskan Ma!" sentak Nicholas. Melati meremas kedua tanganny
Last Updated: 2024-12-17
Chapter: Bab 64. Kilas Kenangan
"Tuan Nicholas tadi ada yang memberimu surat undangan, saya sudah menaruhnya di atas meja Tuan." Pagi-pagi sekali sekretaris memberitahu Nicholas. Pria itu menatap sekretarisnya tanpa ekspresi lalu mengangguk cepat. "Permisi!" Sang sekretaris menutup pintu dan pergi. Nicholas melihat meja, namun mengabaikan surat undangan yang ditaruh sekretarisnya. Pertama kali yang dia lakukan adalah menyesap kopi panas lalu menghela napas panjang. Merentangkan kedua tangan kemudian larut dalam tumpukan kertas yang membungkus seluruh konsentrasinya. Ketika sampai jam makan siang pria itu masih enggan beranjak dari kursinya. Sekretarisnya mengingatkan untuk makan, tetapi pria itu hanya meminta sekretarisnya untuk membawakan roti. Kesibukannya berlangsung hingga sore. Pada waktu pulang tangannya tidak sengaja menyenggol meja dan kertas undangan jatuh ke lantai. Pada saat itu Nicholas baru menyadari dia telah mengabaikan kertas itu. Nicholas berjongkok dan meraihnya. Pertama kali melihat nama p
Last Updated: 2024-12-11
Chapter: Bab 63. Rasa Ingin Tahu Nicholas
Aska termenung ketika menerima telepon dari Laura. Wanita itu menyatakan menyerah setelah satu bulan mencoba membantu agar Nicholas mengingat masa lalu bersama Alissa dengan panduan Aska. "Kak Aska! Kak Aska baik-baik saja, kan?" "Oh ya, maaf aku lagi tidak enak badan," ucap Aska berbohong. Laura meminta Aska untuk beristirahat dan jangan terlalu memforsir memikirkan kisah asmara orang lain. "Baiklah sekarang aku harus mengambil keputusan, aku akan menikahi Alissa." Setelah mengatakan kalimat ini Aska langsung mengakhiri panggilan telepon. Laura tercengang, sesaat kemudian bibirnya cemberut. Sungguh ia tidak setuju dengan keputusan Aska. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Solusinya hanya satu yaitu membuat Nicholas kembali pada Alissa, tetapi ia tidak bisa mewujudkan itu. "Apa pria itu tidak tahu aku masih naksir padanya?" lirih Laura seraya menghela napas kasar. "Tuhan! Kenapa Engkau pertemukan kami lagi jika Kak Aska bukan jodohku?" Laura mengacak rambut. Haruskah dia be
Last Updated: 2024-09-28
Chapter: Bab 62. Salah Paham
Setelah diusir Nicholas dari ruang kerja, Aska keluar dari perusahaan sambil memijit kencing. Dia berpikir seharusnya Nicholas berterima kasih padanya bukan malah marah dan mengusir. Kalau dia tidak memberitahu ini lalu menikahi Alissa, ketika suatu saat Nicholas mengingat semua, apa yang akan terjadi? Aska tidak dapat berpikir dengan jernih hingga ia memutuskan untuk berjalan-jalan di luar. Dia menunggu Nicholas menelepon untuk mengajak pergi ke pertemuan dengan salah satu kliennya hari ini. Sayangnya hingga hari menjelang siang tidak ada panggilan satupun yang masuk ke ponsel Aska. Pria itu hanya bisa menghela napas berat kemudian pulang ke rumah dengan menelan kecewa. "Kak malam ini jadi, kan?" Tepat jam 6 malam Laura menelponnya. "Jadi." Sebenarnya Aska sudah tidak ingin bertemu dengan Laura setelah Nicholas membentak dirinya. Namun, dia juga tidak ingin membuat Laura kecewa kalau tidak menepati janjinya. Dia melirik jam di tangan kemudian menyetir mobil menuju alamat yang La
Last Updated: 2024-09-06
Mas, Ayo Bercerai!

Mas, Ayo Bercerai!

Zola pikir dia telah menemukan kebahagiaan kedua dalam pelukan Haidar, duda menawan, dan putrinya, Kirana. Namun, kehadiran Raisa, mantan istri Haidar yang licik, mengubah segalanya. Dengan senyum manis dan rencana jahat, Raisa secara perlahan meracuni keluarga Zola, memanfaatkan Kirana sebagai pion dan menarik Haidar kembali ke sisinya. Terperangkap dalam jaringan kebohongan dan pengabaian, Zola harus menghadapi pengkhianatan yang tak terbayangkan. Bisakah dia menyelamatkan cintanya yang hancur, ataukah satu-satunya jalan keluar adalah meninggalkan segalanya demi dirinya sendiri? Dan, akankah Haidar melepaskan Zola demi bisa rujuk dengan Raisa atau bahkan pria itu akan tetap mempertahankan Zola? Yuk simak lika-liku kehidupan rumah tangga mereka dalam novel yang berjudul "Mas, Ayo Bercerai!" berikut ini!
Read
Chapter: BAB 28
Setelah beberapa hari Zola keluar dari rumah sakit, ia kembali beraktivitas meskipun sempat dilarang oleh Ibu Anwar. Ia tidak ke kafe melainkan ke tempatnya mengikuti kursus. Ia menggesekkan amplas kasar ke permukaan kayu jati daur ulang. Aroma kayu yang hangat dan debu halus yang beterbangan terasa menenangkan, jauh lebih menenangkan daripada aroma maskulin Haidar yang selalu menyelimuti rumah lamanya dan menjadi candu di awal-awal pernikahan mereka. Sudah dua minggu sejak ia memulai kursus singkat membuat perabotan kayu di bengkel kecil milik seorang tukang kayu tua. “Lana, kamu harus lebih sabar dengan seratnya,” tegur Pak Karto, instruktur kursus, yang sedang mengawasi dari balik kacamatanya. “Kayu ini sudah tua, dia punya cerita. Kamu tidak bisa memaksanya mulus dalam satu hari.” Zala tersenyum tipis. “Saya tahu, Pak. Tapi rasanya kalau saya tidak cepat selesai, cerita itu akan terus menghantui saya.” “Justru. Kamu harus dengarkan ceritanya, Nak. Kayu yang retak bukan berar
Last Updated: 2026-01-13
Chapter: BAB 27
“Kenapa kamu tiba-tiba kembali ke sini? Kenapa kamu harus muncul di sekolah Kirana, di depan Mama?” Haidar bangkit, suaranya pelan tapi penuh ancaman. “Kamu bilang kamu hanya ingin melihat Kirana bahagia. Tapi kenapa kamu harus membuat Zola merasa tidak nyaman sampai dia lari?” Raisa berdiri, mencoba mempertahankan ketenangannya. “Tunggu dulu, Haidar. Jangan salahkan aku. Zola itu terlalu sensitif. Dia yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku ini ibu kandung Kirana. Dia cemburu, Dar! Wajar kalau dia lari, dia memang tidak punya mental sekuat itu.” “Mental sekuat apa? Mental yang harus menahan fitnah dari ibu kandung anakku sendiri?” Haidar melangkah mendekat. “Zola tidak pernah cemburu dengan Kirana tapi kamu yang selalu membuatnya cemburu. Dia mencintai Kirana lebih dari dirinya sendiri. Dia pergi karena dia takut padaku, Raisa. Dan kenapa dia takut? Karena kamu terus memanipulasiku. Kamu terus mengisi kepalaku, membuatku berpikir Zola adalah penghalang kebahagiaan Kirana!”
Last Updated: 2026-01-12
Chapter: Bab 26
Nyonya Sinta mengerutkan keningnya melihat gestur tubuh Raisa yang tidak biasa. "Punya siapa, Raisa? Kamu tahu pemiliknya? Punya Zola, bukan?" Nyonya Sinta mencoba menebak. "Ah, ah, ini ... bukan punya Zola, Ma," jawab Raisa gugup. Nyonya Sinta mengerutkan kening. "Terus punya siapa? Punya Bik Inang?" Nyonya Sinta meraih tespek dari tangan Raisa dan memeriksanya. Raisa dan Nyonya Sinta sama-sama melihat ke arah pembantu Haidar. Wajahnya Bik Inang pucat seketika. Rasa takutnya kembali menyeruak. Ia takut Raisa memfitnah dirinya dan berakhir pada pemecatan oleh Haidar ataupun Nyonya Sinta langsung. Otak Bik Inang langsung merespon pada ucapan Raisa tadi yang masih melekat di kepalanya. 'Kamu akan aku pecat.' Bik Inang menunduk, kedua tangannya yang terkepal, lemah dan gemeter. Seluruh badannya tampak tegang. "Bukan Ma." Jawaban Raisa membuat Bik Inang menghela napas lega. Raisa melirik pada wanita itu dan tersenyum licik. "Terus punya siapa?" cerca Nyonya Sinta, tidak tahan den
Last Updated: 2026-01-12
Chapter: BAB 25
"Apa maksudmu Raisa? Kamu menekanku?" Tatapan Haidar tajam menusuk. Raisa mengangkat kedua bahu. "Anggap saja begitu," jawabnya santai. Haidar membuang napas, wajahnya tampak kesal. "Dari dulu sampai sekarang kamu enggak pernah berubah ya? Kamu harus mendapatkan apa yang kamu mau meskipun dengan cara licik sekalipun." Haidar menghempaskan tubuhnya di samping Kirana. "Kalau tahu akan begini, aku tidak akan pernah membiarkan kamu masuk kembali dalam kehidupanku meski untuk Kirana sekali pun." Haidar sangat geram. "Sudah terlanjur Haidarku, Sayang. Semua sudah terjadi dan kamu memang masih ditakdirkan untukku. Jadi, Tuhan mengembalikan kita pada poros takdirNya. Zola sendri hanya ditakdirkan untuk menjadi pendamping sementara!"Haidar bangkit, dan melemparkan tas Raisa ke dinding. "Pulang sana, jangan sampai aku murka!" bentak Haidar. Raisa terkejut tapi hanya untuk sementara, setelahnya dia menyunggingkan senyuman manis. "Kamu masih kayak dulu ternyata, perhatian. Ya aku akan pul
Last Updated: 2026-01-11
Chapter: Bab 24
Hati Kirana ingin menolak tapi gerakannya berbanding terbalik. Ia mengangguk lemah ketika tatap mata Raisa kembali menajam. "Bagus. Ibu suka kalau kamu menurut anak manis." Raisa mengusap lembut rambut Kirana. Namun Kirana merasa terancam dengan sentuhan Raisa. Raisa duduk pelan di samping Kirana dan mulai menyuap nasi ke mulut putrinya. Kirana membuka mulut dengan air mata yang terus menetes. Ia mengunyah perlahan, meskipun nafsu makannya semakin menghilang. Ia kesulitan menelan bubur yang disuapi Raisa, seolah ia menelan duri dalam mulutnya. Raisa mengusap air mata Kirana dan berkata, " Ibu enggak suka lihat kamu nangis-nangis begini." Kirana terdiam seketika, kunyahannya ikut berhenti. "Kalau ada Ibu kamu harus selalu tersenyum." Kirana langsung memaksakan senyumannya. "Bagus, dan ingat jangan pernah mengadu sama Ayah apapun yang dikatakan atau dilakukan Ibu terhadapmu. Kalau tidak kamu tidak akan bisa melihat Zola seumur hidup." Kirana syok, namun mengangguk juga.
Last Updated: 2026-01-09
Chapter: Bab 23.
"Lana! Nak Lana!" Ibu Anwar menepuk-nepuk pipi Zola. Zola menggeleng cepat, keringat dingin di pelipis semakin bercucuran. Tubuhnya bergerak gelisah di atas brankar. Dadanya naik turun tidak beraturan, seolah dikejar oleh makhluk tak kasat mata. "Tidak ... tidak." Zola terus menggeleng dengan mata terpejam. "Mati! Kau harus mati!" suara Raisa melengking, semakin lama semakin menusuk gendang telinga Zola. "Oh atau kamu ingin hidup dan melihat Kirana menderita?" Gelengan kepala Zola semakin cepat, dia seperti orang kesurupan. "Lana! Bangun Nak!" Ibu Anwar panik, segera ia berlari keluar ruang rawat dan menemui dokter. "Dia sumber kebahagiaanmu, kan? Bagaimana kalau aku menyiksa Kirana sebagai permulaan, hemm?" "Kamu gila ya Raisa, Kirana itu anak kandungmu!" Zola benar-benar syok, Raisa bisa tega dengan putrinya sendiri hanya demi bisa menyakiti Zola lebih dalam lagi. "Apapun yang menjadi penghalang harus disingkirkan." Raisa menyeringai. "Tidak!!!!!" Zola berteriak kenca
Last Updated: 2026-01-08
Pernikahan Kontrak dengan Presdir Tampan

Pernikahan Kontrak dengan Presdir Tampan

Menikah dengan pria tampan dan mapan pasti menjadi dambaan bagi setiap kaum hawa. Apalagi jika yang menikahi adalah seorang pengusaha muda yang sukses di bidang property seperti Bastian Pramoedya. Namun, bagaimana jika pernikahan tersebut dilandaskan oleh keterpaksaan dan pria itu hanya menjadi pengganti sang adik yang kabur di hari pernikahan karena tertuduh menghamili sahabat dari pengantin wanita? Awal-awal pernikahan antara Arandita dan Bastian terasa berat. Selain wajah Pria itu selalu mengingatkan Arandita pada Bobby yang sudah mengkhianati cintanya, terlebih sikap Bastian yang begitu dingin padanya. Akan tetapi, lama-kelamaan, kebersamaan mereka menumbuhkan benih-benih cinta di hati masing-masing. Lalu bagaimana jika Arandita kemudian mengetahui Bastian mau menjadi pengganti demi untuk menutup kabar yang menyatakan Bastian adalah pria tidak normal? Bagaimana pula jika ternyata Bobby bisa membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah dan memohon Arandita untuk kembali padanya? Akankah kisah antara Bastian dan Arandita berakhir dalam perceraian ataukah akan bersatu untuk selamanya?
Read
Chapter: Bab 144. Ending
Apa iya air susunya tidak enak? Kalau iya kenapa baru sekarang hal ini terjadi? Kenapa tidak sebelumnya Brian menolak ASI-nya? "Sabar Non, Nyonya besar hanya salah bicara, beliau tidak bermaksud membuat Non Aran sedih." "Iya Bik." Arandita mencoba tersenyum meskipun wajahnya masih terlihat pias. Bagaimanapun dia tidak bisa menyembunyikan raut kekecewaannya. "Kalau masih menyusui jangan makan sembarangan, itu ngaruh pada kesehatan anak," ucap nenek lagi dan Arandita hanya manggut-manggut tanpa mau protes sedikitpun. "Atau kamu masuk angin? Bik tolong ambil kerokan dan minyak kayu putih! Biasanya kalau Bastian memuntahkan air susu waktu kecil Amira meminta tolong untuk dikerokin dan akhirnya Bastian mau menyusu lagi." "Oh jadi Mas Bastian juga pernah begini Nek?" Anggukan nenek membuat Arandita dapat menghembuskan nafas lega. Baginya mungkin Brian menurun dari papanya. Bik Lin datang dengan tergesa-gesa dengan benda yang diminta oleh nenek. "Ayo dibuka bajunya biar Brian di
Last Updated: 2024-06-03
Chapter: Bab 143. Penolakan.
Agresia tidak menggubris seruan Arandita dan malah bergerak cepat menuju pagar rumah yang terbuka lebar. "Cegah dia jangan sampai kabur!" perintah Bastian pada beberapa anak buahnya. Tidak menunggu lama pintu pagar sudah ditutup dan Agresia kebingungan untuk keluar dari pekarangan rumah tersebut. "Gres tunggu!" Akhirnya Arandita bisa menangkap tangan Agresia. "Apa kabar kamu?" "Seperti yang kamu lihat Aran, maaf kalau aku ikut numpang makan di tempat ini. Aku tidak tahu kalau ini adalah rumahmu. Aku pikir kamu masih tinggal di rumah papa." Agresia menunduk dan meremas kedua tangannya. "Tidak masalah siapapun bebas makan di tempat ini karena ini adalah acara syukuran anak pertama kami. makanya pintu pagar kami dibiarkan terbuka lebar biar siapa saja boleh masuk." "Oh ya, selamat ya!" "Makasih." "Jangan pergi, bergabunglah dengan kami semua." "Maafkan atas semua kesalahanku di masa lalu Aran, Aku menyesal sekarang." Arandita menatap Agresia dengan pandangan iba kemudia
Last Updated: 2024-06-02
Chapter: Bab 142. Bertemu Kembali
"Bastian!" Leo menatap wajah Bastian dengan tatapan sendu. "Maaf aku baru bisa kemari. Istriku melahirkan dan baru saja sadar dari pingsannya." "Arandita pingsan?" Bastian mengangguk. "Tapi sudah enakan." "Lebih baik kamu nggak usah kemari, jangan tinggalkan Arandita sendirian, nanti kalau ada apa-apa bagaimana?" "Ada Bik Lin dan juga papa." Leo menatap Bastian kemudian pada Bobby yang mengangguk kecil. "Paman Pramoedya ... tolong sampaikan maafku pada beliau atas kesalahan Mommy. Semasa hidup Mommy mengatakan ingin meminta maaf langsung pada Paman Pram, sayangnya beliau tidak mau datang menemui Mommy. Saat kami mencoba menemui, beliau selalu menghindar. Aku mengerti beliau masih marah sama perbuatan mommy. Selama tinggal bersamaku mommy mengatakan menyesal melakukan itu semua. Tolong ya Bas bujuk paman Pram agar mau memaafkan mommy biar jenasahnya bisa tenang." Bastian menepuk bahu Leo. "Nanti aku sampaikan. Kamu tidak perlu memikirkan yang lain urus saja pemakaman mom
Last Updated: 2024-05-31
Chapter: Bab 141. Kita Akan Selalu Bersama
Saat dokter sedang memeriksa Arandita tangis bayinya mereda. Hal itu membuat suster langsung menaruh bayinya ke dalam box bayi. Namun hal itu tidak membuat otot-otot Bastian yang tegang kembali rileks. Dia masih belum bisa bernafas dengan tenang selama kondisi istrinya belum dinyatakan membaik. "Bagaimana Dokter?" tanya Bastian masih dengan wajah pucat karena rasa khawatir yang berlebihan. "Tuan tenang saja sebentar lagi Nyonya Arandita akan sadar." "Saya tidak bisa tenang jika Istri saya belum siuman," ucap Bastian kesal. Bagaimana mungkin dokter menyuruh dirinya tenang sementara Arandita masih belum sadar dari pingsannya. "Sebentar lagi, tidak ada yang serius pada diri pasien mungkin hanya kelelahan saja." Bastian tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Dia hanya menelpon Bik Lin dan memintanya untuk datang ke rumah sakit. Dia perlu teman untuk menunggui Arandita dan bayinya. Saat Bik Lin meminta sopir untuk mengantarkan dirinya ke rumah sakit Pramoedya mendengarnya lalu me
Last Updated: 2024-05-30
Chapter: Bab 140. Hari Kelahiran dan Kematian
"Sudah apanya?" tanya Bastian tidak sadar. "Sudah dijahit," jawab dokter seraya tersenyum ramah. "Oh." Bastian manggut-manggut. "Ini Tuan putranya, silahkan diadzani," ucap suster menyerahkan bayi yang baru lahir itu ke tangan Bastian. Ternyata bayinya sudah selesai dibersihkan. Bastian menerima bayi tersebut dan mengadzaninya. Selama melantunkan kalimat adzan Arandita terdiam menghayati kalimat tersebut. Ia terharu sampai menitikkan air mata karena telah dipercayakan oleh Tuan untuk merawat seorang anak yang lahir dari rahimnya sendiri. Sungguh itu adalah rezeki yang tidak terkira. Ditambah lantunan suara adzan dari bibir Bastian mengalun merdu dan syahdu. Arandita tidak menyangka suara Bastian begitu indah dan lembut menyentuh pendengaran. Suaminya itu seolah muadzin yang kerapkali mengumandangkan adzan di masjid-masjid. Setelah selesai Bastian mengecup kening putranya. "Selama datang jagoan Ayah! Selamat bergabung di keluarga kecil kita." "Sekarang dia harus di IMD Tuan,"
Last Updated: 2024-05-22
Chapter: Bab 139. Melahirkan
"Pasti, kami akan berusaha semaksimal mungkin Tuan. Tuan tenang saja saya lihat keadaan istri Anda tidak ada masalah dengan kesehatan maupun kandungannya. Jadi insyaallah proses persalinannya akan berjalan lancar." "Aaamiin ya Allah. Saya boleh menemani istri saya Dok?" "Oh tentu saja boleh, ini bisa menjadi semangat juga untuk istri Anda." Bastian mengangguk dan dokter mempersilahkan Bastian untuk ikut masuk sebelum akhirnya menutup pintu. Kini Bastian dan Arandita berada dalam ruang persalinan dibantu oleh seorang dokter dan seorang perawat. Arandita meringis kesakitan kala perutnya mengalami kontraksi kembali. "Aduh sakit Mas," rintihnya lalu kembali turun dari tempat tidur dan berjalan ke sana kemari sambil menahan rasa sakit. "Rasanya aku nggak tahan dengan sakitnya," keluh Arandita, bahkan perempuan itu duduk berdiri duduk berdiri untuk meminimalisir rasa sakit. "Kalau sakit itu tandanya normal karena ada pergerakan dari bayinya. Justru kalau tidak sakit itu yang perlu
Last Updated: 2024-05-21
You may also like
After 30
After 30
Romansa · Tamie_chan
13.3K views
Cinta Berawal dari Terpaksa
Cinta Berawal dari Terpaksa
Romansa · _belummandi
13.3K views
Billionaire Jatuh Cinta
Billionaire Jatuh Cinta
Romansa · Lucy Ang
13.3K views
Kusiapkan Perpisahan Terindah
Kusiapkan Perpisahan Terindah
Romansa · RIANNA ZELINE
13.3K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status