เข้าสู่ระบบPark Hyunwoo adalah seorang putra tunggal dari pemilik perusahaan ternama di Korea, meskipun ia anak dari orang kaya, namun kelakuannya lebih seperti preman jalanan. Sedangkan Choi Junghyeon adalah siswi di sekolah swasta yang ceria dan selalu mengkhawatirkan teman-temannya, keluarganya sangat sederhana namun ayahnya tidak memedulikannya sama sekali. Jungyeon yang berniat menyelamatkan temannya Deok Kwon dari penindasan Hyun Woo, malah membuat dirinya menggantikan posisi Deok Kwon dan menjadi budak sex Hyunwoo, hingga Jungyeon merasa frustasi dan ingin bunuh diri. Namun, Hyunwoo yang sudah terbiasa dengan Jungyeon dan mulai memiliki perasaan padanya menghentikan aksi bunuh diri dan berjanji akan berubah menjadi laki-laki yang lebih baik untuk Jungyeon selama gadis itu bersedia menikah dengannya dan selalu berada di sisinya. Apakah Jungyeon akan memberikan kesempatan Hyunwoo untuk berubah ? Dan bagaimana cara Hyunwoo dalam memperbaiki kepribadiannya ?
ดูเพิ่มเติม"Maaf, Saudara Rangga, tapi sistem kami tidak bisa membatalkan apa yang sudah disahkan oleh komputer pusat. Anda resmi menjadi mahasiswa kami," ucap petugas wanita berkacamata bingkai hitam itu tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor di atas meja.
BRAK! Rangga menggebrak meja kayu di depannya hingga beberapa lembar kertas kosong beterbangan. "Tapi ini benar-benar tidak masuk akal! Tolong lihat surat panggilan cetak yang saya bawa ini. Di sini tertulis jelas menggunakan tinta emas Akademi Seni Internasional. Kenapa begitu saya menyerahkan tiket dan sampai di dermaga keberangkatan ini plang besarnya berubah menjadi Akademi Seni Wanita?!" "Sistem kami menggunakan kode enkripsi otomatis untuk publikasi luar, Saudara Rangga. Yang tertulis di lembar Anda mungkin hanya nama samaran resmi untuk menjaga privasi ketat institusi kami," jawab petugas itu dengan nada datar, seolah perdebatan seperti ini adalah rutinitas paginya. "Lalu bagaimana dengan saya? Saya ini pria! Anda punya mata yang sehat, kan? Coba lihat saya baik-baik!" Rangga menepuk dadanya sendiri dengan frustrasi, menarik perhatian beberapa awak kapal wanita yang sedang menaikkan tali jangkar. "Bagaimana mungkin seorang pria bisa berkuliah di akademi yang seluruh pesertanya, dari ujung kaki sampai ujung kepala adalah wanita?" Petugas itu akhirnya mendongak. Ia membetulkan letak kacamatanya, menatap Rangga dari atas ke bawah dengan tatapan dingin yang menyelidik. "Saya tahu Anda pria. Saya tidak buta. Tapi ketahuilah, tempat yang akan Anda tuju, Pulau Sanctuary, adalah wilayah otoritas khusus yang sangat terlarang bagi pria luar. Entah keberuntungan atau kesialan apa yang Anda miliki, yang jelas nama Anda sudah lolos verifikasi tingkat tinggi dari komputer pusat kami." "Kalau begitu batalkan saja secara manual! Coret nama saya sekarang juga dari daftar itu. Saya mau pulang, saya batalkan beasiswanya, saya tidak jadi kuliah tahun ini!" tegas Rangga. Ia langsung berbalik badan, bersiap menyandang kembali ransel gunungnya yang berat. "Silakan saja jika Anda melangkah kaki dari dermaga ini," sahut petugas itu dengan senyuman tipis yang mendadak terasa begitu dingin. "Namun, sebelum Anda melangkah lebih jauh hingga ke area parkir luar, harap buka dan baca kembali klausul lembar belakang pada kontrak beasiswa yang sudah Anda tanda tangani secara digital lewat ponsel Anda kemarin malam." Langkah Rangga terhenti seketika. Ia segera merogoh kantong jaket jeans miliknya, mengambil selembar kertas bermeterai yang sempat ia cetak secara mandiri. "Klausul... pembatalan sepihak?" "Ya, tepat sekali. Lembar ketiga paragraf keempat," ucap petugas itu. "Di sana tertulis dengan sangat jelas menggunakan hukum internasional, bahwa pembatalan sepihak setelah nomor induk mahasiswa diterbitkan secara sah oleh komputer pusat, akan dikenakan denda penalti finansial." Rangga membalik kertas tersebut dengan panik, matanya menyusuri baris demi baris kalimat hukum yang rumit, hingga pandangannya terpaku pada sebuah nominal. "Lima... lima miliar rupiah?!" Suara Rangga mendadak melengking, wajahnya berubah pucat seketika. "Ini pemerasan namanya! Dari mana mahasiswa miskin seperti saya punya uang sebanyak itu?!" "Itu sama sekali bukan urusan internal kami, Saudara Rangga," jawab petugas itu, kembali mengetik di komputernya dengan santai. "Jadi, pilihan Anda saat ini hanya ada dua yang tersedia di sistem. Anda naik ke kapal feri yang sudah bersandar di ujung jembatan itu, atau Anda pulang dan tim pengacara hukum kekaisaran kami akan mengirimkan surat sita seluruh aset rumah keluarga Anda besok pagi sebelum jam delapan." Rangga mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia menatap kapal feri megah bernuansa hitam emas yang mesinnya mulai menderu keras, mengeluarkan asap tipis ke langit sore. "Kalian sengaja menjebak saya sejak awal, kan? Ini konspirasi apa?" "Ini bukan jebakan, Saudara Rangga. Di dunia kami, ini disebut sebagai takdir administrasi," potong petugas itu sambil menyodorkan sebuah gelang akses elektronik tebal berwarna perak murni. "Sekarang, pakai gelang pengenal biologis ini di pergelangan tangan kiri Anda, dan segera naik ke kapal sebelum jembatan penyeberangan diangkat. Waktu Anda sudah habis." Rangga menyambar gelang tersebut dengan perasaan dongkol, ia memakainya dengan kasar hingga terdengar bunyi klik mengunci. "Jika terjadi sesuatu yang buruk pada keselamatan saya di pulau terpencil itu, Anda adalah orang pertama yang akan saya tuntut secara hukum!" "Semoga beruntung dan selamat menikmati perjalanan Anda, Mahasiswa Baru," ujar petugas itu dengan tatapan mata yang mendadak berubah penuh arti, sebuah senyuman misterius mengembang di bibirnya. "Hanya sebuah saran gratis dari saya, di pulau itu nanti, Anda tidak akan memiliki waktu luang lagi walau hanya untuk sekadar memikirkan tuntutan hukum lama seperti itu." "Apa maksud Anda?!" tuntut Rangga, namun petugas itu sudah mengabaikannya dan menutup layar komputer portabelnya. "Kapal akan segera berangkat! Penumpang terakhir segera naik!" teriak seorang wanita kekar berseragam dari atas geladak kapal feri. Rangga tidak memiliki pilihan lain. Dengan langkah kaki yang terasa berat dan hati yang penuh amarah yang tertahan, ia melangkah cepat menyusuri jembatan kayu dermaga. Ia terpaksa melangkah meniti jalan menuju kapal feri hitam emas itu, membiarkan dirinya dibawa pergi membelah samudra luas yang asing, meninggalkan daratan utama yang semakin mengecil di belakangnya. "Hei, kau yang di sana. Jangan melamun di dekat pagar pembatas jika tidak ingin terlempar ke laut," tegur sebuah suara dingin dari arah belakang. Rangga menoleh, mendapati seorang wanita dengan seragam kapten kapal sedang memperhatikannya. Setelah beberapa jam perjalanan yang sunyi di bawah langit yang mulai menggelap, deru mesin diesel kapal raksasa itu perlahan-lahan mulai melambat secara drastis. Rangga sengaja melangkah ke dek paling depan sejak tadi, mencoba menembus pandangan untuk melihat pulau seperti apa yang akan menjadi tempat tinggal barunya. "Kita sudah hampir sampai, Kapten?" tanya Rangga, mencoba mencairkan kecanggungan di sepanjang jalan. "Ya. Bersiaplah memegang barang bawaanmu dengan erat, Mahasiswa Baru," jawab kapten wanita itu pendek. Ia tidak menoleh lagi, langsung berjalan kembali menuju ruang kemudi utama dengan langkah tegap. Kapal feri itu perlahan mulai merapat di tengah-tengah kabut putih tebal yang bergulung-gulung, menyelimuti seluruh bibir pantai dan dermaga pelabuhan pulau misterius tersebut. "Pintu gerbang pelabuhan dibuka! Turunkan jembatan darurat!" seru komando dari pengeras suara kapal. Perlahan-lahan, embusan angin laut mulai meniup dan tersibaklah kabut putih pekat yang ada di hadapan mereka, menampakkan sebuah pemandangan yang membuat jantung Rangga berdetak dua kali lebih cepat. Di depan sana, sebuah gerbang besi raksasa menjulang tinggi, membatasi area steril pelabuhan dengan kompleks bagian dalam pulau. Rangga menahan napasnya seketika, matanya membelalak tak percaya memandangi daratan di balik pagar tersebut. Di balik jeruji gerbang besi raksasa yang membatasi pandangan itu, ternyata sudah ada ratusan, bahkan mungkin ribuan wanita muda berpakaian seragam rok pendek hitam putih ketat yang berdiri berdesakan. Mereka semua langsung terdiam, tidak ada suara obrolan sedikit pun. Ribuan pasang mata wanita itu kini menatap lurus, mengunci pandangan mereka tepat ke arah dek depan kapal tempat Rangga berdiri sendirian. Tatapan yang mereka berikan bukan sekadar tatapan menyambut biasa, melainkan sebuah pandangan yang luar biasa lapar, intens, penuh selidik, dan dilingkupi rasa penasaran yang sangat mendalam terhadap satu-satunya pria yang baru saja menginjakkan kaki di dunia mereka.Jungyeon keluar dari kamarnya dalam keadaan yang berantakan, ia sama sekali tak menuruti perkataan ayahnya, ia sama sekali tidak takut dengan ancaman yang keluar dari mulut lelaki itu. Pakaian kumal yang ia kenakan, rambutnya yang belum juga kering, dan lebam merah di pipi kanannya membuat wanita berbaju ungu tua itu merasa iba. Ia mendekati Jungyeon dan meraba wajahnya dengan lembut "Kau tidak apa-apa Nak? Kenapa kondisimu sampai seperti ini?" tanya wnaita itu dengan khawatir. Tak lama kemudian wanita itu langsung mengedarkan pandangannya ke arah Choi Suguk yang tengah ketakutan dan merasa malu, wanita itu menatap tajam Choi Suguk seakan siap untuk menembakan anak panah ke jantung lelaki itu.Berbeda dengan tatapannya pada Jungyeon yang penuh cinta, wanita itu memeluk Jungyeon dan mengusap punggungnya dengan lembut "Kau akan baik-baik saja selepas keluar dari rumah ini." Ujar wanita itu yang masih belum diketahui identitasnya.Di tempatnya berada Hyunwoo duduk dengan
Puluhan tetes air berjatuhan dari pakaian yang dikenakan oleh Jungyeon, rambutnya masih belum kering sama sekali, dan tekanan air yang ia rasakan saat berada di dalam sungai masih bisa ia rasakan pula hingga saat ini. Jungyeon membuka pintu rumahnya dan mndapati ayahnya yang sedang duduk di tengah ruangan sambil menonton televisi, tidak biasanya orang itu sudah berada di rumah padahal matahari masih belum terbenam.Choi Suguk tertawa terbahak-bahak sambil mengipas dirinya dengan koran bekas dan memakan cemilan yang entah ia dapatkan dari mana, ia hanya menatap sekilas ke arah Jungyeon yang baru saja tiba di rumahnya "Kau sudah pulng?" tanya Choi Suguk berbasa basi, sebenarnya ia sama sekali tidak peduli anak perempuannya itu pulang atau tidak, dan entah pula yang merasuki diirnya hingga berbicara seperti itu pada Jungyeon.Jungyeon sama sekali tidak menanggapi ucapan ayahnya, ia segera berjalan tertatih menuju kamarnya, mencari baju ganti, setelah itu baru berjalan ke
Jungyeon berjalan dengan linglung di sisi jalan, di sampingnya terdapat sungai Han yang mengalir dengan tenang, ia memandangi sungai tersebut dengan tatapan yang nanar, memikirkan seberapa dalamnya sungai tersebut, dan berapa waktu yang dibutuhkan seseorang untuk kehabisan nafasnya jika tenggelam di sungai itu, pemikiran-pemikiran yang sebenarnya sama sekali tidak perlu dipikirkan oleh orang normal yang hidup dengan baik. Sayangnya Jungyeon bukanlah salah satu dari orang normal tersebut, kehidupannya kan sudah benar-benar hancur sekarang. Angin yang berhembus terasa kencang dan menikam kulitnya. Ada sedikit keraguan dalam dirinya, juga ketakutan, namun pada akhirnya tangan dan kakinya yang bergetar berhasil membuat dirinya berdiri di atas pembatas jembatan, tinggal selangkah lagi untuk melakukan aksi bunuh diri yang selalu ia rencanakan, ia memajamkan mata dan merentangkan tangannya, merapalkan do'a agar dosa-dosanya akan diampuni oleh yang Maha Kuasa."KAU GILA YA?!" b
“Buka bajumu !” perintah Hyunwoo saat kami sedang berada di kamarnya. Itu adalah pertama kalinya aku mendatangi kediaman Hyunwoo. Melihat kemegahan rumah dan ruang kamar tidurnya saja sudah berhasil membuatku terkejut, namun perintah Hyunwoo barusan lebih mengejutkan lagi ternyata.“Apa maksudmu ?” tanyaku dengan was-was. Kedua tanganku disilangkan di dada, menutupi bagian terpenting diriku dari pandangannya.“Bukankah sudah jelas apa maksudku itu” jawab Hyunwoo dengan santai. Ia menepuk-nepuk bantalan sofa empuk di pinggirnya “Buka bajumu dan duduklah kemari” lanjut Hyunwoo dengan senyum usil terukir di wajahnya.“Dasar gila !” celetukku.“HAHAHAHA” Hyunwoo tertawa dengan keras. Ia selalu puas tiap kali melihat raut kesal terpampang jelas di wajahku. Bahkan caci makiku selalu terdengar seperti puisi cinta di telinganya. Ya, puisi cinta yang selalu membuatnya gembira dan t
“Jungyeon… !!! Heiiiii!” Seol Mi berteriak memanggil namaku, ia berlarian menghampiri diriku yang masih berjalan dengan santai dan baru akan memasuki gerbang sekolah. Mataku membulat melihat tingkahnya yang terkesan aneh. Apakah sesuatu sedang terjadi tanpa sepengetahuanku ? me
Malam harinya, di saat aku sendirian di rumah, aku membaringkan diri di tempat tidur, mencoba untuk terlelap dan melupakan semua kejadian yang ku alami tadi. Namun, sayangnya melupakan suatu kejadian memang tidak semudah membalikan telapak tangan, apalagi jika kejadian itu adalah kejadian yang me
Kehidupanku terasa baik-baik saja sebelum aku mengenal Hyunwoo. Meskipun aku berasal dari keluarga yang sangat sederhana dan terkadang mendapat perlakuan yang tidak adil dari ayahku, namun aku masih bisa menikmati hidup karena keberadaan teman-temanku di sekolah. Aku bukanlah gadis yang penyindir
Pernahkah kamu merasa sangat ingin mati ? kalau aku…ya. Bahkan saat ini, meskipun aku sedang terduduk di bangku taman yang berada di keramaian tengah kota sekalipun, keinginan untuk mati itu selalu menghantui. Aku bahkan memikirkan cara-cara untuk mengakhiri hidup paling cepat. Meminum rac












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.