ログインDiperalat dan dianggap remeh oleh Eric Wijaya—tunangannya, Cora Aleyna sangat kecewa dan sakit hati. Dia berniat menghalangi rencana Eric kemenangkan kompetisi dan mendapatkan keuntungan dari desain satu set perhiasan yang dicuri darinya. Namun siapa sangka dalam usahanya mencari seorang sponsor, Reno—CEO misterius yang mensponsorinya adalah orang yang memiliki masa lalu yang rumit dengannya! Dapatkah Cora mengambil kembali haknya yang telah diambil darinya? Lalu bagaimana dengan Reno—sang mantan, yang kembali dalam hidupnya? Dapatkah ia menjalaninya tanpa terjebak pesona pria itu?
もっと見るLuca peered through the scope, observing the bustling plaza filled with people oblivious to the lurking danger, engrossed in their phones as life slipped past them. Then he spotted her; she bought a bouquet from the elderly woman with the bucket. A gust of wind blew her hair across her face. She adjusted it just as the target appeared behind her. Luca aimed carefully. With a single pull of the trigger, the man collapsed to the ground. Sirens approached as he departed. Their eyes met briefly before she turned back to the commotion. Luca retrieved his burner phone and quickly sent a text: Done. Bella remained frozen in place until the ambulance eventually drove off with the man. Her phone vibrated in her pocket.
"Hello, Dad?"
"Come home immediately. We need to discuss something."
Bella pushed open the heavy oak doors of the family estate, greeted by the familiar chill that lingered in the marble foyer regardless of season. Sunlight struggled through the heavy drapes, barely illuminating the space her mother once filled with laughter. These days, Bella preferred the fluorescent lights of the hospital, the constant motion, the twenty-hour shifts that left no time for thinking. Her white coat was armor against this place, against questions about the family business, the legitimate front her father maintained while collecting debts and breaking kneecaps. Even Greg had disappeared into the shadows of their father's empire, making an appearance only for tense family dinners where no one mentioned the blood money that paid for the wine.
Her father was standing by the window when she entered, his back towards her. "Bella, you're quitting your job. Today."
She responded with a sharp, incredulous laugh. "What? Why?"
"Because I said so," he snapped, turning to face her, his voice rising in intensity. "That's why."
Greg, her brother, entered the room, his eyes fixed on their father. "They’re here."
The maid ushered in three men clad in dark suits. Benjamin, her father, moved forward, shaking hands with practiced ease. They sat down, and two more men came in, armed.
"Is this really necessary?" Benjamin inquired, his tone clipped.
The lead man gave him a cold stare. "Your choice. You owe me. A lot. What did you do with the money?"
Benjamin remained silent. "What do you want?"
"Blood," the man told him, handing a photo to the man behind him. He glanced at it, then locked eyes with Bella. Leaning in, he whispered something to the leader.
Benjamin stood abruptly. "Please. Not my son."
Bella froze. "His son? What about me?" she thought.
The man smiled. "The man behind me handles our business if you get my drift. He’s my brother, Lucas. He looked at Bella. But my brother’s feeling generous, he wants to marry her."
"Done," Benjamin replied quickly, relief flashing across his face. "Glad we settled this."
A gunshot rang out. Benjamin fell. The man in the suit had shot him, his gaze cold.
"Now we’re done," walking over to Bella. "The wedding's in a week. And this," he gestured around, "is my brother’s place."
Bella’s chest tightened, her vision blurring as tears streamed down her face. She collapsed to the floor.
She blinked awake, glancing around. Her room. Taking a deep breath, she got up and headed to the bathroom, splashing cold water on her face. Maybe it was just a nightmare. She walked downstairs, everything eerily normal, no body, no blood, like nothing had happened. Then she turned and nearly collided with him.
"Feeling better?" looked at her like he was studying her. I’m Lucas…
"Better? You killed my dad!" she spat, her voice trembling.
"Technically, it wasn’t me," "But yeah, my brother handled it."
She glared at him. "Even if I have to marry you, I…"
"Relax! I saved your life. He reached out, brushing her cheek gently. She slapped him hard.
"Damn, for someone so small, you pack a punch," grinning as he rubbed his jaw.
"Stay away from me," she hissed. "Where’s my brother?"
"Oh, Greg? He’s one of us now," "Works with my brother. Part of the family."
Bella shot him a look, taking in the stubble on his jaw, his black hair tied back, and the glimpse of a tattoo peeking from his half-buttoned shirt.
Lucas grabbed his jacket. “Gotta run. He’ll stay, jerking his thumb toward a hulking man in the corner. “Keeps an eye on you.”
“Where’s my dad?” Bella demanded.
“On ice till the wedding. Which is in two days, not a week,” walking away.
Bella sank into the chair where her dad had sat just hours ago. Grief? No. Anger? Hell yes. He’d sold her off like some bargaining chip to settle his debts. She grabbed her purse and jacket, heading for the door, only to be blocked by a wall of muscle.
“Where you are going?” the bodyguard asked, arms crossed.
“Work. I’ve got a shift. Move,” glaring up at him.
He pulled out a phone, muttered something into it, then hung up. “Not today. Call in sick. Boss’s orders.”
Bella let out a frustrating scream, stormed into the kitchen, and put the kettle on. As soon as it boiled, she slipped out the back entrance, smirking as she peeled out in her car, watching the guard scramble after her in the rearview. She parked in the hospital garage, clocked in, and lost herself in the chaos of her shift.
Around 2 a.m., things finally slowed down. “One more patient,” the nurse said, nodding toward a room.
Bella walked in and froze. Lucas was sitting there, calm as ever.
“How am I supposed to protect you if you keep running?”
He grabbed her arm, but she fought back, twisting in his grip. He spun her around, his arms locking her in place. “You can’t outrun me, his breath sending a chill down her spine.
"Get your hands off me, or I’ll scream loud enough to bring the whole hospital running,"
"What are you going to say? That my husband decided to drop by for a visit?
Newsflash, you’re not my husband yet."
He laughed nervously, "Look, just go home, alright? You don’t need to be here."
"This is my home," "There’s nothing in that godforsaken mansion for me anymore."
Melihat wajah-wajah tegang mereka, Indra sebenarnya ingin tertawa dan memberitahu mereka bahwa sebenarnya ia hanya menjalankannya tes kehamilan. Namun setelah berpikur kembali, ia tidak melakukannya.Alih-alih, ia melirik Cora dan mengulum senyum menyadari Cora pun tidak memberitau mereka perihal tujuan tes lab itu.Indra menghela nafas dengan sedikit mendramatisir. "Baiklah, kalau kalian ingin mengetahuinya... aku akan membukanya sekarang."Indra lalu mengangkat amplop di tangannya lebih tinggi sambil melirik semua yang ada di sana."Ndra, buka saja!" Bahkan Bastian tidak sabar menunggunya."Oke... Oke..." Indra membuka amplop dan membaca kertas yang ada di dalamnya.Tiba-tiba saja wajah Indra berubah muram, dan dia berdiam cukup lama menatap kedua kertas hasil tes di tangannya."Indra, apa hasilnya?! Kenapa diam saja?!" Reno cemas dan tidak sabar.Kenapa wajah Indra seperti itu? Apakah istrinya baik-baik saja?Apa hasil tesnya? Indra masih tidak bersuara. Wajahnya murung saat
Bastian dan Reno saling bertukar pandang. Pada akhirnya Bastian yang angkat bicara. Mengenai siapa saja yang terlibat dalam penyelidikan yang ia lakukan di Emerald City adalah sepenuhnya tanggung jawabnya."Ini mungkin kesalahan tidak sengaja yang kubuat..." ujar Bastian setelah menghela nafas.Namun Reno segera menimpali. "Bas, ini bukan kesalahan. Tidak ada yang mengetahui jika Ezra adalah Darrel.""Apa maksudmu ini kesalahanmu?" tanya Indra semakin penasaran. Kenapa Bastian justru menyalahkan dirinya?"Saat Reno meminta bantuanku untuk menyelidiki tabrakan kapal Aphrodite, aku memang tidak melibatkan Ezra," ucap Bastian menerangkan."Kami sibuk dengan pekerjaan, jadi aku mendelegasikan penyelidikan itu langsung kepada Jay.”“Jay yang menghandle semuanya, dan Informasi langsung ditujukan padaku. Sementara Ezra, dia hanya mengetahui secara garis besar bahwa aku dan Reno sedang menyelidiki silsilah keluarga Cora--istri Reno," tambah Bastian memperjelas pemaparannya."Ini masuk a
"Ardy, Bas, Naya, apa yang kalian lakukan di sini?" Indra terkejut melihat Bastian, Kanaya dan Ardyan--salah satu sahabat Bastian juga, datang ke kantor itu.Bastian berjalan sambil menggandeng tangan Kanaya. "Reno yang memberitahukanku apa yang terjadi," jawab Bastian, lalu pandangan matanya bergulir kepada asisten pribadinya.Merasakan tatapan mata Bastian tertuju padanya, Ezra sontak berdiri. Bagaimanapun ia adalah asisten pribadi Bastian. Sudah kebiasaannya jika Bastian datang ia akan berdiri menyambutnya. "Boss, saya..."Bastian menghampiri asistennya itu. Ia memegang pudak Ezra dengan peuh perhatian. "Jadi benar yang dikatakan Reno? Bahwa kamu adalah Darrel--kakak Cora yang selama ini mereka cari?" Bastian memastikan berita yang didengarnya kepada yang bersangkutan secara langsung.Ezra telah bekerja pada Bastian lebih dari 5 tahun lamanya. Ezra adalah orang yang penting baginya. Selain sebagai asisten pribadi, Ezra adalah juga tangan kanan dan orang kepercayaan Bastian nom
"Bisakah kalian menceritakan padaku apa yang terjadi?" Cora menatap Reno dan Ezra bergantian.Reno menatap Ezra, seperti tengah meminta ijin. Dan setelah Ezra memberinya anggukan, barulah Reno merangkul istrinya dan duduk bersamanya."Jadi begini ceritanya..." Reno mulai bercerita."Aku dan Rendy pergi menemui Ibu Amelia--istri dari almarhum Pak Tama dikediamannya. Dan beliau menerima kami dengan sangat hangat.""Setelah berbicara panjang lebar mengenai tujuan kami datang ke sana, Ibu Amelia akhirnya menunjukkan kami foto Darrel." Reno menatap Ezra yang juga tengah mendengarkan ceritanya dengan seksama."Aku dan Rendy terkejut karena ternyata Darrel yang kita cari ternyata adalah Fahreza Pratama.”“Sayang, selama ini kita tidak mendeteksi identitas Ezra sebagai Darrel karena..." Reno menjeda ucapannya.Namun sebelum Reno sempat meneruskannya, Ezra mendahului."...karena aku tidak secara resmi diadopsi oleh mereka."Semua yang ada di sana sontak menatap Ezra, merasakan celekit di
Mobil yang ditumpangi Reno berhenti di depan sebuah rumah bertingkat di lingkungan yang asri, sebuah kawasan estate yang terjaga dengan baik.Melihat dari rumah dan kawasan tempat itu, Reno menduga jika keluarga yang tinggal di sana berada dalam taraf hidup yang baik. Reno merasa sedikit lega. Jik
Mobil yang membawa Cora dan Reno sampai di halaman gedung DPG Corp. Dan Gio langsung menyambut mereka dengan ramah di depan gedung kantor keluarga Dwipangga itu.Dengan cekatan dan perhatian, Gio serta seorang staf wanita memandu Reno dan Cora menuju ruangan istirahat milik Bastian yang terletak d
"Sayang, wajahmu pucat..." Reno menangkup tangannya di wajah Cora. "Kita pergi ke rumah sakit sekarang."Suaranya terdengar sangat khawatir.Cora langsung menggeleng. "Nanti saja setelah dari sana. Kalau ke rumah sakit sekarang, waktu kita akan banyak terbuang. Lagipula, aku masih… bisa. Hanya sedi
Cora memegangi perutnya. Wajahnya yang sedikit pucat kali ini tersenyum kecil. Ia mengangguk lemah. "Sedikit lebih baik," jawabnya."Kami punya pastry soup. Teksturnya lembut dan ringan. Kalau ibu mau saya akan menyiapkannya." Pramugari itu kembali menawarkan.Cora tidak yakin jika ia sanggup mem
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
評価
レビューもっと