LOGINRuang kontrol keamanan berada di sudut lantai dasar. Itu tertutup, hening, serta terpisah dari hiruk-pikuk pengunjung. Deretan monitor menyala, berjejer rapi. Setiap layar menampilkan sudut berbeda dari gedung: koridor, pintu masuk, area parkir, hingga ke lift.Seorang petugas memutar ulang rekaman pada salah satu layar. "Ini yang tadi dilaporkan, Pak," ujarnya singkat.Abimana berdiri di belakang. Posisi tubuhnya tegak, kedua tangannya masuk ke saku celana. Tidak ada ekspresi mencolok di wajahnya—selain fokus yang tertuju penuh pada layar.Begitu video dimulai, mereka menyaksikan di mana Ajeng memasuki lift lebih dahulu. Gerakannya lamban, namun langkahnya jelas terukur. Tidak ada yang aneh pada awalnya. Beberapa detik kemudian, pintu hampir menutup—bertepatan Diana masuk. Gerakannya cepat sekali, tepat ketika celah itu terbuka.Si petugas menghentikan sebentar. Tetapi, Abimana memintanya tetap meneruskan. Rekaman kembali berjalan. Mereka menyaksikan di dalam ruang sempit itu, Ajeng
Koridor rumah sakit diisi langkah buru-buru serempak bunyi roda brankar yang berderit halus.Ajeng terbaring dengan napas putus-putus. Jemarinya mencengkeram seprai tipis yang menutup tubuhnya. Wajahnya pucat, keringat membasahi pelipis seiring rasa nyeri datang silih berganti secara beruntun."Dokter, pasien dengan pendarahan!" seru salah seorang perawat, sengaja berteriak guna membuka jalan menuju ruang bersalin.Abimana berjalan di sisi brankar. Tungkainya mengikuti dengan presisi. Tangannya tidak lepas dari genggaman Ajeng. Nihil kata-kata dapat dia ucapkan—selain kehadiran utuh yang bisa Ajeng rasakan di tengah kondisi sulit demikian."Dek, Mas di sini. Kamu kuat ya, sayang." Bujukannya terucap rendah, serta stabil. Ajeng mengangguk lemah, lengkap dengan matanya yang memberat. Nyeri membuat badannya menegang, punggungnya sedikit terangkat sebelum kembali jatuh ke permukaan kasur tipis."Mas, sakit--" suaranya pun hampir hilang.
Ajeng mematung di sana, seorang diri di dalam kotak lift itu. Tubuhnya seperti dipaksakan untuk berdiri tegak, dengan pikiran buruk yang kini merajalela menghantui benaknya. Suara Diana masih terngiang—rendah, dingin, dan menekan.Napasnya mulai tidak teratur. Dia upayakan mengaturnya perlahan-lahan, cukup panjang sebanyak dua kali sembari berharap dadanya yang penuh sesak kembali ringan.Tungkai-tungkainya diangkat juga, lamban serta berhati-hati. Pada akhirnya Ajeng sampai di depan pintu lift, mendapati koridor di hadapannya terlihat lengang. Suara percakapan orang-orang samar terdengar dari ujung lorong, tidak begitu jelas. Ajeng berjalan tanpa arah yang seharusnya dia sadari. Telapak kakinya memijak lantai dengan ketukan kini berantakan. Tangannya ditaruh ke atas perut usai dia merasakan ada yang mengencang.Halus di awal—seperti tarikan dari dengan efek sakit yang tipis. Ajeng berhenti sejenak, mengerjap-ngerjap guna memahami apa yang tubuhnya rasakan."Nggak apa-apa, Nak. Kita b
Di hari ini, lobi tidak segitu ramai biasanya. Sebagian orang lalu-lalang, sisanya fokus ke pekerjaan masing-masing, termasuk resepsionis. Bunyi langkah-langkah kaki, dan denting halus dari pintu kaca hanya menjadi semarak ringan. Tidak ada yang aneh, tetapi Ajeng merasakan keganjalan di batinnya.Dia melangkah pelan, satu tangan bertumpu di perutnya. Pikiran masih tertinggal di kamar—mengenai percakapan kemarin bersama Abimana. Ada banyak hal yang belum benar-benar selesai, tapi setidaknya dia memiliki pelindung. Itu lebih dari cukup saat ini. Ajeng melewati deretan kursi tunggu. Tumit sepatunya mengetuk-ngetuk lantai marmer dengan intonasi teratur. Satu ... dua ... tiga ... lalu samar-samar ada suara lain. Pendengarannya peka di sini, menangkap sesuatu nan asing sekaligus tidak dapat dibuktikan. Sejenak dia mematung. Keningnya berkerut, memperkirakan perasaan apa barusan tadi. Dia pura-pura menarik tas di bahunya. Napasnya berembus rendah. Pandangnya menyapu sekitar, sekilas saja
Entah karena suasana hati atau memang situasi yang mendukung, ketenangan di kamar Ajeng begitu pekat menguar. Tirainya sudah menutupi hampir seluruh jendela, padahal di luar masih kelihatan terang oleh cahaya sore. Biasnya masuk ke celah-celah, merambat ke sudut ranjang mengenai puluh sebagian tubuh Ajeng. Ajeng duduk bersandar pada tumpukan bantal. Satu tangan bertumpu di perutnya yang makin berat, tangan lainnya memegang ponsel setengah ingin. Pikirannya tidak di situ, melayang ke masalah yang bersarang di benaknya. Sejemang, langkah kaki nan akrab menyebabkan dia mendongak. Pintu kamar terbuka, serentak Abimana masuk hanya dengan seulas senyum tipis. Jasnya langsung dilepas, menyisakan kemeja sedikit kusut di lengannya. "Mas ..." panggil Ajeng, meski dia sendiri bimbang harus berkata apa. Abimana menutup pintu sebelum merajut langkah ke ranjang. Dia berdiri sejenak di samping seraya menatap istrinya, memastikan sesuatu dari sorot mata yang tampak. "Adek cape?" tanyanya akhirn
Keheningan yang kelewat fokus menguasai ruang kerja, dengan pencahayaan siang dari setengah tirai terbuka. Di atas meja, berkas-berkas tersusun rapi, mencerminkan bagaimana cara si pemilik menata kehidupan—terukur tanpa menyisakan celah. Di tengah keseriusan yang menggantung, ketukan ringan terdengar dari balik pintu. "Masuk!" Seru Abimana, tidak pula menjauhkan pandangnya dari tumpukan pekerjaan. Di sana, Arjuna berdiri di ambang. Tubuhnya tegak, kendati di matanya terbaca setitik bimbang. Sebagian kecil di hatinya hendak menahan, namun kini dia enggan membiarkan egonya menang. Sekali hembusan napasnya mengudara panjang. Dia sama sekali tak keberatan dengan sikap Abimana, terlebih iparnya itu tidak mengetahui rencana kedatangannya. "Maaf, sepertinya aku datang di waktu yang salah." Arjuna masih bisa mengendalikan ucapannya, berbanding terbalik dengan kegelisahan di sorot matanya. Warna suara tersebut menyinggung atensi Abimana. Spontan pandangnya terangkat, menampakkan wajah d
Antara sengaja dan tidak, Ajeng tiba di rumah setelah lewat jam makan siang. Mumu menyambutnya dengan senyum tipis, tanpa merasa terganggu oleh keranjang pakaian kotor yang dia bawa. "Ibu di mana, Mu?" "Ada di belakang. Katanya mau memangkas tanaman, supaya selesai
Niatnya sebatas berbincang soal apa yang dia mau. Namun, begitu mereka menghabiskan minuman masing-masing, Ajeng justru mengajak Olivia untuk pergi ke toko perlengkapan bayi. Dia hendak memilih sedikit pakaian dan benda-benda yang dipergunakan bayi untuk Alyssa, mungkin beberapa potong untuk dia
Kafe itu tidak terlalu ramai ketika Ajeng tiba. Dia memilih meja di sudut, yang sedikit terpisah dari lalu-lalang pengunjung. Tempat itu cukup tenang untuk percakapan yang membutuhkan keberanian kecil dan pemahaman dari seseorang yang dia percayai. Seorang pemuda berseragam kaus khusus menghampir
Menjelang siang, tepatnya di pukul sepuluh, Abimana akhirnya siap berangkat ke kantor. Setelah mengganti pakaian, dan memastikan semua berkas penting sudah masuk ke dalam tas, dia mendapati Ajeng sudah berdiri di depan pintu—menunggunya seperti biasa.Perutnya yang membesar tampak menonj







