LOGINFitri seorang istri yang sabar dan mau bekerja keras demi membatu perekonomian keluarga kecilnya. Namun siapa yang menyangka jika hasil jari jerih payahnya justru diam-diam dimanipulasi oleh suaminya sendiri demi kesenangan dari keluarga suaminya. Mampukah Fitri terus bersabar dalam menghadapi suami dan juga keluarganya? Akankah ia bertahan atau justru memilih melepaskan kendati suami yang ia harapkan untuk berubah justru kekakuannya semakin menjadi akibat hasutan dari keluarganya?
View More"Can you please tell me why your master wants to marry me? I don't even know him?" Kate looked at him with her fearful and confused gaze.
She was feeling very nervous.
"Miss, if you want to save Mr. Waston's company, marry our master. This is the only condition our master has for you," he told her.
Kate thought, "How could I marry a man whom I have never met in my life, but he knew she didn't have any other options to save her adopted father's company?"
"I need some time to think about it," Kate felt confused. She was just a college student. Alex stood from the chair and looked at her.
"Miss, you only have one day to think about this deal," Alex handed a card to Kate. "If you change your mind and agree to marry our master, then please call this number." Kate took that card from Alex:
"Thank you."
Alex turned around and left that coffee shop; Kate sat there in a daze; she felt like the entire world was crushing her hard.
Alex came out of the coffee shop and quickly went inside a car. After closing the car door, he turned to the car's backseat.
A handsome man was sitting there. That man lifted his black eyes from his laptop and looked at Alex. His eyes were icy cold; his one look was enough to give someone a severe heart attack.
Alex felt his sharp gaze; he felt very nervous. "Master, Miss said she needs some time to think about it."
The handsome man gave him a wintry smile. "Make all the preparations for tomorrow. She will say yes." he looked at the girl who was standing in front of the coffee shop.
Even if she wanted to refuse, she could not.
He was a legendary man of the S country. Everyone had always regarded him as a male god in this city, In S country. Everyone knows how heartless he could be if anyone dared to challenge him.
If he wanted to own something, nothing could stop him. So now he wants to marry her. How could she escape from him? He was the master who could make anyone fall into his trap, and she was just a little girl who had no idea what he desired from her.
"Okay, master" Alex understood his master's order.
"Go," he said to Alex. So Alex started the car and drove off on the road.
He looked at his master from the front mirror; he knew what his master was thinking. He has been following his master for nearly ten years now. He sighed softly; he knew his master's life would take a new turn from tomorrow.
Kate returned to her hostel room at noon, her thoughts running into the conversation in the coffee shop. When her phone rang, she looked at her phone and noticed a call from her mother, Rachel Weston. She answered it.
"mom"
"Kate, did you meet Mr. Wood?"
"Yeah, Mom, I already met him."
"Kate, what did he say to you?" Is he going to help us?"
"Mom, I'm not sure about it yet, but…."
Rachel Waston cut off her words before she could finish her words.
"Kate, although you're our adopted daughter, we gave you everything that we gave our daughter Sherry all those years. Now we're in deep trouble. Can you please help us?"
These words hurt Kate's heart; even though she knew they never truly cared about her, they owned her life.
Rachel Weston would sell her biological daughter for the money, so why would she be kind enough to spare Kate?
She was a greedy woman. For her, money was everything in her world.
Now their company is in a deep crisis. How could Rachel do nothing to save herself and her so-called image?
"I don't know what you will do, but you have to persuade Mr. Wood to tell his master to help our company, do you understand?
"Okay, Mom, I understand; I will do as you say. Rachel Waston hung up the phone call.
Kate was going to have lunch, but now she has lost her appetite. She lowered her head and got lost in her thoughts; Kate did not realize even when someone opened the door,
"Where were you all morning? Amy inquired Kate. Kate came back to her senses and crooked around,
"Oh, Amy, when did you come back?" Kate asked with a smile.
Kate and Amy became friends when they entered college, but they became best friends with time.
"What happened? You looked pale," Amy worriedly asked.
"Nothing, I’m just tired. Kate couldn't tell her the truth.
"Tell me truthfully, did that Walton family say anything to you?" Amy looked at her suspiciously.
Amy knows how that bitchy Waston family has treated Kate over the past few years.
"Amy, don't overthink; they didn't tell me anything. I have a headache; that’s nothing to worry about."
"If you say so, okay, have some rest now; I have classes after lunch." Amy took her bag and left the room.
Kate felt relief that Amy didn't force her to say anything else.
She lay down on her bed and thought about her life.
She could marry a man she never met, but it's not like she has any other options. Kate knew she had to return the debt she owed them.
Kate sighed; she had to sacrifice her freedom and future for her debts.
In a luxurious VIP private room, there were three people inside the room.
These three men looked super handsome. However, these three men have different characteristics.
A man looked playful and easy-going on the right side of the sofa. His name is Adam Richard. S country playboy, even though he never played with women, he was a little flirty.
On the opposite side, a man looked calm, severe, and courteous. His name is Liam Jones.
In the middle, there was the most handsome man. In a black suit, he was the king of the S country's business world, David Xiver.
One look from him was enough to make any woman crazy for him. S Country's people know he is a heartless psycho if anyone tries to challenge him.
He taught them harsh lessons that they wished they were never born. He never cared for anyone other than his friends and hers.
Dua bulan sudah Bu Marni beserta kedua cucunya tinggal bersama di kediaman milik Ana. Mereka juga telah mengembalikan lagi rumah yang beberapa tahun pernah mereka singgahi pada pemilik aslinya, Bulek Sri yang tidak lain adalah adik ipar Bu Marni.Ana berhasil mengubah kebiasaan buruk dan malas dari kedua anak kakak iparnya itu. Desi dan Deska sekarang enjadi anak yang mulai bertanggung jawab atas tugasnya. Ana juga kembali menyekolahkan kedua keponakannya itu di sekolah yang lebih dekat dari rumahnya. Kedua anak itu harus belajar ekstra dan lebih giat untuk mengejar ketertinggalan mereka. Jika sebelumnya mereka bersekolah di sekolah negeri. Untuk saat ini mereka harus menerima untuk sekolah di sekolah milik swasta di karenakan banyak ketertinggalan dari tempat yang sebelumnya.Seperti pagi ini. Desi mulai terbiasa bangun di pagi hari begitu juga dengan Bu Marni dan juga Deska, adiknya. Ana mengajarkan kedua anak tersebut tentang agama yang selama ini kurang mereka perhatikan. Desi da
Aku kira ini cuma mimpi di siang bolong. Gara-gara ketiduran setelah memberi ASI pada jagoan kecilku yang aku beri nama Alfathrizki.Iya, aku sudah melahirkan. Tepat satu hari setelah kedatangan mas Guntur. Lebih cepat satu Minggu dari HPL prediksi ibu bidan tempat biasa aku priksa.Siang ini matahari sangat terik. Aku yang berinisiatif untuk membuka pintu agar angin dari luar bisa masuk ke dalam rumah, tanpa sengaja di kejutkan oleh kedatangan tiga orang yang sangat familiar dengan ku. Ternyata di depan pagar rumahku nampak seseorang paruh baya yang tengah terduduk di atas tanah yang di temani oleh dia orang bocah yang tidak lain adalah Desi dan Deska. Nampak mereka sedang berunding. Entah apa yang sedang dirundingkan oleh mereka aku pun tidak tahu karena tidak bisa mendengarnya langsung.Ada apa dengan mereka? Apa hal yang membuat mereka hingga sampai di rumahku? Mungkin mereka tidak akan menduga jika rumah reyot yang sering mereka singgung sudah berubah menjadi istana kecil ini.
Pada akhirnya bu Marni tersadar. Hanya kecewa yang ia peroleh dari putri kesayangannya.Justru dalam kondisi sudah tidak muda lagi dan tenaga yang terbatas. Semua anak-anaknya pergi meninggalkan dia. Yang membuat dada semakin sakit adalah karena merasa salah satu dasi meret yang pergi itu adat karena kecewa oleh dirinya."Nek bagaimana dengan nasib kita," tangis pilu cucu sulungnya.Bukannya menjawab justru Bu Marni ikut pula menangis seperti kedua cucunya.Meski pergi meninggalkan rumah, kini hanyalah tersisa Guntur yang masih dekat dengannya. Bukannya tak tahu alamat akan anak dan menantunya untuk ia meminta perlindungan. Namun sudah terlanjur malu atas perbuatannya itu sendiri. Apa mungkin bu Marni akan menjilat kembali ludahnya, setelah dengan pongahnya ia dengan mulutnya sendiri yang menghebdat menantunya tersebut untuk pergi."Nek, kita cari om Guntur, ya?" celetuk Desi seolah memberikan jalan keluar bagi mereka."Iya, nek kita cari om Guntur atau kita pergi saja ke rumah tante
Satu Minggu kemudian.Di tempat lain. Di kediaman yang di tempati oleh Bu Marni--- Ibu dari Guntur dan juga Mila---kakak Guntur."Nek, Deska lapar ni, Nek!" rengek Deska pada wanita paruh baya tersebut.Bu Marni sendiri sudah sangat gelabakan. Bagaimana tidak. Semenjak Guntur meninggalkan rumah mereka. Anak perempuan yang selalu didukungnya itu seolah lepas tangan. Satu Minggu semenjak kejadian tersebut, bahkan Mila sendiri sudah jarang terlihat di rumah. Bukan itu saja. Mengeluarkan uang sekedar untuk makan Ibu dan anaknya saja dia sangat sayang dan bisa di bilang pelit."Sabar, ya. Nunggu mama kalian pulang dulu," ucap perempuan yang rambutnya sudah hampir berubah menjadi putih tersebut."Mama itu pergi kemana sih, Nek? Kok gak pulang-pulang?" tanya si sulung, Desi yang juga merasa sudah sangat lemas."Sabar ya ... Mama kalian itu kan pergi kerja, cari uang buat kita." Nenek dari dia orang cucu itu mencoba menghibur cucu-cucunya."Kerja tapi kenapa pas kita mintai uang, mama selalu
"Apa yang kamu bawah ini, Fit...?" raut kekesalan nampak di wajah ibu mertua.Senyum mengejeknya tiba-tiba menghilang, berganti merah padam.Jelas lah jika ibu mertua sangat shock dan murka, bagaimana tidak, rendang daging yang dinantinya sengaja yang ku masak adalah rendang tahu, begitupun dengan
"Mas, kamu besok libur?" tanyaku pada suami.Hari Sabtu biasanya suami hanya kerja setengah hari saja."Iya, ada apa kalo aku libur?" tanyanya balik.Dengan masih memakai sepatunya sebelum ia berangkat ke tempat kerja."Antar aku ke rumah ibu." pintaku.Mendengar permintaan ku, seketika suamiku men
"Fit...Fitri..., kamu di mana?" Terdengar suara teriakan saat diri ini sedang mengangkat jemuran di belakang rumah, yang aku yakin suara tersebut dari mas Guntur."Iya, mas, aku ada di belakang." Seruku. Aku masih tetap melanjutkan pekerjaan ku. Mengangkat jemuran yang sudah kering di belakang ruma
Seperti hari-hari sebelumnya, setiap pagi usai mengerjakan kewajiban sebagai ibu rumah tangga yang menggurus suami dan anak di rumah.Setelah suami berangkat untuk mengais rezeki. Segera aku memandikan Zaskia dan menyuapinya.Hari ini aku mengawali mempersiapkan keperluan untuk mengerjakan pesanan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore